MU'ADZ

MU'ADZ
LIMA PULUH TIGA



Selamat Membaca


 


 


 


 


Perempuan dengan gamis longgar membalut perutnya yang tampak membesar itu melamun, memandangi gemercik kolam ikan. Tangan kanannya tanpa sadar mengelus perut buncit itu.


"Nduk!" Sentuhan di pundaknya membuat dirinya tersadar. Mengikuti siapa yang memanggilnya sampai duduk di sampingnya. Dengan senyum, ia menerima segelas susu putih yang memang setiap hari ia konsumsi. Setelah mengucap terimakasih, dengan basmalah perlahan ia teguk susu itu hingga habis. Gelas kosong yang semula berada di genggamannya, berpindah tangan pada orang di sampingnya ini.


"Assalamualaikum sayang!" sapa orang yang duduk di sampingnya ini yang tak lain adalah suaminya sendiri, menyapa calon buah hati kita.


"Adek mboten rewel kan teng mriku?" Ia tersenyum hangat mendengar suaminya ini berinteraksi dengan calon penerusnya.


Tiba-tiba rasa geli menyerangnya, gelak tawanya mengisi taman samping ndalem Abi dan Bunda. "Duh, duh! sampun Mase," ucapnya terkekeh, menghentikan ciuman suaminya pada perutnya. Meski terlapisi dengan gamisnya, tetap saja ada rasa geli.


"Kan Mase sun adek, Nduk e!" suara mendayu milik suaminya membuat dirinya gemas sendiri. Pasalnya semenjak kehamilannya, Mas Mu'adz kalau sedang bersamanya akan terlihat sangat manja. "Adek, mosok Baba mboten angsal sun adek," adu Mas Mu'adz tepat di depan perutnya, membuatnya tergelak. Ada-ada aja suaminya ini.


Seakan tahu yang di adu Baba nya, si adek merespon dengan gerakan. "Alhamdulillah adek pro kaleh Baba nggeh!" ucap Mas Mu'adz mengelus perutnya yang bergerak.


Meninggalkan Mas Mu'adz yang sibuk berinteraksi dengan anaknya. Justru dirinya sangat menginginkan sesuatu sekarang. Namun, sepertinya keinginannya tidak akan pernah terpenuhi, membuatnya lesu seketika.


"Mase!" panggilnya menatap netra Mas Mu'adz yang mulai membenarkan duduknya menjadi tegap.


"Pripun Nduk e?" tangan kanannya di genggam Mas Mu'adz. "Nduk e purun nopo? insyaallah Mase tasek kiat," lanjut Mas Mu'adz membuat wajahnya berubah murung. Ia jadi teringat, keinginannya yang aneh-aneh. Namun ketika keinginannya sudah terpenuhi, rasa bersalah timbul pada suaminya.


Pernah tengah malam, ia menginginkan nasi goreng buatan Bunda. Sebenarnya ia sangat segan, namun entah pada saat itu ia sangat begitu menginginkannya. Padahal sudah ia tahan, mencoba untuk tidur agar keinginannya lenyap bersama tidurnya. Tapi tetap tidak bisa.


Mas Mu'adz yang tidurnya terganggu pun akhirnya terbangun. Dengan perdebatan yang cukup berkelit, Mas Mu'adz menuruti keinginannya. Di satu sisi, ia begitu menginginkan nasi goreng buatan Bunda namun ia juga khawatir karena di luar sedang hujan petir.


Kebetulan mobilnya sedang dipakai, mau tidak mau Mas Mu'adz mengendarai motor. Dengan mantel baju Mas Mu'adz mulai mengendarai laju motor sampai hilang dalam pandangannya. Padahal ia sudah bilang kalau tidak usah, besok saja ke rumah Bunda. Namun Mas Mu'adz tetap ngotot untuk menuruti keinginannya. Sungguh ia jadi tidak tega kalau seperti ini, membuatnya menyesal atas keinginannya yang terucap tadi. Khawatirnya bukan main. Sampai-sampai ia sibuk berjalan kesana-kemari menunggu mas Mu'adz.


Hampir dua jam an ia menuggu Mas Mu'adz tanpa duduk. Akhirnya suara motor Mas Mu'adz memasuki pendengarannya. Dengan gerak cepat, ia membuka pintu mengikuti mas Mu'adz yang mulai masuk ke garasi.


"Nduk sepuntene sego gorenge kutah. Tapi mantun—" ucap Mas Mu'adz bersalah ketika ia tepat di depan Mas Mu'adz.


"MASE! ASTAGHFIRULLAH!" pekiknya, memotong ucapan Mas Mu'adz. Dengan sangat hati-hati dan mata sudah berkaca-kaca ia menuntun suaminya ini.


Diam-diam dalam hati, ia berjanji tidak meminta yang aneh-aneh lagi pada suaminya. Air matanya turun deras ketika dirinya sibuk mengoles antiseptik pada luka Mas Mu'adz. Tidak henti-hentinya ia bergumam maaf pada Mas Mu'adz. Sungguh kali ini ia sangat merasa dosa besar, sudah mendholimi suaminya ini.


"Nduk! kok meneng?" Matanya mulai berkaca-kaca. "Loh kok malah ape nangis. Pripun enten nopo?" Tanya Mas Mu'adz sambil merangkul bahunya.


"Sepuntene nggeh Mase, Nduk e sampun nyuwun seng aneh-aneh sien," keluhnya.


"Sssttt... sampun to Nduk e, sampun kelewat nggeh empun to." Mas Mu'adz mendekapnya erat. "Teng nopo kok moro-moro kelingan niku? Nduk e pingin nopo?"


Kalimat terakhir dari Mas Mu'adz membuatnya mendongak dengan mata yang masih berkaca-kaca, pandangannya langsung tertuju pada rahang mulus tanpa jambang. "Nduk e pingin sesuatu?" tanya Mas Mu'adz menunduk, membuat pandangan kami bertemu.


"Kangen Shahla."


 


 


 


 


🌵🌵🌵🌵🌵🌵