
Malam telah semakin larut. Sementara di kamar tidur, Angel dan Lucy nampak masih asyik berbicara. Dengan setelan piyama tidur yang kini melekat di tubuh mereka. Lucy duduk di atas kasur sambil memeluk guling. Sedangkan Angel duduk bersandarkan bantal tidurnya. Kejadian di restoran barusan rupanya masih melekat di pikirannya. Lucy telah mengetahui ceritanya dan berusaha menghibur Angel dari kesedihannya. Walau usahanya kurang begitu berhasil.
"Mungkin lebih baik kamu melupakannya saja." Begitu ucapan yang dilontarkan Lucy kepada sahabatnya. Sebenarnya niatnya baik, dia hanya tidak ingin Angel terus bersedih karena memikirkan Lei.
"Melupakannya?! Aku ... tidak bisa," ucap Angel sambil menggelengkan kepala.
"Kamu harus bisa! Dia sudah melupakanmu. Kamu lihat sendiri kan kalau dia telah berubah. Lei bukan lagi seperti Lei yang dulu!" Lucy menegaskan.
"Tidak! Pasti ada yang tidak benar," balas Angel yakin.
"Apanya yang tidak benar? Dia sudah meninggalkanmu! Untuk apa kamu masih mengingatnya? Bahkan saat kamu memohon-mohon pun dia tidak peduli, Angel," kata Lucy. Angel hanya diam dan menggeleng pelan.
"Angel, masih banyak yang lebih baik dari dia. Ah, Louis misalnya, aku perhatikan sepertinya dia menyukaimu," hibur Lucy dengan semangat.
"Tidak ada yang lebih baik. Louis hanya teman bagiku tidak lebih," bela Angel.
"Tapi, Angel ... Kamu tidak bisa begini terus," mohon Lucy. Dia hampir menyerah. Angel sangat keras kepala.
Angel mulai bosan meladeninya. Dia pura-pura menguap agar terlihat sudah mengantuk. Niatnya untuk menyudahi pembicaraan ini.
"Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Sebaiknya kita tidur supaya besok tidak bangun kesiangan," ucapnya.
Setelah mengubah posisi bantal tidurnya dia lalu berbaring untuk tidur. Lucy juga tidak mengajaknya bicara lagi. Dan ikut tidur di sebelahnya. Namun mata Angel tak juga terpejam. Pikirannya masih tetap tertuju pada Lei dan kejadian tadi.
...🍂🍂🍂...
Suasana minggu pagi ini sangat berisik. Suara keras dari TV terdengar sampai ke kamar. Sesekali bahkan terdengar suara tawa keras dari ruang keluarga. Angel yang tadinya masih tidur akhirnya terbangun oleh suara berisik itu. Diraihnya jam weker di nakas samping tempat tidur.
"Astaga, aku bangun kesiangan!" serunya begitu melihat jam menunjuk pukul 08.37.
Ia langsung bangkit dari tempat tidur dan segera mandi. Setelah berpakaian ia turun ke bawah. Di sana Lucy sedang asyik menonton tayangan komedi ditemani secangkir Cappucino dan cookies cokelat. Pantas saja dia sampai tertawa keras begitu. Angel kemudian menghampirinya.
"Lucy, kenapa tidak membangunkan ku? Akhirnya aku jadi bangun kesiangan," katanya dengan setengah berteriak agar suaranya terdengar oleh Lucy.
Melihat Angel berbicara padanya, dia lalu mengambil remote untuk mengecilkan volume suara TV.
"Aku lihat kamu tidur pulas sekali! Jadi tidak tega membangunkan mu," jawab Lucy.
"Oh ya, aku sudah buatkan mie goreng untukmu. Kamu makanlah! Dan jangan sisakan untukku, aku sudah makan," lanjutnya lagi kemudian kembali ke acara TVnya.
"Kebetulan aku memang sudah lapar. Terima kasih, Lus," ujar Angel
"Ya," balas Lucy.
Angel pun berjalan menuju meja makan. Membuka tudung saji di atas meja dan sepiring mie goreng sudah tersedia di sana. Dengan semangat Angel pun melahapnya hingga habis. Setelah selesai makan dan mencuci semua piring kotor Angel bergabung bersama Lucy di ruang tengah.
"Bagaimana rasa mie-nya?" tanya Lucy.
"Lumayan! Hanya kurang asin sedikit," jawab Angel jujur.
