
*Jangan lupa vote men dulu
Selamat Membaca
Acara haul akbar Mbah Yai Ismail, sudah selesai. Kini Kang Akmal dan Kang Wildan membersihkan ndalem, terutama ruang tamu. Kang Akmal yang sudah menyapu karpet di ruang tamu khusus laki-laki, kemudian beralih ke bagian ruang tamu perempuan.
Di sela-sela ia menyapu, terdengar langkah orang mendekat. Ia mengangkat wajahnya sekilas, ternyata Ning Bahiyyah dengan Gus Nawwaf.
"Wes bengi yo mbok sesok ae Kang!!"
Ia tersenyum mendengar Gus Nawwaf, "Mboten nopo-nopo Gus, nanggung." Sambil melanjutkan menyapunya.
"Kang, nggriyane njenengan niku pundi to ?" Ning Bahiyyah tiba-tiba bertanya.
"Ehem, ape nyapo takok-takok Ning ?" Gus Nawwaf menyahut.
"Ih, kan pengen ngertos tok Mas. Kang Akmal juarang wangsul lo!!"
"Pertanyaane sampean kok ra mbois to Ning, Mas pisan mondok iyo jarang wangsul, kok ora takok Mas ae, nyapo ora tau wangsul."
"Lah sinten seng wangsul ae bulan niki. Di itung enten peng sekawan, perak nggeh sami mawon seminggu pisan?"
Ia hanya menjadi pendengar tanpa menimpali perdebatan antara Gus dan Ning nya, sesekali ia terkekeh untuk menanggapi. Entah kenapa ia merasa di perhatikan dari jauh, ia mengedarkan pandangannya.
Sepasang netra yang menenangkan itu lagi. Ia tersenyum tipis sedikit mengangguk menyapa. Meski satu ndalem, tapi jarang sekali ia berkomunikasi. Setiap kali ia melihatnya selalu bersama dengan Shahla mungkin mereka bersahabat.
"Nduk Bahiyyah, enten nopo?"
Mendengar suara Yai Zaki, ia pun langsung mencium tangan Beliau dengan takzim.
"Niki lo Bah, Ning, ganggu Kang Akmal."
Yai Zaki menepuk-nepuk punggungnya, ia hanya duduk bersimpuh di samping Beliau tidak berani untuk mengangkat wajahnya.
"Walah !! Kang Akmal wes di suwun Gus Faaz."
Ia perlahan mengangkat wajahnya. Ia hanya melihat satu titik, seakan berbicara lewat tatapan. Namun objek yang ia pandang segera mengalihkan pandangannya lalu berjalan berbalik.
Ia hanya meringis dalam hati. Duh !!
Sampai di kamar, Ameera melihat sahabatnya itu tersenyum-senyum tidak jelas sambil menatap bungkusan makanan ringan. Ia heran kenapa bisa Shahla bersikap seperti itu, kesambet kali ya?
"WOY !!"
"NGGEH MAS NOPO? "
"Mas? hayoloh?"
"Ih, dirimu iki ngagetne aku lo. Salam kek, malah gawe jantungan." Shahla mendengus kesal.
"Dirimu guyu-guyu dewe ra jelas ket mau. Dirimu ora kesurupan kan? mau opo lewat ndek sampahan kono?" Ameera mulai mengeluarkan sifat cerewetnya.
"Sumpah ora yo Mer, ngawor iki lek ngomong." Sergah Shahla
"Jajal sopo Mas, Mas sopo?"
"Kui reflek Mer." Shahla mencoba meyakinkan Ameera.
"Reflek dari kasus mu itu, kamu lagi terlalu memikirkan sesuatu atau seseorang jadi secara tidak sadar mulut mu mereflekan itu. Dadi Mas sopo seng mbok pikirne ?" Argumen Ameera membuat Shahla sedikit menegang. Shahla tahu kalau sahabatnya itu tidak bisa di bohongi. Pasti ketahuan akhirnya.
"Argumen mu iku entok referensi teko endi ? buku opo ? kitab opo ? ra enek rujukane kan?" Shahla berusaha mengelak.
"Dadi Mas sopo seng mbok maksud ?" Ameera tanpa memperdulikan pertanyaan beruntun Shahla.
Shahla mendengus kasar, "Wes lah kesel aku."
"Yee, ngambulan !!"
"Ben." Jawab Shahla cepat.
Suasana hening, Ameera yang yang menggelar kasur lantainya, sedangkan Shahla sedang memegang nadzom Alifiyah Ibnu Malik, sambil mulutnya komat-kamit menghafalkan.
"Eh La, aku serius takok. Dirimu ora enek hubungan kan karo Kang Akmal ?" Pertanyaan Ameera menghentikan hafalan Shahla.
Shahla langsung menoleh, "Kok moro-moro takok ngunu ?"
"Feelling ku ae. Tapi La, lek ancen dirimu enek hubungan mendeng ora usah wes, pendem ae. Aku mau sempet krungu Kang Akmal wes di suwun Gus Faaz."
