My Boyfriend Is A Devil

My Boyfriend Is A Devil
66# Michelle Ketahuan Berbohong Oleh Maria



Di dalam sebuah ruangan besar Astru bersama beberapa petinggi berkumpul dalam sebuah pertemuan rahasia. Mereka semua duduk saling berhadapan mengelilingi meja bundar besar. Mereka baru saja selesai membahas suatu permasalahan.


"Jadi, bagaimana selanjutnya? " tanya seorang petinggi kepada Astru.


"Aku sudah mengambil keputusan. Kekacauan ini harus segera di akhiri!" jawab Astru dengan mimik serius


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya petinggi lain.


Astru tersenyum sungging menyikapi pertanyaan petinggi tersebut.


"Kita tunggu sampai saatnya tiba," jawab Astru dengan senyum misterius. Para petinggi hanya bisa saling menatap satu sama lain.


...☁️☁️☁️...


Sebuah nampan diletakkan dengan kasar ke atas meja sehingga menimbulkan suara keras yang cukup mengganggu. Sementara wajah pengantar itu nampak kurang senang. Louis yang kala itu sedang merapikan meja langsung menoleh.


"Ada apa, Olive? Kamu terlihat tidak seperti biasa," tanya Louis yang merasa agak aneh dengan sikap Olive hari ini.


"Tidak apa-apa. Aku cuma kaget ternyata kamu cepat akrab dengan penyusup itu!" jawab Olive dengan ketus.


"Maksudmu Angel?! Dia bukan penyusup, dia sahabatku di dunia manusia. Kami memang sangat akrab," jawab Louis apa adanya.


"Oh, ya ... Benar sekali, bukan penyusup, karena kamu sahabatnya, pasti akan membelanya. Bahkan Yang Mulia saja memperlakukannya dengan istimewa. Benar-benar manusia yang hebat," kata Olive sinis.


"Hei, ada apa denganmu? Kenapa bicaramu seperti itu?" tanya Louis heran. Dia segera menghabiskan obat yang dibawa Olive dengan cepat.


"Sudah ya, aku masih banyak pekerjaan," kata Olive sambil pergi membawa nampan yang telah kosong itu. Louis hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh Olive pagi ini.


Seperti kemarin, Esther kembali dengan tugasnya untuk melayani Angel. Dengan terampil dia menyiapkan semua kebutuhan Angel. Angel sudah rapi pagi ini. Sekarang dia sedang menikmati sarapan ditemani dengan Esther yang duduk di depannya sambil bercerita.


"Hari ini Nona punya rencana ingin ke mana?" tanya Esther.


"Sebenarnya aku ingin pulang," jawab Angel.


"Pulang ... ke dunia Nona?" tanya Esther memastikan.


Angel mengangguk sambil mengunyah makanannya. Ia berkata, "Aku pasti sudah lama hilang dari duniaku. Aku takut orang tua dan sahabatku mencariku!"


"Oh, benar! Waktu di dunia manusia sangat singkat!" Esther menimpali.


"Esther, apa kamu bisa mengantarku menemui Yang Mulia setelah ini?" ujar Angel.


"Tentu saja bisa. Nona habiskan dulu sarapannya!" kata Esther dengan senang hati.


"Baik. Terima kasih," balas Angel sembari menghabiskan sisa makanannya.


...☁️☁️☁️...


Suasana istirahat di sekolah tidak berubah seperti biasanya. Tetap ramai dan gaduh. Hanya ada seorang murid yang wajahnya nampak murung.


Di sudut perpustakaan yang sepi, Lucy duduk sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Jeremy.


"Jeremy, kamu tahu di mana Angel berada? Sudah tiga hari tidak ada kabar berita darinya. Rumahnya kosong. Telepon juga tidak pernah ada yang mengangkat," tanya Lucy kepada Jeremy. Ia begitu resah memikirkan sahabatnya yang tiba-tiba menghilang.


"Apa kamu sudah menghubungi mamanya? Mungkin dia pergi menemui mamanya," Jeremy bertanya sambil mengira-ngira.


