MU'ADZ

MU'ADZ
BAB SEPULUH



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Gus Mu'adz sekarang berada di rumah sakit tempat Bunda dan Mama Alana-mamanya Dek Shahla bekerja. Sebelum kesini, ia di telfon Mama, katanya kalau mengambil titipan Dek Shahla di rumah sakit saja.


Sambil menunggu Bunda dan Mama Alana, ia duduk di kursi besi. Memandangi langit yang mulai nampak jelas bintang berkilau. Namun pikirannya melayang jauh disana. Kini yang ia rasakan hanya pundaknya yang teramat berat.


"Assalamualaikum Mas!!"


Suara lembut nan menenangkan terdengar dalam inderanya. Ia bergumam menjawab salam lalu menoleh dengan senyum lebar. Mencium tangan Beliau lalu memeluk. Ia benar-benar rindu pada Bunda. Melihat Bunda tersenyum, membuat dirinya tenang. Seolah masalah apapun bisa terselesaikan. Bunda mengelus punggungnya.


Tangan lembut Bunda menangkup wajahnya. "Duh!! Mas Mu'adz kok tambah ganteng to?"


Ia hanya terkekeh kecil dengan ucapan menggoda dari Bunda. Ia tahu kalau Bunda sedang menyindirinya, karena ia jarang pulang sampai tidak pernah melihat wajahnya.


"Bunda sehat?" tanyanya


"Alhamdulillah sehat Mas. Mas dewe pripun? sehat jasmani dan rohani, hmm?" tanya Bunda kembali


Ia tersenyum masam sambil mengangguk. "Alhamdulillah Insyaallah sehat sedoyo Bunda."


Bunda mengelus bahunya dengan tersenyum, "Enten nopo Mas?"


Ia menggeleng, "Mboten enten nopo-nopo Bunda." ucapnya menenangkan Bunda.


"Mas gadah pilihan selain Ning Bahiyyah?"


Pertanyaan Bunda yang tiba-tiba langsung membuatnya menegang seketika. Menyembunyikan apapun, pasti ketahuan oleh Bunda. Ia menatap sorot mata Bunda selama beberapa detik.


"Sinten Mas?" tanya Bunda lagi. Ia masih kaku untuk menjawab, ia belum yakin ucapannya ini akan berdampak dengan tawaran Abah dan Abi tadi atau tidak.


"Alhamdulillah, Bunda sek di paringi umur, saget ningali Mas simah. Duh!! sinten seng saget dhamel puterane Bunda niki kesemsem? Bunda siap khitbahne."


"Tapi Abah, Abi, wau —emh." Ia menggaruk tengkuknya


"Engken bene Bunda seng sanjang Mas. Asal Mas yakin kaleh pilihane Mas, terus paling penting Mas seneng."


Ia tersenyum lebar, lalu memeluk Bunda dari samping, Bunda menepuk-nepuk punggung tangannya. Ia mendapat dukungan dari Bunda, itu sudah cukup membuatnya lega. Memang Bunda selalu menjadi perisainya.


"Dadi sinten?" tanya Bunda. Ia melepas pelukannya, menatap Bunda.


"Mas dereng angsal jawaban istikharah Nda, engken lek sampun di paringi jawaban, Mas sanjang teng Bunda." jawabnya dengan nada lembut


Bunda tersenyum lebar, "Lare pundi to Mas? Bunda penasaran niki?"


"Hehe, rahasia riyen to Nda. Tapi mboten dzurriyat e Kyai mboten nopo-nopo Nda?" tanyanya pelan


Bunda mengelus lengannya. "Bunda mboten gadah kriteria khusus calon mantu Mas. Tapi Bunda percaya, pilihan Mas yang pantas untuk keluarga juga."


Ia kembali memeluk Bunda dari samping, semakin erat. Ia benar-benar sayang dengan Bunda, selalu mengerti dirinya. Bukan berarti Abi tidak seperti itu, cuma kalau Abi tidak bisa menunjukkan rasa sayang secara gamblang.


 


 


Gus Mu'adz sekarang berjalan dengan Bunda dan Mama Alana menuju ke parkiran. Dengan tangannya sudah membawa barang titipan Dek Shahla.


"Beto nopo ae niku Mas?" tanya Mama Alana yang melihat gantungan motornya sudah ada kresek hitam besar.


"Hehe, Dek Shahla nitip nasgor bandung Ma." cengirnya


"Astaghfirullah Shahla. Pinten Mas, kersane Mama seng ngijoli."


"Emm-mboten Ma. Niki kaleh titipane lare-lare pindah kok." jawabnya yang merasa tidak enak.


