MU'ADZ

MU'ADZ
BAB LIMA



*Vote dulu nggeh !!!


Selamat Membaca


Malam sudah semakin larut, kini Kang Akmal dan Kang Wildan berjalan menuju ke ndalem. Ia mengantar sahabatnya ini karena kelaparan. Sebenarnya ia juga lapar, namun masih bisa di tahan. Berbeda dengan Kang Wildan, kalau memang lapar ya makan, kalau sudah kenyang ya berhenti.


Keadaan ndalem sudah sepi, hanya beberapa santri hafidzoh yang berjalan-jalan memegang mushaf, mereka sedang murojaah hafalannya.


Pintu dapur ndalem memang tidak pernah di kunci. Ia dan Kang Wildan mengucap salam lalu menghidupkan lampu. Sahabatnya itu sudah terlebih dahulu mencari-cari makanan yang masih bisa ia makan.


Ia hanya duduk tanpa membantu. Sebenarnya antara lapar dan ngantuk. Yang benar saja, ini sudah hampir tengah malam, sudah bersiap-siap untuk tidur. Eh, Kang Wildan malah mengajaknya kesini.


Memang abdi ndalem sepertinya di berlakukan bebas untuk keluar masuk ke area ndalem, yang notabenenya masih berada di wilayah asrama puteri. Bebas bukan berarti bisa bertindak semaunya.


Terkadang di beri kebebasan semacam itu justru semakin terjerat dalam aturan yang tak tertulis. Ada rasa tanggungjawab yang besar karena sudah di percaya tidak akan bertindak di luar aturan.


Ia masih duduk di kursi bambu dengan mengoperasikan gawainya. Melihat beberapa pesan dari Abi, Bunda, dan Khaliq.


Abi


Abi, percaya. Kalau Mas Muadz menjaga marwahnya sebagai santri yang takdzim pada dzurriyat guru.


Seketika ia sulit menelan salivanya. Abi memang seperti itu. Beliau selalu mengertinya. Nasehat-nasehat Abi selalu menjadi tamparan baginya kalau di rasa ia sendiri goyah. Ia lebih memilih untuk tidak membalas pesan Abi.


Nda


Missyu dear, stay healthy. Jangan begadang terlalu malam mas. Hari ini kamu sudah terlalu memforsir fisik dan pikiran, jadi kasihanilah mereka. Mas Muadz selalu memberikan yang terbaik. You the best. We lovyu.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung membalas pesan Bunda.


Me


Aye ye kapten !! SIAP LAKSANAKAN !! Lovyu more. Nda, Mas pengen di puk puk sak niki, Hu hu !! Pas Mas Muadz wangsul, pastikan Abi dalam jarak yang aman nggeh Nda. Hehe, ampun bejo teng Abi. Sstt !! rahasia.


Meskipun ia bukan lahir dari rahim Bunda, ia tidak merasa di kesampingkan. Justru dari Bunda, ia seperti tidak pernah kurang kasih sayang. Bunda bahkan selalu mengerti apa yang selalu ia rasakan.


Dari Bunda juga, ia mengenal Ummah. Meski ia tidak di beri kesempatan untuk bertemu secara langsung, namun dari cerita Bunda. Seolah Ummah selalu berada di dekatnya.


Bunda juga tidak merasa risih kala ia ingin bermanja-manja. Dek Khaliq dan Nduk Khafa juga sama-sama manja dengan Bunda. Bunda tidak mempermasalahkan, Bunda malah terlihat senang. Justru yang terlihat uring-uringan adalah Abi.


Sebenarnya diantara kita sudah tahu kebiasaan Abi. Yang merasa tidak di perhatikan Bunda, kala putera-puteri nya sudah berkumpul di rumah. Kita sebisa mungkin, meminimalisir waktu Bunda dengan Abi. Bukan berniat tidak baik, namun ini kesempatan, di saat kita berkumpul bersama-sama.


Dek Khaliq yang kuliah di luar kota, paling pulang-pulang dua atau tiga minggu sekali. Nduk Khafa dan dirinya, kalau tidak liburan pondok tidak bisa pulang. Malah yang jarang pulang diantara kita bertiga adalah dirinya sendiri. Kalaupun terpaksa pulang, paling cuman menginap satu hari, atau bahkan tidak menginap.


Dulu sebelum lulus Aliyah, Abi dan Bunda membujuknya untuk meneruskan pendidikan di perkuliahan, namun ia menolak secara halus. Karena ia hanya menginginkan untuk mengabdi di ndalem.


Ia tersenyum, beneran kangen dengan Bunda. Rasanya ingin pulang saja malam ini juga. Dan menyelinap masuk ke kamar Abi dan Bunda. Diam-diam tidur di tengahnya. Seperti yang ia lakukan dulu. Lalu pas bangun, ia di tegur Abi nya, namun Bunda selalu jadi perisai. Kalau sudah gitu, Abi hanya berkata pada Bunda, "Hukuman menanti."


Tapi sejauh itu Bunda tidak terlihat seperti di hukum, atau jangan-jangan hukuman dalam tanda kutip lagi. Duh !! urusan orang dewasa.


De'Khal


Saya mencium, hawa-hawa dan adam-adam mau lepas lajang nih!! Sama siapa Mas? cakep mboten? hafidzah? ustadzah? Ning? tapi dari semua pertanyaan itu. Cuma satu yang paling utama di tanyakan, sampai bercetak tebal, miring, menceng. Ah, pokoknya sangatlah utama. Emangnya Mas Muadz ada yang MAU??


Ampun komandan !! remahan tempe sengaja.


Ha-ha-ha


Langsung saja ia membalas pesan adiknya itu.


Me


Wah !! Wah !! mulai angkat senjata nih !!


De'Khal


Terimakasih infonya, remahan tempe kabur dulu. Hahaha.


Melihat pesannya langsung di balas. Dengan lincah ia menelfon Adiknya itu.


De'Khal : Assalamualaikum ya ahli surga, insyaallah.


Me : Amin, Waalaikumussalam Warohmah


De'Khal : Ronda Mas ?


Me : Enggak, ngeterne Kang Wildan, keluwen. Sampean ndek ndi Dek ?


De'Khal : Biasah ajenge nutup cafene sampean Mas


Me : Loh!! Ambigu ngunu Dek?


De'Khal : Maksudte nutup tokone Mas !!


Me : Ambigu-ambigu, ora iso di cerna.


Me : hehehe, wes ndang wangsul Dek. Istirahat, di jogo kesehatane. Wassalamu'alaikum.


Ia langsung menutup panggilannya, dengan wajah yang masih tersenyum.


"Ehem, Kang!!"


"Astaghfirullahaladzim, illahi rabbi."


Ia mengelus dadanya. Ia benar-benar terkejut dengan kehadiran dua orang perempuan. Ning Bahiyyah dan Ameera. Sejak kapan mereka berada disini?


*****


Pelan-pelan jangan sampai terlewat bacanya.


Jadi bisa tahu mana yang sebenarnya karakter utama mana yang pengecoh, dan mana yang pembantu peran utama


 


 


 


 


 


 


112Sofia Adz-Dzakiyya, Mbuh Raruh dan 110 lainnya


12 Komentar


 


 


Suka


 


 


 


 


 


 


Komentari


 


 


 


 


Bagikan