
Selamat membaca
"Astaghfirullah, iso gak kowe ra ngageti aku ae?" Sambil mengelus dadanya.
"Ora!! hihi, nang ngendi calon bojo Kona seng ngguanteng dewe?"
Seorang pemuda yang di tanyai, tidak menjawab. Malah sibuk mengupas buah kelapa. Pemuda itu bernama Kang Wildan, yang terkenal suka berbicara sendiri. Kang Wildan tidak gila atau semacamnya. Sudah dari kecil katanya dia bisa melihat mahkluk tak kasat mata.
Dan sedari tadi yang menganggunya itu si Markonah, kalau dia menyebut namanya sendiri 'Kona' biar keren katanya. Sejak menginjakkan kakinya di Pesantren Al-Bidayah ini, Kang Wildan di hadang jalan oleh si Markonah ini. Awalnya Kang Wildan berpura-pura tidak melihatnya, namun si Markonah tetap saja mengganggunya terus menerus.
"Nang endi calon bojo Kona?" Merasa tidak di jawab Markonah menanyakan lagi sambil duduk di pohon mangga.
"Ngalihono kono!!" usir Kang Wildan
"Mesti Kona di usiri terus. Mau karo wowo di usir pisan sak iki Kona yo di usir pisan!! salah opo Kona? padahal kan Kona ayu denok deblong."
Kang Wildan berdecih, wajah tidak beraturan kayak gitu dibilang cantik batin Kang Wildan. "Ngaliho kono, ra iso konsen aku nyumbat kambil iki."
"Hihi, asline pengen ngrewangi, tapi ora iso, dadi ngrusuhi ae, hihi."
"Owh, setan kurang ajar!! wes ngaliho kono. Milu ngaji kono lo!!" Kang Wildan memang selalu emosi jika berhubungan dengan Markonah ini. Setan yang amat menganggu selama ini.
"Wes, Kona mau milui Mbak-Mbak ngaji kitab qurrotul uyun, hihi. Kona tas ngerti lek enek kitab ngunu kuwi. Padahal masio ora di ajari yo iso."
"Ngono kui jenenge enek aturane ra asal-asalan. Ben ra dadi koyok modelanmu ngene iki." Kang Wildan yang masih pada kegiatannya.
"Wes, wes ngaliho kono, miluo calon bojomu kono lo!!"
"Kona pengen milu, tapi ora iso nyedek. Hihi, Wedi Kona!!" Markonah terkekeh dengan suara khasnya
"La dapuranmu kok ra wedi blas karo aku?"
"Kan Kang Wildan koncone Kona, hihi!!"
"WEGAH!!" sentak Kang Wildan
"Kang Wil !!" panggil seorang pemuda dari arah pintu dapur besar ndalem.
"Dhalem Gus, pripun Gus?" Kang Wildan melihat Gus Nawwaf langsung menaruh buah kelapa yang akan ia kupas, sementara Markonah sudah menjauh dari tempatnya sekarang. Katanya ia tidak bisa berdekatan dengan Gus Nawwaf atau dengan ahlul bait yang berada pesantren Al Bidayah ini.
"Kang Akmal nang ngendi ?"
"Wau terose ajenge teng ATM ngoten Gus." jawab Kang Wildan dengan sopan.
"Owalah ora pamit karo aku, mari nyumbat kambel langsung ewangi ndek ngarep iyo Kang, tamu ne Abah podo rawuh. Sekalian Kang Akmal pisan."
"Nggeh Gus, ndereaken."
"Hihi, calon bojo Kona teko!!" celetuk Markonah
Kang Wildan langsung menoleh, mendapati seorang pemuda berbaju putih dengan sarung hijau berjalan ke arahnya. Sahabat somplak sekamarnya dan sendalem. Bisa dibilang kembar siam, dimana ada dia disitu ada Kang Wildan. Gus Nawwaf yang masih berada di situ juga melihat kedatangan Kang Akmal dari pintu ndalem.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Warohmah."
"Kok ora ngomong lek ndek ATM, jatukno aku milu pisan Kang." ucap Gus Nawwaf
Sedangkan pemuda bernama Kang Akmal sudah cengengesan, "Ngapunten Gus, hehe."
"Oh iyo, ayo milu aku. Mbah Yai Shiddiq sampun rawuh, ngalap barokahe. Kang Wildan bene nyusul marine." ujar Gus Nawwaf.
Mendengar itu Kang Akmal sedikit menegang, namun dengan cepat ia merubah raut wajahnya untuk tenang.
"Nggeh Gus, monggo." Kang Akmal mempersilahkan Gus Nawwaf untuk berjalan mendahuluinya, namun tak di sangka Gus Nawwaf malah merangkulnya. Setelah pamit pada Kang Wildan.
