
*Vote dulu nggeh!!!
Selamat Membaca
Selepas berpamitan dengan Abah Zaki, Mu'adz pun keluar bersama dengan istrinya. Namun ada yang aneh dengan Ameera, sedari tadi terlihat murung dan terdiam. Ia menyadarinya semenjak pertemuannya tadi dengan Dek Shahla. Ada kejadian apa sebenarnya, sehingga membuat istrinya menjadi pendiam seperti ini.
Berjalan bersama menuju tempat parkir motornya tadi, ia mendekat pada Ameera. Tangan kirinya perlahan mengisi ruas-ruas jari milik istrinya. Membuat Ameera menoleh ke arahnya.
"Enek opo Nduk?" tanyanya lembut.
Terlihat gelengan di kepala istrinya. "Mboten wonten nopo-nopo Mase." jawab Ameera diiringi senyum yang terkesan di paksakan.
Meskipun tidak yakin kalau itu jawaban jujur dari istrinya. Ia hanya mengangguk tanpa bertanya lagi. Mungkin memberi ruang dulu sebelum menanyakan lebih lanjut. Kalau seperti ini sama seperti Nduk Khafa, jika di tanya ada masalah apa, jawabannya tidak ada apa-apa. Apa memang seperti itu, perasaan perempuan bersembunyi di balik kata 'tidak apa-apa'?
"Kang, Kang, eh Gus!" seruan dari arah belakang menghentikan langkahnya dengan Ameera yang hampir sampai di tempat parkir motor.
Sama-sama berbalik. "Pripun Gus?" Gus Nawwaf dan Gus Salman berjalan ke arahnya.
"Gadah waktu mboten? pengen omong-omongan riyen, kedap." ucap Gus Nawwaf dengan nada yang terkesan lewat sopan. Meskipun dirinya harus segera melanjutkan perjalanan, namun mendengar Gus Nawwaf seperti itu, jadi ia merasa tidak enak sendiri. Mungkin ada hal yang harus di luruskan, biar tidak terjadi kesalahpahaman.
Beralih ke arah sampingnya, menatap istrinya meminta persetujuan, sambil ibu jarinya mengelus lembut punggung tangan Ameera. Paham dengan tatapannya, dengan tersenyum istrinya mengangguk, mengiyakan.
"Nduke ngrentosi teng mriki nopo teng gothakan?"
"Emh, teng mriki mawon Mase."
"Enggeh mpun." pungkasnya agar tidak terlalu lama Gus Nawwaf dan Gus Salman menunggu. "Monggo Gus." beralih pada Gus Nawwaf. Sebelum berjalan mengikuti Gus Nawwaf dan Gus Salman, ia menyempatkan mengelus pelan kepala Ameera.
*******
"Njenengan kok mboten crios teng kulo Gus?" Tanya Gus Nawwaf to the point, ketika sampai di teras ndalem yang terdapat kursi kayu panjang. "Padahal kulo mpun nganggep njenengan niku adike kulo dewe."
"Ngapunten seng katah Gus." jawabnya
"Njenengan tak rentosi crios, semenjak haul Mbah Yai Ibrahim niko lo, tapi mboten enten kabar malahan." Ia masih terdiam, membiarkan unek-unek Gus Nawwaf tersampaikan semua padanya. "Kulo sampek suudzon teng njenengan Gus. Kulo ngirone njenengan niku estu mantune Gus Faaz."
Terdengar kekehan kecil dari Gus Salman, ia pun melirik juga ikut terkekeh kecil. "Eh, malah do guyu. Loh sampeyan wes kepanggih to Gus?" tanya Gus Nawwaf pada Gus Salman.
"Sampun to Gus, wong kulo kok e." ujar Gus Salaman diiringi kekehan.
"Dadi aku tok iki seng ora ngerti blas?"
Ia menggeleng. "Mboten Gus, Kang Wildan nggeh mboten semerep. Ngapunten Gus, estu ngapunten. Mboten enten niatan ajenge apos, cuma nggeh dari awal kulo niat dados santri ngalap barokahe Abah."
