
Pagi-pagi langit sudah mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Angel sudah sampai setengah jalan menuju ke sekolah. Langkahnya semakin cepat tatkala langit mulai berubah gelap. Beruntung dirinya sampai tepat waktu ke sekolah sebelum hujan turun. Tak main-main hujan turun dengan sangat lebat. Murid-murid yang masih berada di luar sekolah pun berlarian masuk. Angel langsung berjalan menuju kelasnya. Dia berjalan pelan sambil setengah melamun. Dia coba mengingat kejadian saat pertama kali Lei masuk ke sekolah. Mengingat apa yang pernah ia lakukan terhadap Lei selama mereka di sekolah.
Namun karena tidak memperhatikan jalan tiba-tiba ia bertabrakan dengan seseorang saat akan menaiki tangga. Angel pun terjatuh bersama orang itu. Kepala mereka saling berbenturan.
"Aduh ...." rintih Angel kesakitan sambil mengelus kepalanya.
Kemudian ia berdiri dan langsung kaget melihat orang yang ditabraknya.
"Lei!"
Lei hanya diam saja ditatap oleh Angel. Dengan segera ia bangkit berdiri. Sambil menunduk dan berkata 'maaf' kepada Angel. Dia berlalu dari hadapan Angel. Namun, Angel dengan cepat menahannya.
"Tunggu!"
Dia menarik lengan Lei sehingga langkah Lei terhenti. Tapi, Angel malah diam saja menatap Lei. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Lei. Sedangkan Lei memalingkan wajahnya dari Angel. Akhirnya Angel hanya bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan di dalam hati, berharap Lei mendengarnya.
'Lei, aku minta maaf tentang kejadian makan malam itu. Tapi, benarkah kamu tidak ingat padaku? Asal kamu tahu saja, aku selalu ingat padamu. Ingat tentang semua hal yang pernah kita lakukan bersama. Lei, aku pasti akan membuatmu ingat lagi padaku! Aku janji!'
Setelah berkata demikian dalam hatinya, barulah Angel melepaskan pegangannya dari Lei. Dan ia pun naik ke lantai atas. Pandangan Lei mengikuti Angel sampai gadis itu menghilang. Bekas tangan Angel masih terasa hangat di lengannya. Dan suara hati Angel tadi masih terngiang-ngiang di telinga. Dengan langkah pelan Lei juga berjalan pergi.
Angel sampai di depan kelas dan melihat Maria berdiri di depan pintu kelas sedang berbicara dengan seorang teman. Maria langsung menatap Angel sambil menyunggingkan senyum liciknya. Angel sempat membalas tatapannya. Kemudian dengan cuek ia berjalan masuk ke dalam kelas melewati Maria. Tepat ketika Angel lewat, dengan sengaja Maria menyandung kaki Angel sehingga ia pun terjatuh.
Brugh!
"Ouw ... Kasihan, pasti sakit sekali!" ejek Maria dengan tawa terkekeh.
Angel langsung melotot tajam kepada Maria. Orang yang sedang berbicara dengan Maria segera membantu Angel berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya pada Angel.
"Tidak. Terima kasih!" jawab Angel meski sebenarnya lututnya sedikit lecet.
Dengan perasaan kesal Angel berjalan menuju bangkunya dan duduk diam tanpa bisa melakukan apa-apa. Sedangkan Maria berlalu meninggalkan kelas dengan perasaan senang.
Angel tahu kalau dirinya mencoba membalas pasti ia akan kalah. Secara tidak mungkin manusia bisa menang melawan malaikat. Namun untuk saat ini Angel tak ingin memikirkan Maria. Ia lebih fokus untuk melepaskan Lei dari jerat Maria. Angel pun tak ingin ambil pusing dengan perlakuan Maria padanya. Walau bukan hanya sekali Maria melakukan perbuatan yang keterlaluan padanya. Sebelumnya malah lebih parah. Hanya Angel belum mau membuat perhitungan dengannya.
'Aku harus mengembalikan ingatan Lei terlebih dulu. Setelah itu baru aku buat perhitungan dengan perempuan jahat itu!' gumam Angel dengan tekad yang kuat.
