My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
67# Kabar Tentang Angel



Neville tiba di apartemen Gracia lebih cepat. Sebelumnya ia mengintip dari jendela untuk memastikan apakah Gracia ada di sana. Setelah mengetahui Gracia ada di apartemennya, Neville berubah menjadi Lei untuk bertemu Gracia.


Lei menekan bel, tak lama Gracia membuka pintu. Wanita itu menatap Lei dengan aneh karena merasa asing.


"Maaf, kamu siapa? Dan ... Ada apa, ya?" tanya Gracia.


"Selamat sore, Nyonya! Namaku Lei, teman sekolah Angel. Anda mungkin lupa, kita pernah bertemu beberapa kali. Aku putra Michelle," jawab Lei sopan.


"Oh ... Ya, ya, kamu teman sekelas Angel. Benar, benar kita pernah bertemu. Aku baru ingat sekarang. Maafkan aku yang sudah pikun ini. Ayo, masuk!" ajak Gracia menyuruh Lei masuk dan mempersilahkannya duduk.


"Jadi, ada urusan apa kamu sampai datang kemari? Bukankah seharusnya kamu ada di sekolah?" tanya Gracia dengan senyum terukir di bibirnya.


Lei agak berat hati menyampaikan maksud kedatangannya. Melihat Gracia yang sangat senang bertemu dirinya.


"Em ... Ini mengenai Angel. Ada yang ingin aku tanyakan," jawab Lei sedikit ragu.


"Ada apa dengan Angel-ku?" tanya Gracia. Ia masih nampak tenang.


"Sudah tiga hari ini Angel menghilang. Rumahnya kosong dan teleponnya tidak ada yang angkat. Aku pikir mungkin dia bersama anda di sini!" Lei menjelaskan dengan pelan.


"Apa? Angel hilang?" seru Gracia. Ia mulai panik dan berbicara sambil mondar-mandir.


"Dia tidak datang kemari. Oh, terakhir dia kemari sekitar tiga hari yang lalu," lanjutnya.


"Tiga hari yang lalu, setelah itu dia tidak datang ke sekolah," gumam Lei.


"Bagaimana ini? Apa kamu sudah mencarinya di rumah teman-temannya? Ke tempat yang biasa dia datangi? Angel tidak mungkin hilang begitu saja, kan?" tanya Gracia dengan kalut.


"Tenanglah! Aku pasti akan berusaha mencarinya!" hibur Lei.


"Tidak bisa! Kita harus lapor polisi! Sekarang juga aku harus pulang! Lei, kamu tunggu sebentar, aku akan mengambil barang-barangku," kata Gracia dengan panik.


Dengan terburu-buru dia berlari ke kamar dan kembali dengan cepat sambil menenteng sebuah koper kecil.


"Ayo, Lei, kita harus cepat!" desak Gracia.


Lei membawakan koper Gracia sementara wanita itu mengunci pintu apartemennya. Dengan taksi mereka langsung menuju stasiun kereta api. Gracia memilih kereta api ekspres untuk cepat sampai di tujuan. Dalam perjalanan pun Gracia nampak begitu khawatir. Dia duduk dengan sangat tidak tenang. Bahkan Lei pun bisa merasakan kegundahan di hati Grace.


'Aku tidak mengerti, begitu banyak orang-orang yang peduli dan menyayanginya. Mengapa aku tidak? Bahkan untuk mengingat pun aku tak mampu. Lalu, mengapa dia peduli padaku? Perkataannya dulu, makanan yang dibuatnya sampai film itu, apa yang ingin dia coba katakan padaku? Mengapa aku tidak bisa mengingat apapun tentang dirinya? Apa yang salah di kepalaku? Apa yang hilang di hatiku? Sesuatu yang hilang itu tetap tak bisa aku temukan.' Lei membatin.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya mereka tiba di stasiun tujuan. Hari sudah menjelang malam. Untuk sampai di rumah dengan cepat mereka kembali memanggil taksi. Mula-mula Gracia memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dulu. Lei masih tetap menemaninya.


Setibanya di rumah, Gracia langsung mengeluarkan kunci pintu dan membuka pintu rumah yang gelap tanpa cahaya itu dengan tergesa-gesa. Taksi masih menunggu di luar. Sedang Lei membawakan koper Gracia ke dalam rumah dan membuka lampu. Gracia masih mencoba memanggil-manggil Angel beberapa kali dari seluruh ruangan.


