MU'ADZ

MU'ADZ
EMPAT PULUH DELAPAN



 


 


Selamat membaca


 


 


 


 


 


 


 


 


Shahla bergeming menatap bangunan berlantai dua. Dari kaca mobil bisa ia lihat, beberapa mobil yang terparkir di sana. Dan membuatnya yakin kalau keluarga Abi dan Bunda sudah datang.


Kaca mobil dari luar terketuk membuat kesadarannya kembali. "Ayo Dek, kok malah ngelamun," seru Mama.


Dengan perlahan ia membuka pintu mobil, berdiri dengan masih menatap rumah milik Ibu. Bisa di dengar suara heboh ponakan-ponakan kecilnya di dalam sana.


Sampai lengannya di tarik Mama, mungkin Mama jengah menunggunya. Semakin mendekati pintu, semakin jantungnya berdetak kencang. Memang siapa yang siap bertemu kembali dengan seseorang yang mati-matian ia lupakan.


Sampai Ayah mengucap salam dan seketika senyap. Meskipun menatap lantai, tapi ia bisa lihat dari sudut matanya kalau atensi semua orang mengarahnya.


"Eh, Ya Allah ayo mlebu-mlebu," ucap Ibu yang tak lain Ibu susu dari Ayah. Ibu menggiringnya ke ruang keluarga.


"Kangen Ibuk, sehat Nduk?" Tanya Ibu sambil berjalan.


"Alhamdulillah sehat Buk," jawabnya lirih.


"MBAK SHAHLA!


"YEY YEY!


"AYO MANCING IWAK MBAK!


Suara-suara teriakan itu berasal dari ponakannya yang memang dekat dengannya.


"Mbak Shahla kersane lenggah riyen nggeh!" Ibu yang disampingnya memberi pengertian.


Sampai di ruang keluarga yang memang sudah di padati kaum Ibu-ibu yang tak lain adalah tantenya. Ia pun segera mencium tangan Beliau semua.


Sampai di tangan terakhir milik Ning Riza, ia belum melihat kehadiran Ameera. Semoga saja Ameera berhalangan hadir.


Namun kelegaannya, hanya sebatas sesaat. Sampai langkah kaki mendekat. Yaps, Ameera datang membawa senampan minuman.


Beberapa detik mata kita saling mengunci, namun ia putuskan begitu saja. Dadanya bergemuruh melihat Ameera yang saat ini berdiri di tengah-tengah keluarganya. Bayang-bayang kenangan pahit pun muncul kembali.


"Ma, Adek teng kamar nggeh!" Bisiknya pada Mama.


"Dek, sek to lah. Mboten penak kaleh Ibuk,"


Shahla pun menurut, duduk di samping Mbak Zahra.


"Kapan tekone?"


Mbak Zahra memang sudah menikah, bahkan juga sudah di karuniai putri kecil yang masih bayi.


"Membangi Mba," jawabnya sambil menoel pipi bayi yang masih tidur di pangkuan Mba Zahra.


"Seneng Ibuk lek saget ngumpul-ngumpul ngeten niki. Garek Nduk Shahla seng dereng enten calone."


"Hehe, kuliah riyen Buk," ucap Mama membelanya.


"Lah iyo, sampeyan FK pisan kan Nduk!" Celetuk Ning Riza. Ia hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Calon peneruse sampeyan Lun," sahut Mama.


"Syaraf?" Ia mengangguk pada Bunda. "Wah Alhamdulillah saget ngewangi Bunda," ucap Bunda.


"Loh loh kok lenggah teng ngandap to Ning, mriki lo!" Suara interupsi dari Mbak Zahra mengalihkan atensi semua orang.


"Mboten teng mriki mawon." Meskipun ia tak melihat, ia sudah hapal suara lembut itu milik Ameera.


"Mriki Nduk, lenggah kaleh Bunda."


Bisa ia lihat dari sudut matanya, Ameera berjalan mendekat kearah Bunda. Tapi bukan itu yang membuatnya mengerutkan dahi. Cara jalannya Ameera seperti ada yang beda. Tidak mungkin kalau Ameera sedang udzur, karena tanggal udzur kita memang berdekatan bahkan sama.


"Sek sek Mbak." Suara Ning Khafa mengehentikan jalan Ameera. "MAS, MAS MU'ADZ MRIKIO," panggil Ning Khafa dengan suara lantang.


"Hush Nduk Khafa!" Tegur Bunda. Nduk Khafa hanya nyengir.


Tak lama kemudian, yang dipanggil datang. "Hayoh Mbak Kiya Mase apakne?"


Ia masih bingung dengan pertanyaan yang terlontar dari Nduk Khafa, terkesan menggoda nadanya. Emang ada yang salah kah?


Semua orang menunggu jawaban dari Mas Mu'adz, namun yang terdengar hanya kekehan. "Sstt... Nduk e!"


"Alhamdulillah Bunda, siap-siap angsal putu!"


Semua orang disini tertawa mendengar celetukan Nduk Khafa kecuali dirinya. Otaknya masih sibuk berpikir.


Putu?


Jangan jangan?


Allah Ya Karim


Jadi mereka sudah?


Fakta yang barusan ia dengar membuat tusukan dalam hatinya semakin dalam, perih itu yang ia rasakan. Terasa air matanya menggenang, ia mendongak menghalau agar tidak jatuh. Sampai beberapa menit ia merilekskan diri, ia pun berdiri.


"Ma, Adek teng kamar nggeh ngantuk," ucapnya lalu beranjak menuju lantai dua. Tanpa mendengar seruan orang-orang disana.


Tidak ada yang melihat air matanya yang sudah menetes semenjak kakinya menginjak anak tangga.


Ini yang selalu ia takutkan ketika hatinya belum sembuh, dan sudah kembali pada pusat rasa sakit hatinya. Justru luka itu bertambah lebar.


******


Alhamdulillah bisa up, insyaallah saya usahakan ngebut up Mas Mu'adz nggeh!!