
*Vote dulu nggeh !!!
Selamat Membaca
Pagi ini, Kang Akmal dan Kang Wildan seperti biasanya sudah berada di ndalem untuk bantu-bantu. Masing-masing mempunyai tugas tersendiri. Kang Wildan yang sedang mengupas kelapa sedangkan dirinya memanaskan mobil.
Berhubung dirinya yang bisa mengendarai mobil, hari ini di utus Umi Faizah untuk berbelanja. Sedang membersihkan mobil, Umi Faizah menghampirinya. Kalau Beliau tidak bisa ikut, dan menyerahkan semua pada Ning Bahiyyah.
Ia sudah selesai, tinggal menunggu Ning Bahiyyah siap. Ia menuju ke Kang Wildan, seperti biasa Kang Wildan yang berbicara dengan Markonah.
"Dan, Dan, mambengi neng puteri enek seng kesurupan. Cah cilik kan, tak jarak lakok ngamok, hahaha, terus Mbak-mbak e seng nunggone podo mlayu kabeh, hahaha."
"Nglamak kowe, sampek Kang Ma'sum di gupuhi tepak sek ngajine Abah." ucap Kang Wildan
"La cah cilik e ngece neng Kona, yo tak jarak pisan to, ra terimo Kona. Mosok Kona seng ayu dewe iki di lok ne korengen."
"Ancen."
"Ih, ra bolo. Ngene-ngene Kona calone Kang Akmal. Eh, eh, calon bojo ape rene, mesti kangen neng Kona!!"
Kang Wildan langsung berbalik, melihat Kang Akmal berjalan ke arahnya. "Urung budal to? koyok e mau Umi wes siap to?"
Kang Akmal menggeleng, "Umi ora milu, Ninge seng budal. Ndi Gus Salman?"
"Sek di timbali Abah mau." jawab Kang Wildan. "Eh, bener, Gus Salman calone Ninge?"
Ia menggeleng, "Ora ngerti aku, emang nyapo?"
"Lah bukane Ninge anu neng awakmu yo?" tanya lagi Kang Wildan
Ia menggedikkan bahu acuh, "Wes ojo nggosip ae."
Terdengar langkah mendekat, ia dan Kang Wildan pun menoleh.
"Aduh, mripatku padang lek eroh Ameera." celetuk Kang Wildan
Seperti biasanya, sahabatnya ini selalu menganggu Ameera. Ameera mengayunkan kepalan tangannya ke arah Kang Wildan sambil menampilkan wajah galak. Ia tersenyum tipis melihat interaksi mereka berdua.
"Emh, Kang, monggo Ninge sampun siap." ucap Ameera
"Ngunu lek karo Akmal, ngomonge, suopan ra ngadhubilah. Lek karo aku, jaan..." celetuk Kang Wildan
"Ben.." Ameera sambil melirik sinis pada Kang Wildan
Ia menggeleng, mereka berdua memang kalau ketemu seperti tom and jarry. "Aku disek." pamitnya pada Kang Wildan, cepat menghentikan pertikaian diantara keduanya.
"Eh, eh Mal, lek neng GM, omongo aku ape titip." ucap Kang Wildan yang mendapat anggukan darinya.
Lalu ia berjalan keluar dari dapur ndalem menuju ke halaman. Terlihat disana sudah ada Abah Zaki, Gus Salman dan Ning Bahiyyah. Ia menunduk sambil melangkah ke arah Abah Zaki. Lalu mencium tangan Beliau.
"Ati-ati yo Kang. Gus Salman bene sekalian jalan-jalan." ucap Abah Zaki dengan tersenyum
Ia mengangguk, "Nggeh Bah, ndereaken."
"Bismillahhirrahmanirrahim." terdengar gumamam suara Kang Akmal yang berada di kursi kemudi.
Perlahan mobil meninggalkan pesantren Al-Bidayyah. Duduk di barisan kedua bersama dengan Mba Ameera, sedangkan di depan ada Gus Salman dengan Kang Akmal. Ia bisa melihat di kaca spion atas, wajah putih bersih yang sedang fokus mengendarai mobil. Ia tersenyum tipis. Dari dulu ia menganggumi dengan tempramen tenang dari Kang Akmal.
Ning Bahiyyah mengernyitkan dahi sambil mengingat, seperti tinggal beberapa minggu lagi. Seingatnya bertepatan dengan liburan pondok.
"Insyaallah Gus, njenengan bade hadir Gus?"
"Insyaallah hadir, njenengan mawon seng mboten." Gus Salman dan Kang Akmal terkekeh.
"Kang mantun teng pasar, terus teng GM riyen nggeh, wau pun sanjang teng Abah." ucapnya memecah kekehan Gus Salman dan Kang Akmal.
"Nggeh Ning."
Sampai di pasar, Ia dan Mba Ameera bergegas turun dan membuka kertas yang sudah tertera daftar apa saja yang akan di beli. Perminggu memang selalu belanja banyak, karena untuk belanja kos makan sebagian santri. Tidak semua makan di ndalem, sebagian ada yang makan di dapur umum yang di manage pengurus pesantren.
Satu per satu daftar sudah di beli. Tangannya sudah pegal dengan banyak belanjaan. Sedangkan Gus Salman dan Kang Akmal yang menunggu di warung kopi dengan sebagian belanjaan yang lainnya.
"Mbak sampeyan teng warungo riyen, gowonen blonjoane kabeh. Aku tak tumbas sisane." ucapnya sambil meletakkan belanjaannya di samping Mba Ameera.
"Nggeh Mba."
Ia pun berjalan meninggalkan Mba Ameera yang sibuk membawa kantong belanjaan. Hanya tinggal beberapa lagi yang harus di beli, ia memilih untuk berjalan-jalan, sambil melihat-lihat siapa tahu ada yang cocok.
Tak terasa waktu cepat berlalu, barang yang di inginkan pun sudah di tangan. Ia langsung bergegas menuju warung. Di persimpangan antar toko, ia di kagetkan dengan kedatangan Gus Salman dari arah berbeda dengan dirinya. Ia kemudian menunduk.
"Sampun mantun Ning?" tanya Gus Salman yang berjalan di samping dirinya namun berjarak.
Ia tidak pernah bertemu langsung dengan Gus Salman, di karenakan berbeda kota dengannya. Lumayan jauh juga. Yang ia dengar cuma tentang Gus Salman, adalah Putera Kyai yang termasyur di kotanya, dengan memiliki ketampanan di wajah Beliau, tidak heran dari mulut ke mulut santri, Gus Salman termasuk jajaran idola mereka.
Ia mengangguk, "Sampun Gus." sambil ia menyingkir ada orang yang berjalanan berlawanan arah dengan dirinya.
Sambil terus berjalan, yang tampak renggang dengan pejalan kaki lainnya. Beberapa kali Gus Salman mengajaknya untuk berbicara. Karena masih canggung ia hanya menjawab seperlunya.
"Ning, kulo namung pengen lebih kenal njenengan. Terserah njenengan kedepane pripun, kulo serahne sedoyo teng njenengan. Ajenge lanjut nggeh Alhamdulillah, lek mboten nggeh mboten nopo-nopo." papar Gus Salman membuatnya terdiam dan berhenti melangkah. Seketika ia bingung dengan sendirinya.
Ia belum menemukan jawaban yang tepat. Di satu sisi ia masih bimbang dengan Kang Akmal, di satu ia di tuntun untuk berjalan lurus dengan Gus Salman.
Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq

Hanan Salman Firdausi

Bahiyyah Khansa Ismail

Shahla Nadzarrin Ahmad

Ameera