
*Vote dulu nggeh!!
Selamat Membaca
Dalam mimpinya serasa ada yang menggoyang-goyang badannya. Samar-samar ia bisa mendengar panggilan namanya. Mas Mu'adz pun mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang tertangkap netranya.
"Mas, Mas!! ayo tangi. Di rantosi Abi kaleh Bunda."
Sejenak ia duduk, mengumpulkan segala nyawanya. "Pripun Nduk?"
"Di rantosi Abi kaleh Bunda, sak niki ajenge nusul Aa', teng bandara." ucap Nduk Khafa yang masih menggoyang-goyangkan lengannya.
Seakan linglung, melihat ke jendela, langit sudah petang dan jalanan pun terdengar sunyi. Berada di kamar Bunda, membuatnya nyenyak terlelap. Tidak sadar ia tertidur selepas sholat Isya' tadi.
"Loh, Aa' wangsul?" tanyanya sambil meraup wajah lalu bingung mencari gawainya, lupa ia taruh mana.
"Enggeh, mangkane ayo Mase. Sampun di rantosi Abi kaleh Bunda teng mobil."
Ia mengangguk, beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka sekaligus berwudhu sebelum naik kendaraan. Rasanya badannya linu-linu. Padahal tadi tidak melakukan aktifitas yang berat-berat. Apa salah posisi tidur? Sepertinya ia tidak bisa mengendarai mobil dalam keadaan seperti ini.
****
"Aa' tumben keng nyusul Bi?" Tanyanya sambil mencari charger di dashboard mobil. Gawainya mati total. Lagi-lagi ia lupa untuk menchargernya tadi pagi. Melihat Abi dengan raut yang lelah, ia yakini, Abi tadi juga sudah tidur. Yang benar saja, sekarang sudah hampir tengah malam. Di tambah jarak yang akan di tempuh lumayan jauh.
"Mase mawon Bi, nyetir."
Di belakang, Bunda dan Nduk Khafa sudah terlelap dalam mimpi. "Mboten Mas, engken ae lek Abi mboten kiat gantosan." Ia hanya mengangguk. Meskipun di perjalanan pagi tadi menuju ke rumah Ibu, berakhir dengan ajakan Abi untuk 'ngopi', bukan berarti suasana jadi canggung atau diam-diaman. Tentu tidak!
Sejak kecil, ia didik Abi dan Bunda untuk menyelesaikan masalah di hari itu juga. Kalaupun sudah menemukan solusi, iya sudah, tidak ada acara ngambek-ngambekan, dan tentunya kembali ke awal semula. Kata Bunda, semua masalah tentu ada solusi, ketika masalah selesai harus kembali ke semula. Jangan jadikan masalah itu sebagai kecacatan diri untuk melangkah. Justru jadikan itu sebagai point-point penting pembelajaran hidup.
Gawainya sudah terisi daya yang cukup untuk mengaktifkan tombol on/off nya. Selang beberapa menit, beberapa notifikasi chat dan panggilan secara beruntun. Hanya satu nama yang mengechatnya beruntun, yaitu Dek Khaliq.
Dek Khaliq
Mas, Aa' engken dhalu wangsul
Mas, kabar bahagia. Sampun nemu titik terang.
Kok ora di bales
Aa' telfon kok ora di angkat Mas?
Mas?
Aih
Penting lo Mas.
Mas engken susulen teng bandara dhamel mobil ageng. Yai Nahrowi sampun kepangih.
"Loh Bi? Abah Nahrowi sampun kepanggih?" tanyanya meyakinkan
"He em, mangkane niki nyusul Aa' nyambut mobile Abah." Ucapan Abi membuatnya tersadar kalau yang di tumpanginya bukan mobil biasanya, melainkan mobil besar milik Abah.
"Alhamdulillah, Abah Nahrowi sampun kepanggih." ucapnya lega.
"InsyaAllah benjeng lusa Bi, tapi kadose benjeng. Soale lare ndalem keng wangsul riyen."
"Kadose Yai Zaki, bener-bener ngarep sampeyan dados mantune Mas." ujar Abi yang membuatnya menoleh. "Yai Zaki, sempet sanjang teng Abi lek sampeyan ajenge di pendhet dados mantune." Percakapan kali ini terdengar serius.
"Enggeh Bi. Yai Zaki mboten langsung bejo teng Mas. Cumak Ninge niku." paparnya sambil mengingat kejadian Ning Bahiyyah menghadang jalannya sewaktu di mall.
"Alesane nopo Mas, menolak?"
