
*Jangan lupa vote dan komen nggeh!!
Selamat Membaca
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam," jawab Ameera sambil mengelap kedua tangannya karena habis mencuci gelas bekas kopi. Ameera menghampiri suaminya, lalu mencium tangan Mas Mu'adz.
"Loh kok dereng siap-siap?"
Ia mengernyit sejenak. "Lah ajenge teng pundi?" tanyanya sambil berjalan beriringan dengan Mas Mu'adz menuju kamar.
"Loh Mase dereng ngomong to mau? koyok e sampun toh."
Mengingat-ingat lagi, sepertinya suaminya tidak berpesan apa-apa. "Hah? kapan Mase? ajenge teng pundi to?" tanyanya penasaran.
Sampai di dalam kamar, Mas Mu'adz merangkul membawanya duduk di pinggiran ranjang. "Nduk e purun kan ngendangi Dek Shahla?"
Tubuhnya menegang menatap Mas Mu'adz. Jujur saja ia belum siap untuk bertemu atau berbicara dengan Shahla. "Mase mboten pengen berlarut-larut. Nduk e kan rencange Dek Shahla, mosok ajenge mboten akur terus. Nopo maleh sak niki sampun dadi keluarga."
Perlahan kepalanya menunduk, memikirkan ucapan Mas Mu'adz barusan. "Purun kan Nduk e?" Ia menggigit bibir bawahnya, meskipun ragu ia mengangguk saja, menyetujui ajakan Mas Mu'adz.
"Alhamdulillah, nggeh pun ndang siap-siap. Mase nyiapne motore riyen." Setelah berucap seperti itu, Mas Mu'adz beranjak pergi namun sebelum itu Mas Mu'adz mengelus puncak kepalanya.
Terdengar pintu kamar tertutup, dirinya mematung belum bergerak sesenti pun. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti setelah ia bertemu Shahla.
Marah-marah?
Sinis-sinisan?
Adu mulut?
atau malah saling bungkam.
Ia menggeleng pelan, pasrah. Apa kata nanti saja lah. Bingung sendiri jika terus memikirkan bagaimana bersikap terhadap Shahla. Padahal posisinya ia tidak ingin merebut siapapun atau menghianati Shahla. Tapi jalannya sudah seperti ini mau bagaimana lagi.
Semoga saja Shahla mengerti nanti, jika ia sudah menjelaskan bagaimana ia bisa sampai menjadi istri Mas Mu'adz.
Tapi, mengingat sifat keras kepala Shahla, membuatnya gusar kembali. Tidak yakin jika Shahla bakal menerima semua ini dengan mudah. Apalagi Mas Mu'adz adalah orang yang paling diinginkan Shahla. Iya memang sangat tahu betul mengenai itu. Semenjak kejadian ia menangkap basah Shahla lagi memandangi foto itu, Shahla jadi mulai terbuka mengenai bagaimana perasaannya pada seorang kakak sepupu yang tak lain adalah Mas Mu'adz, suaminya sendiri. Awalnya memang benar-benar tidak tahu siapa sosok kakak yang diidamkan Shahla.
Terbesit rasa bersalah mendalam. Benarkah ia adalah seorang penghianat?
"Kok meneng ae Nduk e?" Tanya Mas Mu'adz diiringi tepukan di punggung tangannya. Seakan tersadar kembali ke dunia. Ia pun gelagapan sendiri.
"Pripun Mas e?" tanyanya dengan suara yang lebih keras. Karena bersahut-sahutan dengan kebisingan jalan.
"Nduk e ojo ngelamun ae, ket mau meneng." Suara Mas Mu'adz di balik helm tak kalah keras.
"Enggeh Mas e, mboten kok."
Tak lama kemudian motor yang ditumpangi kami berdua memasuki area perumahan. Meskipun dalam hati bertanya-tanya, mengapa malah kesini bukannya ke rumah sakit. Tapi ia hanya diam saja tanpa bertanya pada Mas Mu'adz. Sampai di depan rumah luas berlantai dua, asri namun sederhana.
Melihat Mas Mu'adz turun dari motor, ia pun juga ikut turun. Mas Mu'adz membuka gerbang, lalu menuntun motor untuk masuk ke garasi. "Ayo Nduk e, malah meneng."
"Nggriyane sinten Mase?" Berjalan menghampiri Mas Mu'adz.
"Ayah Dzarrin. Ayo!" ajak Mas Mu'adz sambil memegang tangannya.
"Assalamualaikum." Suara Mas Mu'adz menyentakkannya dalam lamunan.
