MU'ADZ

MU'ADZ
BAB SEMBILAN BELAS



*Vote dulu nggeh!!!


Selamat Membaca


Sinar mentari mulai menanjak, Shahla baru saja selesai mengaji kitab di masjid yang di bimbing langsung oleh Abah Zaki. Kali ini ia sendiri, sebab sahabatnya-Ameera sedang menemani Ning Bahiyyah opname di rumah sakit sebab Ningnya itu terserang tifus. Bersama dengan teman yang lainnya, Shahla keluar dari area masjid.


Melihat teman-temannya sekamar yang sama seperti dirinya, santri salaf. Jadi teringat temannya di aliyah dulu, kebanyakan dari mereka meneruskan ke perguruan tinggi, namun hanya ia yang tidak. Ia lebih suka mengabdikan dirinya ke pesantren terlebih dahulu, lagian ia tidak tahu ingin mengambil jurusan apa jika ia kuliah. Ia sangat di buat dilema.


Ayah dan Mama, awalnya tidak setuju dengan keputusannya. Namun ia meyakinkan, kalau setelah ia mengabdi di pesantren, ia akan kuliah. Entah nanti mengikuti jejak Ayah dan Mama di bidang kesehatan atau malah keluar dari jalur itu.


Panggilan namanya dari pengeras suara, membuyarkan lamunannya. Ia pun menitipkan kitabnya pada teman sekamarnya. Ia langsung bergegas menuju ruang tamu. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Ayah dan Mama.


"Assalamualaikum, Mama."


Ia langsung memeluk Mama Alana dengan erat lalu mencium tangan Beliau. Beralih pada Ayah Dzarrin, ia juga melakukan hal yang sama. Ia tidak menuntut kedua orang tuanya mengunjunginya setiap bulan atau bahkan setiap minggu. Ia mengerti bahwa Beliau berdua sibuk dengan pekerjaannya. Di kunjungi tiba-tiba seperti ini saja rasanya sudah senang luar biasa.


"Kulo kiro mboten di sambangi, soale ajenge wangsul."


"Suprise to Nduk. Tumben gak njalok hadiah ultah?"


Seketika ia cemberut mendengar pertanyaan dari Mama Alana. Pasalnya sewaktu hari ulang tahunnya, Beliau berdua absen mengunjunginya di pesantren.


"Nyuwun lah!! gak boleh enggak. Harus dan wajib." jawabnya semangat


Ayah Dzarrin terkekeh sambil mengusap kepalanya. "Hadiah e uwes siap ndek omah. Di jamin seneng."


"Hadiah e nopo Yah? tiket liburan? motor? mobil?" tanyanya antusias


"Hadiah gantungan kunci keju." sahut Mama Alana yang membuatnya cemberut lagi, masak cuma itu.


"Nduk, sampeyan wes tambah umur, kapan kuliah e?"


Ia menunduk, memilin ujung hijabnya. Pembahasan mengenai kuliah yang selalu ia hindari. Semenjak lulus aliyah sampai sekarang, ia belum memikirkan dimana ia harus lanjut pendidikan perguruan tinggi. Entah kenapa ia lebih suka kehidupannya di pesantren. Ia masa bodoh ketika temu alumni aliyah, menanyakan kenapa tidak kuliah? kenapa betah di pesantren? dan bla bla masih banyak pertanyaan dari teman-temannya.


"Dereng kepikiran maleh Yah. Lek kulo kuliah mboten di bidang kesehatan angsal?"


"Emang ape njupuk jurusan opo Nduk?" tanya Ayah Dzarrin dengan lembut.


Sebenarnya ia lebih suka cerita dengan Ayah Dzarrin dibanding Mama Alana. Kalau Ayah, selalu bisa membuka pemikirannya ketika ia sedang memutuskan sesuatu. Sedangkan dengan Mama Alana, lebih banyak menasehatinya, terkadang membahas apa malah ujungnya apa. Namun tetap ia mendengarkan saja.


"Se-seni yah." ucapnya lalu Ia memejamkan mata dengan menggigit bibir bawahnya. Ia was-was menanti persetujuan Ayah. Ia takut jika pilihannya tidak sesuai dengan harapan kedua orang tuanya.


Obrolan ini masih berlanjut. Sudah lama tidak terjadi obrolan intens seperti ini. Sampai suara adzan terdengar, ia menghembuskan nafasnya. Ia lega karena obrolan ini berhenti. Ayah Dzarrin sedari tadi mencerca dengan berbagai pertanyaan dan sanggahan, belum lagi di tambah Mama Alana. Sampai saat ini belum menemukan titik terangnya, malah ia sekarang ragu dengan pilihannya. Ia memang suka menggambar, suka yang berbau dengan seni, entah seni rupa, karya seni atau apapun yang berhubungan dengan seni.


Lagi-lagi Ayah Dzarrin membuka pemikirannya, yang akhirnya ia ragu untuk mempertahankan pilihannya kuliah di jurusan seni. Kemungkinan besar obrolan ini akan berlanjut ketika ia sudah pulang nanti.