"Ange ... Angel... Mama pulang sayang! Angel...," panggil Gracia lantang. Tapi sayang tak ada jawaban.


Ketegaran Gracia mulai goyah, dia terisak. Lei menuntunnya kembali ke dalam taksi sambil menghiburnya. Sekarang mereka menuju ke rumah Michelle.


Begitu sampai keduanya turun. Saat Gracia dan Lei memasuki rumah di sana sudah ada Michelle dan Lucy yang menunggu. Tanpa perlu bertanya Michelle sudah dapat menebak hasilnya melihat kegundahan dan sisa air mata di wajah Gracia. Michelle lalu memeluk Gracia mencoba untuk menenangkannya.


"Masih belum ketemu," gumam Lucy dengan suara pelan.


"Kita harus segera lapor polisi, Michelle. Aku takut terjadi sesuatu pada Angel," ucap Gracia sambil terisak.


"Iya, kamu tenangkan dirimu. Kita pergi sama-sama," hibur Michelle. Kemudian ia memanggil Lei.


"Lei, tolong panggil ayahmu di atas. Kita akan pergi ke kantor polisi," suruh Michelle.


"Baik!" jawab Lei yang dengan segera naik ke lantai atas mencari ayahnya.


Dengan cepat Lei kembali turun bersama Pierre yang telah siap. Sebelum berangkat Michelle berpesan pada Lei dan Lucy.


"Lei, Lucy, kalian tunggu di sini saja! Kami akan meminta bantuan polisi untuk mencari Angel!"


Kedua anak itu mengangguk mengiyakan. Dan Michelle, Gracia serta Pierre pun siap berangkat. Mereka baru akan masuk ke dalam mobil saat tiba-tiba mobil Jeremy berhenti tepat di depan mobil Pierre. Jeremy turun dari mobil dengan tergesa-gesa memanggil Michelle.


"Ibu Michelle!"


Melihat kedatangan Jeremy lantas Lucy dan Lei yang berada di dalam rumah pun ikut keluar.


"Kalian tidak perlu lapor polisi, karena percuma," Jeremy memberitahu.


"Apa maksudmu percuma, Jeremy?" tanya Michelle tak mengerti.


"Ibu, percuma jika melapor ke polisi, Angel tetap tidak akan bisa mereka temukan. Karena saat ini dia berada di Lumina," jelas Jeremy.


"Apa? Jangan bercanda! Bagaimana kamu tahu?" seru Michelle kaget.


"Aku berhasil menemukannya dengan ini," kata Jeremy sambil menunjukkan cermin hexagram miliknya.


Pierre ikut terkejut melihat cermin yang ditunjukkan oleh Jeremy.


"Inger," gumamnya.


"Ya. Aku Inger! " Jeremy mengaku. Dia melemparkan pandangan kepada Lei yang juga tidak menyangka bahwa dirinya seorang inger.


"Di mana itu Lumina?" tanya Gracia sambil memandang Michelle dan Pierre untuk meminta penjelasan.


"Sebaiknya kita masuk dulu. Kita bicara di dalam," usul Michelle.


Mereka semua kini telah duduk di ruang keluarga. Suasana nampak sedikit tegang. Dengan cermin milik Jeremy yang tergeletak di atas meja.


"Tolong, beritahu aku yang sebenarnya. Apa yang terjadi dengan Angel?" Gracia berkata sambil memohon.


"Kami pasti akan mengatakan semuanya padamu, tapi sebelumnya aku ingin Jeremy menjelaskan, bagaimana dia bisa menemukan Angel dengan cermin itu," ucap Michelle.


"Baik. Begini...." Jeremy memulai ceritanya dengan mengingat kejadian tadi siang.


......................


Untuk memenuhi janjiku pada Lucy yang akan membantunya mencari Angel. Siang tadi, sepulang sekolah aku pergi ke hutan belakang sekolah. Di sana sangat sepi, jadi aku lebih leluasa berkomunikasi dengan dunia lain. Hanya dengan sebuah kata kunci, maka jalur komunikasi penghubung ke dunia lain akan terbuka dari cermin ini. Aku bisa memanggil siapa saja yang sebelumnya pernah terhubung denganku.


Awalnya aku menghubungi Annabelle. Meskipun telah sekian lama kehilangan kontak dengannya. Aku berusaha mencobanya dan berhasil. Annabelle merespon panggilanku. Namun saat itu dia tidak berada di Lumina tetapi di Obscur. Aku pun memberi tahunya perihal hilangnya Angel dan meminta bantuannya untuk menemukan keberadaan Angel. Annabelle menyanggupi. Dia menyuruhku menunggu sementara ia mencari dengan kekuatan telepati.


