
Selamat Membaca
Udara malam menyapa, menusuk kulit menembus sela-sela kain mukenah putih seorang perempuan. Masih sama, di tempat yang sama, di samping pilar musholla. Setelah sholat hajat, lalu sholat istikharah di lanjut sholat tajahud. Semua ia Istiqomah kan dalam sepertiga malamnya.
Bersimpuh memainkan tasbih kaoka yang bagian ujungnya terdapat tanda namanya alif dan zain. Bibirnya terus berucap kalimat istighfar. Kali ini, ia merasa berat. Ada rasa sesak yang menggerogoti hatinya. Orang yang selalu ia pinta dalam doanya ternyata sudah memilik tambatan hati, yang ia rasa memang bukan dirinya.
Padahal kemarin-kemarin, ia bisa berharap kalau rasanya juga bersambut. Karena dirinya menilai bagaimana 'dia' memperlakukannya dengan sangat manis. Meski tidak terlihat, ia tahu dari cara menatap walau sekilas.
Tapi semenjak kejadian itu, seakan semua harapannya lebur begitu saja. Sebenarnya ia sedikit ragu, apa benar 'dia' dekat dengan sahabatnya-Shahla atau ada hal lain. Setahunya 'dia' bukan orang yang seperti itu. Ia menghela nafasnya pelan sambil terus mengucap istighfar.
Beri petunjuk Mu!!
Setelah berbincang-bincang dengan Gus Salman, Abah Zaki memanggilnya untuk mengantarkan Gus Salman ke kamar tamu. Yang letaknya di samping ndalem.
"Monggo Gus." Kang Akmal mempersilahkan Gus Salman untuk mengikutinya.
Ia di samping Gus Salman dengan sedikit menunduk, sambil menunjuk arah kamar yang akan di tempati Gus Salman. Tiba-tiba tangan Gus Salman merangkul pundaknya untuk tegak, sambil menepuk pelan. Ia menoleh ke arah Gus Salman yang sudah menyungging senyum, ia pun juga.
"Ampun ngoten Gus!! Sampun mboten enten sinten-sinten."
Ia menegang seketika, lalu menoleh. Memindai wajah Gus Salman, takut ia melewatkan momen mengenai Gus Salman. Dari mana Gus Salman tahu?
"Niki kamare Gus?"
Ia hanya mengangguk, masih belum membuka suara. Ia masih syok.
"Saget omong-omongan kedap Gus?"
Sekali lagi ia hanya mengangguk. Lalu masuk ke dalam kamar Gus Salman dengan pintu di biarkan terbuka. Duduk di kursi yang memang sudah di sediakan di kamar ini. Masih dalam keadaan sama-sama diam.
"Njenengan semerep —"
"Yai Nawawi, kulo tepak sowan teng Yai Nawawi, kulo semerep njenengan." ujar Gus Salman memotong ucapannya.
"Njenengan sampun semerep tujuane kulo mriki?" tanya Gus Salman
Ia menggeleng, karena memang ia tidak tahu tujuan Gus Salman sowan kemari. Sejujurnya ia baru bertatap muka Gus Salman itu hari ini. Sebelumnya hanya mengetahui Beliau dari mulut ke mulut.
"Njenengan sampun ngertos Ning Bahiyyah kaleh njenengan?"
Ia menatap Gus Salman dengan pandangan yang penuh arti, sebenarnya ada apa? ia kurang suka yang berkelit-kelit.
"Lek njenengan maju kulo mundur. Lek njenengan mundur kulo maju." tegas Gus Salman
Hmm, ia baru mengerti arah pembicaraan ini. Ia mengangguk mengerti.
"Monggo njenengan mawon seng maju Gus." jawabnya
Brak!!
Tiba-tiba terdengar bunyi benda jatuh dari arah luar kamar. Ia dan Gus Salman saling berpandangan, sama-sama terkejut.
"Ning, sampun to!! engken bendul." ucap Ameera menenangkan
Di dalam kamar yang pintunya sudah terkunci dari dalam. Ning Bahiyyah yang sedari tadi menangis tiada henti sedangkan Ameera yang bingung menenangkan Ningnya itu dengan cara apa lagi.
Seolah hanya angin lalu yang tak berarti. Dengan sabar Ameera mengelus punggung Ning Bahiyyah yang posisinya tengkurap. Membenamkan wajahnya dalam bantal. Ameera tidak tahu apa yang terjadi pada Ningnya ini. Tiba-tiba saja Risma memanggilnya kalau Ning Bahiyyah meminta dirinya untuk menemui dikamar Beliau langsung.
Dan pemandangan inilah yang disuguhkan ketika membuka pintu kamar Ning Bahiyyah. Ameera meringis dalam hati. Jelas nanti kedua mata Ning Bahiyyah bengkak. Sedari tadi Ning Bahiyyah tidak mengucapkan apapun, hanya mendengar tangisan sesenggukan.
"Ning empun to!!"
Ning Bahiyyah tiba-tiba terduduk, mengusap kedua pipinya kasar, sesekali ia masih sesenggukan.
"Mbak Shahla iki piye seh neng Kang Akmal? sampeyan kan cedek to Mbak, kaleh Mbak Shahla."