Ayah Dzarrin sudah menuju ke masjid, sedangkan ia dan Mama sekarang berada di kamar mandi. Ia sudah membuka kerudungnya, menunggu Mama mengambil wudhu terlebih dahulu. Banyak yang mengantri untuk wudhu karena ada sholat jamaah yang wajib di ikuti, namun pengecualian bagi santri yang mendapat kunjungan dari wali.


Sekarang ia dan Mama sudah berada di kamar, dan sudah melakukan sholat dhuhur. Ia membenarkan ikatan rambutnya sedangkan Mama sedang memoles bedak.


"Mama kok ora tau eroh kalung iki Nduk." Mama memegang liontin kalung yang terpasang di leher, seketika Ia tersenyum mengingat siapa yang memberinya ini.


"Kok emas? tumbas dewe? tumben? di tumbasne Mama ae gak tau di gawe." Mamanya lagi mode kepo


"Hadiah lah Ma, apik mboten?" tanyanya dengan memegang liontin berbentuk huruf nama awalnya.


Dengan riang ia menjawab, "Mas Mu'adz lah."


"Lah kok iso? ojo gampang njaluk ndek Mas Mu'adz ae Nduk, isin lo. Gak penak ndek Abi ne Mas Mu'adz."


"Yee, mboten nyuwun lah Ma!! Mas Mu'adz moro-moro maringi niki kok, terose hadiah rapelan. Soal e tahun wingi lali mboten ngekek i hadiah teng Nduk." jelasnya tak terima dengan ucapan Mama Alana


"Nduk Shahla." jeda Mama, terdengar ucapan Beliau akan berbicara serius. "Ndek nane Ayah sampeyan wes ngomong ndek Bunda, lek Ayah nitipne sampeyan ndek Mas Mu'adz."


Nitip? Ia mengernyitkan alisnya. Kenapa Ayah menitipkan dirinya pada Mas Mu'adz?


"Ha? teng nopo kok di titip-titipne Nduk, teng Mas Mu'adz? Keng ngawasi Nduk ngunu tah, Ma?"


Mama Alana menggeleng keras, "Ayah karo Mama asline wes ngerti suwi lek sampeyan seneng karo Mas Mu'adz lebih teko dulur."


Ia menegang, susah menelan salivanya. Ja-jadi Ayah dan Mama sudah tahu?


Terus apa tadi? menitipkan dirinya pada Mas Mu'adz? ME-NI-TIP-KAN?


Wah.. seketika dirinya dibuat melayang.


 


 


Setelah sholat dhuhur, Kang Akmal dan Kang Wildan sedang duduk santai di serambi masjid. Siang ini cuacanya menyengat kulit, jadi banyak yang bersantai di serambi masjid, untuk sekedar menikmati semilirnya angin.


"Oh iyo Mal, kelingan seng awakmu pamit balek wingi, seng tak kon ndang balek ?" Kang Wildan yang terlentang di lantai


Ia mengangguk mengingat kejadian beberapa hari lalu, "Emang nyapo kok ngendang-ngendang aku?"


"Jare Markonah ndek putri enek seng kesurupan, teros seng nyurupi iku keedanan awakmu. Awal e aku ora percoyo. Basan Awakmu wes ora enek, ndek putri rame-rame. Seng kesurupan mlayu nggolek awakmu sampek teko ndalem, untunge to awakmu wes balek. Kang Ma'sum ae kuwalahan, gek Abah ndilalah e tindak pisan. Dadi podo bingung kabeh. Pas njerit-njerit nyeluk i awakmu moro-moro karo Kang Irsyad teko langsung grujugi banyu leri, ee.. malah semapot arek e." papar sahabatnya ini dengan terkekeh, ia pun juga ikut terkekeh. Ada-ada saja.


"Ngerti dewe kan Kang Irsyad ora omes lek karo ngunu kuwi. Mbuh entok ide ko ndi." imbuh Kang Wildan yang masih terkekeh


Lagi-lagi ia ikut terkekeh mendengar cerita dari sahabatnya itu. Namun tak sengaja kedua netranya menangkap seseorang pria yang dikenalnya. Ia pun segera bangkit dari duduknya lalu menuju ke pria tersebut. Ia pun mengucap salam sambil mencium tangan Beliau.


"Sampun ket wau Yah?" Terlihat Ayah Dzarrin mengangguk lalu duduk anak tangga terakhir, ia pun juga mengikuti Beliau.


"Bundane sampeyan wes sanjang to Mas?" Ucap Ayah Dzarrin to the poin tanpa basa-basi dulu. Ia sedikit menegang, bahwasanya ia tahu arah kemana pembicaraannya kali ini. Ia mengangguk pasrah.


"Ayah percoyo ndek sampeyan Mas, ket cilik Shahla cumak cedek karo sampeyan. Dadi mboten enten salah e to lek Ayah nitipne anak e Ayah ndek sampeyan?"


Ia tidak berani mengangkat wajah bahkan menatap Ayah Dzarrin. Ayah Dzarrin sudah ia anggap sebagai Ayahnya sendiri, sama seperti Abi dan juga Ayah Iqbal, tidak ada bedanya. Ia begitu menghormati Beliau. Lantas bagaimana ia bisa menolak permintaan Ayah Dzarrin?


 


 


Nah loh!! dilema Mas Mu'adz


Tetap pada pendiriannya atau menerima tawaran Ayah Dzarrin??