
Selamat Membaca
Semenjak ta'aruf Gus Salman diterima, semakin hari pula, Ning Bahiyyah mendadak menjadi pendiam. Hatinya masih belum menerima orang baru. Hampir setiap hari selalu ada chat dari Gus Salman, ya walaupun hanya sekedar basa-basi. Ia tahu kalau Gus Salman melakukan pendekatan pada dirinya. Tapi sekali lagi, rasanya sulit sekali membuka diri untuk orang lain.
Di hatinya masih terukir nama M. Akmal KS. Aneh memang, sampai sekarang pun ia tidak tahu nama lengkapnya Kang Akmal itu apa. Karena selalu nama itu yang melengkapi data dirinya.
"Kang, jane kepanjangane asmane sampeyan iki opo to? ket mbiyen aku penasaran." tanya salah satu Kang-kang
"Mosok kepala sekolah?" celetuk salah satu Kang-kang
"Bener." jawab cepat Kang Akmal
"Serius Kang?"
"He em, KS-kepala sekolah pertama gawe anak-anak ku." Kang Akmal terkekeh
Hanya mengingat itu, ia terkekeh sendiri. Kok iya bisa jawabannya malah ngelantur begitu. Mungkin kalau ia selalu di dekat Kang Akmal akan merasa bahagia iya. Hanya sekedar mungkin, nyatanya tidak. Kang Akmal tidak bisa menerima kehadirannya. Dalam benaknya bertanya-tanya siapa perempuan yang menduduki tahta hati Kang Akmal? Pastilah sosok itu sangat luar biasa bisa menarik Kang Akmal.
Sebenarnya ia tidak berubah menjadi pendiam, hanya saja ia menghindari suara-suara di luar sana yang membicarakan tentang Kang Akmal. Lebih tepatnya topik itu sangat ia hindari.
Ia sadar, semakin lama kalau di biarkan perasaannya terhadap Kang Akmal berubah menjadi obsesi dan itu sangat tidak bagus. Ia menyendiri bukan untuk meratapi nasibnya, namun untuk menetralkan hatinya kembali.
"Nduk, ayo milu Umi." Ia langsung menoleh, melihat Uminya yang entah dari kapan sudah duduk di sampingnya. "Ora apik lo Nduk, sampeyan ngelamun ae. Belajar legowo nggeh Nduk, Insyaallah sekabehane di lancarne."
Ia hanya mendengar tanpa menyahut apapun. Ia tahu, semenjak Kang Akmal memberinya penegasan dan terjadilah Abah menerima ta'aruf Gus Salman. Umi, satu-satunya orang yang peka terhadapnya. Dan Umi juga tidak henti-hentinya selalu memberi nasehat untuknya.
"Wil.. iwil.. iwil.. iwil.. iwil.. wil.. iwil.." Markonah bersenandung, seperti biasa Markonah menganggu Kang Wildan.
Kang Wildan yang sedang menyapu halaman belakang ndalem, selalu di buat geram dengan kelakuan Markonah. Datang tanpa di panggil, di usir pun juga tidak mau. Nasib-nasib, kenapa dia bisa melihat makhluk seperti Markonah.
"Siji-siji Wildan arek elek.. loro-loro Wildan pancen elek.. telu-telu Wildan tenan elek.. siji loro telu sayang caljo ku, ahaihihihi..."
Brakkk, sapu terbang mengarah ke Markonah yang bertengger di pohon mangga.
"Yek, ra kenek, kapok, wlee.."
Nafasnya mulai tidak beraturan, ia melotot ke arah Markonah yang semakin menggodanya. Kesabarannya sudah di ujung tanduk, tidak bisa di tahan. Kalau bisa ia melenyapkan Markonah, akan ia lenyapkan detik ini juga.
"Aduh, garangane ngamuk. Yuhu.. wayahe kabur, da..da.. Wildan pancen elek."
Kang Wildan berkacak pinggang, sambil menghela nafasnya kasar. Ia melihat Markonah sudah hilang entah kemana. Ingin sekali ia menendang Markonah sampai tulangnya patah. Duh, Gusti..
"Dek, Mas ape wangsul, sampeyan nitip nopo?"
Mendengar suara yang tidak asing, Kang Wildan menoleh, terlihat sahabatnya itu dengan adik sepupunya. Tentu saja ia tahu, karena gosip yang beredar kalau sahabatnya itu ada hubungan spesial dengan dengan salah satu santri puteri. Namun setelah ia meminta klarifikasi ternyata hanya adik sepupu, yah penikmat gosip cekewa.
"Nginep Mas?"
"He em, Aa' wangsul pisan dadi nginep. Sangune isek kan?"
"Tasek kok Mas. Emh, mboten nitip nopo-nopo mpun, lagi gak pingin nopo-nopo. Oh nggeh, suwun ya Mas kalunge."
"He em, hadiah rapelan. Yo wes, Mas ape balek sak iki."
Setelah mengucap itu, adiknya itu berpamit untuk kembali ke asrama, karena ada ro'an bersama. Kang Akmal berjalan menuju ke Kang Wildan yang sedang berjongkok.
"Wil, aku balek sak iki yo. Mau Kang Irsyad wes tak omongi."
"Wil, Wil, omongono caljo ku kon ndang balek sak iki." Tiba-tiba suara sahutan dari Markonah
"La nyapo?" sahut Kang Wildan
"Nyapo piye to Wil, Kang Irsyad kan ganteni aku disek."
"Uduk awakmu Mal, tapi Markonah ilo, jare ngongkon awakmu kon ndang balek sak iki."
"Ndang cepet kon ndang balek sak iki, enek mbak-mbak seng kesurupan, seng nyurupi saingan ku ngejar-ngejar caljo ku, sak iki dekne golek i caljoku. Cepet Wil, aih."
"Enek opo to?" tanya Kang Akmal penasaran
"Ora enek, ndang balek wes, wes sowan kan?" Kang Akmal mengangguk seraya membenarkan resleting jaketnya. "Oh iyo Mal, ileng, dulur misanan iki sek iso nikah. Dadi lek wes srek langsung di gas ne."
"Shahla iku adekku, wes tak anggep adik kandungku Wil, kok aneh-aneh ae." Kang Akmal menggeleng sambil terkekeh
"Tapi Mal, sadar gak lek Shahla pandangane ora podo koyok awakmu."
Seketika ia teringat tulisan di fotonya dengan Dek Shahla semasa kecil. Ah, tidak mungkin, Dek Shahla pasti menganggapnya sama sepertinya. Ia memang selalu menepis anggapan itu.
Nah loh, gimana tuh???
Oh, iya satu info aja. Aturan aku UP nya itu, misal hari ini MU'ADZ UP jadi besok GHASSAN UP. Nah, setelah GHASSAN UP, aku libur satu hari baru di lanjut hari berikutnya MU'ADZ UP.
Kayak sekarang nih!! kemarin GHASSAN sudah UP, dan sekarang MU'ADZ sudah UP, berarti besok libur satu hari, begitu selanjutnya. Insyaallah aku berusaha seperti itu.
****
Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq
Kang Wildan
*mau nampilin fotonya Markonah kok iya saya takut sendiri, jadi skip aja ya.
Bahiyyah Khansa Ismail
Shahla Nadzarrin Ahmad
Ameera