Lucy menggelengkan kepala dan kembali mengadu. "Belum. Kalaupun dia pergi ke sana, dia pasti akan memberitahuku. Dia kan tahu aku pasti akan mencarinya!"


"Kamu tenanglah! Nanti aku akan coba melihat keberadaanya dengan cermin. Untuk saat ini, bagaimana kalau kamu coba tanya pada Michelle. Barangkali dia tahu," usul Jeremy berusaha menghibur Lucy.


"Ah, benar juga. Ayo!" ajak Lucy seketika pada Jeremy dan keduanya segera menuju ke ruang UKS.


Sama halnya dengan Lucy, Michelle pun begitu resah dengan Angel yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Gelang yang akan diberikannya kepada Angel terus ditatapnya. Sambil menunggu kedatangan putra satu-satunya yang sudah dia pesan untuk menemuinya saat jam istirahat.


Pintu di dorong terbuka tanpa ada ketukan dan Lei melangkah masuk. Michelle melemparkan pandangan pada Lei. Tanpa disuruh Lei duduk dengan seenaknya di sofa. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan Michelle dengannya. Dan itu tidak berubah semenjak dua hari yang lalu sampai sekarang. Michelle pun menghampirinya.


"Sudah ada kabar dari Angel?" tanyanya penuh harap.


Lei menggeleng pelan. Michelle menghela nafas. Tanpa semangat dia duduk di samping putranya.


"Lei, kamu tidak mencarinya? Ini sudah tiga hari!" ucap Michelle pelan.


"Bukankah sebelumnya dia juga pernah menghilang?!" balas Lei mengingat kejadian lalu di mana Angel tidak masuk ke sekolah selama berhari-hari.


"Tapi, Lei ... kali ini dia tidak pernah ada di rumah dan telepon Ibu tidak pernah diangkat! Perasaan Ibu tidak enak!" kata Michelle dengan cemas.


"Apa Ibu sudah menghubungi mamanya?" tanya Lei. Pertanyaan sama yang diajukan Jeremy pada Lucy barusan.


"Belum. Entah mengapa Ibu tidak yakin dia ada bersama Grace," jawab Michelle yang merasa demikian.


"Hm ... Jika Ibu memberikan ijin padaku untuk bolos sekolah hari ini, aku akan langsung pergi ke tempat Grace untuk memastikan ada atau tidak Angel di sana," Lei mengusulkan.


Wajah Michelle terlihat sedikit lebih cerah. Dengan segera dia memberi ijin pada Lei.


"Tapi, ada satu hal lagi," Lei melanjutkan.


"Hal apa lagi?" tanya Michelle.


"Ibu bisa menyibukkan Maria supaya dia tetap berada di sekolah? Aku takut dia membuntutiku. Dia pasti akan menghalangi jalanku," pinta Lei.


Michelle terdiam sesaat, merasa sedikit janggal dengan permintaan Lei. Namun dia menyanggupinya juga.


"Akan Ibu usahakan!"


Lei tersenyum dan bangkit berdiri. Kebetulan saat itu Lucy dan Jeremy datang dengan terburu-buru. Tanpa basa-basi Lucy langsung melemparkan pertanyaan pada Michelle.


"Ibu Michelle, apa Ibu tahu kabar tentang Angel?" tanya Lucy penuh harap.


"Tidak. Ibu juga tidak tahu," jawab Michelle.


"Tapi, kalian tenang saja. Lei akan segera pergi ke tempat Grace. Semoga saja Angel ada bersama mamanya dan baik-baik saja di sana," lanjut Michelle berharap walau dia sendiri tidak yakin.


"Oh, benarkah!" seru Lucy lega. Dia lalu berjalan mendekati Lei dan berkata padanya.


"Lei, kalau kamu bertemu Angel, tolong ajak dia pulang! Katakan kami mencemaskannya. Dan jika dia tidak mau pulang juga tidak apa-apa, katakan saja aku sangat merindukannya."


