
Selamat membaca
Shahla keluar dari kamar, mengedarkan pandangannya, keadaan rumah yang sepi. Hanya suara kecil televisi, menemani tidur para bocil-bocil.
Menuruni anak tangga, juga sama sepi seperti tak berpenghuni. Mungkin semua masih istirahat ya, mengingat sekarang masih belum memasuki waktu dhuhur.
Di anak tangga terakhir, langkah kakinya berhenti. Menatap satu objek yang bergerak lincah di dapur. Ragu untuk melanjutkan langkahnya, karena dari pertemuan terakhir beberapa bulan lalu, belum pernah lagi dalam satu ruang. Tapi ia benar-benar haus, karena kebiasaannya bangun tidur itu meminum air putih.
Dengan tekat, akhirnya ia menuju ke dispenser tanpa melihat atau menyapa seseorang itu. Bunyi kucuran air yang masuk kedalam gelas menjadi alunan keheningan di antara dua manusia yang dulunya bersahabat.
Shahla membawa gelas itu ke meja makan lalu meneguknya. Setelah habis, ia beranjak mencuci gelas itu dan menempatkan di tempat semula.
Namun suara lembut dari arah belakang, menghentikan langkah kakinya. Shahla masih berdiri tanpa membalikkan badan.
"La, sepurane to!"
Shahla memejamkan matanya, bermaksud menghentikan memori luka itu yang terputar otomatis dalam benaknya. Sampai lengannya di genggam, baru ia membuka mata. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia membalikkan badan. Menatap lurus pada seorang yang dulu bersahabat dengannya.
"Mer, cukup iyo. Aku enggak ganggu dirimu," ucapnya sedikit bergetar menahan tangis.
"Sampeyan enggak ganggu La, aku seng ganggu. Sepurane," jawab Ameera diiringi tangis.
"Lek terae dirimu penganggu, ape nyapo?"
"A-aku tak njalok p-pisah karo Mas Mu'adz bene enggak enek pengganggu eneh," ucap Ameera sesenggukan.
"Terus dengan dirimu ngunu kuwi. Opo dirimu iso jamin lek Mas Mu'adz bakal mbalek? Enggak kan!" Meskipun menangis, suara Shahla masih terdengar tegas.
"Wes lah Mer. Lanjutno uripmu karo Mas Mu'adz. Aku ora benci cumak kecewa dan tulung ngertonono aku iyo. Aku cumak butuh waktu," lanjut Shahla dengan suara yang melembut.
"Dungakne aku iyo ben iso ngelalekne kabeh," imbuhnya dengan senyum pedih.
Shahla berbalik akan melanjutkan jalannya, namun suara teriakan Ameera menghentikan langkahnya.
Ia berbalik, melihat Ameera yang sudah berjongkok menutup kedua telinganya.
"NDUK!"
Suara dari arah belakangnya mengalihkan perhatiannya pada Ameera. Mas Mu'adz tergesa menghampiri sang istri.
Di depan matanya, seseorang yang sampai saat ini masih dicintainya, memeluk erat bahkan menenangkan sang istri.
Hatinya miris bercampur pedih. Sampai kapan rasa ini menetap di ruang hati. Kenapa tidak pergi saja, toh selalu menyakiti.
Sayup-sayup terdengar suara menenangkan Mas Mu'adz. "Sstt... Mpun Nduk. Mpun mboten enten. Tenang nggeh!"
Merasa tak sanggup lagi melihat mereka, dengan langkah gontai Shahla menjauh dari sana dengan sejuta kenyataan yang selalu menyakitinya.
Seharusnya dengan penuh rasa sakit, rasa cinta itu hilang. Namun justru menguat dalam hatinya.
°°°°
"Nduk, purun Bunda ewangi bene kersane Nduk Shahla mboten ngeten niki mawon?"
Shahla menunduk, memilin jarinya. Memang setelah mendapat kabar jika Mas Mu'adz dan Ameera pulang terlebih dahulu. Shahla memilih taman belakang sebagai tempat menenangkan diri. Dan tak lama itupun Bunda menghampirinya.
"Di lepas kabeh Nduk, bene Nduk Shahla mboten gadah beban," ucap Bunda dengan suara lembut.
Shahla menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Angel Bunda, hiks." Air mata Shahla mulai berjatuhan.
"Mboten angel Nduk, lek Nduk Shahla gadah tekad insyaallah bakal lancar. Gugah en atine sampeyan Nduk. Ajenge sampek kapan sampeyan berlarut-larut. Uripe sampeyan mboten terpusat kaleh Mase tok lo Nduk. Tasek hal seng katah seng perlu sampeyan pikirne. Lek sampeyan ngene iki terus, kapan sampeyan ape keluar dari zona menyakitkan," nasehat Bunda. "Bunda ngeroso kehilangan sosok Nduk Shahla seng ceria, riang, manja. Tingalen Nduk Shahla seng sak niki, sering murung, ngelamun, gampang nangis. Sanes putrine Bunda lek ngoten niku," lanjut Bunda.
Shahla semakin berderai air mata. Bunda pun memeluknya, mengelus kepala belakangnya yang tertutup kerudung.
Sepenuhnya ia sadar. Semenjak kejadian itu membawa dampak besar bagi sifatnya. Bertolak belakang.
"Nduk Shahla mboten mesakne Ayah kaleh Mama, seng ben dino mikerne Nduke."
"Hiks.. enggeh Bunda," jawabnya masih menangis di pelukan Bunda. Baginya Bunda ibu keduanya, sama-sama memberi kenyamanan.
"Istighfar e di akeh i Nduk, bene atine ayem."
Shahla mengangguk, melepas pelukan Bunda. Sambil beristighfar, tangannya menghapus sisa-sisa air mata.
"Nduke semerep, Nduk Kiya wau nopoo kok ngoten niku?"
"Ngapunten Bunda, Nduke mboten pripun-pripun teng Ameera cuma sekedar ngobrol mawon," jelas Shahla.
"Sstt... Bunda ngertos Nduke. Nduk Kiya ngoten niku, gadah trauma."
Kening Shahla mengerut lalu menggeleng. "Trauma Bunda?" Tanyanya tidak percaya, karena selama bersahabat dengan Ameera tidak sedikit ia tahu mengenai itu.
"Enggeh Nduk. Tiang sepahe Nduk Kiya sampun sedho. Kecelakaan pesawat," terang Bunda.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un,"
"Trauma Nduk Kiya akan bereaksi ketika mendengar suara pesawat, karena bagi penderita trauma seperti itu akan selalu terbayang-bayang kejadian yang menimpa kedua orang tuanya."
"Lah dateng mriki, Alm. Mbah Yai Imam nitipaken Nduk Kiya teng Mase. Padahal sewaktu niku Mase mboten ngertos sinten niku Nduk Kiya."
Shahla masih diam menyimak cerita Bunda. Dari situ yang ia pahami, Ameera memang butuh sosok penyangga dalam hidupnya.
Lalu apakah ia harus egois, mengambil sosok penyangga itu?
°°°°°°
Assalamualaikum!!
Sampai bab niki mbosen mboten?
Mau tim happy ending atau sad ending?