
Selamat Membaca
Mu'adz berlarian menuju ruang persalinan, dengan keadaan yang kacau. Mengingat mimpinya semalam, ia merasa sangat de javu. Rasa khawatir yang luar biasa menghantuinya. Bagaimana tidak, dalam mimpinya saja ia merasa sangat terpukul. Apalagi kalau itu nyata. Nauzubillah.. semoga Ameera dan calon anaknya baik-baik saja.
"Pundi Ameera Bi?" tanyanya dengan napas ngos-ngosan.
"Teng njero, di tunggoni Bunda kaleh Nduk Shahla," balas Abi sambil menunjuk ruang persalinan.
Berniat untuk masuk kedalam, namun tiba-tiba punggungnya di tepuk keras. "Mase niki, Nduk e ditinggal!" dengus Nduk Khafa dengan cemberut.
Mu'adz yang tersadar menepuk pelan dahinya. "Sepuntene nggeh Nduk e. Mase kaget mau moro-moro sampeyan tangekne."
Memang dirinya kaget luar biasa ketika di bangunkan Nduk Khafa, apalagi mengetahui kalau istrinya sudah waktunya melahirkan. Dengan sebagian nyawanya yang tertinggal dalam mimpi, tanpa berkata apa-apa. Ia langsung menancapkan gas menuju klinik bidan terdekat.
"Ish, niki sandal e kaleh kupluk e!" Melihat barang yang disodorkan Nduk Khafa, membuat tangannya menyentuh kepala. Benar, iya lupa tidak memakai peci. Lalu melirik kebawah, kakinya tanpa alas. Jadi selama ia menuju kesini, ia tidak sadar jika tidak memakai sandal peci.
"Istighfar Mas. Di tenangne riyen. Nduk Kiya teng njero niku kesakitan, lek Mase panik ngeten niki, Mase pripun ajenge nguatne Nduk Kiya?" nasehat Abi diirngi elusan di punggunya. "Mriki lenggah riyen, terus ngunjuk niku." Tunjuk Abi pada minuman di dalam bungkusan.
Tangannya terulur membuka bungkusan itu, yang ternyata es degan. Dengan basmalah, ia menyedot pelan es degan tersebut. Seketika rasa segar memenuhi tenggorokannya.
"Nduk e nyuwun Mase!" Ia memberhentikan sedotannya, melirik sekilas pada Nduk Khafa. Dengan sedikit mengejeknya, ia justru menandaskan es degan tersebut.
"Abi! Mase lo!" rengek Nduk Khafa tak terima.
"Niku tasek enten Nduk e," balas Abi dengan menunjukkan minuman yang lainnya.
"Mboten, purune es degan. Niku lak dawet Abi," cemberut Nduk Khafa.
Dengan tanpa bersalahnya, ia mengacak kerudung Nduk Khafa, lalu mencium kepalanya. "Engken insyaallah Mase tumbasne, ojo cemberut." Setelah mengucap itu, ia berjalan menuju ke ruangan bersalin. Tangannya terulur membuka pelan pintu. Ia langsung disuguhi dengan ringisan kesakitan istrinya, dengan cekatan ia membersihkan diri di kamar mandi. Lalu mendekat kearah bangsal istrinya.
"Nduk Kiya, Mas Mu'adz sampun dugi. Bunda kaleh Nduk Shahla teng jawi nggeh!" Ucap Bunda diiringi usapan di ke tangan istrinya.
Ameera yang mendengar itu langsung membuka kedua matanya, ia langsung tersenyum hangat, ketika netra milik istrinya langsung menangkap keberadaannya. Tangannya terulur mengelus puncak kepala istrinya.
"Aku yakin dirimu kuat," ucap Nduk Shahla memberi semangat.
"Suwun yo La," balas istrinya dengan suara parau. "Bunda nyuwun pandungane," pinta istrinya pada Bunda.
"Nggeh, Bunda dungakne Nduk Kiya terus. Nduk Kiya nggeh harus kuat nggeh."
Setelah memeberi semangat pada istrinya, Bunda dan Nduk Shahla berjalan keluar ruangan, kini hanya tinggal kita berdua disini. Tangannya memegang erat tangan istrinya. "Istighfar nggeh Nduk e. Astaghfirullahal'adzim."