"HAH!!" Shahla langsung terduduk.
"Nah kan? teko respon mu ae wes ketauan lek enek-enek dirimu karo Kang Akmal."
"Rung kesel lek mu guyu ?" ucapan Ameera seketika menghentikan tawa Shahla.
"Urung, tapi tak lanjutne engko neh!!" ketus Shahla
Ameera sudah mulai mode malas, "Kono balik o ndek RSJ !!"
Di kamar yang bernuansa hijau, Ning Bahiyyah, berguling kesana kemari, ia tidak bisa tidur. Ning Bahiyyah masih memikirkan ucapan Abahnya. Berbagai pertanyaan yang bersarang dalam pikirannya.
Dulu, sewaktu liburan di pondok terdahulu, ia di jemput Kakaknya dan Kang Akmal. Itu pertama kali ia bertemu dengan Kang Akmal. Kang Akmal yang begitu sopan dan takzim. Apalagi kalau Kang Akmal sedang bergurau dengan Kakaknya dan Kang Wildan, melihat senyuman Kang Akmal membuatnya juga tertular untuk tersenyum. Semuanya terekam dalam benaknya.
"Ning !!" pintu terbuka terlihat Kakaknya berada di pintu lalu masuk. Ia langsung bangun dan menghidupkan lampu.
"Nopo Mas?" Ia duduk di pinggir ranjang, Kakaknya juga mendudukkan diri di sampingnya.
"Nyapo urung turu ?"
Seketika ia diam dan menunduk. Memang kakaknya yang mengerti selama ini, meski tidak menceritakan secara gamblang pada kakaknya.
"Kang Akma ?" Kakaknya menebak dan tepat sasaran, lalu menghela nafasnya, "Ning, Mas ngerti rasa cinta, rasa suka tidak bisa di cegah. Tapi setidaknya tempatkan pada posisinya yang tepat. Jangan melebihkan rasa itu di atas rasa mu terhadap-Nya."
Ning Bahiyyah merasa tertampar dengan ucapan kakaknya itu. Astaghfirullah.
"Itu belum pasti, hanya wacana Ning. Sak iki ngerti kan opo seng kudu dilakoni sampean?" Ning Bahiyya mengangguk mengerti. "Ya wes ndang babuk, tahajud e keshubuhen engko. Mas ndek kamar disek." Kakaknya berlalu dari kamarnya
Astaghfirullah !!
Suasana malam semakin hening, hanya beberapa keamanan yang berseliweran untuk mengontrol. Seorang gadis yang sudah memakai mukena bercorak biru gelap di punggungnya terdapat bordilan yang bertuliskan 'mahad Al-Bidayah', menuju ke musholla. Tangannya menggenggam tasbih kaoka yang butirannya hanya tiga puluh tiga biji, di sisi ujung terdapat ukiran huruf hijaiyah alif dan zain. Ini hadiah terakhir dari Uminya sebelum kejadian itu terjadi.
Ini memang belum waktunya untuk jadwal tahajud, namun selama berada disini, ia berusaha mengistiqomahkan untuk mengawalinya. Ia sengaja mencari waktu yang sunyi dan tenang. Karena dengan itu, ia merasa benar-benar sedang mengadu pada Rabb.
Sajadah berwarna biru gelap ia rentangkan di samping pilar. Seakan menjadi tempat favoritnya, ia selalu sholat di tempat yang sama. Kecuali kalau memang untuk memenuhi shaf sholat. Dengan takbir diiringi niat sholat dalam hati. Ia memusatkan hati dan pikirannya untuk sang Rabb.
Ia tenggelam dalam lantunan ayat-ayat Al-Qur'an. Memang sholat malam ia manfaatkan untuk men-takrir hafalannya. Terakhir, kedua tangannya menengadah, memohon pada sang pemilik hati.
Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim
Engkau menghadirkan fitrah cinta Mu pada ku
Maka, aku berharap cintaku padanya tidak melebihi cintaku pada Mu
Boleh kah aku merayu pada Mu
Meminta dia untuk menjadi pendampingku
Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq
Kang Wildan
Bahiyyah Khansa Ismail
Shahla Nadzarrin Ahmad
Ameera
Bagaimana ?
Jadi begini, cerita MU'ADZ dan GHASSAN itu di tahun yang sama.
Cerita mereka masih berkesinambungan nanti, insyaallah.
Cuma berbeda latar dan sudut pandang saja.
Biar tidak menerka-nerka saya jelaskan sedikit tentang umurnya.
Di cerita "GHASSAN" Khaliq alias Ghassan sudah tahun kedua masuk kuliah, dalam artian semester tiga.
Perbedaan umur Mu'adz dan Khaliq selisih dua tahunan. Sedangkan Mu'adz dengan Shahla selisih satu tahun.
Kira-kira sendiri nggeh, hehehe
Sampai sini sudah paham ?