
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Angel, ketiganya lebih banyak diam. Sesampainya di rumah Angel. Mereka bertiga pun turun dari mobil. Angel membuka pintu lalu mempersilahkan kedua temannya masuk. Anne menuntun Angel menuju ruang keluarga. Setelah membantu Angel duduk Anne kembali ke ruang depan meninggalkan Angel. Louis juga masuk dan duduk di sofa lain di ruangan itu.
"Hei, kamu tidak pernah cerita padaku sebelumnya kalau kamu punya kakak?" tanya Angel begitu Louis duduk.
"Itu tidak terlalu penting," jawab Louis sekenanya. Dia swndiri tidak menyangka bakal ada kejadian seperti ini.
Anne kembali ke ruang keluarga sambil menenteng sebuah tas kecil dan juga handuk. Kacamata hitamnya juga sudah dilepas. Angel mulai memperhatikan wajahnya. Sepasang bola mata coklat balas menatap Angel dengan senyum ramah. Saat ini Angel tidak mengenalinya karena Anne merubah wajah aslinya. Angel pun balas tersenyum juga.
"Maaf, lama menunggu," ucap Anne pada keduanya.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Anne pada Angel. Angel membalasnya dengan mengangguk.
"Louis, bisa tolong pergi sebentar?" tanya Anne pada Louis.
"Tentu! Aku tunggu di teras depan saja," jawab Louis segera bangkit berdiri.
"Aku akan memanggilmu jika sudah selesai," sahut Anne.
"Baik. Tolong, sembuhkan Angel!" mohon Louis kemudian beranjak dari ruang keluarga.
Anne cuma tersenyum pasti. Dan kembali memusatkan perhatian pada Angel. Ia lalu duduk di samping Angel dengan posisi menghadap bagian punggung Angel.
"Bisa tolong buka sedikit bajumu agar aku bisa melihat bagian yang terluka?" tanya Anne sambil memberikan handuk pada Angel.
"Iya," kata Angel. Ia mulai membuka kancing bajunya dan menurunkannya hingga luka memar di punggung itu nampak jelas. Dan dengan handuk yang diberikan Anne untuk membantu menutupi bagian tubuh yang terbuka.
Anne sedang mengeluarkan sesuatu sejenis balsem dari dalam tas kecilnya. Ia mencoba menekan bagian memar di punggung Angel dengan jari telunjuk dan tengah untuk memeriksa lukanya.
"Sakit tidak?" tanya Anne.
"Iya. Sakit sekali!" ringis Angel.
"Tahan sebentar, ya! Setelah ini aku jamin rasa sakitnya akan hilang dan besok memar ini pasti sudah hilang," janji Anne pada Angel.
"Iya," Angel menuruti.
Anne pun langsung membalurkan balsem ke seluruh bagian punggung yang memar. Balsem hanya sebagai alternatif karena Anne lebih banyak menggunakan kekuatannya sebagai malaikat untuk mempercepat proses penyembuhan. Sesekali tekanan jari Anne membuat Angel meringis kesakitan.
Setelah hampir lima belas menit berlalu. Memar di punggung Angel mulai tersamarkan. Rasa sakitnya juga perlahan berkurang. Anne pun menyudahi proses penyembuhannya.
"Nah, sudah selesai! Kamu bisa memakai kembali bajumu," kata Anne sambil memasukkan kembali balsem ke dalam tasnya.
Angel mengancingkan kembali bajunya dan mengembalikan handuk pada Anne sambil mengucap, "terima kasih banyak!"
"Sama-sama. Bagaimana rasanya?" tanya Anne.
"Jauh lebih baik daripada tadi," jawab Angel. Rasa hangat dari balsem terasa nyaman di punggungnya. Dia bahkan bisa duduk bersandar tanpa merasa sakit seperti tadi.
"Baguslah. Aku ke depan memanggil Louis dulu," kata Anne yang terus berjalan ke luar.
Louis masuk dengan cepat dan langsung menanyakan keadaan Angel. Sedang Anne menyusul di belakang.
