MU'ADZ

MU'ADZ
TIGA PULUH TUJUH



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Ning Bahiyyah duduk santai dengan Gus Nawwaf di gazebo belakang ndalem. Ia akui kalau dirinya tadi terlalu berani berkata seperti itu pada Ameera. Tapi setelah mendengar cerita dari Abah Zaki barusan, membuat perasaan bersalah menyerangnya.


Ia baru tahu kalau Ameera di nikahkan oleh Alm. Mbah Yai Imam tanpa mengetahui siapa suaminya. Dan keberuntungan berada di pihak Ameera, suami Ameera itu adalah orang yang ia sayangi, Kang Akmal. Yang ternyata seorang Gus dari salah satu pesantren besar. Dan yang selama ini juga, banyak santri putri yang mencari tahu tentang Gus Mu'adz. Karena kabar yang beredar, Gus Mu'adz tidak pernah menunjukkan dirinya.


"Mulai sak iki ikhlas Ning." Seketika ia menatap kakaknya. Padahal ia tahu, kakaknya ini juga di rundung rasa kecewa. "Bukane Mas piye, Gus Salman panggah ngenteni sampeyan."


Selama ini Gus Salman memang sedikit menyentuh dinding hatinya. Mendengar guyonannya membuatnya tanpa sadar terhibur, dan terlebih Gus Salman sampai saat ini masih setia menantinya. Beliau sabar menunggu dirinya yang masih mengaum nama Kang Akmal di hatinya.


"Terus Mase pripun? langsung ikhlas ngoten?"


"Proses Ning. Tapi Mase sadar, Ameera berada di tangan yang tepat." Jeda Gus Nawwaf sejenak, terasa elusan di punggungnya. "Dadi Ning, kudu ngunu pisan. Ikhlas memang ora mudah butuh proses dowo, tapi sampai kapan Ning ajenge berharap seng mboten saget di gapai."


Ia hanya terdiam saja. Perasaannya bercampur-campur sekarang antara kecewa, bersalah, sakit hati. Tapi dari semua itu yang mendominasi adalah perasaan kecewanya. Kecewa pada dirinya sendiri. Selama ini, ia sangat begitu mengharapkan Kang Akmal menjadi pendampingnya suatu saat nanti. Tapi ternyata, harapan itu pupus seketika. Kang Akmal yang dulu sangat sulit ia gapai, di tambah pula sekarang ia sudah berkeluarga dengan Ameera, akan sangat-sangat sulit ia gapai.


Padahal dahulu, ia selalu bercerita apapun mengenai perasaannya terhadap Kang Akmal pada Ameera. Tapi malah bukan dirinya yang bersanding dengan Kang Akmal, justru Ameera lah. Seseorang yang selama ini menjadi temannya bercerita, temannya melakukan segala hal. Dan ternyata Ameera adalah seorang Ning yang cukup termasyhur pesantrennya.


"Loh, kok wes teko?"


Pertanyaan Gus Nawwaf membuatnya kembali pada kesadarannya. Ia mendongak, melihat Gus Salman dengan cengengesan berjalan mendekat.


"La mung tumbas tiket mawon Gus, set set wet lah." kekeh Gus Salman.


Tiket?


Apakah Gus Salman akan segera pulang?


"Oh iyo, sampeyan ngerti tekan endi lek Kang Akmal iku Gus Mu'adz, Gus?" Ia melirik sekilas ke arah Gus Nawwaf dan Gus Salman.


"Alah, niku mboten sengojo Gus. Tepak sowan teng Yai Nawawi." Meskipun ia termenung namun ia masih mendengar jelas ucapan Gus Salman. Siapa yang tidak tahu Yai Nawawi, salah satu Kyai yang juga termasyhur di kota ini. "Emh, Gus, angsal mboten omong-omongan kaleh Ning Bahiyyah?"


"Oleh, oleh. Tak enteni neng kunu." Setelah mengucapkan itu, Gus Nawwaf berjalan kerah kursi kayu panjang yang tak jauh dari tempatnya.


