
___________
Mbah Yai Imam mengelus puncak kepalanya. "Ora usah isin, ora opo-opo. Santri yo ngene iki. Ora ngetoki lek dekne santri, lek di jak dolan yo budal, lek dijak ngaji yo tambah semangat budale. Seng penting siji, akhlaq e kudu santri." Ia tersenyum mendengar penuturan Beliau. Selalu begitu, jika ia sowan kepada Beliau, ada makna yang terkandung dalam penuturan Beliau.
____________
Selamat Membaca
Perlahan ia mengendarai motor maticnya, dengan bagian depan motornya sudah di penuhi satu kardus dan satu tas punggung. Entah apa yang dibawa Nduk Khafa bisa sebanyak ini.
"Mbah Yai Alhamdulillah sampun saras Mase, terakhir seng Aa' mriki, Mbah Yai mpun mendingan." ucap Nduk Khafa keras di samping telinga kanannya, Nduk Khafa yang posisinya berbonceng seperti laki-laki. Ia masih fokus mengendarai motornya hanya mendengarkan saja.
"Terus Aa' tak kenalne Mbak Kiya. Lakok Aa' tersepona." imbuh Nduk Khafa terkekeh
"Mbak Kiya?" ia mengernyitkan dahi
"Enggeh Mbak Kiya, cucu ne Mbah Yai Imam. Loh!! Astaghfirullah, Mase dereng semerep nggeh. Nduk supe." Nduk Khafa menampilkan cengirannya, bisa terlihat di kaca spion motornya. "Ajenge tak kenalne Mase, Mbak Kiya mpun wangsul teng pondok." wajah Nduk Khafa tiba-tiba sendu.
"Halah, gek opo to Nduk, kok kenal kenalne barang. Ape dadi mak coblang?" Ia menggeleng, heran dengan tingkah laku Nduk Khafa.
Terasa tepukan di punggungnya, "Ish.. kan menawi saget dhamel Mba ipar, Mase!! Kersane Nduk enten rencange." gerutu Nduk Khafa
"Lah bukane neng ndi ndi kaleh Mbak Shahla, Nduk?" Nduk Khafa memang satu paket kalau sudah di sandingkan dengan Dek Shahla. Jadi tidak heran jika Dek Shahla masih bersikap manja, sama seperti dengan Nduk Khafa. Mereka memang satu server.
"Emange Mase ajenge simah kaleh Mbak Shahla?" pertanyaan polos dari Nduk Khafa membuatnya terdiam. Ia tidak bisa menjawab dengan tegas. Karena semua masih abu-abu saat ini.
"Nduk Mase luwe, mampir disek nggeh?" tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.
*********
Sudah menjelang siang, hari ini Ning Bahiyyah di perbolehkan untuk pulang setelah beberapa hari opname di rumah sakit karena tifusnya kambuh. Semenjak menerima taaruf dari Gus Salman memang pola makannya tidak teratur, tidur juga tidak teratur. Semua tidak sama lagi. Mungkin jika dilihat semua tampak berlebihan, namun tidak baginya.
Menerima taaruf dari Gus Salman, baginya langkah awal menapaki dunia baru. Artiannya ia melepas bayang-bayang untuk membina rumah tangga bersama orang yang dicintainya. Kang Akmal tidak menginginkan dirinya, lalu sosok Gus Salman datang tapi ia tidak menginginkannya.
Ia sampai lupa kalau hari ini, hari kepulangan santri. Gus Nawwaf juga sudah pulang, malah yang menjemputnya kali ini Gus Nawwaf bukan Kang Akmal. Kabarnya Kang Akmal pulang. Tumben sekali, biasanya hari libur dia tidak pulang.
Dari kemarin Mbak Ameera menemaninya, karena Umi ada acara mengisi pengajian semalam dan Abah tidak bisa meninggal pesantren.
Kini berada di mobil, ia duduk di samping Gus Nawwaf yang sedang menyetir dan Mbak Ameera yang duduk di belakang. Ia memang sudah pulih, namun hanya lemas saja.
"Loh kaleh sinten Mas? nginep? terus benjeng pripun pas ngunjungi pengajian?" tanyanya beruntun
"Karo arek-arek pondok. Ora ngerti nginep enggak e. Enek Kang Irsyad seng ngeterne. Tapi sampean opo ape melok to Ning? awak e sek koyok ngunu."
"Insyaallah benjeng mpun sehat Mas. Ning kan pingin ngunjungi pisan. Mesti geden-geden ndek DS. Seng di undang barang seng lagi hits-hits e."
Gus Nawwaf terkekeh, sambil menghentikan laju mobil karena lampu lalulintas. "Pondok gede Ning, acarane yo jos jos kabeh."
"Mbak Mer, benjeng kudu melok nggeh? mosok ape wangsul? ngunjungi riyen terus wangsul mboten nopo-nopo."
Terdengar kekehan dari Mbak Ameera, "Nggeh Ning, Insyaallah."
Ia membuka sedikit kaca mobil, suara bising dari luar pun terdengar. Ia bisa mendengar gelak tawa dari pengendara. Ia menoleh, seketika ia matanya membulat. Perlahan ia menutup kaca mobilnya lagi.
"Kang Akmal!!" gumamnya dalam hati
Jantungnya berdentum keras, rasanya sakit melihat keakraban dari dua orang berbeda jenis itu. Bercanda berdua di atas motor. Ia tidak menyangka gaya berpakaian Kang Akmal yang sama sekali bukan style nya sehari-hari kala di pesantren. Dan yang di boncengnya, tangan lentik melingkar di pinggang Kang Akmal.
Astaghfirullah, Ning Khafa? Kang Akmal?
Ia menahan air mata yang mendorong untuk keluar. Ada rasa sesak yang menghantamnya. Kang Akmal tidak mungkin berani berkhalwat jika bukan yang mahromnya. Apa jangan-jangan seseorang yang akan di khitbah Kang Akmal itu Ning Khafa? Jadi benar, yang ia dengar kalau Gus Faaz meminta Kang Akmal. Ini bukan sekedar khitbah, lebih dari itu, MENIKAH?
Ini beneran terjadi, ini nyata kah? Tidak tidak ini hanya mimpi, iya ini mimpi. Tenang Bahiyyah ini cuma mimpi. Tanpa sadar air matanya menetes, isakan kecil keluar dari bibirnya.
"Loh, nyapo Ning?" Gus Nawwaf mencoba membalikkan badannya. "Nyapo nangis? enek opo? enek seng loro?"
"Hiks.. Kang Akmal." kemudian menghadap kedepan, menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya.
"Hah? Kang Akmal? nyapo emange?" Ia menunjuk ke arah samping kiri. Gus Nawwaf mendekat melihat. Gerakan Gus Nawwaf ingin menurunkan kaca mobil ia hentikan. Ia lalu menggeleng lemah.
Terdengar bunyi klakson dari belakang mobil. Gus Nawwaf pun kembali pada posisi semula. Pandangannya masih kedepan melihat Kang Akmal dan Ning Khafa sudah melaju di depan.
Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Ia terlalu sakit mengetahui fakta. Kang Akmal sudah tidak bisa ia gapai. Sudah tidak bisa ia sebut lagi dalam sholat malamnya, tidak bisa lagi ia sebut dalam doa-doanya.
Ya Allah... Ihdinaash shiraathal mustaqim...
*Nah loh, patah hati untuk kesekian kali Ning Bahiyyah.