MU'ADZ

MU'ADZ
BAB SEBELAS



Selamat Membaca


Disisi lain, Kang Akmal yang melangkah ke ndalem. Seperti biasa, ketika ia kembali ke pesantren, ia selalu sowan dulu sebelum kembali ke asrama. Ia masuk lewat pintu dapur ndalem. Ia melihat Kang Wildan yang sedang mencari-cari sesuatu, yang ia tebak pasti mencari makanan yang tersisa. Meskipun sudah mendapatkan jatah makan, selalu sahabatnya itu kurang. Karena memang pada dasarnya suka makan.


"Assalamualaikum"


Terdengar sayup-sayup Kang Wildan menjawab salamnya lalu berbalik ke arahnya.


"Alhamdulillah, penyelamat tenan. Endi nasgore Mal, aku luwe maneh." todong Kang Wildan padanya.


Bukannya berbasa-basi dulu atau apa, Kang Wildan langsung menodongkan pesanannya. "Enek ndek pedah. Aku tak ngadep teng Abah sek, enteni, awas lek di pangan disek!!"


"Ya Allah Mal, aku keluwen lo iki. Harus di segerakan. Aku mangan disek wes yo?" tawar Kang Wildan


"Meneng Mar!! milu ae." sentak Kang Wildan yang berbicara engan Markonah.


Ia menggeleng cepat, "Emoh, pokok enteni aku sampek mari, baru mangan bareng." Setelah mengucapkan itu, ia bergegas menuju ruang Abah Zaki biasanya berada.


Melihat di ruang tengah ada orang, ia mengucapkan salam. Ternyata Ning Bahiyyah dan Umi Faizah disana yang menjawab salamnya.


"Nembe dugi Kang?" tanya Umi Faizah


Dengan jarak sekitar dua meteran, ia bersimpuh menunduk tidak berani menatap. "Enggeh Umi, nembe. Ngapunten Umi, Abah Zaki wonten pundi nggeh?" tanyanya pada Umi Faizah


"Nang biasane Kang. Sampeyan mau wes di rantosi kaleh Abahe." ucap Umi Faizah


Ia mengangguk lalu berpamit menuju ke ruang baca Abah Zaki, bisa di bilang seperti perpustakaan kecil, karena banyaknya kitab-kitab disana. Dengan membungkuk, ia berjalan melewati Umi Faizah dan Ning Bahiyyah.


Sampai di depan pintu, ia mengetuk sambil mengucap salam. Samar-samar ia bisa mendengar jawaban salam dari Abah Zaki dan menyuruhnya untuk masuk. Dengan perlahan ia membuka pintu kayu itu. Melihat Abah Zaki yang duduk di meja dengan tatapan Beliau ke arah kitab yang Beliau baca.


Ia pun mendekat masih dengan jalan yang setengah membungkuk. Tepat di samping Beliau, Ia bersimpuh lalu mencium tangan Abah Zaki. Abah Zaki mengelus punggungnya.


"Wes mari lek kangen?" tanya Abah Zaki


Ia tersenyum sambil mengangguk. "Alhamdulillah sampun Bah."


Terdengar pintu terbuka, menampakkan Umi Faizah dan Ning Bahiyyah yang melangkah masuk. Merasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, ia pun berpamit pada Abah Zaki.


"Riyen Kang, Abah ape ngomong diluk." ujar Abah Zaki


Ia bersimpuh lagi, ada apa ini? Ada hal seserius apa sampai Umi Faizah dan Ning Bahiyyah ikut masuk juga. Ia berperang dalam pikirannya sendiri.


"Abah takok, sampeyan sampun gadah calon Kang?"


Pertanyaan Abah membuatnya menegang beberapa saat. Sepertinya ia tahu ke arah mana perbincangan ini. Ia menghela nafasnya pelan. Mau menjawab sudah, nyatanya ia belum bergerak untuk mengkhitbah 'dia'.


"Dereng Bah."


"Abah krungu, sampeyan cedek karo Mbak-mbak, Kang? leres?"


Ia langsung mengernyitkan alisnya. Dekat dengan santri puteri? perasaan ia tidak pernah dekat santri puteri. Dalam tunduknya, ia menggeleng lemah. "Mboten Bah."


"Jujur mawon Kang." ujar Ning Bahiyyah


Ia menggeser badannya menghadap ke arah Ning Bahiyyah dan Umi Faizah. Ia menggeleng keras. "Estu Ning, mboten."


"Mbak Shahla?" cetus Ning Bahiyyah


"D-Dadi bener sampeyan cedek kaleh Mbak Sha-hla?" tanya Ning Bahiyyah terbata


Ia mengangguk yakin, "Nggeh Ning."


Terdengar suara sesenggukan, yang ia tebak itu Ning Bahiyyah. Kan memang benar selama ini ia dekat dengan Dek Shahla. Dirinya tidak bohong kan?


"Mbah Shahla niku calon e sampeyan Kang?" suara lembut dari Umi Faizah bertanya padanya.


"Waullahhualam Mi." Ia menjawab seperti itu, karena ia tidak tahu apa yang terjadi kedepannya.


Terdengar semakin kencang isakan dari Ning Bahiyyah. Ia sebenarnya tahu Ning Bahiyyah sakit hati dengan kedekatannya antara dirinya dan Dek Shahla. Tapi ia tidak menyangka kalau Ning Bahiyyah sampai terisak seperti ini.


"Sampeyan karo Mbak Shahla kerabat, Kang?" Tanya Abah Zaki.


Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk mantab." Nggeh Abah, Dek Shahla rayi sepupu ne kulo."


Hening seketika, tidak terdengar isakan lagi dari Ning Bahiyyah. "Saestu Kang?" tanya Ning Bahiyyah dengan nada serak


"Nggeh Ning."


Terdengar gumaman mengucap hamdalah. Sebenarnya ia masih bingung, sebenarnya ada masalah apa?


"Nawwaf mau wes ngomong ndek sampeyan Kang?"


Langsung ia teringat ucapan Gus Nawwaf di warung kopi tadi. Tangannya meremas. Kalau di hadapkan dalam situasi seperti ini, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia mengangguk. "Sampun Bah."


"Piye lek jare sampeyan Kang?"


Jujur saja ia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia di desak untuk segera membina rumah tangga. Dan kebetulan jalan mudah untuk Ning Bahiyyah dengan dirinya. Tapi bukan itu yang diinginkan hatinya.


Padahal tadi sudah merasa lega ketika Bunda menenangkannya. Mendengar Abah Zaki sendiri yang berbicara kepadanya, semakin berat pundaknya memikul.


Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim


Abah Zaki menepuk pungungnya pelan. "Yowes-yowes, sesok Gus Salman ape rene insyaallah nginep, barengono yo Kang!" ujar Abah Zaki memecah keheningan.


Ia mengangguk, "Nggeh Bah."


"Bah!!"


 


 


Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq


Kang Wildan


Bahiyyah Khansa Ismail


Shahla Nadzarrin Ahmad


Ameera