"Aku pikir juga begitu," Lucy sependapat.
"Hm ... Ternyata bangun kesiangan ada untungnya juga," goda Angel sambil meliriknya.
"Ya, selama ada aku di sini," Lucy balik membalas.
"Hahaha ...." Angel hanya tertawa.
"Mereka jadi datang, kan?" tanya Angel saat melihat jam sudah pukul 09.05.
"Pasti. Janjinya kan jam 10," jawab Lucy.
Berarti masih ada waktu satu jam. Sambil menunggu kedatangan Jeremy dan lainnya, Angel dan Lucy menghabiskan waktunya hanya dengan menonton. Film komedi telah habis. Lucy mengambil remote dan mengganti channel TV nya. Dan berhenti di sebuah channel yang menayangkan serial drama Korea. Lucy pun menaruh kembali remote TV ke atas meja dan menonton serial drama itu. Angel terdiam sesaat menyaksikan serial drama yang tengah tayang itu.
'Bukankah ini serial drama yang dulu sering ditonton oleh Lei!?' pikir Angel dalam hati.
Tapi dia tak berkomentar ataupun meminta Lucy mengganti siaran lain. Ia malah ikut menonton mengikuti alur cerita. Mencari hal apa yang menarik dari drama ini sehingga Lei betah menontonnya.
Setelah satu jam berlalu serial drama akhirnya selesai dengan cerita yang masih akan berlanjut di lain hari. Seketika terdengar suara pintu diketuk.
Tok ... Tok ... Tok ...
Lucy segera bangkit menawarkan diri untuk membukakan pintu bagi tamunya.
"Biar aku yang buka!"
Angel hanya mengangguk. Dengan cepat Lucy berjalan ke depan untuk membuka pintu. Terdengar keduanya berbicara sebentar kemudian pintu ditutup. Dan Lucy pun kembali dengan Jeremy ke ruang keluarga.
Jeremy menyapa Angel begitu melihatnya.
"Hai, Angel!"
"Hai, sendiri saja? Mana yang lainnya?" tanya Angel begitu melihat Jeremy yang hanya datang sendiri.
"Mereka sedikit terlambat. Mungkin sebentar lagi datang," jawab Jeremy kalem.
"Oh ... Silahkan duduk!" kata Angel.
Jeremy pun duduk di sofa untuk satu orang di.samping Lucy. Sambil menunggu kedua teman Jeremy datang mereka hanya berbasa-basi saja. Jeremy menanyakan kegiatan Lucy dan Angel hari sabtu kemarin. Dengan antusias Lucy bercerita padanya. Hingga lima belas menit kemudian, pintu kembali diketuk.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Mungkin itu mereka. Biar aku saja yang buka!" kata Angel mengira-ngira. Kemudian dengan cepat pergi membukakan pintu untuk tamu berikutnya.
Pintu telah terbuka, terlihat dua orang berdiri memunggungi Angel. Walau nampak dari belakang Angel bisa memastikan bahwa kedua orang itu adalah seorang laki-laki dan perempuan. Kedua orang itu kemudian membalikkan badan saat merasa Angel telah berdiri di ambang pintu. Seketika Angel terkejut manakala mengetahui ternyata kedua orang itu rupanya orang yang sangat ia kenal. Kedua orang itu pun tersenyum pada Angel.
"Louis?! Anne?! Rupanya kalian!" seru Angel.
"Kamu sudah menunggu kedatangan kami, ya!" ejek Anne sambil menyikut Louis. Louis hanya tersenyum.
"Ayo, cepat masuk! Jeremy sudah menunggu di dalam!" ajak Angel.
Anne dan Louis pun masuk ke dalam rumah. Angel langsung mengajak mereka ikut bergabung bersama Lucy dan Jeremy.
"Jeremy, kenapa tidak bilang padaku bahwa teman yang akan kamu bawa kemari itu adalah Louis dan Anne?" tanya Angel begitu tiba di ruang keluarga.
"Itu surprise," jawab Jeremy.
Sama halnya Angel, Lucy pun tidak menyangka bahwa Louis termasuk salah satu orang itu. Setelah Louis dan Anne duduk acara pun dimulai.
"Oke, karena kita semua sudah berkumpul, kita mulai saja, ya!" kata Jeremy bergaya seperti seorang host.
"Langsung saja ke inti masalahnya, tidak usah bertele-tele. Kita punya banyak waktu berkenalan setelah ini," protes Lucy.
