
*Vote dulu nggeh !!!
Selamat Membaca
Hari sudah semakin siang. Ning Bahiyyah yang biasanya tidur siang, kini terganggu. Ia gelisah tak menentu. Di kursi meja makan, dirinya hanya termenung. Pikirannya penuh dengan banyak praduga dan pertanyaan yang tak menemu ujung.
"Nduk!!"
Ia sedikit tersentak kaget dengan elusan di bahu. Ning Bahiyyah langsung tersadar ternyata Umi Faizah-Uminya yang tersenyum hangat menyapa. Ia pun juga ikut tersenyum.
"Enek opo Nduk?"
Umi Faizah mendudukan diri di sampingnya. Ning Bahiyyah menimbang untuk menceritakan pada Umi Faizah.
"Eh, nglamun eneh!! ora apik Nduk!!"
Ning Bahiyyah hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya. Ia ragu untuk cerita. Ia takut.
"Mi!! emh —" ia bingung mau memulai percakapan dari mana.
"Assalamualaikum" Ia mengurungkan untuk menceritakan pada Umi Faizah, karena Abah Zaki-Abahnya menghampiri. Ia pun menjawab salam Abah.
"Enek opo kok meneng-menengan?" tanya Abah Zaki, Beliau mendudukan diri di kursi juga.
"Niki lo Bah, Bahi ket wau ngelamun." ujar Umi Faizah
Ning Bahiyyah menunduk, memilin kerudungnya. Ia tidak berani menatap Abah Zaki. Ia menghindari, karena tidak ingin Abah Zaki tahu kegelisahannya.
"Nduk, Abah ape ngomong."
Ning Bahiyyah mengangkat wajah, terlihat Abah Zaki yang nampak serius, tak lama ia menurunkan wajahnya lagi. Sepertinya ada hal yang serius yang akan di bicarakan padanya. Dalam hati ia ketar-ketir sendiri.
"Enggeh Bah." jawabnya
"Gus Salman Insyaallah sesok ape sowan rene sekalian ape ngajukne taaruf kangge sampeyan." ujar Abah Zaki yang membuatnya menegang. Ia semakin menundukkan wajahnya, tangannya mulai dingin. Ujung kerudungnya mungkin sudah kusut karena memilinnya terlalu kuat.
"B-Bah!!" Ucapnya terbata, kedua matanya mulai memanas.
"Ape sampek kapan sampeyan nolak taaruf Nduk? Abah wes ngomong nang Gus Salman, tapi Guse pingin sampeyan njawab langsung."
Tetes demi tetes air mata itu jatuh. Pikirannya sedang kalut di tambah beban lagi. Harus bagaimanakah ia? Elusan lembut di punggungnya seakan mengatakan kalau tidak apa-apa, tenang. Ia bingung, diterima pun, hatinya sudah berlabuh pada Kang Akmal.
Memang selama ini banyak Gus yang mengajukan taaruf padanya. Tapi ia sudah bilang pada Abah Zaki, kalau untuk saat ini ia tidak bisa menerima taaruf terlebih dahulu. Dengan alasan, ia ingin lebih lama di sini dulu, ingin berlama dengan Abah dan Umi dulu. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, itu bukan alasan yang sebenarnya. Ia menginginkan seorang calon suami yang ia cintai dan ia temukan sendiri.
Berapa banyak ia menunjukkan rasa ketertarikan pada Kang Akmal, namun Kang Akmal diam tidak bergerak sama sekali. Dan tadi apa? Keakraban Kang Akmal dan Shahla, seolah meruntuhkan semua harapan yang ia tunjukkan pada Kang Akmal, sia-sia jatuhnya.
"A-Abah kaliyan Umi kan ngertos." Ia mulai berbicara sesekali sesenggukan.
"Kang Akmal?" tanya Abah Zaki
Ia hanya mengangguk sambil mengusap air matanya yang jatuh.
"Lek Kang Akmal ora gelem, sampeyan ora oleh nolak taaruf neh yo?" tawar Abah Zaki.
Seketika ia di buat bingung oleh Abah Zaki. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia bingung mau menjawab apa dan bagaimana.
