MU'ADZ

MU'ADZ
DUA PULUH LIMA



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Melihat punggung Dek Khaliq yang berlalu untuk menjemput temannya. Tak sengaja kepalanya menoleh ke arah belakang. Netranya menangkap Yai Zaki, Gus Nawwaf dan Gus Salman. Ia pun segera izin pada Abi. Dalam hati, semoga Gus Nawwaf tidak bertanya padanya mengenai masalah kedekatannya dengan Abi atau Nduk Khafa.


Dengan langkah membungkuk, ia berjalan menuju kursi Yai Zaki. Mengucap salam pelan sambil mencium tangan Beliau lalu bergantian pada Gus Nawwaf dan Gus Salman. Dari tatapan Gus Nawwaf, ia sudah yakin akan banyak pertanyaan yang akan di ucapkan Gus Nawwaf padanya. Ia hanya menyengir saja. Tapi tetap, ia harus siap-siap menjelaskan saat ia kembali ke pesantren nanti.


Berbicara sedikit dengan Yai Zaki, ia pun berpamit ketempat duduknya kembali. "Tak tunggu ceritone." Suara bisik Gus Nawwaf di telinganya, ketika bersalaman dengan Gus Nawwaf. Ia tidak menjawab iya maupun tidak, hanya dengan senyum. Sepertinya ia harus memeras otaknya untuk mencari jawaban yang pas namun tidak ada kebohongan di dalamnya.


"Loh Bi, niku kadose Ayah to?" tanyanya pada Abi ketika ia melihat Dek Khaliq berjalan menuju kesini. Ia baru saja mendudukan dirinya di samping Abi.


"Pundi to Mas?" suara serak Abi sambil pandangan Beliau menuju ke arah yang ia maksud. "Loh, Abi ae ora ngerti."


Sempat saling menatap pada Ayah dengan senyuman. Dek Khaliq duduk di sampingnya. "Kok ora ngomong Dek, lek Ayah rene?"


"Lah, Aa' nggeh tas semerep Mas. Mboten ngabari Ayah." Pandangannya tertuju pada Ayah yang masih mencium tangan Abah Shiddiq, Abi Fahri dan Abi Fikri.


"Wes di kengken maem Ayah, A'?"


"Engken terose Bi, mantun pengajian mawon."


Sampai Ayah di deretan kursinya, ia berdiri mencium tangan Beliau dan Ayah memeluknya. Begitu juga dengan Abi, Ayah juga memeluknya. Meskipun di usia senja, Ayah nampak segar bugar, dengan raut yang lebih sumringah dari biasanya. Mungkin saja ini ada hubungannya dengan perpisahan rumah tangga Ayah.


"Mas Mu'adz, anterkan Abimu istirahat." perintah Ayah. Ia memang sempat melihat Ayah yang memeriksa Abi.


"Aku enggak apa-apa Mas, cuma kelelahan saja." jawab Abi diiringi dengan batuk-batu kecil.


"Apanya yang nggak apa-apa. Udah Mas, anterkan biar istirahat, Abi mu ada gejala tifus."


Ia mengangguk, "Monggo Bi." ucapnya sambil menggiring Abi untuk berjalan. Abi memang sedikit keras kepala. Padahal Beliau sibuk sana-sini dari mulai H-7. Ia tahu itu karena sewaktu di telfon Bunda, selalu saja Abi ada urusan mengenai acara ini.


*****


Sampai di rumah, Ia membaringkan Abi pelan tak lupa menyelimuti Abi. Badan Abi yang panas membuatnya khawatir. Ia pun segera menghubungi Bunda. Namun gawai Bunda malah berdering di kamar ini. Ia menghubungi Nduk Khafa beberapa kali, sampai akhirnya tersambung dan segera memberitahu ke Bunda tentang keadaan Abi.


"Ngunjuk Bi!!" ia mengambil gelas bening yang tersedia di nakas samping ranjang. "Bunda kedap malih mriki Bi."


"Wayahe ora usah Mas, wong Abi ora opo-opo." jawab Abi lirih.


Terdengar pintu terbuka, Bunda masuk dengan wajah khawatir Beliau. Di belakangnya ada Nduk Khafa, Dek Shahla dan Zyela. Ia menggeleng pelan, malah datang rombongan.


Tampak Bunda yang sibuk memeriksa Abi, sedangkan Nduk Khafa yang membantu. Memang Nduk Khafa tertarik dengan dunia kesehatan.


"Suntik nggeh Bi. Abi gejala tifus."


