
*Vote dulu nggeh !!!
Selamat Membaca
Pagi ini Kang Akmal sedang menyiapkan motornya karena hari ini ia akan mengantar Gus Nawwaf pulang ke pesantren. Ia mengecek keadaan motornya, karena sudah lama tidak ia pakai.
Setelah selesai, ia beranjak menuju dapur ndalem. Menghampiri Kang Wildan yang sedang mengupas buah nangka muda di luar dapur ndalem.
"Jam piro budal e Mal?" tanya Kang Wildan sambil tangannya yang sibuk mengupas buah nangka muda
"Koyok e bar ngene, sek siap-siap Guse." jawabnya
"Tapi awakmu langsung balik rene opo sek mampir?"
"Endang-endang omah disek koyok e. Kangen karo Bundaku tercintah." jawabnya dengan bercanda
"Lebay!! Bunda, Bunda, biasane lek nyelok embok ngunu." Sanggah Kang Wildan membuat ia terkekeh.
"Tumben Markonah ora ganggu awakmu?" tanyanya
Kang Wildan menoleh ke arahnya. "Tumben takon Markonah? ojo-ojo kepincut tenan awakmu nang Markonah? polahe Markonah seneng nang awakmu."
Ia malas jika sahabatnya ini dalam mode sok tahu. "Takon bukan berarti seneng kan? aneh-aneh ae."
"Yo menowo Mal, lek awakmu kepincut tenan, tak suwuk e kene batukmu."
"Sak karepmu Wil." Setelah mengucapkan itu, ia beranjak untuk menemui Gus Nawwaf. Ia sudah jengah dengan Kang Wildan.
Ia berjalan masuk ke dapur ndalem, namun ketika sampai di pintu. Ia langsung menghentikan langkahnya. Karena ada yang ingin masuk juga. Ia menoleh, mendapati adiknya yang juga berhenti.
"Ape nyapo Dek?" tanyanya pelan
"Ajenge nyeluk Ameera Mas." Jawab Shahla dengan menunduk
"Mase engko ape mampir omah, pingin di gawakne opo?" tawarnya.
Tampak Adiknya itu lagi memikirkan sesuatu. "Lek saget mampir teng nggriyo Mas, engken Mama tak sms e lek bene Mase seng mbetakne."
"Sangu?" tanyanya
Ia tersenyum saat melihat adiknya ini cemberut. "Mboten Mase, ih, sangune tasek katah. Sombong!!" Shahla terkekeh, ia pun juga ikut terkekeh lirih.
"Terus opo neh?" tanyanya lagi
"Emh, Mase engken wangusul e dhalu nopo mboten? lek nggeh tumbasne nasgor bandung to Mase, ya ya!! pengen banget lho!!" Nada Shahla memohon dengan kedua pipinya mengembung.
Melihat adiknya berekspresi seperti itu, tangan kanannya terangkat ingin mencubit pipi adiknya, gemas. Tapi tersadar, ia dan adiknya bukan lagi di masa kanak-kanak seperti dulu. Akhirnya ia menarik kerudung adiknya ini sampai miring.
"Ih, Mase!!" Ia terkekeh kecil mendengar dengusan adiknya ini.
"Loh nyapo kok mandek ndek kene Ning!!"
Ia mendengar suara yang dikenalnya. Ia langsung melihat arah ke sumber suara itu. Terlihat Gus Nawwaf, Ning Bahiyyah dan Ameera berdiri di sana. Tampaknya Ning Bahiyyah dan Ameera tadi melihat interaksinya dengan Shahla. Apapun itu, ia hanya menyorot sepasang mata yang memandangnya kecewa. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Astaghfirullah!!
"Kang, sampun mantun?" tanya Gus Nawwaf yang mendekat. Sedangkan adiknya sudah berlalu menuju ke Ning Bahiyyah dan Ameera.
"He em, ayo pamit ndek Umi kaleh Abah." ajak Gus Nawwaf padanya.
Ia pun mengikuti langkah Gus Nawwaf, melewati Ning Bahiyyah, Shahla dan Ameera dengan menundukkan kepalanya.
Shahla yang teringat tujuannya untuk menemui Ameera. Ia menepuk dahinya pelan merutuki dirinya sendiri menatap kakaknya sampai hilang dalam pandangan.
Sebenarnya tadi ia ragu untuk menyapa kakaknya. Karena ia sudah melihat dari jauh ketika kakaknya sedang berjongkok bersama Kang Wildan. Ia pun melangkah, ia urungkan untuk menyapa kakaknya.
Sampai di depan pintu, ia melihat sarung biru gelap berada di sampingnya. Ia mengangkat wajahnya. Sedikit terkejut karena kakaknya berhenti dan menoleh ke arahnya.
Ingin menyapa namun ia bergeming. Akhirnya kakaknya dulu yang menyapa. Dan kita saling berbincang, bahkan sampai tidak sadar kalau ada Ning Bahiyyah dan Ameera yang melihat kita. Ia bingung harus menyiapkan alasan apa ini.
"Mbak Shahla, kenal kaleh Kang Akmal?" tanya Ning Bahiyyah sambil memandangnya
Sekarang ia, Ning Bahiyyah dan Ameera sedang duduk di bangku panjang dekat ndalem. Seperti seorang terdakwah yang sedang di adili. Ia tidak berani mengangkat wajahnya. Sedari tadi ia memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ning Bahiyyah.
"Nggeh Ning."
"Ngapunten loh mbak, kok ketingal akrab banget nggeh?" tanya Ning Bahiyyah lagi
Ia mengerjab-ngerjab matanya, mencari jawaban dalam pikirannya. "Emh, niku wau kebetulan mawon Ning, ajenge sami-sami mlebet teng dapur."
Iya, cari jawaban yang aman saja. Ia tidak ingin menyulitkan Mas Muadz, dan berbohong. Kan benar memang dirinya dan Mas Muadz sama-sama akan masuk ke dapur ndalem.
"Kulo kaleh Mbak Ameera semerep dari awal lo mbak? lek mboten jujur nggeh mboten nopo-nopo, terserah e sampeyan Mbak. Tapi sampeyan pasti sampun ngertos tentang mahrom."
"Nggeh Ning." ia hanya mengangguk saja, tidak ingin menyanggah atau menyangkal ucapan Ning Bahiyyah.
Lalu Ning Bahiyyah meninggalkan ia dan Ameera, tampak Ning Bahiyyah merasa kesal padanya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Menetralkan suasana yang tegang tadi.
"La!!"
Mendengar panggilan itu, ia langsung menoleh. Ia lupa kalau ada satu lagi hakim yang belum memberi pertanyaan. Ia lupa kalau masih ada Ameera disini.
"Mas mu seng ngekeki duwek ndek nane iku Kang Akmal? Seng nggarai awakmu guyu-guyu dewe iku Kang Akmal? Dirimu tenan enek hubungan karo Kang Akmal?" Ameera bertanya secara beruntun.
Ia langsung sulit menelan salivanya sendiri. Pertanyaan Ameera yang mengarah ke pernyataan sebenarnya. Dan itu semua benar. Ia diam, memikirkan apa yang harus ia jawab.
"Opo to Mer, ojo ndugo-ndugo ngunu lah. Oh, iyo aku mau rene nggolek i dirimu, jare ape metu golek kitab, sido opo ora?"
Sebisa mungkin ia menyangkal semua pertanyaan Ameera. Tak mau berlarut dengan pertanyaan seputar itu, ia pun mengalihkan perhatiannya.
Hayoloh, Shahla!!
Bagaimana dengan part ini?