
Selamat Membaca
Pagi ini Mu'adz membantu mengurus peternakan sapi-sapi perah milik Abi. Kali ini dirinya kebagian untuk memerah susu. Sudah banyak orang-orang yang berdatangan untuk membeli susu segar, ada yang membeli se-literan atau bahkan ada yang membeli dalam beberapa jerigen. Susu segar yang dihasilkan dari peternakan, tidak semerta-merta untuk dijual, tapi sebagian di berikan pada seluruh santri setiap pagi dan sore.
Sedang tangannya memerah, dari arah gerbang masuk ada salah satu kang santri yang berlarian menghampirinya. Mu'adz menoleh sambil mengerutkan dahinya melihat ekspresi kang santri yang tampaknya tergesa.
"As-assalamualaikum G-gus," salam Kang santri dengan ngos-ngosan.
Melepas sarung tangan, lalu beranjak menghadap Kang santri tersebut. "Waalaikumsalam Kang. Enten nopo Kang?"
"An-u Gus anu," ucap Kang santri masih dalam ngos-ngosan.
"Ambekan riyen Kang," perintahnya lalu langsung di ikuti oleh Kang tersebut. "Nah, pripun?" tanyanya.
"NingKiyaGussaknikitengUGD," ucap Kang santri tersebut tanpa jeda.
Mua'dz langsung tersentak kaget. "Ha? alon-alon Kang. Ning Kiya pripun?" tanyanya lagi, sebab ia tidak terlalu mendengar jelas ucapan Kang santri tersebut.
"Ning Kiya kecelakaan Gus, sak niki teng UGD."
Mendengar kabar itu, sontak saja ia langsung berlarian menuju ndalem. Tidak peduli orang-orang yang melihat dengan tatapan penasaran. Yang jadi tujuannya kali ini hanya Ameera dan calon buah hatinya.
Memang sebelum ia berangkat ke peternakan, istrinya meminta izin untuk pergi bersama Nduk Shahla, ke pasar harian yang letaknya di dekat perempatan pesantren sini. Itupun di tempuh dengan jalan kaki, tidak sampai lima menit sudah sampai.
Sampai di ndalem Abi, ia langsung menuju ke garasi mengambil motornya dengan tergesa-gesa. "Le, Mu'adz. Alon-alon, Insyaallah apik-apik ae," ucap Abah Shiddiq.
"Ba-bah, pandungane mawon," ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia menancapkan gasnya setelah berpamitan.
Saking kalutnya, tanpa sadar ia membawa motor dengan kecepatan maksimal. Pikirannya sudah kemana-mana. Apalagi ketika kalimat itu terucap dalam bibir istrinya. Astagfirullah...
Sampai di parkiran rumah sakit terdekat. Dengan keadaan yang sangat kacau, tanpa alas kaki, bahkan sarung yang ia kenakan jauh dari kata rapi. Mu'adz lari tunggang langgang menuju UGD. Ketika netranya menangkap keberadaan Bunda, ia mempercepat laju larinya.
"Bun-nda Ameera pripun Nda," ucapnya bergetar menatap Bunda.
"Mas Mu'adz, tenang riyen nggeh. Lenggah. Nduk Kiya tasek di tangani," perintah Bunda menggiringnya untuk duduk. "Istighfar Mase," imbuh Bunda.
Dengan menghembuskan napas, ia berulang kali beristighfar. Elusan tangan Bunda membuat ia menoleh kearah Bunda dengan mata berkaca-kaca. "Ameera kaleh adek bakal sae-sae mawon kan Nda? Mboten ninggale Mas Mu'adz kan Nda?" Bunda langsung memeluknya, ia pun langsung mengeratkan pelukan itu. Menangis dalam dekapan Bunda.
"Istighfar Mas, istighfar," ucap Bunda menenangkan. "Katah-katah dungo nggeh, nyuwun teng gusti Allah."