"Ya, kalau itu maumu, sayang! Namun ada baiknya kalian tahu siapa sebenarnya dua sahabat kita ini dulu," kata Jeremy mengarah pada Louis dan Anne.
Kedua orang yang ditunjuk kembali tersenyum. Anne menganggukkan kepalanya seolah mengerti. Dengan sigap diarahkan telapak tangan kanannya di depan wajahnya menutupi bagian matanya. Dengan sekali gerakan cepat wajahnya berubah ke wajah aslinya. Bukan wajah Anne yang Angel kenal melainkan wajah seseorang yang hampir setiap hari ia lihat.
Sontak saja hal tersebut tidak hanya membuat Angel terkejut namun juga Lucy. Lucy bahkan lebih dulu mengambil kesimpulan lain tentang Anne.
"Kamu ...," geram Angel sambil melotot kepada Anne.
"Ya, kamu masih ingat padaku? Kita pernah bertemu!" tanya Anne masih dengan senyumnya yang khas.
"Hei, bukankah kamu perempuan yang menyebalkan itu? Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Lucy yang langsung menunjukkan sikap tak suka. Mengira gadis itu adalah Maria.
"Maksudmu Mary? Adikku itu memang agak nakal!" jawab Anne yang telah menunjukkan wajah aslinya yang mirip dengan Mariabelle.
"Mary? Oh ... Jadi, nama panggilanmu Mary?!" Lucy berkata dengan ketus.
"Bukan. Mary adalah nama panggilan adikku, Maria. Aku Annabelle saudara kembar Mary. Adikku pasti sudah sangat menyusahkan kalian," ujar Annabelle sembari menatap Lucy dan Angel bergantian.
"Ternyata kamu kakaknya. Kalau begitu aku katakan terus terang, Maria itu tidak hanya menyusahkan, tapi sangat sangat merepotkan plus menyebalkan!" Lucy menekan kembali kata-kata Annabelle.
"Sebagai kakaknya aku minta maaf," sahut Annabelle.
"Bagaimana kamu bisa merubah wajahmu secepat tadi? Apa kalian pemain sulap?" tanya Lucy heran.
"Mengapa kamu menyamar menjadi Anne? Kenapa kamu menolongku? Bukankah awalnya kamu menyerangku? Dan, Louis ... apa dia benar-benar adikmu?" Angel bertanya dengan cepat.
"Aku menyamar menjadi Anne untuk menolongmu. Karena aku ikut merasa bersalah atas perbuatan Mary. Sejak awal aku tidak ada niat menyerangmu. Misiku hanya membawa Neville kembali ke dunianya. Tindakan Mary yang justru menyerangmu itu di luar perkiraan. Louis ini sebenarnya adalah bawahanku di Lumina," jelas Annabelle kalem.
"Kamu pasti tidak menyangka bahwa aku seorang malaikat. Maaf, telah membohongimu!" timpal Louis kepada Angel. Angel hanya menyunggingkan senyum.
"Jadi ... kalian ini adalah malaikat?! Oh, ya ampun ...," seru Lucy sulit mempercayai.
"Jeremy, apa jangan-jangan kamu juga malaikat?!" Lucy langsung menuduhnya.
"Bukan. Aku manusia biasa, koq!" jawab Jeremy santai.
Annabelle hanya tersenyum menanggapi kekagetan Lucy. Kemudian ia menjelaskan. "Maafkan aku apabila telah membohongimu, Angel. Aku sama sekali tidak memiliki niat buruk. Sebenarnya orang yang menulis pesan padamu mengatasnamakan Lei itu adalah Maria. Dan dahan pohon yang jatuh hampir mengenai Lucy itu juga perbuatannya."
"Jadi, Maria yang melakukan semua ini? Kenapa dia tega sekali berbuat begitu?" tanya Angel yang tak mengira.
"Rupanya dia yang membuatku hampir celaka. Benar-benar jahat!" Lucy menimpali dengan geram.
"Ya. Angel, kamu tahu jika dia sangat tidak menyukaimu. Dia tidak ingin Neville bersamamu, karena dia sangat mencintai Neville. Sedangkan Neville tidak mencintainya!" jelas Annabelle.
"Tidak masalah tidak menyukaiku, tapi mengapa Lucy juga ikut jadi korbannya?" tanya Angel tak mengerti.
"Dia akan mencelakai siapa saja yang berusaha mengusik hubungannya dengan Neville. Termasuk orang yang berusaha mengingatkan dirimu kepadanya," jawab Annabelle sambil menatap Angel.