"Bagaimana? Masih terasa sakit?" tanya Louis.
"Tidak! Rasanya nyaman sekali. Kakakmu sangat hebat!" jawabΒ Angel lalu menatap Anne yang muncul belakangan. Anne tersenyum.
"Bagus kalau begitu! Besok kamu bisa masuk ke sekolah lagi," kata Louis girang.
"Louis, kita masih ada pekerjaan. Ayo, pulang!" ajak Anne tiba-tiba.
"Eh, cepat sekali! Duduklah dulu. Aku buatkan minuman untuk kalian," tawar Angel.
"Tidak usah repot-repot, Angel! Kami masih ada urusan yang harus segera diselesaikan. Lain kali baru aku dan Anne datang lagi," tolak Louis halus.
"Benar! Sebaiknya kau istirahat saja untuk membantu proses kesembuhanmu," timpal Anne.
"Oh, baiklah! Ingat lain kali kalian akan berkunjung lagi. Aku sangat berterima kasih padamu, Anne!" ucap Angel pada Anne kemudian.
"Tidak perlu sungkan! Baik, kalau begitu kami permisi!" pamit Anne yang berjalan duluan.
Louis mengikuti kemudian. Setelah berpamitan dengan Angel.
"Bye .... Angel!"
Dan setelah mobil yang mereka kendarai pergi, Angel pun menutup pintu.
Mobil yang dikendarai Louis dan Anne menghilang tiba-tiba ditikungan jalan yang sepi. Keduanya kembali ke wujud asli mereka sebagai malaikat. Dan melayang di udara.
"Louis, aku tidak bisa biarkan hal ini terus terjadi. Kali ini sudah sangat keterlaluan. Aku akan kembali ke Lumina dan bicara dengan Yang Mulia. Sementara kamu tetap disini mengawasi Angel. Bekerja samalah dengan Jeremy untuk mengetahui tindakan Mary selanjutnya. Kamu tidak bisa berada terlalu dekat dengannya," perintah Annabelle pada Louis.
"Baik! Tapi, Nona, anda tidak lupa pertemuan minggu ini bukan?" tanya Louis mengingatkan.
"Aku akan kembali dengan cepat," jawab Annabelle.
"Baik! Akan aku laksanakan perintah anda," kata Louis.
Anne pun menghilang. Louis terbang melayang kembali ke rumah Angel. Ia mendapati Angel sedang tertidur di sofa ruang keluarga dengan TV menyala. Louis hanya menatapnya. Dia diam-diam masuk ke rumah mematikan TV yang menyala itu dan kembali menatap Angel yang tertidur.
'Seperti malaikat bodoh yang menunggu sang putri terbangun dari mimpinya. Padahal dia tahu meskipun sang putri telah bangun, dia juga tidak akan menyadari kehadirannya. Haa ... Apa boleh buat jika malaikat sudah jatuh cinta pada sang putri. Apapun akan dia lakukan agar sang putri aman. Ternyata jatuh cinta pada manusia bisa membuat malaikat menjadi bodoh!' pikir Louis sambil tersenyum geli.
...πππ...
Saat istirahat tiba Lei langsung meninggalkan kelas dengan cepat menuju ruang UKS. Maria sempat memanggil karena melihatnya sangat tergesa-gesa. Namun Lei tidak memperdulikan panggilannya. Maria juga tak berniat mengejarnya karena dengan begitu dia bisa segera menyelesaikan urusannya.
Sementara itu Lucy merasa resah karena Angel tak masuk sekolah dan tidak memberi kabar. Ia bertemu dengan Jeremy di taman lalu menceritakan kecemasannya pada Jeremy. Tapi Jeremy tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ia hanya menghibur dan berusaha menenangkan Lucy.
Lei berlari ke ruang UKS dan langsung masuk begitu saja. Bahkan Michelle pun terkejut pintu terbuka tiba-tiba. Namun sesampai di sana dia malah mendapati tempat tidur sudah kosong. Sama sekali tidak melihat keberadaan Angel di ruangan tersebut.