"Akan aku sampaikan!" ucap Lei sambil mengangguk. Kemudian Lei seketika menghilang diikuti jendela yang terbuka.


Michelle dan Lucy kini bisa sedikit lega. Mereka hanya tinggal menunggu kepulangan Lei nanti membawa kabar dari Angel. Lucy dan Jeremy akhirnya kembali ke kelas bertepatan dengan bunyi bel masuk. Michelle mulai memikirkan suatu cara untuk menahan Maria sampai sekolah berakhir.


Kemudian Michelle beranjak meninggalkan ruang UKS untuk ke ruang guru. Di sana Michelle mengecek jadwal pelajaran kelas Maria. Dia menemukan daftar piket yang kebetulan menjadi tugas Maria hari ini. Michelle tersenyum.


Kelakuan Lei yang sering membolos beberapa hari ini memang tidak membuat Maria curiga. Meskipun Lei tidak hadir seusai jam istirahat. Biasanya dia akan mencarinya di ruang UKS atau di rumah setelah pulang sekolah. Setelah masuk daftar pertama murid terpintar di sekolah, dia selalu menjaga kedisiplinannya untuk tidak bolos pelajaran. Meskipun sikapnya terhadap murid lain tetap angkuh dan meremehkan. Namun dia tidak peduli, dia sangat menikmati saat semua murid di sekolah ini menatapnya dengan rasa iri dan penuh kekaguman.


Bel tanda berakhirnya sekolah berbunyi. Maria membereskan buku-bukunya. Sementara semua penghuni kelas berhamburan ke luar. Dia harus menunggu karena hari ini gilirannya membersihkan kelas.


Maria menatap ke pojok pada salah satu siswa yang akan menjadi teman piketnya hari ini. Siswa itu masih sedang memasukkan bukunya ke dalam tas. Dengan santai Maria berjalan menghampiri temannya itu.


"Kamu pulanglah dulu! Biar hari ini aku sendiri yang membersihkan kelas," kata Maria padanya.


"Wah, benarkah?! Terima kasih kalau begitu. Kamu baik juga," ucap temannya itu dengan senang hati.


Maria tidak menjawab. Dia langsung berjalan kembali ke tempatnya. Menunggu sampai semua murid meninggalkan kelas, barulah dia akan memulai aksinya. Tentu saja dengan sekali jentikkan jari semua akan bersih seketika tanpa harus capek-capek keluar tenaga. Dengan demikian tugasnya cepat selesai dan dia bisa segera menemui Lei.


Akhirnya tinggallah Maria seorang diri di dalam kelas. Dia baru akan memulai aksinya saat tiba-tiba Michelle memasuki kelas. Maria pun mengurungkan niatnya dan berpura-pura menyapu.


"Kenapa hanya sendiri? Teman piket mu mana?" tanya Michelle.


"Dia pulang lebih dulu. Jadi, aku sendiri yang piket hari ini!" jawab Maria.


"Oh, kalau begitu akan aku temani sampai selesai," sahut Michelle yang kemudian duduk di meja guru.


"Kurasa Ibu tidak perlu repot-repot menemaniku. Aku terbiasa sendiri! Dan aku cukup cepat membersihkan kelas ini," kata Maria cepat.


"Tidak apa-apa. Ibu juga ingin sesekali mengobrol denganmu," balas Michelle.


'Ah sial!' umpat Maria. Karena dia tidak bisa menggunakan kekuatannya di depan Michelle. Mau tak mau dia harus melakukan semuanya secara manual.


"Oh ya, Bu, ngomong-ngomong Lei ke mana, ya? Dia tidak masuk usai jam istirahat," tanya Maria sambil menyapu.


"Dia ijin meninggalkan sekolah tadi. Untuk pergi menemani ayahnya berziarah ke makam neneknya," jawab Michelle bohong.


"Oh," gumam Maria.


"Aku tidak sengaja melihat jadwal kegiatanmu. Aku heran, kenapa tidak ada satupun kegiatan ekskul yang kamu ambil?" tanya Michelle.


