
*Jangan lupa Vote dulu nggeh!!
Dan siap-siap menyiapkan hati untuk part ini!!
Untuk tulisan italic/ bercetak miring itu flashblack ya!!
Selamat Membaca
"EMBAH!! terose ngrencangi Kiya terus. Kiya kiambakan Mbah."
Suara isak tangis terdengar di ruang rawat inap ini. Tepat beberapa menit lalu, Mbah Yai Imam sudah di panggil oleh Allah. Innaillahi wa innaillahi rajiun!!
"Sampun Ning!!"
Rasa sesak dalam dadanya membuatnya tidak tenang untuk terus berada di ruangan ini. Ia berpamit pada Yai Basyir untuk mengurus administrasi, dan bisa di segerakan untuk di bawa pulang. Sudah banyak orang yang menenangkan Ning Kiya yang sangat syok, bagaimana tidak? kehilangan satu-satunya keluarga kandung, apalagi ada rasa trauma di tinggal oleh kedua orang tuanya.
Sambil menunggu proses administrasi, ia mengabarkan pada Abi serta mengirim satu video penting. Tidak tanggung-tanggung, Abi pun langsung meneleponnya, memberitahukan padanya kalau sekeluarga segera datang ke ndalem Mbah Yai Imam.
Setelah selesai, ia berjalan di belakang perawat yang membawa brankar jenazah. Karena Alm. akan di bawa dengan mobil ambulance.
"MBOTEN ANGSAL! EMBAH NAMUNG TILEM!" Ning Kiya berontak ketika perawat mulai memindahkan tubuh Alm. ke brankar.
"Istighfar Ning!!" wanita paruh baya, yang ia ketahui Mbok Sinem, terus menenangkan Ning Kiya.
"Tumut kulo nopo tumut ambulance?" tanya Yai Basyir yang menoleh kerahnya.
"Tumut ambulance mawon Yai."
"Yowes, bene Kiya milu aku ae. Soale Ibuk e karo Kang Abdi mau tak kon balek ngurus ndalem."
******
Mobil yang di kendarai Gus Nawwaf dan sekeluarga sampai di pesantren Adz-dzikri. Parkiran mobil yang jauh, membuat gamisnya sedikit basah akibat rintikan hujan sewaktu berjalan menuju ndalem. Umi Faizah menggendeng tangannya untuk segera masuk ke ndalem. Suara tahlil menggema di ndalem.
Alm. Mbah Yai Imam berada di tengah-tengah, sedangkan peziarah mengelilingi Beliau sambil membacakan tahlil.
"ASTAGHFIRULLAH!! NING!"
Semua pandangan mengarah ke satu titik. Ada seorang perempuan seusianya yang tiba-tiba pingsan. Posisinya yang berada barisan belakang perempuan, membuat dirinya tidak bisa melihat wajah Ning yang pingsan itu. Ia baru tahu kalau Mbah Yai Imam punya cucu.
"Nuwun sewu, ngapunten."
Suara yang ia kenal, ia langsung menoleh mengikuti laki-laki berpeci, berbaju putih dan bersarung khas pesantren Al-Bidayyah. Meskipun dengan langkah membungkuk, ia tahu benar, itu siapa. Kedua netranya masih tak pernah lepas pada sosok laki-laki itu.
Hatinya berdenyut kembali, kala laki-laki yang ia sukai membopong Ning yang pingsan tadi, yang tidak ia kenali wajahnya. Tapi semakin jalan ke arahnya, semakin jelas, melihat sarung khas pesantren Al-Bidayyah di pakai Ning itu. Tentu saja ia kaget, siapa gerangan yang di panggil Ning dan di gendong Kang Akmal itu?
*******
*Flashback
"Assaalamualikum, Mbah Yai!!" ujarnya pelan saat mendekat ke brankar tempat Beliau terbaring lemah dengan infus dan alat bantu pernafasan.
"Pripun Mbah Yai?" tanyanya kala tidak mendengar suara lirih Beliau. Lalu ia mendekatkan pendengarannya
"Tu-lung, ra-bi-en Ki-ya Le!" Mendengar itu, seketika menatap Beliau yang penuh harap. Ia menghembuskan nafas dalam. Apa ini takdirnya? Ia jadi teringat percakapannya dengan Abi Fikri tempo lalu.
Abi Fikri berdehem mengangguk. "Dadi kapan iki? Abi mu koyoke urung ngerti Mas?"
Kalimat hamdalah terucap beberapa kali dalam hatinya, seketika senyumnya mengembang. Gembira? senang? tentu saja. Ya Allah ridhoi. "Seenggalipun Bi. Hehe, dereng Bi, tapi Bunda sampun semerep kok e." jawabnya dengan cengiran
"Sek Mas, Abi ora ngerti kedepane dalane sampeyan iki lurus ae opo ora. Akeh-akeh dungo ae, sholat hajad e ojo lali. Ojo terpaku karo aku."
Ia mengangguk, "Nggeh Bi, Insyallah rajin sholat hajad e."
Inikah jalan untuknya?
Mendengar pintu terbuka, membuat buyar lamunannya. Melihat Yai Basyir datang bersama Bu Nyai Zahroh. Ia pun menyingkir, melihat wajah Beliau yang mengkhawatir Mbah Yai Imam.
"Jare doktere piye Gus?"
Ia pun menceritakan semua ucapan dari Dokter tadi, mengenai keadaan Mbah Yai Imam. Yai Basyri memang sudah tahu tentang dirinya. Sering kali sowan ke ndalem Beliau juga.
"Pripun Bah?"
Yai Basyir mendekat ke arah Mbah Yai Imam, tidak ada yang mendengar suara Mbah Yai Imam kecuali Yai Basyir.
"Gus! sampeyan purun nikah karo Kiya? Abah Imam, pengen sampeyan nikah karo Kiya. Pengen dadi waline Kiya."
Ia yang berdiri tidak jauh dari Yai Basyir seketika menunduk, harus bagaimanakah ia? Hatinya berdebar kencang, apa ini waktunya ia melepas rasa cintanya pada seseorang untuk rasa hormatnya pada guru. Lakhaula wala quwwata illabillahil 'aliyyil 'adzim.
Dengan mengambil nafas dalam, ia mendongak menatap Yai Basyir bergantian dengan Mbah Yai Imam. "Bismillahirrahmannirrahim, enggeh dhalem siap." ujarnya dengan mantab. Di detik itu juga, ia memasrahkan semua pada Allah. Kalaupun 'dia' bukan jodohnya, ia yakin Allah akan memberikannya yang terbaik.
"Alhamdulillah."
******
Hu-hu-hu ngapunten nggak sesuai ekspetasi.
Maaf nggeh buat semua kecewa?