Hari sudah semakin sore, Gus Muadz masih berada di rumah. Setelah sowan ke ndalem Abah Nawawi yang tak lain adalah kakek dari Ummah Annisa-Ummahnya. Ia langsung melesat ke ndalem Abah Shiddiq. Ia masih kepikiran dengan ucapan dari Abah Nawawi tadi.
"Le, Abah iki wes sepuh. Wes wayae Abah leren. Abah mek nduweni sampeyan. Lek wes mari ngabdine, muliho rene iyo Le. Pondok e iki butuh sampeyan."
Tanggung jawab besar yang segera ia pikul. Ia tidak bisa menolak. Karena memang ia cucu satu-satunya Abah Nawawi. Ummah adalah puteri tunggal tidak ada saudara lagi. Tapi ia merasa tidak pantas mengemban tanggung jawab yang begitu besar itu.
Menghilangkan kebosanannya Ia berbaring sambil bertukar chat dengan Dek Khaliq, karena ada sesuatu yang cukup penting. Ia belum kembali ke pesantren Al-Bidayah, karena sekalian menunggu nasi goreng pesanan Dek Shahla buka.
Ia menanti Abi, yang berpesan kalau Beliau ingin berbicara dengannya. Ia hanya menebak kalau ini menyangkut kejadian lalu.
Mendengar suara Abi, ia langsung menaruh gawainya lalu menghadap ke Abi. Sekarang ia dan Abi duduk di ruang tv. Ada Abah dan Umi juga disini. Ada apa ini?
"Wes nek maqbaroh e Ummah Mas?" tanya Abi
Ia mengangguk, "Sampun Bi !!"
"Yai Nawawi piye Mas?" Abah Shiddiq gantian bertanya.
"Alhamdulillah sampun mending Bah. Wau Abah Nawawi nggeh nitip salam kagem keluarga mriki." Terdengar lirih, Abah, Abi dan Umi menjawab salam.
"Terus sanjang opo maleh Yai Nawawi?" Tanya Abah Shiddiq
"Mas, ajengen di pasrah i pondok. Tapi Mas tasik dereng sanggup." ucapnya dengan nada lesu.
"Dari awal sampeyan lahir sanggane sampeyan wes abot Mas. Di jalani ae, Insayaallah di wenehi kelancaran marang Gusti." ucap Umi Rumanah dengan nada lembut Beliau. "Kerasan ngabdi teng ndalem e Yai Zaki, Mas?"
"Alhamdulillah Mi, pandungane mawon." jawabnya
"Mas, tanggung jawabe sampeyan gede. Dadi bene ringan, iso dipikul bareng-bareng keluarga. Umure Mas, Insyaallah sudah mampu untuk membina rumah tangga. Penghasilan kan sampun enten pisan to." nasehat Abi.
Ia hanya mendengar seksama, tak berani untuk menyanggah walaupun ia ingin sekali menyanggah. Ia hanya menunduk tidak berani untuk menatap Abi. Kedua tangannya meremas satu sama lain.
"Abah sempet krungu wingi nane, tepak Yai Zaki sanjang. Opo sesok di khitbah puterine Yai Zaki?" tanya Abah Shiddiq.
Sontak saja ia mengangkat wajahnya kaget. Degub jantungnya berdetak kencang. Bukan, karena jatuh cinta atau semacamnya, bukan. Hatinya menolak keras, sangat menolak. Bukan itu yang ia inginkan. Ini salah paham.
Ya Allah sanes niki seng kulo purun!!
Jeng jeng...
Hayolohh!!
Bagaimana ini??
Silahkan pilih mana?
1. Kang Akmal dengan Ning Bahiyyah
2. Kang Akmal dengan Shahla
3. Kang Akmal dengan tokoh baru
4. Kang Akmal dengan 'DIA'
atau
5. Kang Akmal dengan saya
Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq
Muhammad Nawwaf Ismail
Bahiyyah Khansa Ismail
Shahla Nadzarrin Ahmad
Shahla Nadzarrin Ahmad
Ameera