
*Vote dulu nggeh!!!
Selamat Membaca
Sudah seharian ini, Ameera-istrinya menjadi pendiam. Percakapan kemarin sore menjadi percakapan terakhir diantara kita. Memang kemarin sengaja ia memberi waktu istrinya untuk memikirkan tawarannya, tapi melihat keterdiaman istrinya sampai saat ini membuat dirinya kelimpungan sendiri.
Disaat ia ingin memulai pembicaraan atau cara untuk mengawalinya. Kiranya ia bisa berbasa-basi menanyakan apa yang ia perlukan. Namun istrinya cerdik, sebelum itu terjadi apapun yang ia butuhkan, istrinya sudah menyiapkan terlebih dahulu. Terus ia harus bagaimana?
Melihat di sisi kanan ranjang, istrinya tampak tertidur dengan wajah tenangnya. Namun ia yakin istrinya belum terlelap. Mengumpulkan keyakinannya untuk menyudahi ini semua, ia menghela nafasnya pelan.
"Nduk e tilem?" Sambil lalu memiringkan tubuhnya menghadap Ameera. Tangannya terangkat mengelus puncak rambut alus milik istrinya ini. "Sepurane nggeh Nduk, lek Nduk e tersinggung." Kedua mata Ameera tetap terpejam. Perlahan ia mendekat kerah istrinya, tangannya beralih mengelus punggung Ameera, mengecup pelan puncak kepala istrinya. belum ada tanda-tanda istrinya ini merespon ucapannya sama sekali.
"Lek Nduk e mboten purun, Mase mboten mekso. Nopo mawon terserah e Nduk e. Tapi Mase mboten pengen Nduk e dadi meneng ngeten niki." Perlahan tangannya merengkuh tubuh istrinya. Senyumnya terangkat merasakan respon Ameera yang memeluknya erat.
Tak lama kemudian terdengar isakan kecil. Tangannya hanya mengelus punggung istrinya. Baru ia ketahui, di balik diam istrinya ternyata menyimpan tangis yang tertahan. Membiarkan istrinya lega meluapkan isi hatinya dengan tangis.
Entah sudah berapa menit, isakan itu tergantikan dengan dengkuran halus. Mungkin capek menangis sehingga ketiduran. Ia tersenyum tipis melihat itu. Sebelum ia ikut tidur juga, tepat di ubun-ubun istrinya, ia mendoakan istrinya ini. Semoga cukup sampai malam ini saja tangis kesedihan, untuk kedepannya hanya ada tangis kebahagiaan. Mengecup pelan ubun-ubun istrinya lalu matanya pun terpejam.
*****
Suara lantunan kalamullah menyapa pendengarannya. Tanda waktu memasuki sholat tahajud. Namun ada yang beda, yang biasanya di lantunkan santri putra lewat pengeras suara masjid, tapi ini suara perempuan. Tangannya menepuk sisi ranjang tempat istrinya berada, namun nihil, istrinya tidak ada, membuat kedua matanya terbuka lebar.
Netranya menangkap istrinya, duduk tawaruk memegang Al-Qur'an namun pandangannya menghadap jendela kayu, mengarah ke arah taman samping rumah. Ia pun beranjak duduk. Kata Yai Basyir, dulu ibu dari Ameera suka sekali bercocok tanam. Dari macam sayuran dan bunga-bunga, sampai-sampai untuk makan sehari-hari, jarang sekali membeli.
Melihat istrinya seperti itu, jadi ia tahu kalau Ameera sangat merindukan Almh. Umi Rahmah. Di tambah lagi kematian kedua orangtuanya menjadi sebab istrinya mengidap trauma yang berat.
Setelah sholat tahajud selesai, di sambung dengan dzikir lalu memurojaah sebentar sambil menunggu suara adzan terdengar dari masjid pesantren. Di tengah-tengah murojaah, baju bagian lengannya tertarik kebelakang. Membuatnya menghentikan murojaah, sambil membalikkan tubuhnya ia menutup Al-Qur'annya. Posisinya berhadapan dengan istrinya.
"Pripun Nduk?" Melihat wajah istrinya menunduk gelisah. "Teng nopo, cobak ngomong teng Mase," ucapnya lembut.
"Eum, Nduk e purun." Sejenak ia mencerna ucapan Ameera. "Nduk e purun, Mase," imbuh istrinya ini.
"Purun nopo Nduk e?" tanyanya bingung.
"Purun tawarane Mase." Mendengar itu senyumnya mengembang, rasanya ia ingin memeluk erat istrinya. "Tapi Nduk e di rencangi kan?"
Masih dengan senyumnya yang belum luntur, ia mengangguk beberapa kali. "Alhamdulillah, insyaallah Mase ngrencangi Nduk e. Tapi mase nyuwun Nduk e ojo mendhel ae nggeh? purun kan?" Masih dengan menunduk, istrinya mengangguk.
"Cobak ngewesi Mase riyen." Perlahan Ameera melakukan perintahnya. Beberapa saat mata kita saling menatap, tanpa riasan bedak dan sebagainya, tetap yang ia lihat wajah ayu milik istrinya.
"Cobak senyum." Ia menangkap perubahan rona wajah istrinya terutama pipi. "Kan tambah manis." Seketika Ameera menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Ih, Mase!" Rengek istrinya membuatnya tertawa lega. Istrinya telah kembali.
***********************
Assalamualaikum, Alhamdulillah bisa selesai bab ini. maaf nggeh sedikit, mau di lanjutin tapi nanti puanjang banget. Jadi di pisah mawon, hehehe......