Hujan di luar masih cukup deras. Lucy masuk ke dalam kelas dengan sisa tetesan air hujan membasahi rambutnya ketika berlari memasuki sekolah. Berhubung hujan, papa Lucy mengantarnya dengan mobil sampai tepat di depan sekolah. Angel sedang membersihkan lututnya yang lecet dengan tisu ketika Lucy datang. Setelah menaruh tasnya di bangku, Lucy menghampiri Angel.
"Kenapa dengan lututmu?" tanya Lucy melihat lecet di lutut Angel.
"Terjatuh gara-gara albino betina itu menyandung kakiku saat aku lewat di depannya," jawab Angel kesal.
"Semakin sering saja dia mencari gara-gara. Terus, kamu biarkan saja?" tanya Lucy.
"Ya. Aku cuma manusia mana menang melawan makhluk halus," jawab Angel.
"Hahaha .... Kamu memberinya julukan baru?" ujar Lucy dengan gelak tawa.
"Dia lebih cocok disebut makhluk halus daripada malaikat," sahut Angel.
"Ha ... Dia akan semakin bertingkah kalau kamu diam saja, Angel," ujar Lucy.
"Terserah dia mau melakukan apa. Pada waktunya dia juga akan menerima akibatnya. Lagipula aku sedang fokus kepada Lei. Aku harus bisa mengembalikan dia seperti dulu. Bagaimanapun caranya!" kata Angel dengan tekad yang kuat.
"Aku akan selalu mendukungmu! Aku yakin cinta sejati kekuatannya jauh lebih dahsyat dari ramuan apapun." Lucy menyemangati.
Angel membalasnya dengan tersenyum.
"Lututmu tidak apa-apa?" tanya Lucy.
"Tidak, hanya lecet sedikit saja. Nanti juga sembuh," jawab Angel.
"Ya, sudah. Aku duduk dulu, sampai bertemu jam istirahat," ujar Lucy begitu bel terdengar berbunyi.
"Ya," jawab Angel sambil mengangguk.
Sampai berakhirnya sekolah, hujan masih juga belum reda. Murid-murid yang tidak membawa payung berkumpul di depan sekolah sambil menunggu hujan sedikit reda. Termasuk Angel yang juga berada di antara kerumunan murid yang menunggu di sekolah. Lucy sudah duluan pulang dijemput mamanya dengan payung. Sebelumnya Lucy menawarkan untuk mengantar Angel sampai ke rumah, tetapi Angel menolak. Karena tak ingin merepotkan Lucy dan mamanya, apalagi jalan rumah mereka berlawanan arah. Jadi, Angel memilih menunggu di sekolah saja.
Cukup lama Angel dan murid lainnya menunggu di depan sekolah, namun hujan tak kunjung reda. Murid lain yang tak sabaran menunggu mulai berlarian menerobos hujan. Di depan sana terlihat Maria dan Lei sedang berbicara. Mereka berdua juga berlarian menerobos hujan tanpa membawa payung. Dan berhenti di pintu gerbang. Angel sudah tak memperhatikan mereka lagi sampai di sana. Tentu ada kecemburuan di dalam hatinya.
Lalu Michelle datang dari arah koridor. Kebetulan ia melihat Angel dan menghampirinya.
"Angel, belum pulang?" tanya Michelle. Di tangannya menenteng tas kerja dan payung.
"Belum. Hujan masih cukup lebat, dan aku tidak membawa payung," jawab Angel.
"Kalau begitu kita pulang sama-sama, yuk!" ajak Michelle.
"Tidak usah. Merepotkan Ibu saja! Lagipula rumah ku dan rumah Ibu kan tidak searah," tolak Angel sama seperti ketika menolak tawaran Lucy.
"Tidak akan merepotkan! Kita kan naik mobil. Pierre datang menjemput. Nah, itu mobilnya Pierre sudah menunggu. Ayo!" ajak Michelle langsung menarik Angel tanpa menunggunya menjawab.