"Ning!" Ia melirik sekilas lalu menundukkan pandangannya kembali. Gus Salman berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. "Benjeng kulo ajenge wangsul. Mungkin niki terakhir kali kulo mriki. Ngapunten sanget sak derenge, Abah sanjang, lek mboten enten kepastian dateng Ninge, kulo ajenge di jodohne kaleh Abah."


Mendengar itu seketika hatinya berdenyut kembali, seperti ia mengetahui fakta Kang Akmal dan Ameera sudah menikah. Ia mendongak, melihat Gus Salman dari samping, tatapan Beliau lurus kedepan.


"Dadose kulo nyuwun ngapunten, lek kesane kulo mekso sak niki. Kulo ngrentosi benjeng enjing jawabane Ninge. Mboten usah sungkan lek Ninge maringi jawaban mboten purun kaleh kulo. Estu kulo mboten nopo-nopo. Sedoyo jawabane Ninge insyaallah kulo terimo ikhlas."


Mengadu pada sepertiga malamnya. Memasrahkan semua atas hatinya sekarang. Dengan menangis tersedu-sedu, mengingat apa saja yang terjadi sudah-sudah. Bahkan ia teringat percakapannya dengan Umi semalam.


"Ning, Abah kaleh Umi iki pengene Ning seneng. Sinten-sinten mawon sok seng bakal dadi garwone Ning. Bagine Abah kaleh Umi, kebahagiane Ning seng nomer setunggal. Umi mboten mekso Ning kaleh Gus Salman. Tapi Ning saget tangklet kaleh atine Ning kiambak. Sak jane sinten seng saget damel Ning seneng."


Iya, memang semalam ia menceritakan semua hal mengenai perasaannya pada Umi. Dan ucapan Umi, membuatnya tidak bisa tidur dan berakhirlah sekarang. Mengadu pada sang pemilik hati.


Hingga ia tidak sadar ketiduran dalam posisi di atas sajadah yang masih mengenakan mukena. Tadi seingatnya, ia berdzikir selepas sholat shubuh. Ia duduk tegap, melihat sinar mentari menyelinap di balik gorden. Dengan cepat, ia melipat mukena. Mencari hijab instannya, lalu melirik jam di dinding sudah jam setengah tujuh.


Sudah siang, bahkan ia tidak membantu Umi di dapur. Ada lagi yang membuatnya sekarang terburu-buru menuruni anak tangga. Ia tidak tahu jadwal kepulangan Gus Salman. Mendengar suara dari arah ruang tamu, ia pun sedikit berlari.


"Assalamualaikum." Dari tempatnya ia bisa melihat Gus Salman, membuka pintu mobil.


"Eh, riyen!!" pekiknya sambil berlari. Sampai di hadapan Gus Salman, ia membungkuk menghirup udara sebanyak-banyaknya karena nafasnya yang ngos-ngosan.


"Astaghfirullah Ning. Enek nopo Ning?" usapan lembut dari punggungnya dari Umi Faizah.


"G-gus, kulo rentosi njenengan sekalian keluarga, dateng mriki." ucapnya yang masih ngos-ngosan, menghiraukan pertanyaan dari Umi.


"Ha?"


"Ning yakin?"


Baru mendengar pertanyaan dari Kakaknya, membuatnya tersadar. Kini keadaannya sudah pulih. Malah ia menganga. "Yakin nopo Mase?" Mendadak ia ngeblank.


"Helah!!" Gus Nawwaf menepuk pelan dahi. "Sampeyan ngongkon Gus Salman sekeluarga keng mriki? serius? yakin?" pertanyaan beruntun dari kakaknya membuatnya tersadar, apa yang tadi ia ucapkan pada Gus Salman.


"Estu iki Ning?" Ia menatap Abah Zaki sambil menggaruk punggung tangannya yang tiba-tiba gatal. Bismillahirrahmannirrahim semoga ini menjadi pilihannya yang terbaik. Ia pun akhirnya mengangguk.


***************


Full dengan sudut pandang Ning Bahiyyah. Entah nanti ada lagi sudut pandang Ning Bahiyyah lagi atau enggak. Lihat aja nanti.