"Ibu, di mana Angel?" tanya Lei.
"Angel sudah pulang," jawab Michelle.
"Pulang?" Lei mengernyitkan dahi.
"Iya. Tadi ada dua orang temannya yang datang menjemput. Kamu tahu tidak? Di punggung Angel terdapat luka memar yang parah. Pantas saja dia bisa sampai pingsan. Dia cerita pada Ibu bahwa ia menemukan pesan darimu di atas mejanya. Pesan itu menyuruhnya untuk ke gedung aula. Apa kamu menulis pesan seperti itu pada Angel?" tanya Michelle.
"Aku? Tidak. Aku tidak pernah meninggalkan pesan di atas mejanya. Apalagi menyuruhnya ke gedung aula. Sedangkan aku sendiri mendapat pesan tanpa nama pengirim yang malah menyuruhku menyelamatkan Angel di sana," jawab Lei keheranan.
"Kalau begitu siapa yang menulis pesan untuk Angel? Angel bercerita sesampainya dia di gedung aula tanpa dia sadari seseorang memukulnya dari belakang sehingga ia pingsan. Setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi. Bahkan ia tak tahu siapa yang memukulnya," cerita Michelle.
"Aneh sekali! Saat aku tiba di gedung aula pintu dipalang kunci dari luar. Bagaimana dengan luka di punggungnya sekarang? " tanya Lei khawatir.
"Ibu sudah mengobatinya dengan salep. Kemudian dua orang temannya datang kemari menjemputnya tadi. Seorang pemuda yang bernama Louis serta kakaknya. Angel bilang Louis temannya. Louis membawa kakaknya yang katanya pandai mengobati luka untuk menyembuhkan Angel. Karena Ibu lihat mereka terlihat sangat akrab jadi ya ... Ibu ijinkan Angel pulang bersama mereka," jawab Michelle.
"Bagaimana orang luar bisa tahu mengenai kejadian yang menimpa Angel?" tanya Lei penuh curiga.
"Louis bilang dari temannya yang kebetulan sekolah di sini. Tapi temannya tak mau disebutkan namanya," jawab Michelle.
Lei mendengarkan jawaban Michelle sambil mengerutkan dahi.
"Benar-benar aneh!" gumamnya.
"Ibu rasa Angel dijebak. Ada orang yang ingin mencelakainya. Ibu semakin khawatir padanya. Semoga dia baik-baik saja!" kata Michelle cemas.
"Ibu, maaf, aku telah gagal melindungi Angel," ucap Lei merasa bersalah.
"Tidak, Neville. Ini bukan salahmu," hibur Michelle. "Oh ya. Bagaimana dengan sakit kepalamu?" tanya Michelle.
"Sudah sembuh. Baiklah, aku pergi dulu!" pamit Lei lalu keluar dari ruang UKS.
Di tempat lain, Maria berjalan dengan cepat menuju gedung aula. Dia tidak sabar ingin segera melihat apa yang terjadi pada sanderanya. Tetapi begitu tiba, pintu ruangan telah terbuka. Saat dia masuk ke dalam melihat seisi ruangan. Ruangan telah kosong tak ada siapapu di sana.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Lei yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Kekagetan nampak jelas di wajah Maria. Tak menyangka Lei akan muncul di sini. Dengan santai dan seolah tak terjadi apa-apa Maria menjawab, "Sedang mencari anting-antingku yang jatuh. Sepertinya tak ada di sini. Aku cari di tempat lain saja!"
Setelah berkata demikian Maria pun pergi meninggalkan Lei. Lei memandang kepergiannya dengan perasaan curiga. Dan pergi setelah mengecek sekilas keadaan dalam aula.
βββββββββββββ β βββββββββββ
Mohon dukungan untuk karya ini dengan like, gift, ads, vote atau komentar sesuai cerita. Terima kasih! Masukkan ke list favorit supaya tidak ketinggalan update, ya! (βΏ^βΏ^)
ββββββββββββ β ββββββββββββ