"Ternyata benar ... Dia sudah melupakanku?" tanya Angel dengan suara lemas.
"Dia tidak sepenuhnya melupakan mu," jawab Annabelle.
"Tunggu dulu, tadi kamu bilang Lei tidak mencintai Maria, lalu mengapa dia mau pacaran dengan Maria?" giliran Lucy bertanya.
"Itu karena dia menggunakan ramuan Clema. Sekarang kalian dengarkan penjelasanku!" jawab Annabelle sambil menatap Angel dan Lucy. Kemudian ia melanjutkan, "Ramuan Clema diperuntukkan bagi sepasang kekasih. Disebut juga ramuan pengikat cinta gunanya mengikat dan memperkuat cinta pasangan kekasih. Maria menggunakan ramuan itu kepada Neville sehingga bisa menjadi miliknya. Tapi sebenarnya itu melanggar aturan karena tidak seharusnya ramuan itu diberikan kepada orang yang bukan pasangan kekasih atau tidak saling mencintai. Makanya Neville bisa lupa pada Angel, tapi dia tidak amnesia. Ramuan itu hanya mengunci perasaan Neville sesungguhnya serta kenangannya bersama Angel. Dia masih ingat padamu, Angel, hanya saja yang dia tahu kamu teman sekelasnya. Dia tidak ingat pernah menyukaimu dan kalian pernah bersama."
"Kalau begitu apa Lei bisa ditolong? Atau mungkin ada penawar dari ramuan tersebut?" tanya Lucy penuh harap menatap pada Angel.
"Mungkin ada. Tapi, kalian harus ke gunung Clemn memintanya pada Peri Amorry yang membuat ramuan itu," jawab Annabelle tenang.
"Di mana itu? Aku tidak pernah dengar ada nama gunung seperti itu," tanya Lucy merasa asing dengan nama tersebut.
"Itu tempat tinggal peri!" Jeremy menjawab.
"Apa kita bisa ke sana?" tanya Angel.
"Bisa," jawab Annabelle.
"Bagaimana caranya?" tanya Lucy.
"Dengan cara malaikat!" jawab Annabelle dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Maksudmu kita harus terbang begitu? Tapi, kami kan tidak mungkin bisa terbang!" kata Lucy tak yakin.
"Kanu tidak harus terbang seperti kami. Crowny akan membawa kalian!" ujar Annabelle dengan penuh semangat.
"Crowny?!" ucap Angel dan Lucy bersamaan.
"Siapa lagi itu Crowny?" timpal Lucy yang juga tak mengerti.
"Kalian akan tahu nanti. Jika kalian memang ingin ke sana, baiknya kalian tentukan kapan akan pergi," kata Annabelle serius.
Angel dan Lucy saling memandang sebentar. Kemudian dengan yakin Angel berkata, "Bagaimana kalau besok?"
"Apa kita akan bolos sekolah?" cepat-cepat Lucy berkata.
"Tidak. Setelah pulang sekolah," jawab Angel.
"Nah, aku ikut!" ucap Lucy.
"Sudah diputuskan!" balas Annabelle.
"Besok kita bertemu di hutan belakang sekolah. Di sana cukup sepi. Jeremy akan menemani kalian nanti," timpal Louis.
"Baik!" sahut Lucy dan Angel serempak. Jeremy juga mengangguk setuju.
"Hm, jika tidak ada hal yang ingin dibicarakan lagi, aku akan segera pergi," kata Annabelle kemudian.
"Cepat sekali? Kamu mau ke mana?" tanya Angel.
"Aku harus menulis surat untuk Yang Mulia Astru perihal masalah Pierre," jawab Annabelle. Dan dengan cepat melanjutkan kalimatnya begitu melihat raut wajah Angel berubah tegang. "Tenang saja, kalau dia sudah menjadi manusia tidak ada gunanya lagi malaikat seperti kami mengejarnya. Aku tidak punya waktu kembali ke Lumina. Jadi, aku akan menulis surat supaya pencarian dihentikan."
"Oh, untunglah! Kalau begitu sampai bertemu besok. Dan Annabelle ... terima kasih telah menyembuhkan lukaku," ucap Angel merasa lega.
"Sama-sama. Panggil saja aku Anne! Itu nama panggilanku," balas Annabelle sambil tersenyum. Angel menganggukkan kepala.