Mendengar itu, ia semakin menangis tersedu di pelukan Bunda. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Ia pun melepas pelukan Bunda, lalu tangannya menghapus jejak air mata di pipinya.
"Piye Nduk?"
"Nembe ditangani tasikan Mi," balas Bunda pada Umi Rumanah yang sudah mengelus punggungnya.
"Kejadiane pripun to Mi?" tanya Bunda. Meski dalam kekalutannya, ia masih mendengar percakapan di sekitar.
"Critane arek-arek mau, jerene enek pickup rem e blong terus tepak Kiya karo Shahla ape nyebrang," cerita Umi Rumanah.
"Innaillai wa innaillahi rajiun," sahut Bunda.
Tidak. Ya Allah jangan.
Decitan pintu, membuat ia mendongak. Menghapus kasar air matanya, dengan cepat ia beranjak menghampiri dokter perempuan itu.
"Istri dan anak saya pripun Dok?" tanyanya tak sabar.
Dengan raut menyesal, Dokter tersebut menggelengkan kepala membuat dirinya lemas seketika. Dunianya seketika runtuh. Jika tidak ditangkap Bunda, ia sudah jatuh dilantai. Tidak peduli orang melihatnya lemah sekarang. Karena memang ia di titik terendah dalam hidupnya saat ini. Istri dan calon buah hatinya meninggalkan dirinya. Di pelukan Bunda, ia menangis sesenggukan.
"Innaillahi wa innaillahi rajiun."
"Maaf Dokter Luna, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ibu dan bayinya tidak terselamatkan, karena terkena benturan keras di bagian perut dan kepala pasien. Sehingga calon bayinya meninggal dalam kandungan. Kami semua mengucapkan turut berduka yang sedalam-dalamnya. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu."
"Niki mboten nyata kan Nda, Ameera kaleh adek mboten ninggalne Mase kan?" tanyanya pada Bunda dengan mata memerah yang terus mengeluarkan air mata.
Melihat Bunda juga menangis, ia semakin menggelengkan kepalanya. "Bunda?"
"Bunda yakin Mas Mu'adz kuat. Mas Mu'adz harus ikhlas," ucap Bunda sedangkan dirinya masih menggelengkan kepalanya. Semua ini masih tidak diterima oleh akal dan hatinya.
Tadi pagi, ia masih berinteraksi pada dua orang yang ia sangat sayangi. Masih bercanda bebas. Namun sekarang?
Tidak? ini hanya mimpi. Iya, ini mimpi. Ya Allah kalau ini mimpi tolong bangunkan. Sungguh ini sangat menyakitkan.
Dengan langkah tergesa, ia membuka pintu UGD dengan kasar. Dilihat tubuh yang sudah terbujur kaku, berselimutkan kain putih. Tangisannya semakin pecah, melihat wajah istrinya begitu pucat pasi.
Langkah pelannya semakin mendekat pada jasad istrinya. "Mas, ampun netes iluh e," peringat Bunda yang langsung ia hapus kasar.
Semakin dekat, ia bisa melihat sedikit dua sudut bibir istrinya terangkat. Tubuhnya bergetar hebat. Kemudian luruh ke lantai dekat dengan bangsal tempat jasad istrinya berada. Dengan bersimpuh, ia menangis sejadi-jadinya.
"Nd-nduk e kok ninggalne Mase. Nduk e mboten seneng tah dadi istrine Mase," racaunya pilu. "Adek, mboten pingin ketemu baba to?"
"Mase sampun."
"Nduk e sampun seneng, sak niki omongane Nduk e kelakon. Mase mireng Nduk e kangen kaleh Abah kaleh Umi. Tapi kan lek kangen mboten nyusul ngeten niki, ninggalne Mase. Kan tasek saget ndungakne Nduk e."
"Mase suayang teng Nduk e kaleh adek," pilunya diiringi sesenggukan.
🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵
Hiks...