My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
63# Mencari Tahu



Sebuah taksi berhenti di depan rumah Pierre. Seorang wanita turun dari taksi tersebut dengan sebuah koper besar. Dia melangkah memasuki halaman rumah lalu memencet bel beberapa kali. Tak lama pintu terbuka.


"Ibu," seru Lei yang membuka pintu itu.


"Hai, sayang ... Bagaimana kabarmu?" tanya Michelle yang langsung memeluk putranya. Keduanya masuk ke dalam.


"Baik," jawab Lei.


"Di mana ayahmu?" tanya Michelle sembari menengok ke sana-kemari.


"Di atas," jawab Lei singkat.


"Oh. Ibu ke atas dulu, ya! Oh ya, Ibu bawakan oleh-oleh untukmu. Ibu juga membeli sesuatu untuk Angel. Nanti Ibu tunjukkan, ya," kata Michelle sambil berjalan menaiki tangga sampai suaranya hilang di atas sana.


Lei hanya menghela nafas melihat kelakuan ibunya yang berbicara sambil berjalan. Ia lalu meraih buku yang ditinggalkan di atas meja tadi. Melipat ujung halaman yang terbuka dan menutupnya. Kemudian Lei beralih ke rak TV. Saat mengambil remote di samping TV itu tanpa sengaja dia melihat box serial drama yang diterimanya tanpa nama kemarin. Didorong rasa penasaran dia lalu mengambil box itu dan membukanya yang semuanya adalah kepingan DVD.


Lei mengambil satu keping DVD secara acak tanpa melihat angka episodenya. Iseng-iseng dia memutarnya di DVD player. Layar TV pun langsung menampilkan gambar kelanjutan dari cerita sebelumnya. Kebetulan bagian cerita ini pernah ditontonnya saat sedang di rumah Angel. Lei menyipitkan matanya.


'Hei, rasa-rasanya aku pernah menonton film ini. Tapi, di mana ya?' batin Lei penuh penasaran.


Dengan begitu serius dia mengikuti alur cerita dalam serial drama tersebut. Dia menebak dalam hati dengan tepat setiap adegan yang akan muncul. Dia benar-benar yakin sudah pernah menonton drama ini hanya saja lupa di mana tepatnya.


'Benar aku sudah menonton episode ini. Tapi, kapan ya? Dan di mana? Kenapa aku jadi pelupa begini?!' gumam Lei karena tak juga mengingatnya.


Saat Lei sibuk membenahi pikirannya, terdengar suara Michelle dan Pierre yang berbicara sambil menuruni tangga. Suara mereka yang berbicara sambil cekikikan agak mengganggu pikiran Lei. Ia jadi tidak bisa berkonsentrasi apalagi kedua orang tuanya ikut bergabung dengannya.


"Apa yang kamu tonton, sayang?" tanya Michelle sambil membuka kopernya dan mulai mengeluarkan isinya satu persatu.


Suasana pun makin tambah berisik. Pierre melihat box serial drama yang diterima Lei kemarin. Isinya berserakan di atas meja. Lalu Pierre melihat ke layar TV. Pierre pun menggoda Lei.


"Akhirnya kamu menontonnya juga!"


Lei hanya diam tidak menggubris ucapan kedua orang tuanya. Mukanya malah terlihat cemberut. Dengan pandangan lurus menatap layar TV yang masih memainkan serial drama itu.


"Menonton apa?" tanya Michelle tak mengerti.


"Itu kemarin Lei mendapat sebuah kiriman tanpa nama pengirim yang isinya satu box serial drama Korea. Aku pikir dia tidak tertarik dengan drama semacam itu. Rupanya dia menontonnya juga," jawab Pierre sambil tertawa.


"Oh ... Begitu," gumam Michelle paham. Ia mengeluarkan dua barang yang dibungkus berbeda.


"Nah, ini oleh-oleh untukmu, Lei!" kata Michelle sambil memberikan bungkusan berisi sweater berwarna merah maroon dengan inisial huruf L di bagian dada kanan.


Lei membuka bungkusan itu dan mengeluarkan isinya.


"Bagaimana? Apa kamu suka?" tanya Michelle.


"Lumayan! Trims, Bu!" jawab Lei.


"Nah, kalau yang ini untuk Angel! Bagaimana menurut kalian cantik tidak?" tanya Michelle meminta pendapat Lei dan Pierre. Sambil menunjukkan sebuah gelang silver dengan gantungan malaikat kecil diapit dua manik batu topaz kecil di sisi kiri dan kanannya.


"Cantik. Aku yakin Angel pasti suka!" Pierre berkomentar. Sementara Lei hanya terdiam sambil menatap gelang itu.


"Kalau kamu Lei? Bagaimana?" tanya Michelle. Tapi Lei tidak menjawab.


"Lei ...," panggil Michelle.


"Hah?!" seru Lei tersadar.