"Nggeh Nda, wau Ayah nggeh sanjang ngoten." sahutnya


"Ayah? Ayah mriki to Mas?" tanya Bunda


"Nggeh Nda, sak niki kaleh Dek Khaliq teng mriko." jelasnya. Sedari dulu, ia memang berubah-ubah memanggil adiknya yang nomor dua itu, terkadang Dek Khaliq, terkadang juga Aa'.


"Yowes, jak en adik-adik e medal riyen Mas, Bunda ape nyuntik Abi riyen."


Mendengar perintah itu, ia menggiring semuanya untuk keluar termasuk Nduk Khafa.


Ia bisa mendengar suara Dek Shahla yang bertanya pada Zyela. Sedangkan dirinya duduk di samping Nduk Khafa yang raut wajahnya khawatir mengenai Abi. Sesekali melirik pintu kayu kamar Abi.


"Hah!! Serius Ayah kesini? ngapain?"


"Iya, katanya sama Aa', sekarang. Di ajak pulang kali."


Ia masih mendengar suara batuk dari Abi. Berdiri menuju dapur, berinisiatif membuatkan wedang jahe untuk Ayah. Dari mulai mencuci jahe, lalu menggepreknya.


"Hai! kamu ngapain?"


Mendengar suara sapaan itu, ia menoleh. Zyela berdiri di pintu. "Buat wedang jahe." jawabnya lalu kembali menggeprek jahenya.


"Kamu udah tahu aku kan?" Ia hanya mengangguk sebagai jawabannya. Kenapa Zyela ini?


"Boleh nggak aku deketin kamu?"


"Hah!!" ia terkejut dan langsung menoleh. Maksudnya bagaimana?


"Kata Shahla, kamu enggak pacaran. Mau dong Zyela jadi istri. Zyela suka, kamu ganteng banget sumpah!!"


Oke, mulai ngelantur adik tirinya Dek Khaliq ini. Ia hanya diam. Tidak menjawab celotehan dari Zyela. Segitu depresinya kah Zyela ini, sampai berbicara ngawur padanya?


"Mas, ayo terne Nduke. Kaleh Bunda keng tumbas alat infus." suara Nduk Khafa yang terburu-buru.


" Loh, Abi ajengen di infus? Sek riyen Nduk, ngrentose niki, kedap." Ia lega ada Nduk Khafa yang menghampirinya.


"Kersane di terusne Mbak Zyela nopo Mbak Shahla." jawab Nduk Khafa cepat. Nduk Khafa memang seperti ini jika dia menghawatirkan seseorang. Bahkan tidak peduli dengan orang yang di sekitarnya saking fokusnya pada seseorang yang di hawatirkan itu.


Kemudian ia mengikuti langkah Nduk Khafa dan berpapasan dengan Dek Shahla. "Enten keluarga ndalem Mas." ucap Dek Shahla pelan.


Dan benar saja, sampai di ruangan keluarga sudah di penuhi dengan keluarga ndalem putri, rombongan Umi Faizah. Ia mengucap salam sambil membungkukkan badannya.


"Ayolah Mas!!"


Suara interupsi Nduk Khafa yang terkesan manja jika di dengar oleh orang lain. Namun baginya, Nduk Khafa greget menunggunya. Benar saja, Nduk Khafa yang sudah di luar, ia masih menyapa keluarga ndalem pesantrennya.


Di sela-sela itu, tidak sengaja netranya menangkap aura kesedihan dari Ning Bahiyyah. Sejujurnya ia merasa bersalah. Memberi penegasan kala itu. Dan ia yakin semua yang melihat interaksinya dengan Nduk Khafa, akan menimbulkan spekulasi yang tentunya tidak benar faktanya. Kalau seperti ini kejadiannya, ia harus menghentikannya agar tidak berlanjut-lanjut.


Tapi yang pertanyaan yang mengganjal di hatinya, apakah dirinya siap?


Siap menerima perlakuan yang berbeda.


Atau bahkan mungkin dirinya tidak siap, jika seseorang yang berada di hatinya akan tiba-tiba menghindarinya. Tapi kalau seperti ini terus, ia akan di cap sebagai pemberi harapan palsu. Pasalnya ia sudah sempat mengutarakan untuk bersilaturrahmi di kediamannya.


Aduh, kok jadi pusing sendiri!!


******


Nah, loh!! Mas Mu'adz jadi ribet sendiri, wkwkwkw


Kira-kira Mas Mu'adz bakal ngebongkar identitasnya secepatnya atau malah membiarkannya berlarut-larut?


Yok, yok, pada kasih solutip buat Mas Mu'adz.