
*Vote dulu nggeh!!!
Selamat Membaca
Mulai hari ini, di jadwalkan hari libur santri. Dari pagi, sudah terdengar di pengeras suara, suara panggilan nama-nama santri yang sudah di jemput walinya untuk pulang. Memang hari libur santri menjadi hari yang paling di tunggu. Namun ada juga beberapa santri yang menetap di pesantren di karenakan rumahnya berada di luar kota atau bahkan di luar pulau. Biasanya santri yang tidak pulang, akan ikut bantu-bantu di ndalem.
"Wil.. Wil.. Kona milu balek yo?"
Kang Wildan yang sedang berberes baju yang akan di bawa pulang. Kang Wildan ikut pulang karena sahabatnya juga pulang. Biasanya ia tidak pulang kalau liburan, enak di pesantren sepi dan bebas, dalam artian tidak terikat peraturan ringan pesantren.
"WEGAH!! Kowe njogo kamar ku ae. Susah aku lek kowe melok."
"Ora enek seng tak jaraki, gak asik, gak laik, Kona."
"WEGAH, WEGAH!! Sampek nututi aku, tak gibeng kiwo tengen kowe." Kang Wildan ingin liburannya bersantai tanpa gangguan dari Markonah. Bisa-bisa liburannya bukan tenang malah tambah setres.
"Jahat karo Kona. Tapi oleh ora lek aku nggudoni seng lainne. Gantine awakmu ora enek Wil."
"Karepmu, ora ngurus aku. Lek di guwak karo Abah ojo nangis-nangis kowe."
"Ayo, sak iki!!" Kang Akmal tiba-tiba berdiri tengah pintu. Kang Wildan melihat Markonah yang sudah menjauh entah kemana. Mulai hari ini hari bebas dari Markonah. Alhamdulillah!! Ingatkan Kang Wildan untuk merayakannya nanti.
"Sesok sido hadir ndek haul e Mbah Yai Ibrahim kan?" Tanya Kang Wildan sambil tangannya menutup relesting tasnya.
"Insyaallah, wes ayo, mesakne adikku ngenteni aku ket wingi."
Musim liburan santri per pesantren sama, namun harinya saja yang beda. Mulai liburannya di pesantren Nduk Khafa kemarin, sedangkan di sini masih di mulai sekarang.
Sekarang ia dan Kang Wildan berpisah di persimpangan jalan. Berbeda arah dengan sahabatnya itu. Sehabis Shubuh tadi ia dan Kang Wildan sudah pamit pada Abah Zaki kalau pagi ini pulang. Jarak yang lumayan jauh, mengharuskannya untuk berangkat sepagi ini. Waktu masih menunjukkan sekitar jam enam. Belum sempat sarapan juga, tadinya sempat di tawari Kang Wildan untuk mampir ke Mak Lis, namun ia menolak. Ia ingin segera menjemput Nduk Khafa, kasihan kalau ia kelamaan menjemput dan juga Nduk Khafa pasti akan ngomel.
Sampai di SPBU ia mampir untuk mengisi amunisi motor metic nya, sekalian berganti pakaian. Karena sekarang ia memakai sarung navy khas pesantren Al Bidayah dan koko putih. Masak iya, perjalanan yang membutuhkan waktu hampir satu jam, ia masih berpakaian seperti ini.
Sudah berganti dengan celana jeans hitam, kaos pendek hitam, dan jaket zipper hitam. Ia terkekeh sendiri dengan pakaian yang di kenakan serba hitam. Peci sudah berganti dengan helm bogo warna coklat tua tak lupa kaca mata hitam. Kalau di lihat-lihat tidak ada yang menyangka kalau dirinya seorang santri.
Sepanjang perjalanan, ia isi dengan memuroja'ah. Memang paling enak di buat muroja'ah apalagi ia sendiri. Beda hal nanti, kalau sudah membawa adiknya. Nduk Khafa tipikal orang yang tidak bisa diam saja kalau berada di atas motor. Selalu ada saja hal yang di bicarakan. Ada keuntungannya juga, merasakan perjalanan yang singkat, padahal dari pesantren Nduk Khafa ke ndalem bisa menempuh waktu yang lama.
Ia sudah di persimpangan jalan, beberapa menit lagi ia sudah berada di area pesantren Adz-dzikro. Terlihat pagar tembok tinggi bercat hijau dan kuning yang mengelilingi area pesantren. Sampailah ia di gerbang pesantren puteri. Masih banyak yang berlalu lalang santri memakai pakaian khas pulang milik pesantren Adz-dzikro. Memang setiap pesantren banyak yang mempunyai pakaian khas, di tujukan sebagai identitas biasanya. Jika di pesantren puteri Al Bidayah akan memakai sarung berwarna navy yang motif nya khas Al Bidayah, sama halnya dengan disini-Adz-dzikro, berbeda warna dan motif.
