MU'ADZ

MU'ADZ
TIGA PULUH DUA



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Berulang kali, Ameera membenarkan posisi tidurnya. Jujur saja, ia belum terbiasa tidur seranjang dengan laki-laki. Sesekali ia melirik Kang Akmal yang tertidur pulas. Ia mendengus kesal, kenapa dirinya tidak seperti Kang Akmal saja, yang cuek-cuek saja.


"Nopo o? mboten nyaman turu karo aku?"


Ameera membalikkan badannya, menghadap ke arah Kang Akmal. Ada jarak diantara keduanya. Melihat Kang Akmal masih menutup mata. Ia memperhatikan setiap lekuk wajah Kang Akmal. Masih seperti mimpi. Kalaupun ini mimpi tolong jangan bangunkan dirinya dulu. Terlalu indah!


"Lek mboten nyaman, aku tak turu karo Dek Khaliq."


Melihat bola Kang Akmal yang sudah terbuka. Sejenak ia seperti menyelam ke dalam sorot mata Kang Akmal. Melihat Kang Akmal bergerak untuk bangun. Segera ia menghentikan.


"Ajenge teng pundi, Ka—Gus?"


"Turu karo Dek Khaliq, bene sampeyan nyaman." Ucap Kang Akmal mulai beranjak dari kasur.


"Eh, teng mriki mawon." ucapnya menghentikan Kang Akmal. "Ngapunten dereng terbiasa."


Melihat Kang Akmal terdiam, melirik kearah bawah, ia juga melirik ke arah bawah. Kedua matanya membola tanpa sadar ia tadi reflek memegang tangan Kang Akmal. Langsung saja ia melepas tangannya.


Kang Akmal mulai berbaring kembali ke posisi semula. Terlentang dengan kedua matanya sudah tertutup. Ia masih terpaku dengan kejadian beberapa saat lalu, sesekali ia melihat tangannya yang tadi memegang tangan Kang Akmal.


"Tilem Nduk, benjeng bene tahajud e ora ke shubuhen."


Nduk? Kang Akmal memanggilnya Nduk? Hanya dengan panggilan itu saja, hatinya sudah terobrak-abrik tidak karuhan. Ya Allah, lemah sekali dirinya.


 


 


Sejujurnya ia juga belum terbiasa, berduaan dengan lawan jenis. Tapi, berulang kali ia menguatkan dirinya sendiri, kalau dirinya bisa menjadi seorang suami. Kembali ia teringat tingkah absurd dari istrinya ini. Baru tahu kalau Ameera seperti ini aslinya. Menyesal? tentu iya, ia sangat menyesal. Kenapa tidak dari dulu ia menikahi Ameera. Melihat tingkah Ameera itu membuatnya gemas sendiri, apalagi semalam yang sempat mengoceh-ngoceh sendiri.


Tidak ingin berlama-lama memandangi wajah damai dari istrinya, karena bisa bahaya, ia beranjak ke kamar mandi. Jadi teringat istrinya terpeleset semalam. Ingin rasanya mengecek dimana letak yang terluka, tapi melihat istrinya memegang punggung bawah. Tidak mungkin kan ia tiba-tiba memegang punggung bawah istrinya apalagi memijatnya. Belum saatnya. Karena ia merasa diantara kita berdua masih canggung dan belum terbiasa dengan status baru.


Selesai wiridan, ia berbalik melihat istrinya itu masih bergelung dengan selimut. Ia beranjak, berdiri di sisi ranjang. Menepuk pelan lengan istrinya berulang kali. Melihat ada pergerakan, ia menghentikan tangannya.


"Tahajud disek Nduk, wes meh shubuh."


Melihat Istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, Ia mengambil Al-Qur'an yang terdapat di nakas meja belajar istrinya. Murojaah sebentar sebelum shubuh. Meski tidak berbalik, ia bisa tahu kalau istrinya sudah mulai melakukan sholat tahajud.


Di tengah-tengah murojaah, lengannya serasa ada yang menggoyangkan. Ia menghentikan murojaahnya, menoleh kearah kenannya. Istrinya menyodorkan tangan, sambil menatapnya. Ia beranjak meletakkan kembali Al-Qur'an ketempat semula. Berbalik melihat istrinya tampak termenung di duduknya.


Ia menyodorkan tangannya sambil menatap Ameera-istrinya. Pertama kali ia merasa tangan halus nan lembut dari selain Bunda dan Nduk Khafa. Mendadak menjadi gugup sendiri, apalagi merasakan sesuatu lembut mengecup punggung tangannya. Allahurobbi!!


Tidak membuang kesempatan, tangan kirinya menyentuh kepala istrinya. Tepat di ubun-ubun istrinya, ia berdoa dengan penuh harap. Selesai mendoakan istrinya, ia mengecup pelan ubun-ubun milik istrinya. Dalam hati ia merasakan kenikmatan yang luar biasa, ibadah terlama menjalaninya dengan penuh kenikmatan didalamnya. MasyaAllah.


Terdengar tarkhim di pengeras suara Masjid. Ia melepas kecupannya. "Mase shubuhan teng Masjid, ora opo-opo kan?"


Ameera masih menunduk, ia tahu istrinya seperti ini karena malu-malu. "Enggeh M-mase."


Memang ia inisiatif sendiri untuk memanggil dirinya 'Mas dan Nduk', ini juga salah satu cara untuk lebih bisa dekat dengan istrinya. Ia jadi tahu kalau istrinya juga perlahan menerimanya sebagai suami, meskipun masih kaku dan malu-malu, tapi tidak apa-apa semua juga butuh proses.


**********


Purun double UP mboten?


Kalau enggeh, kasih bintangnya nggeh!!