Mobil milik Pierre terparkir di lapangan sekolah. Michelle membuka payungnya lalu berdua dengan Angel berjalan menuju tempat mobil Pierre berada. Pierre yang menunggu di dalam mobil langsung keluar dengan payung untuk membukakan pintu melihat Michelle dan Angel mendekat.
"Halo, Angel bagaimana kabarmu?" tanya Pierre berbasa-basi.
"Baik," jawab Angel.
"Bagus. Ayo masuk! Kurasa masih muat untuk satu gadis baik hati lagi," ucapnya sembari membuka pintu belakang. Kemudian ia berkata pada penumpang di dalamnya.
"Tolong geser sedikit, anak-anak! Supaya putri baik hati ini bisa duduk!"
Angel nampak kaget melihat dua penumpang di belakang itu. Rupanya Maria dan Lei. Maria nampak jijik mendengar Pierre menyebutnya demikian apalagi dia akan duduk di samping Angel. Jelas sekali wajah tak sukanya. Kalau Lei hanya cuek saja. Sedangkan Angel masih berdiri di luar mobil dengan bimbang. Dia benar-benar tak ingin berada satu mobil dengan Maria. Apalagi duduk d isampingnya.
'Menakutkan' begitu pikirnya.
Kalau berada jauh dengannya saja bisa celaka apalagi kalau berdekatan.
"Angel, kenapa diam saja? Cepat masuk! Nanti basah!" ujar Pierre melihat Angel yang diam saja. Sementara Michelle sudah masuk ke dalam mobil.
"Iya, Angel, tempat duduknya masih muat, kan!" Michelle menimpali.
Angel masih menatap ragu ke dalam mobil. Melihat Maria dan Lei yang tak peduli. Maria sempat memandangnya sebentar kemudian membuang muka. Angel merasa serba salah. Rasanya ingin menolak dan pergi dari situ tapi ia juga merasa tak enak pada Michelle dan Pierre.
Beruntung sebuah klakson mobil hitam yang memasuki lapangan sekolah menyelamatkannya dari kegelisahannya.
Mobil itu mendekat dan berhenti di belakang mobil Pierre terparkir. Kaca mobil kemudian diturunkan dan dari balik jendela mobil muncul kepala seorang pemuda memanggil Angel.
"Angel! Ayo, kemari!" teriak pemuda itu.
Akhirnya Angel bisa merasa lega. Malaikat pelindungnya datang membebaskannya dari suasana yang sangat tidak menyenangkan itu. Ia baru bisa tersenyum sekarang.
"Maaf, Tuan Pierre, Ibu Michelle, Jemputanku sudah datang! Aku akan pulang dengannya!" kata Angel dengan semangat.
Lei dipojok mendengarkan meski nampak tak peduli. Dan tatapan Maria melotot penuh curiga pada Angel. Michelle yang penasaran bertanya, "Siapa?"
"Malaikat pelindungku! Sampai nanti, Bu Michelle, Tuan Pierre! Terima kasih tawarannya!" kata Angel. Setelah itu ia langsung berlari kearah mobil di belakang dan masuk ke dalam.
Pierre pun masuk ke dalam mobil dan menjalankannya. Mobil Pierre berlalu keluar dari area sekolah. Semua penumpang di dalam mobil mulai penasaran dengan 'malaikat pelindung' yang dimaksud Angel, kecuali Pierre. Kemudian mobil hitam yang membawa Angel pun perlahan meninggalkan sekolah.
"Untung kamu cepat datang! Aku tak bisa bayangkan berada di dalam satu mobil dengan Maria dan Lei," ucap Angel pada Louis.
"Tentu saja, aku kan malaikat pelindungmu!" balas Louis dengan senyum menawan.
"Terima kasih!" kata Angel membalas senyum Louis.
Sampai di situ saja obrolan mereka. Suasana di dalam mobil menjadi hening. Angel menjadi diam dengan pikiran mengenai Lei kemana-mana. Seperti Maria yang bisa menumpang di mobil Pierre padahal Michelle nampak tak suka padanya. Louis melihat Angel yang diam dengan pikirannya tak ingin mengusiknya. Hanya suara audio player yang memutar lagu You Dont Know I Love You milik U yang mengalun di dalam mobil menemani perjalanan pulang Angel.