"Jeremy, aku berhasil menemukan Angel. Dia berada di Lumina. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai ke sana. Tetapi kamu tenang saja, sekarang juga aku akan kembali ke sana. Akan aku pastikan Angel baik-baik saja! Katakan pada semuanya untuk tidak perlu cemas," begitu pesan Annabelle. Dan sampai saat ini aku belum dapat lagi kabar dari Annabelle.


......................


Setelah Jeremy menyelesaikan ceritanya, Gracia langsung bertanya. "Di mana itu Lumina? Aku tidak pernah mendengar ada nama tempat seperti itu sebelumnya."


"Itu tempat yang jauh," jawab Pierre.


Michelle mendesah pelan, bagaimanapun ia harus menceritakan semuanya pada Gracia.


"Mungkin ini terdengar tidak masuk akal. Bamun beginilah kenyataannya," kata Michelle.


Usai berkata demikian ia pun bercerita. Dimulai dengan asal usul dirinya dan Pierre. Kehidupan mereka di dunia malaikat sana. Michelle juga menceritakan kejadian saat dirinya ditemukan Gracia di pinggir danau Venuee. Michelle juga menjelaskan tempat seperti apa Lumina itu. Dan juga akses menuju ke sana.


Gracia terdiam mendengar semua cerita Michelle. Karena tak mungkin bagi manusia seperti dirinya untuk bisa sampai ke tempat itu.


"Tetapi, aku masih belum mengerti bagaimana Angel bisa masuk ke sana," ucap Michelle.


Gracia tersentak mendengar ucapan Michelle. Dia teringat sesuatu saat menatap cermin yang masih tergeletak di atas meja.


"Pasti dengan cermin itu," gumamnya.


"Cermin? Maksudmu?" tanya Michelle.


"Angel memiliki cermin seperti itu. Sebelum dia menghilang dia sempat mengunjungiku. Dia bilang cermin itu bisa membawanya ke mana saja. Bahkan dia membuktikannya juga padaku," jawab Gracia.


"Tunggu... Maksudmu cermin hexagram seperti milik Jeremy itu?" tanya Michelle memastikan.


"Ya. Hanya saja yang dimiliki Angel ada ukiran. Dulunya cermin itu milik ibuku. Dia memberikannya padaku saat aku masih kecil. Namun sayang cermin itu jatuh dan hilang ketika aku pergi bermain. Angel menemukan cermin itu di toko barang antik," Gracia menjelaskan.


"Benarkah? Aku tidak pernah melihatnya. Aku bahkan tidak tahu untuk apa cermin itu," ucap Michelle.


"Benar. Angel memang punya cermin ini. Yang istimewanya bisa membawanya ke tempat yang dia inginkan. Ke mana saja. Berbeda dengan cermin milikku ini yang hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi antar dunia lain dan melacak saja. Semua Inger memilikinya." Jeremy menimpali diikuti anggukan Lucy.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Gracia pada yang lainnya.


"Tak ada yang bisa kita lakukan. Itu di luar kemampuan kita," jawab Michelle.


"Kita hanya bisa menunggu kabar dari Annabelle," sahut Jeremy.


Michelle mengangguk. Sambil mengelus pundak Gracia membuatnya agar tetap tenang. Pierre mulai angkat bicara.


"Lei."


Namun Michelle memotong dengan cepat. "Pierre, Lei berbeda, dia tidak bisa ke sana!"


"Aku pikir kita punya cara lain," ujar Pierre.


"Tidak, Pierre. Kita tunggu saja kabar dari Annabelle. Aku percaya padanya!" kata Michelle.


Pierre pun tak membantah lagi. Semuanya terdiam di ruangan itu. Merasa suasana kurang begitu nyaman, Jeremy beranjak meninggalkan ruangan. Ia berdiri bersandar di pintu mobil Pierre. Menghirup udara malam yang hangat.


"Jadi, kamu datang untuk memata-mataiku?" tanya Lei yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.


Jeremy menoleh dan tertawa. "Kenapa aku harus melakukan itu?"


"Kalau tidak apa tujuanmu? Kamu seorang Inger. Dan 'mereka' mengincarku," balas Lei.


"Maaf, tapi kamu salah besar. Kamu sama sekali bukan bagian dari tugasku. Karena masih ada yang jauh lebih berbahaya darimu," jawab Jeremy santai.