Terdengar jawaban salam dari dalam, tak lama suara pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya yang tidak ia kenal.
"Owalah Gus. Monggo!" Setelah di persilahkan, ia dan Mas Mu'adz pun duduk.
"Mas Dzarrin kaleh Mba Lana teng rumah sakit tasek an Gus," ucap wanita paruh baya itu.
"Enggeh Bulek, wau Ayah sampun sanjang. Dek Shahla enten?"
"Oh, enten-enten. Kulo timbalne riyen, nopo pripun?"
"Mboten usah Bulek, kersane kulo kaleh Nduk e seng mriko."
"Oh enggeh pun, engken unjuk ane kulo teraken mriko."
"Oawalah cocok, tepak kangen kopine Bulek." Yang disebut Bulek hanya terkekeh mendengar jawaban dari suaminya.
Ia hanya diam menyimak obrolan suaminya dan yang di sebut Bulek oleh suaminya itu. Sepertinya memang sudah sangat akrab. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat kala Mas Mu'adz menarik tangannya menuju ke lantai dua yang ia yakini itu kamar Shahla. Tidak menereka-nerka lagi kenapa Mas Mu'adz bisa tahu letak kamar Shahla, karena mereka sudah akrab sejak kecil.
Sampai di pintu bercat krem yang tidak tertutup, Mas Mu'adz mengetuk pelan tak lupa salam.
"Wa'alaikumussalam, masuk mawon Mase."
Mendengar suara Shahla dari dalam kamar, membuatnya mematung di samping Mas Mu'adz, yang tidak terlihat dari dalam karena kehalang tembok. Pikirannya terus berputar-putar, harus apakah dia?
"Lagek sehat malah hapean ae." Mas Mu'adz melangkah masuk, sedangkan dirinya masih berdiri di tempatnya.
"Loh-loh Bulek Marni pundi kok mboten sareng," ucap Shahla.
"Loh!"
Melihat Mas Mu'adz menghampiri sambil mengulurkan tangan, ia menggeleng pelan. "Ayo, mboten nopo-nopo kaleh Mase." Melihat tatapan meyakinkan dari suaminya, ia perlahan menyambut uluran tangan Mas Mu'adz dan menggenggamnya erat, kakinya mulai melangkah masuk ke dalam kamar Shahla. Aroma wangi khas milik Shahla tercium di indranya. Masih dalam keadaan menunduk, ia di giring Mas Muadz untuk duduk di sofa. Ini pertama kalinya ia berada di kamar Shahla bahkan di rumah Shahla. Selama ini memang ia dekat bahkan bersahabat namun belum sama sekali berkunjung di rumah masing-masing.
"Mase rene pingin ngerampungne masalah." Mendengar ucapan tegas dari suaminya, membuatnya semakin gugup.
"M-masalah nopo Mase?" Shahla terdengar gugup sama sepertinya.
"Mase ngerti lek Dek Shahla--"
"Eum Mase, Shahla radi mumet, Shahla istirahat mawon nggeh!"
"Shahla!" Suara Mas Mu'adz tegas menusuk pendengaran. "Ape sampek kapan ngulur waktu. Mase gak pingin Dek Shahla salah paham. Mase karo Nduk Ameera rene mek ape jelasne tok Dek!" suara Mas Mu'adz berubah melembut kembali.
Dengan masih menunduk, sama sekali ia tidak menatap suaminya atau Shahla. Ia mendengar Mas Mu'adz mulai menceritakan bagaimana awal mula ia bisa menikah. Semua di ceritakan secara beruntun tanpa dikurangi atau di lebihkan Mas Mu'adz. Sampai tak sadar air matanya menetes, mengingat ia kehilangan satu-satunya orang yang paling ia sayang meninggalkan ia sendirian di dunia ini.
"Sepurane Dek. Tanpa sadar Mas e wes ngelarani sampeyan. Sampek kapapun Dek Shahla tetep adik e Mase." Mas Mu'adz mengucapkan itu sambil merangkulnya, menenangkannya yang kini sudah terisak.
"Sepurane La." Suaranya serak bercampur tangis. "Sepurane, aku gak bermaksud nginati sampeyan," lanjutnya.
"Mase ngapunten. Shahla ajenge istirahat." Ucapan Shahla membuatnya makin terisak.
Shahla tidak memaafkannya.
Shahla masih menganggapnya berhianat padanya.
"Mase ngerti Dek Shahla butuh waktu. Mase pamit. Assalamualaikum."
***********************
Monggo follow akun saya nggeh!