"Lek Gus Mu'adz ngaku engken njenengan kesaing Gus." goda Gus Salman masih di iringi kekehan. Memang dari awal kenal dengan Gus Salman, Beliau humoris.
"Oh bocah, nggudoni wong tuwek!" geram Gus Nawwaf.
Gus Nawwaf berdehem, menghentikan kekehannya dengan Gus Salman. Tampak dari sorot mata Gus Nawwaf berubah serius. Beliau pun juga duduk menyamping, berhadapan dengannya. "Aku titip iyo Kang. Jogonen, insyaallah aku wes ikhlas." ucap Gus Nawwaf tiba-tiba dengan logat yang sudah berbeda pula.
Ia terdiam, mencerna ucapan Gus Nawwaf yang mengandung makna kepasrahan di dalamnya. "Insyaallah Gus. Pandhungane mawon."
"Insyaallah, tapi aku iyo dungakno ben cepet oleh gantine." ucap Gus Nawwaf terkekeh merubah aura tegang menjadi lebih rileks.
Membayangkan berada di posisi Gus Nawwaf memang tidaklah mudah. Mengikhlaskan seseorang yang sudah diincar namun tiba-tiba sudah kedahuluan orang lain. Seketika ia teringat dengan kisah Abi dan Bunda.
**************
Sementara itu, di bawah pohon nangka dekat parkiran motor. Ameera duduk gelisah, pikirannya melayang pada kejadian Shahla tadi. Sungguh bukan itu rencananya. Awalnya memang ia ingin pelan-pelan memberitahu Shahla mengenai pernikahannya dengan Mas Mu'adz, namun siapa sangka Mas Mu'adz tiba-tiba mendatanginya dan memberitahu Shahla langsung tanpa basa-basi.
Ia berdecak heran, apa suaminya ini tidak peka dengan perubahan ekspresi Shahla yang sedang terluka? Melihat keterlukaan Shahla membuatnya sama-sama merasakan sakit. Ia jadi yakin Shahla tidak mau lagi bersahabat dengan dirinya lagi, atau bahkan sekarang Shahla membencinya. Apa ia akan di cap sebagai perempuan perebut?
Astaghfirullah!!
Dengan pikiran yang masih berkelana, sampai ia tidak menyadari seseorang sudah duduk di sampingnya. Ia sedikit tersentak, ternyata Ning Bahiyyah, yang sekarang menatap lurus kedepan. Ada rasa was-was merasuk hatinya. Ya Allah semoga saja, Ning Bahiyyah tidak ikut membencinya, batinnya berteriak.
"Samara Mbak Mer." Langsung saja ia menoleh mendapati Ning Bahiyyah juga sama menatapnya dengan tersenyum namun air mata Ning Bahiyyah berjatuhan. Sama. Sama seperti Shahla. Kedua matanya pun ikut memanas, lalu titik air itupun ikut berjatuhan membasahi kedua pipinya.
Ya Allah hamba sudah menyakiti hati kedua perempuan.
"Tenang Mbak Mer, Ning mboten marah teng sampeyan. Cumak ngapunten, sampai saat niki Ning masih sayang kaleh Kang Akmal." Kalimat terakhir Ning Bahiyyah membuat hatinya seperti tersendat sesuatu benda tajam. Rasanya sakit. Sakit sekali, mendengar pengakuan dari seorang perempuan yang terang-terangan menyayangi suaminya, membuatnya semakin terisak.
Ia memang paham betul dengan watak Ning Bahiyyah, yang selalu berani mengungkapkan segala sesuatu. Jika dulu Ning Bahiyyah terkadang memberikan ucapan tajam kepadanya, ia akan merespon biasa saja, anggap masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Namun kali ini, tidak. Sangat tidak ia toleransi pada hatinya. Terlalu sakit mendengar ucapan Ning Bahiyyah.
Apa salah menikah dengan Mas Mu'adz?
Apa dirinya tidak pantas bersanding dengan Mas Mu'adz?
Dirinya sangat banyak kekurangan, apalagi ketraumaannya di masa lalu yang masih belum bisa sembuh sampai sekarang.
*******
Assalamualaikum!!
Aduh mewek
Semoga mewek ini cepat berlalu, berganti dengan keuwuan