"Siapa?" tanya Lei penasaran.


"Pacarmu sekarang!" jawab Jeremy kini lebih serius.


"Maria?!"


Jeremy menyunggingkan senyum. Dengan pelan berjalan ke arah Lei.


"Kamu pasti tidak menyangka bukan? Kuberitahu sesuatu yang mungkin akan membuatmu terkejut. Kamu tentu masih ingat dengan kejadian saat dahan pohon Walnut di taman sekolah kita patah dan hampir mengenai Lucy, bukan?! Lalu, kejadian pot bunga jatuh yang hampir menimpa ibumu, dan terakhir insiden yang dialami Angel di gedung aula. Aku harap ingatanmu masih bagus. Asal kamu tahu saja, semua kecelakaan itu bukan suatu kebetulan, melainkan ulah Maria," jelas Jeremy dengan sungguh-sungguh.


"Apa maksudmu... dia yang melakukan semua itu?!" tanya Lei memastikan.


"Tepat sekali! Itulah alasan aku dikirim ke sekolah itu. Tapi, ini belum selesai. Masih ada satu hal lagi. Kamu di bawah pengaruh ramuan Clema yang sengaja Maria berikan padamu demi mendapatkan dirimu. Agar kamu berbalik mencintai dia dan melupakan Angel. Jika pikiranmu tidak bisa melawan, kamu tidak akan bisa lepas darinya," kata Jeremy.


"Apa? Ta... Tapi, bagaimana aku melawannya?" tanya Lei.


"Bukalah hatimu! Kamu tahu siapa sebenarnya orang yang selama ini tinggal di sana. Meskipun kamu lupa semua tentangnya. Namun di dasar hatimu yang paling dalam sesungguhnya kamu memiliki ingatan yang cukup kuat terhadapnya. Yang menjadi penawar dari ramuan itu," ungkap Jeremy.


Setelah berkata demikian dia kembali ke dalam rumah untuk membiarkan Lei berpikir sendiri.


Ucapan Jeremy cukup rumit untuk bisa dimengerti oleh seorang yang mengalami amnesia. Namun Lei belum bisa tenang. Dia berdiri cukup lama di sana. Memikirkan apa yang harus dia perbuat sekarang ini. Sedangkan orang-orang di sekitarnya menunggu dengan harap-harap cemas berita tentang Angel. Lei tak bisa hanya diam dan menunggu saja. Di sini hanya dia satu-satunya yang bisa masuk ke dunia malaikat. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Lumina dengan segala resiko yang mungkin akan dia hadapi. Untuk saat ini membawa pulang Angel lebih penting dari apapun.


Tanpa sepengetahuan yang lainnya, Lei bersiap berangkat. Dia baru akan menginjakkan kakinya ke luar dari halaman. Tiba-tiba Mariabelle muncul.


"Mau ke mana, sayang?" tanyanya dengan wajah tak berdosa.


Lei menoleh pada Mariabelle. Saat melihat sekelilingnya tak ada orang, dia berubah menjadi Neville.


"Kamu masih berani menampakkan diri?! Aku sudah tahu semua perbuatan jahatmu! Dan jangan harap aku bisa kamu peralat lagi!" kata Neville dengan tegas.


Mariabelle menyunggingkan senyumnya. Dia nampak tenang dengan ucapan Neville. Karena sebelumnya dia sudah mendengar semua pembicaraan Lei dengan Jeremy tanpa sepengetahuan keduanya.


"Bagus! Kau sudah bisa melawan rupanya. Tapi, kau tetap milikku! Dan kau, tidak akan semudah itu kulepaskan!" ucap Mariabelle dengan lantang.


Dari balik tangannya yang tersembunyi itu tiba-tiba sebuah benang perak dengan balutan kilat dilemparkannya ke arah Neville. Neville tak sempat menghindar, sehingga secara otomatis benang itu langsung melilit dan mengikat tubuhnya dengan erat. Neville sampai tak bisa melepaskan diri. Karena benang perak itu sudah diberi mantra penangkal iblis yang membuat Neville kehilangan kekuatannya.


Tubuh Neville yang terikat benang perak langsung melemah. Ia terkulai tak berdaya. Sementara senyum mengembang di bibir merah Mariabelle. Dengan senyum penuh kemenangan Mariabelle menarik tubuh Neville dan langsung membawanya pergi ke suatu tempat.


^^^To be continued...^^^


^^^Mohon dukungannya!^^^