
*Vote dulu nggeh!!
Selamat Membaca
"Kak, yang itu siapa sih namanya? Kakaknya Aa' kan?" bisik seorang gadis berhijab maroon, Shahla mengernyit melihat ke arah yang ditujukan. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, menggunakan sarung bergaris dan hoodie hitam membungkus tubuhnya.
"Mas Mu'adz, kenapa?" tanyanya balik masih terus berjalan di belakang Mas Mu'adz dan Nduk Khafa sedangkan Aa' Khaliq berada di belakangnya. Sesuai ajakan Nduk Khafa, yang ingin melihat festival sholawat.
"Ganteng!!" celetuk gadis itu
Ia mendengus pelan, tiba-tiba ia tidak suka mendengar pujian dari seorang gadis yang baru saja ia kenal, Zyela. Terdengar ada maksud tersembunyi. Pertama kali melihat wajah Zyela, ia sudah tidak nyaman. Tidak pas di hatinya. Sudah menjadi kebiasaannya, apa yang ia lihat pertama kali akan mempengaruhi penglihatannya yang kedua ketiga dan seterusnya.
"Punya pacar gak?" tanyanya masih berbisik
Dengan malas ia menjawab, "Gak ada pacar-pacaran." Melirik Zyela di sudut matanya.
"Jomlo dong? yes!! bisa nih, jodoh."
Oke, ia semakin tidak suka. Melihat ekspresi yang di tampilkan dari Zyela. Ingin sekali ia membungkam mulut Zyela. Enak saja, Zyela menginginkan Mas Mu'adznya. "Gak usah halu."
"Ck, sirik bilang." ketus Zyela. "Gak mau tau, gue akan bilang ke Ayah, minta di jodohin sama Mas Ganteng."
Ia menoleh tajam, jelas tidak terima. Enak saja dibilang sirik. Terus apa tadi minta di jodohin, jangan harap. Oke sepertinya ia akan lebih bergerak cepat mulai sekarang. Tentunya ia tidak mau melihat orang yang ia sayangi bersama orang lain.
Baru kenal Zyela saja rasanya sudah menjengkelkan. Kok bisa-bisanya sih Aa' Khaliq punya adik seperti ini. Menyesal, sedari tadi ia mencoba mengakrabkan diri pada Zyela. Sudah, ia tidak mau menanggapi lagi. Buang-buang tenaga.
**********
Malam semakin larut, acara festival sholawat sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Situasi saat ini, lumayan sepi daripada tadi. Hanya terlihat beberapa kamtib yang masih berseliweran. Kini Mu'adz sedang berada di kursi bambu yang berada di halaman rumahnya. Ia sendirian menunggu Abi Fikri. Dek Khaliq dan yang lainnya mungkin sudah tidur.
Melihat gawainya, riwayat dari aplikasi ojek online. Disana ada maps alamat. Berulang kali, tangannya mengusap membesarkan detail alamat itu. Ia tahu daerah itu, sudah tidak asing baginya. Dalam hati ia bertanya, kapan ia bisa bersilaturahmi ke rumah gadis itu.
"Assalamualaikum, piye piye?"
Abi Fikri yang tiba-tiba datang menghentikan aktivitasnya. Menjawab salam dalam gumamannya. Ia menyerongkan tubuhnya menghadap Abi Fikri yang duduk di sebelah kanannya.
"Pripun Bi?" tanyanya tanpa basa-basi. Ia menagih jawaban dari Abi Fikri.
"Sabar disek to Mas, ngene iki Abi ra diwenehi amunisi disek to?"
Abi Fikri memang sosoknya bersahabat, jadi enak saja di ajak untuk mendiskusikan suatu hal. Kalau Abi Faaz, memang sama-sama bersahabat juga, namun ada rasa segan jika cerita soal seperti ini.
"Kopi Bi?" tawarnya
"Ora usah wes, klempoken Abi."
Nah! tadi minta amunisi, sekarang malah menolak. Pantas saja Bunda sedikit senewen kalau ada Abi Fikri.
