MU'ADZ

MU'ADZ
LIMA PULUH



Selamat Membaca


 


 


 


 


"Diterne Ayah ae nggeh Dek?" Tanya Mama yang sedang menghidangkan nasi kedalam piring Ayah.


Shahla yang sudah siap dengan gamis brokrat dan sedikit riasan di wajahnya, mendudukkan diri di kursi meja makan. Tangannya sibuk mengaitkan jam tangan mungil di pergelangan tangan sebelah kiri.


"Mboten Ma, nitih motor mawon kan celak," ucap Shahla menatap Mama.


"Gocar ae Dek, engken awanan biasane moro-moro udan. Wangsule bene Ayah seng nyusul, sekalian jalan-jalan. Pripun?" tawar Ayah yang membuatnya berpikir-pikir.


"Ck! Mama di tilapne," sahut Mama berdecak tidak terima.


"Enggeh ayo to lek melok," jawab Ayah santai.


"Terus pasienku piye Mas," ujar Mama memelas.


"Lah berarti kan mboten saget tumut sayang," jawab Ayah dengan nada gemas.


Shahla terkekeh geli melihat Mamanya cemberut. Ayahnya ini memang jago membuat Mama berekspresi seperti itu. Dari dulu memang ia menginginkan sosok suami seperti Ayah, dan itu sudah ia temukan dalam diri Mas Mu'adz. Melihat kenyataannya, Shahla tersenyum kecut.


Suara notif dari aplikasi pemesan taxi online mengalihkan atensinya. "Yah Adek bidal nggeh. Engken ampun supe nyusul tuan putri, terus kencan," pamitnya pada Ayah sambil mencium tangan Beliau.


"Siap tuan putri!" Shahla tergelak, Ayah menyahuti ucapannya.


"Ma, ampun ngambek, Ayah Adek sabotase riyen. Mama kan sampun tuwok kaleh Ayah," ucapnya terkekeh sambil mencium tangan Mama, membuat Mama tambah berwajah masam. Ia dan Ayah semakin tergelak tawa.


Setelah mengucap salam Shahla keluar, melihat mobil silver terparkir di depan rumahnya. Segera ia menghampiri lalu masuk ke dalam mobil tersebut.


"Tujuan di Pesantren Al-Bidayah iya Mbak?" tanya pak sopir.


"Nggeh Pak leres," jawabnya


Iya memang tujuannya kali ini adalah pesantren Al-Bidayah, pesantrennya dulu. Karena ia mendapat undangan walimah dari Ning Bahiyyah. Shahla jadi teringat ketika ia baru saja mendapatkan undangan itu. Melihat siapa yang bersanding dengan Ning Bahiyyah membuat ingatannya kembali pada sewaktu mondok dulu.


Jika Ning Bahiyyah dulu juga sama-sama menyukai Mas Mu'adz. Sebegitu cepat move on kah Ning Bahiyyah pada Mas Mu'adz, tapi kenapa dengan dirinya tidak. Sudah berapa lama purnama, nama Mas Mu'adz masih terpatri dalam hatinya. Dan ia tidak bisa memastikan sampai kapan nama itu menguat, atau bahkan lama-lama melebur. Waullahualam


 


 


........


 


 


Shahla turun sedikit jauh dari area pesantren, karena jalanan memang sudah di tutup untuk parkiran para tamu. Dengan tatapan datar ia berjalan seorang diri, tangannya memegang tali tas slempangnya. Kalau saja hubungannya dengan Ameera masih baik-baik saja, mungkin ia tidak akan sendiri untuk berangkat kesini. Bisa saja sebelum hari H, sudah sibuk menyiapkan gamis mana yang akan dikenakan agar bisa seperti seragam atau kerudung mana yang akan dipilih, segi empat atau pashmina.


Tapi nyatanya sekarang semua itu hanya semu. Keadaan sudah berubah. Jika dulu bisa sedekat layak saudara kandung, sekarang jauh seperti orang asing. Karena tidak dipungkiri satu kekecewaan membuat semua yang dilalui tampak tidak ada artinya.


Shahla menghentikan langkahnya, posisinya kini berada sedikit jauh di belakang mobil hitam itu. Matanya tak putus menatap dua orang yang baru saja keluar dari mobil tersebut. Berjalan berpegangan tangan, dengan warna baju yang selaras ditambah lagi semua undangan tampak menyingkirkan diri, memberi jalan. Sungguh pasangan yang amat romantis dan disegani.


Ada rasa iri terselip dalam hatinya. Bisakah dirinya menjadi sosok perempuan yang tangannya tergenggam erat itu?


Semakin netranya mengamati, semakin pula hatinya bertambah perih membuat matanya mulai berkaca-kaca. Shahla mendongak, melihat langit biru yang tiada awan.


Ya Allah kenapa hati ini masih begitu berharap?


Matikan rasa ini Ya Allah


"Loh Shahla?" Lengannya ditepuk dari arah belakang, membuat Shahla segera mengerjapkan kedua matanya melihat siapa yang menyapanya. Ia sedikit tersenyum melihat salah satu penghuni satu kamarnya dulu.


"Weh piye kabare?" Sambil bercipika-cipiki.


"Hmm, Alhamdulillah apik. Piye kamar aman gak enek aku?" tanya Shahla pada Khusnul.


"Lah aku kan boyong pisan sak marine dirimu," ucap Khusnul. "Dirimu seh, ora pamitan karo arek kamar," imbuh Khusnul bernada kesal membuat Shahla menyungging senyum tipis.


"Oh iyo Ameera endi? eh astaghfirullah sak iki dadi Ning deng wesan. Eh tapi jare terae Ning. Hmm, gek entok Kang Akmal gek ternyata iyo Gus. Beh mujur men Ning Ameera iki," cerocos Khusnul membuat wajahnya berubah masam.


Jika pembahasan menyangkut kedua nama itu, Shahla memang selalu tidak baik-baik saja. Shahla menundukkan kepalanya melihat bayangannya sendiri.


Kini dirinya bertanya-tanya, apakah memang dirinya dari dulu terlalu percaya diri jika suatu saat nanti Mas Mu'adz bakal menjadi pendampingnya?


Sepertinya iya, ia terlalu percaya diri hanya karena tumbuh bersama. Karena memang tidak ada yang spesial darinya. Ia hanya seorang anak yang dilahirkan bukan dari keturunan priayi ataupun ahli agama. Mana mungkin seorang seperti Mas Mu'adz akan memilihnya. Mungkin Mas Mu'adz membayangkan saja tidak.


 


 


 


 


..........


 


 


 


 


Assalamualaikum!


Masih bagian Shahla nih!


Semoga happy ending ya Shahla, hehe