Seketika ia bingung sendiri, harus menjawab bagaimana. Sepertinya, perilakunya yang sudah berlalu mendapat boomerang tersendiri. Entah itu, ia tidak mau orang lain tahu identitasnya, lalu berakhir dengan ia harus mempersiapkan jawaban yang pas. Atau bahkan dirinya bersembunyi di balik hatinya sendiri, dan berakhir dengan sekarang ini, ia kebingungan sendiri mendapat pertanyaan dari Abi.
"Dereng kepanggih jawaban istikharah Bi." jawab sekenanya. Semoga saja Abi tidak membaca raut wajahnya yang gelisah ini.
"Terus Nduk Shahla?"
"Nggeh mboten terus Bi. La pripun?" tanyanya balik.
"Berarti Ayah Dzarrin sampeyan tolak pisan?!"
"Ayah Dzarrin ngengken njogo Dek Shahla mawon, mboten keng menikahi Bi."
"Mas, ngertos. Cara terbaik menjaga perempuan yang bukan mahrom itu dengan cara menikahinya? apalagi Ayahnya sendiri yang menyerahkan." Ia tidak membantah ucapan Abi, memang benar adanya. "Jawabane Mas, dereng tepak teng Abi. Nopo sami, dereng nemu jawaban istikharah? opo, Mas sampun gadah lare seng di senengi."
Terdiam, bungkam seribu bahasa. Ucapan Abi berhasil menyentil hatinya. Ia jadi kelabakan sendiri. Meskipun ucapan Abi terkesan memberi pilihan namun nada penegasan di akhir pilihan tadi.
"Ayo, mudhuk. Mas nangekne Nduk Khafa."
Ia mengangguk pasrah. Perbincangan dengan Abi kali ini berakhir dengan keterbungkamannya. Baginya ini belum selesai. Pasti suatu saat Abi akan menagihnya.
***************
Selepas sholat Shubuh, Shahla berniat untuk jalan-jalan di sekitar perkampungan. Ia mencari Nduk Khafa dan duo krucil, Dek Arsy dan Nduk Ayna. Memang semua sudah terencana, semua keluarga menginap di rumah Abah dan Ibu.
Ia mengerutkan kening, suasana rumah kok sepi, jangan-jangan dirinya di tinggal jalan-jalan. Tadi pas waktu bangun, Nduk Khafa dan duo krucil juga tidak ada, di tambah keadaan rumah sekarang sepi. Ingin membuka pintu kamar yang di tempati Mas Mu'adz semalam, namun ia tidak berani. Jangankan masuk, mengetuk pintu saja nyalinya sudah ciut. Segan saja rasanya.
Menuruni anak tangga, mengedarkan pandangannya. Sama. Sama-sama sepi. Sudah pasti nih, ia di tinggal sendirian. Namun dari pendengarannya menangkap ada yang berbicara di belakang rumah. Ia pun mendekat. Suara Ibu disana, entah berbicara dengan siapa, tangannya memegang knop pintu, namun sedetik kemudian terhenti kala mendengar suara Ayah.
"Dereng Buk, Nduk Shahla dereng semerep tentang niku."
"Ibuk, bukane piye Le. Semakin, Nduk Shahla suwi ora ngerti, wedine kedepane bakal salah kaprah. Nduk Shahla tetep nganggep Mas Mu'adz calone. Ibuk cumak ora kepingin hal koyok ngene terulang eneh, Le."
Jadi, jadi selama ini, Mas Mu'adz. Nafasnya tercekat, Ia menggeleng keras, seolah tidak percaya akan hal itu. Air matanya pun sudah luruh entah sejak kapan. Tidak mungkin Ayah dan Mama membohonginya.
Tubuhnya luruh di depan pintu, ia terisak. Hatinya sungguh sakit sekali. Ia sudah sangat berharap kalau dirinyalah yang akan menjadi pendamping Mas Mu'adz. Kalau teman kecilnya yang selalu menenangkannya kala sedih akan selalu jadi penyembuhnya. Semakin mengingat masa-masa itu, membuat hatinya semakin sakit. Berulang kali ia menepuk dadanya.
Entah berapa lama dirinya terisak, tubuhnya sedikit terhuyun kebelakang. Pintu penghubung itupun terbuka. Sedang dirinya masih menenggelamkan wajahnya di lipatan kaki.
"Sssttt... ayo lenggah mriko?" ajak Mama sambil merengkuhnya.
Namun karena ia kelelahan menangis, pandangannya berputar-putar. Ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
********************
Jeng jeng jeng jeng....
Mas Mu'adz dimana?
Waktunya Shahla sakit hati.