MU'ADZ

MU'ADZ
TIGA PULUH SATU



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Di dalam kamar, Ameera mondar-mandir gelisah. Sebenarnya banyak pertanyaan dalam otak kecilnya ini pada Kang Akmal. Bayangkan saja, Kang Akmal tiba-tiba menjadi suaminya, dan fakta yang lebih mengejutkan lagi ternyata Kang Akmal itu Gus Mu'adz.


Senang? tentu saja jangan di tanyakan. Kalau ia bisa, tadi sewaktu melihat video itu, ia langsung sujud syukur, namun tidak mungkin ia lakukan disaat itu juga. Malu, karena ada keluarga Kang—Gus Mu'adz, sepertinya mulai sekarang ia harus membiasakan diri untuk memanggil Kang Akmal dengan panggilan Gus Mu'adz.


Dalam hati Ia berulang kali mengucap salah satu kalimat thayyibah ini-hamdalah. Allah benar-benar menunjukkan kuasanya. "Berdoalah kepadaku niscaya aku kabulkan untukmu." QS. Al-Mukmin : 60.


Padahal sebelumnya ia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang hubungan antara Kang Akmal dengan Ning Khafa. Memang begitu, manusia hanya melihat sekilas tanpa mau repot untuk bertabayun dulu. Seketika ia merasa kecewa pada dirinya sendiri.


"Kang Akmal iki neng ndi, mosok aku kudu nyusul?" Ameera menggerutu sambil mondar-mandir. "Mosok engko turu neng kene?" sambil melihat ke tempat tidurnya yang berukuran sedang, cukup untuk dua orang.


Masak iya malam ini langsung memberikan hak pada Kang Akmal. Ia menggeleng sambil bergidik. Mengenyahkan pikiran-pikiran yang ambigu itu. Sepertinya ia harus segera membersihkan diri.


Dengan segera ia menyambar handuk yang berada di gantungan dekat kamar mandi. Ia harus mandi badannya sangat lengket, dan keramas itu harus, mungkin saja bisa mendinginkan isi kepalanya juga.


Tak membutuhkan waktu lama untuk dirinya mandi. Dengan handuk model jubah, tangan kirinya membuka pintu kamar mandi sedangkan tangan kanannya menggosok rambutnya yang basah.


"Alhamdulillah seger." ucapnya sambil berjalan menuju ke almarinya untuk mencari baju tidurnya.


"Mosok mari iki nyusul Kang Akmal seh? terus ape ngomong opo aku? Kang mong—eh salah, Gus monggo kulo aturaken teng kamar. Duh!" ocehnya yang masih mencari-cari bajunya.


"Ehem!!"


Mendengar deheman, seketika menghentikan tangannya. Tidak mungkin kan suara itu jin. Perlahan ia berbalik badan. "ALLAHURABBI, ASTAGHFIRULLAH!!" pekiknya dengan kedua tangannya berusaha menutupi rambut, ia lari tunggang langgang kembali ke kamar mandi.


Brakk!!


Gedebuk!!


"Awwwsshh, Ya Allah!!" pekiknya ketika ia terpeleset di kamar mandi. Belum ada satu jam, ia sudah dua kali merasa sial. Melihat ada yang mendekat, ia mendongak melihat wajah tampan dari laki-laki yang sudah mengusai hatinya, tampak khawatir.


"Astaghfirullah!!" gumamnya ketika ia berada dalam gendongan Kang Akmal. Mau tidak mau, kedua tangannya ia lingkarkan pada leher suaminya ini. Jangan tanyakan bagaimana kabar jantung. Sekarang sedang jedak-jeduk tidak karuan. Lemah banget ya dirinya ini! rutuknya sendiri.


Ia sedikit meringis ketika Kang Akmal menurunkannya di kasur. Punggungnya sangat linu, sepertinya ada urat yang geser atau apalah tidak tahu. Ia beringsut setengah berbaring. Melihat gerak-gerik Kang Akmal menjauh darinya.


"Ajenge dhamel rasukan seng pundi?"


Pertanyaan Kang Akmal membuatnya gelagepan sendiri, seketika ia teringat ia tidak mengenakan hijabnya. Dengan cepat ia menyambar bantal, menutupi rambutnya.


"Nopo o ditutupi, aku wes semerep." ucap Kang Akmal membuatnya menahan malu. Dengan cepat ia mengambil setelan baju tidur dari tangan Kang Akmal.


Tangan Kang Akmal mengambil bantal yang berada di kepalanya, menatapnya dengan intens. Jantungnya semakin menggila kala Kang Akmal perlahan mendekat, tanpa sadar ia menahan nafasnya. Kedua matanya membola saat Kang Akmal berada di jarak yang sangat dekat dengannya.


"Cantik."


Netranya mengerjap-ngerjap cepat. Apa? barusan Kang Akmal mengucapkan 'cantik' padanya. Suara pintu kamar mandi tertutup, menyadarkan keterjutannya. Ia langsung menyembunyikan tubuhnya di selimut, sambil menghentak-hentakkan kakinya, merasa kesal dengan dirinya sendiri. Ia baru saja melupakan punggungnya yang linu.


Ini baru hari pertama? ia merasa sudah sangat malu. Apa kabar di hari kedua, ketiga, atau ke-ke lainnya esok?


Masih kuat jantung?


Sedikit tapi semoga ngena ya?


Oh nggeh info sedikit biar tidak bingung tentang nama-nama dan silsilah.


Keluarga Shiddiq


1. Abdullah Shiddiq (Abah Shiddiq)


2. Siti Rumanah (Umi Rumanah)


3. Muhammad Faaz Afkari Shiddiq (Gus Faaz)


4. Khaliluna Akifa Azzalyka (Luna)


5. Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq (Mas Mu'adz a.k.a Kang Akmal)


6. Ghassan Khaliqul Abraham Shiddiq (Ghassan a.k.a Aa' Khaliq)


7. Khafa Yamaniyah Shiddiq (Nduk Khafa)


*Untuk Gus Fahri dan Gus Fikri tidak aku cantumkan nggeh!!


Keluarga Yai Nawawi


1. Ahmad Nawawi (Abah Nawawi)


2. Aminahtuszuhro (Umi Aminah)


3. Annisa Nur Nawawi (Ummah dari Mas Mu'adz)


4. Imam Nahrowi (Yai Imam panggilan di Jogja\, Kakak Abah Nahrowi)


5. Tsana Jihaan Tsabita (Tsana a.k.a Bita\, cucu Abah Nahrowi)


Keluarga Yai Imam Dzakariya


1. Imam Dzakariya (Mbah Yai Imam\, guru dari Abah Shiddiq dan Nduk Khafa)


2. Adzkiya Ameera Dzakariya (Ning Kiya a.k.a Ameera)


3. Abdul Basyir (Yai Basyir a.k.a saudara angkat Mbah Yai Imam)


Sudah segitu dulu. Untuk yang lain menyusul.