
Siang yang cukup panas, Lei tiba di rumah dan melihat mobil ayahnya tidak ada di halaman rumah. Tahulah dia bahwa ayahnya sedang ke luar. Beruntung Lei selalu membawa kunci rumah meskipun dirinya tetap bisa masuk tanpa kunci sekalipun.
Lei membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Dia langsung berjalan menuju lemari pendingin. Membuka lemari pendingin untuk mengambil sebotol air putih dingin lalu meneguknya. Selanjutnya ia meletakan botol yang airnya tinggal sedikit itu ke atas meja makan. Saat itu dia melihat satu box makanan dengan secarik kertas di atasnya. Lei mengambil kertas itu dan membaca bahwa itu pesan dari Angel. Kemudian dia membuka isi box tersebut yang adalah nasi omelet. Aroma nasi omelet langsung menyeruak membuat perut Lei menjadi lapar. Namun Lei masih terdiam menatap nasi itu. Seperti ada sesuatu yang tidak bisa dia ingat. Telepon di ruang tamu tiba-tiba berdering. Menyadarkan Lei dari lamunannya. Segera ia pergi mengangkat telepon itu.
"Halo," suara Lei menyapa.
[Halo, Lei, ya?] tanya suara di seberang sana.
"Ibu?" ucap Lei begitu mendengar suara Michelle.
[Lei, bagaimana kabarmu? Apa kamu membolos lagi?]
"Ibu, kita kan baru berpisah tadi pagi. Tentu saja kabarku masih sama seperti tadi. Aku tidak membolos hari ini," jawab Lei.
[Baguslah. Ibu hanya takut sakit kepalamu kambuh. Apa kamu sudah makan siang? Ayahmu sudah membeli makanan untukmu? Di mana ayahmu?]
"Ayah sedang ke luar. Aku baru mau makan. Em ... Angel membawakan makanan ke sini," jawab Lei singkat.
[Oh ya? Apa Angel masih di sana?]
"Tidak. Dia sudah pulang!"
[Ya sudah, kamu makan saja dulu! Ibu cuma mau beri tahu kalau Ibu pulang lusa nanti. Acaranya dipercepat!]
"Baiklah!"
[Sampai bertemu, Sayang! Salam buat ayahmu. Love you!]
"Iya. Bye."
Telepon ditutup. Lei kembali ke dapur. Dia duduk di kursi meja makan. Di depannya nasi omelet buatan Angel sedang menunggu untuk disantap. Lei pun mulai memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
'Enak. Rasa makanan ini terasa tidak asing. Sepertinya aku pernah makan ini sebelumnya. Tapi, di mana ya?' pikir Lei.
Meskipun dia tahu itu buatan Angel. Tapi dia tidak bisa ingat di mana pernah makan nasi ini sebelumnya. Selanjutnya Lei makan dengan lahap sekali. Sampai nasi itu habis tak bersisa. Kemudian dia pergi ke kamarnya dan tertidur karena kekenyangan.
...🕊️🕊️🕊️...
Sebelum alarm di jam weker berbunyi, Angel sudah terbangun duluan. Kemarin dia tidur lebih cepat. Jam baru menunjukkan pukul 05.05 pagi. Tak ada hal yang perlu ia kerjakan sepagi ini. Diliriknya box film yang baru ia beli kemarin di atas meja belajarnya. Kemudian ia membuka laci paling bawah meja belajar mencari gulungan kertas kado yang tersisa. Setelah ketemu dikeluarkannya untuk membungkus box film itu.
Kertas kado yang bergambar dijadikan bagian dalam. Sehingga bagian putih polos berada di luar. Setelah selesai membungkus keseluruhan kotak, Angel mengambil spidol di atas meja belajarnya kemudian menulis kalimat singkat 'To: Lei' di permukaan kotak. Sengaja tak dicantumkan nama pengirim. Dia akan mengantar sendiri paket itu ke rumah Lei. Tentu tanpa sepengetahuan Lei. Maka Angel akan membawanya nanti saat jam istirahat sekolah. Dia akan pergi dengan bantuan cermin sehingga tidak perlu bolos lagi hari ini. Ditaruh kembali paket itu di atas meja belajar. Angel pun mulai mandi untuk bersiap-siap ke sekolah.
Angel tiba di sekolah. Saat hendak melangkahkan kaki ke dalam kelas, dia melihat Maria ada di bangku Lei bercanda dengan pemuda itu. Angel pun mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia memutar balik arah meninggalkan kelas. Berjalan ke taman sekolah. Ia duduk di salah satu bangku taman menunggu sampai bel berbunyi.