Memasuki gerbang pesantren lalu memakirkan motornya di parkiran. Ia membuka helm lalu meletakkan di spion. Ia kemudian menuju ke bagian informasi.
"Waalaikumsalam Mas, kartu tanda walinya?"
Ia pun mengambil kartu wali milik Nduk Khafa, lalu menyodorkannya. Setiap santri di pesantren Adz-dzikro di berikan dua kartu wali santri. Untuk memanilisir saudara terdekat yang ingin menjenguk, jadi bisa di berikan untuk orang tua dan saudara terdekat. Karena tanpa menggunakan kartu wali, santri tidak di perkenankan untuk menemui tamu yang hendak menjenguknya. Namun jika dalam keadaan darurat, satu-satunya cara dengan menelfon orang tua santri jika di jemput atau di kunjungi oleh seseorang. Intinya harus melalui persetujuan wali santri terlebih dahulu.
Terdengar panggilan di pengeras suara menyebut nama Nduk Khafa. Ia pun di persilahkan untuk masuk ke ruang tunggu khusus untuk penjemputan. Ia masuk, yang di dalamnya hanya beberapa orang. Ia bisa merasakan orang-orang menatapnya aneh karena masih menggunakan kaca mata hitam. Sebenarnya ini hanya akal-akalanya untuk penyamaran. Sambil menunggu, ia membalas pesan yang masuk ke gawainya.
"ASSALAMUALAIKUM!!"
Suara keras itu sudah tidak asing lagi di telinganya, masih sama, masih seperti adik kecilnya, selalu ceria dan periang. Ia bergumam menjawab salam, lalu menoleh. Nduk Khafa berjalan dengan wajah di tekuk. Aduh siaga satu!!
Berjalan menghampiri Nduk Khafa menyodorkan tangannya, terlihat Nduk Khafa yang ogah-ogahan menerima uluran tangannya. Sudah di pastikan kalau sekarang Nduk Khafa sedang mode ngambek.
"Mboten seneng Mase seng nyusul? Yawes Mas wangsul ae pun." Pura-pura juga ia mengambek.
"Ish.. Kok ngunu!! jahat Mase. Nduk ndek asrama merana, kabeh do wangsul." Nduk Khafa masih dengan wajah cemberutnya. Ia terkekeh melihat ekspresi adiknya ini. Lalu ia memeluknya. Memang suka sekali jika Nduk Khafa seperti ini, ekspresi yang membuatnya selalu kangen, membuatnya gemas sendiri.
"Empun-empun, ayo langsung wangsul, Mase luwe. Tapi senyum disek, emoh Mase gowo lek gak senyum disek." ucapnya sambil melepas pelukannya. Melihat perubahan ekspresi Nduk Khafa dari cemberut lalu senyum yang terkesan di paksakan. Ada rasa bahagia ketika ia berhasil menjahili Nduk Khafa. Ia tertawa pelan lalu mengacak kerudung adiknya ini.
Sudah tidak perlu untuk sowan lagi, karena sebelum kepulangan santri selalu diadakan sowan per asrama. Jadi ketika hari H, tidak akan berdesakkan untuk sowan ke ndalem. Namun ketika di parkiran ia teringat kalau Mbah Yai Imam di paringi gerah. Tanpa ba-bi-bu, ia dan Nduk Khafa menuju ke ndalem.
Sampai di ndalem, Ia dan Nduk Khafa menunggu Mbah Yai Imam yang sudah bisa di temui.
"Assalamualaikum." suara serak memecah keheningan, ia pun menjawab salam Beliau. Mbah Yai Imam di bantu berjalan dengan salah satu khadamah Beliau. Ia langsung beringsut untuk mencium tangan Beliau dengan takzim.
Ia bersimpuh di samping Beliau. "Loh, Gus Mu'adz to iki?"
Ia tersenyum mengangguk, "Enggeh Mbah Yai, niki kulo."
"Garai pangling wae to Gus, Gus." ucap Beliau dengan terkekeh
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menyadari kalau setelan bajunya tidak pantas untuk sowan malah lebih pantas untuk jalan-jalan. Saking nyentriknya. Tadinya ingin berganti, namun di pikir ulang ribet nanti buka pasang baju. Dan juga kamar mandinya berada di putera. Modal nawaitu sajalah.
Mbah Yai Imam mengelus puncak kepalanya. "Ora usah isin, ora opo-opo. Santri yo ngene iki. Ora ngetoki lek dekne santri, lek di jak dolan yo budal, lek dijak ngaji yo tambah semangat budale. Seng penting siji, akhlaq e kudu santri." Ia tersenyum mendengar penuturan Beliau. Selalu begitu, jika ia sowan kepada Beliau, ada makna yang terkandung dalam penuturan Beliau.