"Kang Wildan sek panggah omong-omong dewe Kang?" Tanya Gus Nawwaf di sela-sela mereka berjalan. Dapur besar ndalem, memang letaknya belakang jauh dari ndalem. Tersekat dengan kamar-kamar abdi ndalem.
Kang Akmal tersenyum sambil mengangguk, "Nggeh Gus, hehe" Gus Nawwaf berdecak sambil menggeleng-geleng kepalanya.
"Nyawang calon bojoku mlaku karo Gus Nawwaf koyok podo-podo Gus e yo Kang?" Markonah sudah berdiri di samping Kang Wildan yang masih melihat Gus Nawwaf dan Kang Akmal berjalan berdua. Memang sahabatnya itu paling dekat dengan Gus Nawwaf.
Kang Wildan kali ini mengangguk ucapan Markonah terasa benar. "He em Mar."
"Kona mau eroh Kang Akmal ngampiri mobil, ngampiri Ning sopo seng biasane dadi juri qiroah, Doh, Kona lali."
"Ning Khaliluna? garwone Gus Faaz?" Kang Wildan masih dalam posisi sama.
"Hihi, bener, bener."
Kang Wildan langsung menoleh ke Markonah, "Seng bener kowe?"
"Kapan Kona ngapusi?"
Kang Wildan berdecak, "Ben dino." sergahnya
"Hihi, hihi."
Sudah malas meladeni Markona, Kang Wildan melanjutkan untuk mengupas buah kelapa lagi. Namun dalam benaknya masih mempertanyakan apa benar Kang Akmal seorang 'Gus', walaupun sudah bersahabat tapi dirinya masih segan dengan Kang Akmal.
Hijab yang meliuk-liuk di terpa angin, menggunakan baju putih dan sarung biru gelap dengan ornamen khas pesantren Al-Bidayah. Dua gadis berjalan beriringan menuju ruang tamu. Karena salah satu gadis tersebut di kunjungi mahromnya.
"Assalamualaikum!" ucap serentak dua gadis tersebut, lalu menyalami wanita berumur yang masih terlihat muda.
"Waalaikumsalam"
"Piye Nduk kabare?" tanya wanita yang memakai pakaian fashionable namun sopan.
"Alhamdulillah sae Buk." jawab gadis itu.
"Halah!! Ameera mantun sakit Ma." sangkal gadis yang sedang memeluk Ibunya.
"Loh!! sakit nopo Nduk?"
"Namung waktu pilek Buk!" jawab gadis yang bernama Ameera tersebut.
"La! aku tak ndek ndalem neh yo, engko di golek Ning Bahiyya." bisik Ameera pada sahabatnya yang dipanggil 'La' tersebut di jawab dengan anggukan.
"Buk, kulo pamit riyen, ajenge teng ndalem." ucap Ameera pada Ibu sahabatnya itu.
"He'um Nduk, engko jajane njaluko Shahla yo Nduk!" jawab Ibunya Shahla yang tak lain adalah Alana.
Ameera tersenyum sambil mengangguk-angguk. Setelah mengucap salam Ameera pun berlalu.
"Abi kaleh Bunda mboten tumut to Yah?" tanya Shahla.
"Wes sowan ndek Yai Zaki disek Nduk." Shahla mengangguk.
"Nduk!! masio sampean cilikane bareng, tapi ileng Mas Muadz puterane Abi. Dadi di jogo unggah-ungguh e. Ojo ngerepotne ae." nasehat Ayah Shahla yang tak lain adalah Dzarrin.
Shahla yang mendengar itu pun diam. Padahal ia tak pernah berbicara pada Mas Muadz di pesantren ini. Hanya sekedar melihatnya ketika di ndalem, lalu saling melempar senyum itu saja, karena Shahla sudah tahu kalau Mas Muadz menyembunyikan identitasnya. Terbukti dengan nama panggilannya di sini berbeda. Lalu tidak pernah meminta untuk Abi dan Bunda menyambanginya. Namun selama ini tidak ada yang tahu kalau sudah ada benih yang bersemayam di hatinya untuk kakaknya itu. Insyaallah hanya Allah dan dirinya sendiri yang mengetahuinya.
Shahla baru menyadarinya ketika Ameera bercerita kalau Ningnya manaruh rasa pada kakaknya itu. Ada rasa tidak terima dalam relung hatinya. Bukan apa, jelas saja Shahla bukan siapa-siapa, bukan juga dzurriyat. Ia hanya gadis biasa yang kebetulan ponakan dari Ibu kakaknya tersebut, dan juga mereka tumbuh bersama sewaktu kecil.
Assalamualaikum!!! pripun-pripun?
Aneh nggeh ?
Ada tidak dulu temen pondok kalian yang sama dengan Wildan?
Akhirnya saya bisa mempublish cerita ke tiga saya. Semoga suka nggeh?
Agar selalu tahu UP terbaru dari cerita MU'ADZ silahkan masukkan di reading list ya
Matur suwun semua