"Tilem paling Bi. Ndang to Bi? serius niki." Rengeknya
"Emm, ngene Mas. Abi ngistikharahi seh apik-apik ae kabeh. Tapi enek sitok seng menonjol." papar Abi Fikri dengan seriusnya. "Sek, aku kok krungu teko Abimu lek Dzarrin njalok sampeyan Mas?"
Seketika ingatannya berputar beberapa waktu yang lalu. Ketika Ayah Dzarrin dan dirinya berbicara di serambi masjid Al Bidayyah.
"Ayah percoyo ndek sampeyan Mas, ket cilik Shahla cumak cedek karo sampeyan. Dadi mboten enten salah e to lek Ayah nitipne anak e Ayah ndek sampeyan?"
Ia tidak berani mengangkat wajah bahkan menatap Ayah Dzarrin. Ayah Dzarrin sudah ia anggap sebagai Ayahnya sendiri, sama seperti Abi dan juga Ayah Iqbal, tidak ada bedanya. Ia begitu menghormati Beliau. Lantas bagaimana ia bisa menolak permintaan Ayah Dzarrin?
Tidak, ia tidak bisa. Hatinya sangat menolak. Apalagi ia belum meminta Abi Fikri untuk mengistikharahinya. Dek Shahla, sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri, sama halnya seperti Nduk Khafa. Memang dari kecil selalu bersamanya. Namun sekali lagi, ia tidak memiliki rasa pada Dek Shahla layaknya laki-laki ke seorang perempuan. Kasih sayangnya ke Dek Shahla sebagai adik dan tidak lebih.
"Mboten Yah, Insyaallah Mas njogo Dek Shahla sami kados Nduk Khafa. Menawi selain niku, ngapunten Yah, Mas sampun gadah pilihan kiambak."
"Terus tanggepane Dzarrin opo?"
"Ayah Dzarrin cumak mendhel mawon Bi." jawabnya sambil menatap lurus ke arah Abi Fikri. "Terus sinten Bi, seng Mas pengeni kah?" Rasa penasaranya sudah berada di ubun-ubun. Ia sangat berharap jika orang itu adalah orang yang sama dengan seseorang yang menjadi pilihannya.
Abi Fikri berdehem mengangguk. "Dadi kapan iki? Abi mu koyoke urung ngerti Mas?"
Kalimat hamdalah terucap beberapa kali dalam hatinya, seketika senyumnya mengembang. Gembira? senang? tentu saja. Ya Allah ridhoi. "Seenggalipun Bi. Hehe, dereng Bi, tapi Bunda sampun semerep kok e." jawabnya dengan cengiran
"Sek Mas, Abi ora ngerti kedepane dalane sampeyan iki lurus ae opo ora. Akeh-akeh dungo ae, sholat hajad e ojo lali. Ojo terpaku karo aku."
Ia mengangguk, "Nggeh Bi, Insyallah rajin sholat hajad e."
"Terus ape kapan? Bulan depan Abi muleh, lek ora garcep ora iso ngeterne lamaran, Abi. Opo pas akad e ae Abi tak rene neh."
Mendapat pertanyaan beruntun membuat kulit kepalanya terasa gatal. "Riyen to Bi, riyen. Nembe ngertos jawabane ilo, di rancang riyen Bi. Tapi pingine ngelamar langsung ijab ngoten." diakhir kata ia menyengir lebar dan mendapat pukulan dari peci Abi.
"Oh, tunggal dhene iki. Ora nyimpang blas, nurun tenan sifate Faaz."
Ia kemudian tergelak. Paham betul maksud dari ucapan Abi Fikri. Memang bukan hal yang rahasia lagi bagi putera-puteri Abi dan Bunda. Bagaimana sifat Abi yang selalu gerak cepat melamar Bunda, diterima langsung ijab qabul. Kata Abi, kalau tidak begitu takut banyak godaan syetan. Benar juga apa kata Abi, ketika lamaran diterima, status pasangannya masih belum mahromnya, sedikit banyak nanti ada komunikasi diantara keduanya, jatuhnya malah berkhalwat. Jadi mending langsung ijab qabul sekalian, toh masalah walimahtul ursy bisa di langsungkan setelahnya. Tambah berpahala.
Oke, pikirannya sekarang malah berkelana.
Astaghfirullah!!!
Masih setia baca mboten?
Apa mungkin sudah bosen?