
Selamat Membaca
Mu'adz menghembuskan napas kasar ketika mendengar ucapan terakhir dari istrinya. Perlahan tangannya menggenggam kedua tangan istrinya ini.
"Sampun?" tanyanya dengan menatap lekat kedua mata yang menyiratkan luka itu. Ibu jarinya menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi istrinya. "Lek Mase dereng mantun ngomong, ampun di telan mentah-mentah nggeh Nduk e," lanjutnya.
Memang ia belum sampai menyelesaikan ucapannya, Ameera sudah bereaksi seperti itu. Bahkan ia termenung dan bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. "Cobi Mase tangklet, Nduk e sak jane enten nopo, hmm?"
"Lek Nduk e nesu goro-goro Mase ninggalne Nduk e ndek wingi, estu Mase ngapunten. Blas, mboten enten niatan ngoten niku. Mase—"
"Mase berkhalwat kaleh Shahla," potong Ameera membuatnya tersentak, menatap tidak percaya. "Mase teng ruangan kaleh Shahla kiambak an, mboten enten mahrom e Shahla," lanjut istrinya.
Menghembuskan napas pelan diiringi istighfar dalam hati. Kedua tangannya memegang lengan istrinya. Kini ia sudah tahu benang merah dari permasalahannya yang membuat Ameera uring-uringan seperti ini. Kalau di pikir kembali, mengapa seorang istri tidak diberi hak untuk menjatuhkan talaq, iya mungkin bisa jadi karena ini, seperti yang terjadi pada rumah tangganya.
"Nduk e mirengne Mase nggeh. Nduk e sampun mlebet teng ruangane Dek Shahla, hmm?" tanyanya masih menatap lekat manik istrinya yang sudah berkaca-kaca. "Nduk e mboten mlebet kan?!" lanjutnya ketika melihat gelengan kepala Ameera. "Mangkane Nduk e wayae mlebet, tabayyun riyen. Ampun langsung nyimpulne. Mase teng mriku enten mahrom e Dek Shahla, enten Ayah Dzarrin. Lek mboten percoyo, nggeh ayo tangklet teng Ayah Dzarrin."
"T-tapi Mase guyon-guyon kaleh Shahla," ucap Ameera dengan sesenggukan.
"Oh, Nduk e cemburu?!" tandasnya
"ENGGEH LAH! eh, mboten lah."
Melihat bagaimana respon istrinya, berarti tidak salah lagi, ia pun terkekeh kecil. Perlahan ia mendekap istrinya, menenangkan sambil mengelus punggung. "Ampun sanjang seng aneh-aneh Nduk e. Kan sampun semerep dewe Mase teng Nduk e pripun. Ket siyen mondok sampek sak niki, Mase sampun milih Nduk e. Awal e memang Mase terpaksa, tapi niku sak dereng e ngertos lek seng di jodohne kaleh Mas e niku Nduk e. Dadi Mase nyuwun, Nduk e mboten maleh ngeragukne atine Mase."
Punggung istrinya mulai naik turun lagi, terasa baju bagian dadanya pun juga basah. "T-tapi Shahla?"
"Mase sampun ngertos Dek Shahla pripun teng Mase. Tapi sepisan maleh, dari awal Mase milih Nduk e." Ucapannya kali ini membuat istrinya tambah mengeratkan rengkuhan di pinggangnya.
Memang ia sudah tahu bagaimana perasaan Dek Shahla terhadapnya. Itupun dari Bunda yang memberi tahunya.
Mu'adz yang berada di depan ruangan psikiater, meraba baju di bagian saku, mencari benda pintar berbentuk pipih. Namun nihil, dan ia baru ingat jika tadi menitipkan benda itu pada Ameera, karena bajunya tidak terdapat bagian saku.
Padahal ia ingin pamit, jika ia akan pergi sebentar ke ruangan Bunda. Namun mengingat ucapan istrinya kala berbincang diatas motor tadi, yang mengatakan kalau konsultasi sekitar dua jam an. Akhirnya tanpa pamit pun ia langsung menuju ke ruangan Bunda.
"Sak niki Nduk Shahla rapuh." Tiba-tiba Bunda berucap seperti itu.
"Rapuh? rapuh pripun Bunda." Ia menatap Bunda yang memandang lurus kedepan.
"Ngewesi keadaane Nduk Shahla seng sak niki, podone ngewesi Bunda siyen." Ia masih tidak mengerti maksud apa yang Bunda utarakan. "Nduk Shahla remen kaleh Mas Mu'adz."
"Remen Bunda? kan Dek Shahla rayine Mase, Bunda," kekehnya
Bunda langsung menghadapnya dengan wajah serius, membuat kekehannya berhenti seketika. "Nduk Shahla sudah di tahap cinta kaleh Mase."
Ucapan Bunda membuatnya menegang. Menatap Bunda tidak percaya. Bagaimana mungkin, Dek Shahla itu adiknya, walaupun bukan semahrom namun sudah ia anggap sama seperti Nduk Khafa, adik kandungnya.
Namun tiba-tiba saja, ingatannya berkelana ketika ia tidak sengaja menjatuhkan paperbag milik Nduk Shahla, melihat foto kecilnya dengan Dek Shahla dan tulisan dibalik foto itu.
Ja-jadi selama ini Dek Shahla,
Mencintainya.
"Bunda nggeh ngertos, hubungane Nduk Shahla kaleh Nduk Kiya sak niki mboten apik. Dadi Mase usahaken saget menempatkan diri. Bunda sarane, Mase, Nduk Kiya kaleh Nduk Shahla harus omong-omongan bertiga, menyelesaikan semuanya. Bunda mboten purun enten seng mboten akur. Nduk Kiya kaleh Nduk Shahla niku sami mawon, podo-podo anak e Bunda. Dadi Bunda nyuwun teng Mas Mu'adz, ati-ati ampun ngelarani Nduk Kiya kaleh Nduk Shahla nggeh Mas. Amergo Nduk Kiya kaleh Nduk Shahla nggeh sami, sami-sami dalam keadaan rapuh."
*************
Assalamualaikum, pripun kabare?
Masih sehat kan?
Masih purun baca cerita Mu'adz kan?
Kalau ada yang bertanya kapan AL-KHAFA up?
jawabannya setelah MU'ADZ selesai, insyaallah. Hehehe....