Di dalam kelas, Maria beranjak dari bangku Lei. Salah satu teman mengajaknya ke luar dan Maria mengikuti. Lei yang sendirian lalu memutar badannya mengarah ke luar jendela. Dia melihat ke arah taman di bawahnya. Tak sengaja ia melihat Angel di sana. Cukup lama Lei menatapnya tanpa disadari oleh gadis itu. Lei terus menatapnya hingga bel berbunyi dan Angel beranjak dari tempatnya.
Bel istirahat berbunyi. Angel segera menarik tangan Lucy dan mengajaknya ke atap sekolah.
"Angel, ada apa sih?" tanya Lucy begitu mereka berada di atap.
"Aku mau pergi melakukan sesuatu kemudian akan kembali dengan cepat ke sini," jawab Angel sambil tersenyum senang.
"Melakukan apa? Dengan cermin itu lagi?" tanya Lucy.
"Iya. Nanti aku beritahu setelah kembali," jawab Angel.
"Diam dan menungguku kembali saja," jawab Angel kalem.
"Menunggu?! Membosankan sekali," gerutu Lucy.
"Kalau begitu suruh Jeremy temani saja, pasti tidak akan membosankan lagi," usul Angel sedikit menggoda.
"Ah, sudahlah. Sana cepat pergi! Nanti keburu masuk lagi," kata Lucy akhirnya.
"Oke," balas Angel. Sambil mengeluarkan cermin dan berucap, "Wahai cermin, bawa aku pulang ke rumah!"
Cring.... Cahaya yang muncul dari cermin menyedot Angel masuk ke dalamnya sehingga Angel lenyap dari atap sekolah. Lucy berada di sana menyaksikan hilangnya Angel. Ia hanya diam menunggu sampai Angel kembali.
Angel kembali muncul di ruang keluarga rumahnya. Ia segera berlari menuju ke kamar. Mengambil paket yang ada di atas meja belajar.
"Wahai cermin, bawa aku ke halaman rumah Lei!"
Cahaya muncul lagi dari dalam cermin membawa Angel sampai di tempat tujuan. Tiba-tiba dia telah berada di halaman rumah Lei. Mobil Pierre terparkir di sana. Dengan segera Angel meletakkan paket itu tepat di depan pintu rumah. Lalu menekan bel rumah sekali. Dan dengan cepat ia berlari bersembunyi di balik mobil sambil berucap, "Kembali ke atap sekolah!" Dan ia pun menghilang.
Pintu rumah dibuka oleh Pierre. Dia nampak keheranan sebab tak menemukan siapa-siapa di sana. Hanya ada sebuah paket tergeletak di bawah pintu. Pierre lantas memungutnya. Menemukan tulisan yang ditujukan untuk Lei. Pierre membolak-balikkan paket itu namun tak menemukan nama pengirimnya. Akhirnya paket itu dibawanya masuk dan diletakkan di atas meja makan.
Seperti janji Angel pada Lucy, ia kembali dengan cepat. Saat Lucy terbengong sendirian tiba-tiba saja Angel muncul. Ia langsung duduk di samping Lucy.
"Bagaimana? Cepatkan?" ujarnya pada Lucy.
"Lumayan. Memangnya apa yang kamu lakukan?" Lucy menagih janji Angel untuk memberitahunya setelah kembali.
"Em ... Tadi aku pulang ke rumah mengambil paket yang berisi film yang dulu sering ditonton Lei di rumahku. Kemudian aku pergi ke rumah Lei dan menaruh paket itu di depan pintu rumahnya. Aku bunyikan bel sekali supaya Pierre mendengar. Baru kemudian aku kembali lagi ke sini," jelas Angel.
"Oh ... Rupanya begitu! Apa menurutmu Lei akan ingat?" tanya Lucy.
"Entahlah. Namanya juga usaha. Aku hanya berharap semoga saja dia cepat mengingatku lagi. Aku akan terus berusaha!" jawab Angel.
"Semangat! Aku akan mendukungmu," Lucy menyemangati.
"Trims, kamu memang sahabatku yang paling baik! " ucap Angel sembari memeluknya.
"Ya, kau juga. Ayo, kita turun!" ajak Lucy dan Angel mengangguk.
Mereka pun turun dari atap sekolah. Berjalan sambil bercanda menuju ruang kelas. Saat melewati koridor yang sebentar lagi sampai di kelas, Angel tiba-tiba berhenti. Mendadak ia merasa ingin ke toilet.
"Aduh, Lus, aku ke toilet dulu, ya!" kata Angel pada Lucy.
"Mau ku temani?" Lucy menawarkan.
"Tidak usah. Kamu ke kelas dulu saja. Sebentar saja koq!" tolak Angel.
"Oke! Aku tunggu di kelas, ya!" kata Lucy.
Angel mengangguk dan dengan cepat berlari menuju toilet. Sedangkan Lucy masuk ke dalam kelas.
^^^To be continued....^^^
^^^Mohon dukungannya ya, bestie! Makasih! 🙏^^^