"Astaghfirullah-hal'adzim. Sss... Sakit Mase."
Tangannya lalu beralih mengelus perut istrinya. "Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim," ucapnya beberapa kali lalu diikuti oleh Ameera.
"Aduh Mase. Argh..."
Melihat cairan yang merembes pada gamis istrinya, membuat ia langsung menekan tombol darurat. Melihat kesakitan istrinya yang menjadi-jadi membuat dirinya diliputi rasa panik.
Melihat istrinya sedang berjuang melahirkan keturunannya, membuat setitik air matanya jatuh. Bahkan, ia seakan bisa merasakan kalau itu sangatlah sakit. Ia jadi teringat cerita tentang Ummah yang berjuang melahirkan dirinya, hingga beliau meninggalkan dirinya yang masih bayi.
Ya Allah berikan kelancaran.
Entah sudah berapa kali ia mengucap kalimat tauhid di telinga istrinya. Sampai suara tangisan bayi menggumam memenuhi ruangan. Seketika itu ia menoleh lalu tersenyum haru sambil mengucap syukur sedalam-dalamnya. Bayi yang masih merah itu menangis kencang, di letakkan di atas dada istrinya. Seolah pernah diajarkan sebelumnya, bayi mungil itu mencecap sumber kehidupannya.
Sedangkan ia langsung meng-adzani putra kecilnya ini di telinga kanan lalu berakhir meng-iqomahi di sebelah kiri. Setelah selesai, bayi mungil itu di ambil alih petugas kesehatan. Sedangkan dirinya, memperhatikan keadaan istrinya. Menyodorkan minuman manis di hadapan istrinya, lalu tangannya membenarkan letak kerudung istrinya yang berantakan.
"Matur nuwun nggeh Nduk e! Nduk e sampun berjuang damel dedek. Mantun niki berjuang sami-sami nggeh ndidik dedek," ungkapnya tulus diiringi senyuman. Istrinya tersenyum lalu mengangguk. Kemudian ia menghadiahi ciuman di kening istrinya.
Kebahagiaan ini sungguh sangat luar biasa baginya. Sempat bermimpi buruk tentang keadaan istri dan calon buah hatinya membuat ia belajar. Bahwa semua yang kita sayangi, bisa sewaktu-waktu akan diambil oleh Allah, karena apa? Karena Allah lebih menyayanginya melebihi rasa sayangnya. Maka dari itu rasa ikhlas harus di tanamkan betul-betul.
Ia sangat berharap, semoga keluarga kecilnya di limpahi banyak keridhoan oleh Allah. Aamiin...
🌵🌵🌵🌵🌵 Ending🌵🌵🌵🌵🌵🌵
Alhamdulillah, saya nyatakan Mas Mu'adz selesai sampai sini.
Jangan menagih ekstra part nggeh!
Tapi entah nanti saya masih belum tahu, ada cerita kelanjutan apa tidak mengenai putra kecil Baba Mu'adz.
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika banyak kesalahan kata, atau kesalahan apapun yang saya perbuat selama penulisan cerita ini. Jika ada diantara kalian yang bilang ceritanya tidak sesuai ekspetasinya. Maka, saya dengan tegas menjawab. Setiap isi kepala manusia berbeda kapasitas, berbeda angan juga. Jadi saya mohon maaf jika tidak sesuai dengan ekspetasi njenengan. Saya hanya bisa menuliskan cerita ini berdasarkan apa yang saya ketahui, apa yang saya pelajari.
Untuk itu sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya juga menerima saran dari panjenengan, karena insyaallah nanti saya akan merevisi beberapa kesalahan di cerita ini.
Sampai bertemu di cerita Nduk Khafa nggeh! Tapi tidak dalam waktu dekat ini nggeh.
Saya mau merenggangkan otot dan merefresh otak dulu. Agar nantinya menuliskan setiap part-partnya bisa lebih fokus.
Oh nggeh yang punya akun ******* monggo follow saya lagi, linknya ada di bio facebook.
Wassalamualaikum
02-08-2021