"Apa sih yang kamu pikirkan? Ibu tanya gelang ini cantik tidak untuk Angel? Malah melamun," gerutu Michelle.


'Angel,' batin Lei. Dia mulai menyadari sesuatu hal. 'Ya. Angel! Pasti ada hubungannya dengan Angel!' pikir Lei.


Mendadak Lei bangkit berdiri. Dia langsung berjalan ke dapur mencari tong sampah. Lalu mengorek-ngorek ke dalam isi tong. Sementara Michelle dan Pierre menatap Lei dengan bingung. Lei mencari sisa kertas pembungkus box drama yang kemarin dibuang di sana. Sambil berharap Pierre belum membuang sampah kemarin. Dan ....


'Yes! Ketemu!' sorak Lei di hati. 


Kemudian dia memungut kertas dengan tulisan 'to: Lei' itu, membersihkannya lalu melipatnya dan memasukannya ke dalam saku celana. Dia berjalan kembali hendak ke luar. Namun saat lewat di depan orang tuanya, mereka mencegatnya.


"Lei, mau ke mana? Apa yang kamu cari tadi di tong sampah?" tanya Michelle begitu ingin tahu.


"Sesuatu yang terjatuh," jawab Lei asal. Ia kembali meneruskan langkahnya.


"Lalu, sekarang kamu mau ke mana?" tanya Michelle lagi.


"Ada sesuatu yang harus kukerjakan. Ibu aku pergi dulu!" kata Lei.


"Lei, tunggu dulu!" panggil Michelle. Kini ia berjalan menghampiri Lei. Lei juga menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi, Ibu?" tanya Lei.


"Ibu hanya ingin tahu, bagaimana keadaan Angel hari ini. Kalian kan sekelas," ujar Michelle tersenyum.


"Angel tidak masuk hari ini!" jawab Lei spontan.


"Tidak masuk? Apa dia sakit?" pikirnya cemas.


"Entahlah. Sudah aku pergi dulu! Lanjut nanti saja bicaranya. Bye, Ibu ...," ujar Lei sambil lari menjauh.


Michelle juga tak mencegahnya lagi. Dia langsung beralih mengambil telepon lalu memencet nomor telepon rumah Angel dan membuat panggilan. Lama telepon berbunyi namun tidak ada yang menjawab. Michelle mengulanginya beberapa kali dan tetap tak ada yang mengangkat telepon. Michelle pun menyerah dan meletakkan kembali telepon ke tempatnya. Pierre mengerti kegundahan hati Michelle. Ia mengusap pundaknya untuk menenangkan hati istrinya.


Lei kembali ke wujud Neville untuk memudahkannya masuk ke rumah Angel dan juga mempercepat perjalanannya. Setelah memastikan Angel tak ada di kamarnya, Neville pun masuk melalui jendela kamar. Ia berjalan ke meja belajar Angel. Lalu mengeluarkan sebuah buku yang tersimpan di laci. Neville membuka halaman buku yang tak ia ketahui isinya. Ia hanya perlu melihat seperti apa tulisan tangan Angel bukan isi bukunya. Kemudian mengeluarkan sobekan kertas pembungkus yang ia simpan di saku celana. Neville pun mulai mencocokkan tulisan di kertas pembungkus dengan buku Angel. Hasilnya cocok. Tulisan tangan pada kertas pembungkus sama persis dengan tulisan tangan Angel. Maka Neville sudah dapat menebak dengan pasti bahwa kiriman itu dari Angel. Ia menutup kembali buku Angel dan mengembalikannya ke dalam laci. Ia harus segera pergi sebelum Angel datang. Karena gadis itu bisa melihat wujudnya. Baru saja dia hendak keluar dari jendela kamar saat langkahnya tiba-tiba berhenti. Entah apa hanya perasaannya saja, tapi ia merasa aneh. Ada sesuatu yang berbeda. Rumah itu sangat sepi. Tidak seperti biasanya, tidak ada kehangatan yang tersisa sama sekali.


Neville mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia berbalik mengamati setiap sudut kamar Angel. Memang tidak berubah. Kamar ini rapi seperti biasanya. Ia mulai berjalan ke tempat tidur. Memegang permukaan kasur yang tertutup sprei corak bunga yang tersusun rapi.


'Dingin. Sepertinya tidak dipakai semalaman,' gumam Neville.


Kemudian beralih ke lemari, meja rias sampai sisir yang diletakkan di sana pun semuanya sama, tidak ada yang tersentuh sejak tadi pagi. Neville pun keluar dari kamar Angel. Dengan hati-hati dan pelan berjalan ke lantai bawah. Keadaannya juga sama. Tidak ada satupun barang yang disentuh Angel tadi pagi. Neville pun mulai mengambil kesimpulan.