"Aku pikir kegiatan ekskul diperuntukkan bagi murid dengan nilai di bawah rata-rata. Untuk menutupi nilai buruk mereka dalam pelajaran. Karena aku termasuk murid dengan nilai terbaik jadi aku tidak butuh tambahan nilai lagi karena aku memang sudah pintar," jawab Maria dengan bangga.


"Jawaban yang bagus," gumam Michelle


"Terima kasih!" balas Maria sambil terus menyapu.


"Sebenarnya aku tidak mengerti, mengapa Lei bisa menyukaimu. Awalnya aku mengira Lei menyukai Angel," kata Michelle beralih ke topik lain.


"Hm ... Mereka hanya teman biasa," sahut Maria dengan bibir tersungging.


"Ya. Mengecewakan sekali! Karena jujur aku tak suka dengan gadis yang angkuh," kata Michelle menyinggung Maria.


Maria tidak menggubris perkataan Michelle. Walau tak suka dia tetap mencoba bersikap baik. Karena ini bukan waktu yang tepat untuk menyerang. Maria hanya ingin segera menyelesaikan tugasnya dan pergi. Namun niatnya lagi-lagi harus tertunda karena Michelle masih menahannya.


"Maria, setelah tugasmu selesai, tolong bantu Ibu bawa buku-buku ini ke perpustakaan, ya! Sekalian menyimpannya kembali ke tempatnya," pinta Michelle.


Dengan setengah hati Maria mengangguk. Tetapi dalam hati dia bertanya-tanya.


'Aneh sekali dia hari ini. Tidak biasanya dia menyuruhku melakukan ini itu. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.'


Setelah semua tugas selesai keduanya meninggalkan sekolah. Sampainya di depan gerbang mereka berpisah karena rumah mereka berlawanan arah. Sementara Michelle menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, di sisi lain Maria langsung menghilang saat tak ada yang melihat. Dia curiga kalau Lei benar-benar pergi bersama ayahnya.


Dengan penerbangan yang cepat Maria pasti lebih dulu sampai di rumah Michelle. Dia melayang di depan jendela kamar Lei dan melihat kamar yang kosong. Lalu melayang turun dan melihat mobil biru Pierre terparkir di halaman. Dia segera berubah kembali menjadi manusia dan pura-pura mencari Lei. Dia menekan bel beberapa kali hingga Pierre akhirnya muncul dari balik pintu.


"Selamat sore, Uncle!" sapa Maria dengan ramah.


"Eh, Maria. Ayo, masuk!" ajak Pierre sambil membuka lebar pintu.


"Tidak perlu. Aku hanya mencari Lei saja. Apa dia ada di rumah?" tanya Maria.


"Lei belum pulang. Bukannya kalian sekelas?" jawab Pierre yang nampak bingung.


"Oh, tadi Lei tidak masuk usai istirahat. Ku pikir dia pulang lebih dulu. Tapi karena dia tak ada di rumah ya sudah tidak apa-apa. Aku pergi dulu!" pamit Maria.


"Oh, oke. Hati-hati di jalan. Kalau Lei pulang aku akan beritahu padanya kamu datang kemari," ujar Pierre.


"Terima kasih," balas Maria yang lalu berjalan pergi.


'Benar dugaanku. Wanita itu membohongiku. Dia menyembunyikan sesuatu dariku! Pasti dia menyuruh Lei pergi mencari Angel,' gumam Maria yang lalu berubah kembali menjadi malaikat.


Michelle sampai di rumah sesudahnya. Bertepatan dengan Pierre yang hendak pergi. Sehingga Pierre lupa menceritakan kedatangan Maria barusan.


"Hai, sayang! Kamu baru pulang, aku pergi dulu, ya! Memancing bersama teman," pamit Pierre sambil mencium pipi Michelle yang baru tiba.


"Oke, hati-hati!" balas Michelle. Dia melambaikan tangan pada suaminya saat Pierre mulai menjalankan mobil. Dan mobil pun melaju meninggalkan halaman.


^^^To be continued....^^^