"Bene Lan, wong gawe adik e ae." sahut Bunda


"Sami-sami Ma."


Ia tersenyum melihat kedua wanita di depannya ini, yang aura kecantikannya masih melekat. Ia tidak bisa membayangkan dulu sewaktu muda seberapa banyak kaum adam yang menyukai Beliau-Beliau ini.


"Duh!! bingung aku ape ngentekne duwite Mas Dzarrin piye neh." celetuk Mama


"Sombong!!" sahut Bunda. Ia hanya terkekeh pelan


"La piye to Lun. Duwit jatah e Shahla jajan ae utuh. Rasane Shahla iki wes enek seng nafkahi dewe."


Seketika ia menegang mendengar ucapan dari Mama. Suasana berubah tegang, Bunda yang menatapnya, entah ia tidak bisa mengartikan tatapan Bunda.


Tidak ingin kemalaman sampai di pesantren, ia pun segera pamit. Tak membutuhkan waktu lama, ia keluar dari area rumah sakit. Dalam perjalanan ia bergumam memurojaah hafalannya. Melihat bahan bakar motornya hampir habis, ia berhenti terlebih dahulu di SPBU.


Setelah mengisi, ia menata bawaan yang ia bawa. Takut nanti ketika ia ngebut ada yang jatuh. Tak sengaja tangannya menyenggol tas kain hingga isinya berserakan. Ia memungut satu per satu, namun netranya menangkap lembar foto. Yang di dalamnya foto dua anak kecil berbeda jenis. Ia tersenyum, teringat momen sewaktu foto tersebut, meski samar-samar. Ternyata masih di simpan. Tangannya tergerak untuk membalik foto tersebut. Ada sesuatu yang tertulis disana. Ia membaca dengan seksama.


"Sayang Mas Mu'adz"


"Dek Shahla?" gumamnya


 


 


Sudah semakin malam, namun Kakaknya belum juga datang. Apa sudah datang tapi memberikan titipannya besok ya? Tapi tetap, ia tidak tenang. Selama maknani kitab tadi ia banyak yang ketinggalan. Untung ada Ameera di sampingnya. Ia benar-benar tidak fokus. Sekarang ia menuju ke asramanya, berjalan seperti biasa bersama Ameera. Karena ngaji kitabnya tadi baru saja selesai.


"Mbak Shahla!!" seru Risma dari arah kanannya. Risma salah satu khadamah yang usianya masih di bawahnya


Ia dan Ameera menghentikan langkahnya. Ia mengernyit heran, tumben Risma memanggilnya. Risma semakin dekat, lalu menyodorkan kresek hitam dan tas kain ke hadapannya.


"Iki Mbak, titipan teko Kang Akmal. Hayoloh enek opo iki? sak eruh ku Kang Akmal baru iki nitipi barang gae putri." ucap Risma.


Shahla yang menerima itu hanya tersenyum sambil berterima kasih. Ia membuka kresek hitam, ada beberapa bungkus disana, ia pun mengambil satu bungkus di sodorkan ke arah Risma.


"Loh, opo iki Mbak?"


"Nasgor Ris, maemen. Yowes, aku tak disek, suwun pisan engkas." ucap Shahla sambil menarik Ameera


Ia masih mempertahankan senyumnya. Senang karena mendapatkan nasgor dan senang karena semua titipannya di penuhi kakaknya itu. Sampai di kamar, ia melepas kerudungnya. Lalu ia sibuk membuka bungkusan nasgor itu.


Teman sekamarnya pun yang selalu peka terhadap makanan seketika merubungi membentuk lingkaran yang di tengahnya nasi goreng yang sudah di jadikan satu.


"Hmm, kok enak La!! tuku nang endi awakmu?" tanya salah satu teman sekamarnya


"He em enak. Kapan-kapan lek awakmu dikirim kon gowo iki ae La."


Shahla menelan nargor yang sudah berada di mulutnya, jengah mendengar celetukan teman-temannya ini. "Iki spesial enek e mek bengi tok, lek tuku adoh numpak ngeng. Awakmu kabeh do ra eroh."


"Eh tapi aku koyok e eroh mau Kang Akmal ngekekne kresek ireng karo tas ndek Risma. Tas e persis karo seng mbok gowo." ucap salah satu dari mereka yang membuatnya tersedak.


Ameera menyodorkan air di hadapannya. Langsung saja ia meneguk habis.


"Hmm Shahla. Jangan-jangan, jangan-jangan iki!!"


Aduh!! mati kau Shahla


 


 


Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq


Bahiyyah Khansa Ismail


Shahla Nadzarrin