Ameera menggaruk punggung tangannya yang tiba-tiba gatal. "Ehm, kulo mboten semerep Ning." jawab Ameera
Jadi ini yang sedari tadi membuat Ning Bahiyyah menangis dan tidak mau berhenti.
"Sampeyan ngerti kan Gus Salman khitbah aku Mbak?" Ameera mengangguk. "Mau aku gak sengojo krungu, omong-omongane Gus Salman karo Kang Akmal. Dan sampeyan ngerti, hiks, memang Kang Akmal tenanan ora gelem karo aku. Malah Gus Salman seng kon tetap khitbah aku, hiks. Jahat e Kang Akmal, hiks." Ameera mengelus punggung Ning Bahiyyah memberi ketenangan.
"Masio sepupu kan sek iso simah, kan Mbak? hiks. Emang tenanan tah Kang Akmal karo Mbak Shahla, hiks." imbuh Ning Bahiyyah sesenggukan
"Sepupu?" tanya Ameera
Ning Bahiyyah mengangguk mengiyakan. "Kang Akmal sepupune Mbak Shahla. Tapi kan Mbak Mer, hiks."
Ning Bahiyyah tidak melanjutkan ucapannya namun tangisannya kian keras. Ameera bingung sendiri jadinya.
"Astaghfirullah, bocah iki."
Senyum Shahla langsung luntur ketika melihat sahabatnya sudah duduk di sampingnya. Lekas ia menutup buku kecil itu. Ia berdehem, menetralkan air mukanya.
"Nyapo kok di tutup? emang wes apal? Wong apalan malah mesam mesem. Apalan cap opo kuwi." omel Ameera
Shahla sudah pasti jengah jika mendengar Ameera mengomelinya. Seperti kloningan Mama kalau seperti ini.
"Nduwe nadhoman iki di apalne uduk di gawe ndeleh poto." imbuh Ameera
Shahla hanya nyengir. "Aku wes apalan mau, cumak pas dirimu eroh tepak aku refreshing."
Ameera mencebik bibirnya. "Refreshing-refreshing opo ngunu kuwi. Ndi ndelok aku pengen eroh fotone, penasaran aku." Ameera menadahkan tangannya
Shahla langsung menyembunyikan nadhomannya ke samping. "Ojo, engko mbok paido."
"Ck, ora-ora. Wedhi men." Ameera masih menadahkan tangannya
Shahla lemah kalau Ameera seperti ini. Meskipun kesal, seolah ia tidak bisa kalau tidak mengindahkan ucapan Ameera. Persis seperti berhadapan dengan Mama. Memang Mama dan Ameera seperti pinang di belah berantakan, gerutu asal dari Shahla.
Perlahan ia memperlihatkan nadhomannya pada Ameera. Dan langsung di ambil kemudian membuka halaman yang sedikit merenggang.
Ameera bisa melihat dua foto anak kecil laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki yang senyum imut dan anak perempuan yang ompong memperlihatkan gusinya.
"Ha!! iki seng ompong mesti dirimu?" Ameera terkekeh
"Kan mbok paido. Ndi gorene." Shahla langsung menyambar nadhomannya.
"Terae dirimu ket cilik iki terlalu pede. Wes ngerti ompong malah di dudohne. Isin, ngetarani lek ra tau sikatan."
"Astaghfirullah, sungguh nge-jleb sekali ucapanmu nak!!" Shahla mendramatisir sambil mengelus dada.
Shahla sudah biasa dengan mulut tajam Ameera. Ia tahu kalau hanya bercanda, di balik bercandaan Ameera pasti menyiratkan sesuatu. Seperti halnya saat ini, secara tidak langsung Ameera menegurnya.
"Piye imut ora seng csh lanang ndek poto iki?" tanya Shahla sambil menunjukkan ke arah anak laki-laki berambut cepak.
Terlihat Ameera mengangguk. "Sopo seh jane iki? mosok Mas mu? perasaan dirimu tunggal deh."
"Yee!! emang anak tunggal ora oleh nduwe Mas." sanggah Shahla.
Ameera tampak mengernyitkan dahi. "Sek-sek. Bener dirimu iki sepupune Kang Akmal? Ojo-ojo kunu mau Kang Akmal."
Shahla langsung menegang, menatap Ameera tanpa berkedip. "Jare sopo?"
"Ning Bahiyyah."
"Hah?" Ia bingung, tahu darimana Ning Bahiyyah kalau Kang Akmal adalah kakaknya. Padahal ia tahu kalau selama ini kakaknya menyembunyikan identitasnya dengan berganti panggilan.
"Aku bingung ape cerito mulai ko ndi, intine Ning Bahiyyah ngerti lek dirimu enek hubunganmu karo Kang Akmal." papar Ameera.
"Lah, kok dadi aku seng di gowo-gowo."
Ameera menggedikkan bahu. "Jareng Ning Bahiyyah seh, pas di tangkleti Umi, lek dirimu opo calon e Kang Akmal. Terus jawabane waullahualam. Kan dirimu sepupu sah ae lek nikah."
Shahla seketika tergelak. "Haha, oleh nikah yo?" iya juga ya? ia dan Mas Muadz sah juga kalau menikah. Duh!! jadi pengen cepet nikah sama Mas Muadz, lanjutnya dalam batin.
Hanan Salman Firdausi

Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq

Bahiyyah Khansa Ismail

Shahla Nadzarrin Ahmad

Ameera