"Itu berarti dari kemarin Angel sudah meninggalkan rumah. Jika dia pergi tadi pagi tidak mungkin dia tidak menyentuh sesuatu. Meski hanya sebuah sisir. Hm ...," gumam Neville.


'Kira-kira dia pergi ke mana, ya? Apa dia mengunjungi mamanya? Kalaupun iya rasanya aneh sampai bolos sekolah,' pikir Neville.


Setelah puas menjelajahi seisi rumah Neville pun pergi meninggalkan rumah Angel. Dia keluar lewat halaman belakang. Sekarang dia melayang tanpa jelas arah tujuan.


'Sekarang aku yakin serial drama kemarin memang kiriman Angel. Aku ingat pernah menonton drama itu di rumahnya. Tapi, mengapa Angel masih mengirimkan DVD itu padaku? Apa karena aku tidak menontonnya sampai akhir?! Benar, aku memang tidak menonton sampai tamat tapi sepertinya bukan itu alasannya. Pasti ada alasan yang lebih masuk akal. Tapi, apa ya?' pikir Neville sambil terus melayang.


"Apa yang kau pikirkan Neville?! " tanya seseorang yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


Neville menoleh.


"Mariabelle?!" gumam Neville. Dia nampak malas dengan kehadiran malaikat satu ini. Kedatangannya benar-benar tak diharapkan saat ini.


"Ada apa? Mengapa menatapku seperti itu?" tanya Mariabelle yang merasa terganggu.


"Aku yang harusnya bertanya apa yang kamu lakukan di sini?" balas Lei.


"Kenapa kau berkata begitu? Kau tidak suka aku menemuimu?" tanya Mariabelle yang telah berada di sampingnya.


"Ya. Tidak suka sama sekali," jawab Lei.


Mariabelle menyipitkan matanya sambil menatap Neville sekilas.


'Aneh, ini pertama kalinya dia melawan ucapanku setelah memakan cokelat yang telah diberi ramuan itu. Apa efek ramuan itu mulai berkurang?!' pikirnya.


Ia kembali menatap Neville dan memanggilnya dengan mata melotot.


"Neville!"


"Apa?" jawab Neville tanpa menoleh Mariabelle. Pandangannya fokus ke depan.


"Lihat aku!" perintah Mariabelle.


"Tolong, berhentilah menggangguku!" sahut Neville tanpa mau menatap Mariabelle. 


Kemudian dia terbang mendahului Mariabelle dengan cepat dan menghilang. Belum sempat Mariabelle berkata-kata, sosok Neville sudah tak kelihatan berada di sekitarnya. Mariabelle berhenti dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun tak terlihat Neville di sana. Mariabelle pun pergi sambil mengumpat dengan kesal.


"Sialan! Cepat sekali hilangnya. Sepertinya efek ramuan itu memang mulai berkurang!"


Tanpa sadar Neville tiba di pantai. Pantai yang dulu pernah dirinya kunjungi bersama Angel. Dia tidak merubah wujudnya karena suasana pantai yang agak ramai. Ia berjalan menyusuri bibir pantai. Angin yang kencang dan suara deburan ombak membuatnya rindu pada sosok seseorang yang hilang dari ingatannya. Langkahnya berhenti ketika di depannya terlihat sepasang kekasih saling memercikkan air sambil berlari kecil.


'Seperti ....'


Neville belum bisa mengingat dengan pasti. Sepasang kekasih itu telah berjalan semakin jauh. Neville membungkukkan badannya. Dicelupkan tangannya ke dalam air itu lalu mengangkatnya. Air yang ada di telapak tangannya langsung menetes jatuh dan habis seketika.


'Ada yang hilang ....'


Neville kembali meneruskan langkahnya. Agak jauh dari bibir pantai, di sana dia melihat dua anak kecil bermain pasir. Kedua anak kecil itu sedang membangun istana pasir. Neville kembali berhenti dan memperhatikan kedua anak itu.


"Kakak, lihat istananya sudah mau jadi. Nanti aku jadi puterinya, Kakak jadi pangerannya!" kata anak perempuan yang lebih muda.


"Lalu yang jadi raja dan ratunya siapa?" tanya anak lelaki yang lebih tua.


"Papa dan mama," jawab anak perempuan itu sambil melambai ke arah orang tuanya yang agak jauh di belakang.


Kembali Neville melangkah mengalihkan pandangan dari kedua anak kecil itu. Ada sesuatu yang lagi-lagi mengusik perasaannya.


'Istana pasir ....'


Mendadak ia mengentikan langkahnya saat tiba-tiba sebuah suara muncul di kepalanya.


["Lihat istanaku sudah jadi!"]


Dengan cepat Neville menoleh ke sekelilingnya. Tetapi dia tidak menemukan sesuatu yang aneh seperti yang muncul di kepalanya barusan. Keadaan sekitarnya masih normal seperti tadi. Neville mulai merasa resah. Secepatnya ia pergi meninggalkan pantai itu.