MU'ADZ

MU'ADZ
DUA PULUH ENAM



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


 


 


Pagi ini, pesantren Al-Bidayyah masih sepi, karena santri masih musim liburan. Sarapan kali ini di gazebo belakang dapur ndalem, Ning Bahiyyah bersama kakaknya sengaja memilih di tempat ini, mengingat Abah dan Umi sedang berada di luar kota menghadiri acara.


"Ning!! mikirne nopo?"


Ia sedikit tersentak kala tangan Gus Nawwaf menyenggol lengannya. Memang semenjak pulang dari haul akbar Yai Ibrahim semingguan yang lalu, ia bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Pikirannya terpenuhi dengan rasa ketidakpercayaan akan Kang Akmal yang sudah menjadi bagian keluarga DS. Dilihat secara mata, memang dekat. Namun hatinya jelas sangat menolak fakta itu.


Bolehkah ia masih berharap?


Berharap, suatu saat bisa bersanding dengan orang yang di sayanginya atau lebih spesifik nya-Kang Akmal. Sejujurnya berat menerima kenyataan kalau memang Kang Akmal sudah jauh dan seakan tak pernah bisa ia gapai. Tapi sekali lagi, ini masalah hati. Hatinya teguh memilih Kang Akmal sebagai rajanya.


"Ning!! Astaghfirullah!!"


"Eh, Astaghfirullah, pripun Mas?" tanyanya sambil menggeleng-geleng mengusir pemikirannya.


"Enten nopo seh? ngelamun ora apik." Gus Nawwaf menatapnya lembut. "Enek masalah nopo?"


Ia menunduk menggeleng lemah. "Mboten enten Mas."


"Piye Gus Salman?" pertanyaan tiba-tiba membuatnya jadi teringat kala akhir-akhir ini Gus Salman intens mengirimi pesan, meskipun hanya sekedar basa-basi atau terkadang hanya guyonan yang menurutnya tidak menghibur malah menyentil hatinya.


Misalkan ngechat, menaruh perhatian padanya. Sampai membuat hatinya sedikit kecil goyah dengan kebaperan. Namun ujung-ujungnya kalimat penuh ketegasan selalu terucap.


"Ngapunten Ning, sampun berlebihan. Kulo sadar lek kulo niku sanes sinten-sinten e njenengan."


Oke, ini definisi kala di junjung tinggi kemudian di hempaskan begitu saja. Berakibat linu-linu lah! Linu badan linu hati.


See, secara tidak gamblang, Gus Salman tidak menodongkan untuk menerima khitbah Beliau atau untuk memperjelas status. Namun perlakuan Gus Salman yang membuatnya semakin tidak tahu lagi harus berkata apa.


Beberapa waktu lalu, entah dengan sengaja atau tidak. Beliau mengenalkannya pada saudara-saudaranya lewat video call. Awalnya ia tidak ingin menerima panggilan itu. Namun Gus Salman sedikit memaksanya, dan akhirnya panggilan itu terjadi. Kagetnya, bukan wajah Gus Salman melainkan seorang anak kecil perempuan yang lucu dan ternyata itu keponakannya. Kata Gus Salman kala itu mumpung semua keluarga lagi ngumpul, sekalian pengenalan.


Tidak mau membohongi hati, jujur saja ada rasa senang menyusup di hatinya. Ingatkan, menyusup ya? bukan masuk di persilahkan.


"Sek panggah ngarep neng Kang Akmal?" Ia mendongak, menatap kakaknya itu. Ia tidak bisa menjawab iya atau tidak.


"Meskipun Kang Akmal cedek karo Mas. Mas kadang ora ngerti sikap e, angel di tebak. Mas setuju ae, Ning karo sopo. Tapi bukan berarti, Ning nutup ati." Ia mendengar seksama ucapan kakaknya itu.


"Atine Ning, seng memilih Mas." belanya.


"Sak iki Mas tangklet, jawaban istikharah e Ning piye?" Ia menggeleng lemah, karena selama melakukan istikharah ia belum menemukan jawabannya.


"Bukane Mas ngelarang Nduk, mandek seneng ndek Kang Akmal. Tapi Nduk saget ningali, Kang Akmal sak niki wes kaleh Ning Khafa. Sampai kapan Ning terjebak? Mungkin, lantaran saking Gus Salman, saget damel tombo."


Ya Allah, harus bagaimanakah ia?


 


********************


 


Hari ini rencananya menginap di rumah Abah dan Ibu, bersama-sama kecuali Dek Khaliq. Jarak tempuh sekitar dua jam, membuat jarang berkunjung kesana. Kali ini sekalian menghadiri haul akbar di pesantren Abi dan Bunda dulu.


"Mas, Yai Zaki nopo mboten semerep lek sampeyan puterane Abi?"


Sudut matanya melirik Abi yang berada di samping kemudinya. "Mboten Bi. La emange teng nopo Bi?" Tanyanya sedikit was-was. Jangan-jangan Abi sudah membongkar semua.


"Owalah pantes ae, ngirone Mas mantune Abi."


"Terus pripun Bi?" jawaban Abi belum pas yang ia mau. "Abi mboten sanjang kan, kados sebenere?"


"Lah, ceritane Mase delik an ngunu tah?" Nduk Khafa di belakang menyahuti.


"Kados njenengan Bi!!" celetuk Bunda yang duduk di samping Nduk Khafa


"Abi mboten delik an Nda, cumak ben angsal Bunda ae." jawab Abi nyleneh.


Belum mendapat jawaban dari Abi, malah sekarang Abi lagi ngebucin pada Bunda. "Nduk, ayo nitih bes. Kersane Abi kaleh Bunda pacaran maleh." celetuknya.


"Ihh, mboten Mase, Nduke bakal ngawal Abi kaleh Bunda, kersane Nduke mboten gadah adik maleh. Cukup Nduk Khafa seng paling unyu-unyu dewe." seloroh Nduk Khafa dengan pedenya


"Unyu-unyu koyok yuyu." timpalnya dengan tertawa, Abi dan Bunda juga ikut terkekeh. Di spion kaca atas, ia bisa melihat Nduk Khafa bibirnya sudah mengerucut. Baginya melihat wajah Nduk Khafa yang seperti itu, suatu kesenangan tersendiri. Slogannya, tiada hari tanpa njawil Nduk Khafa.


Kan! kelamaan bercanda, malah ia lupa sendiri kalau Abi belum menjawab pertanyaannya. "Bi, pripun? dados crios teng Yai Zaki?"


"Nopo o to Mase? kadose ajrih ngoten? ajrih lek cem-cemane kabur to?" tanya Nduk Khafa yang semakin ngawur.


Bunda berdehem, alarm tanda bahaya. "Mboten lah, ngapain wedi?" bantahnya


"Loh, loh. Leres gadah cem-ceman?"


Pertanyaan Nduk Khafa seketika membuatnya sadar kalau dirinya salah ucap. Haduh!! bisa-bisa di bantai Abi. "Eh, eh. Cem-ceman nopo to Nduk?" kilahnya buru-buru.


Sekarang Abi berdehem, membuatnya ketar-ketir. "Mas Muadz, wangsul keng gene Ibuk, ngopi-ngopi nggeh?!" suara Abi penuh penekanan tidak dapat di bantah. Ia sulit menelan salivanya. Ngopi yang di maksud Abi bukan konotasi positif baginya, melainkan sebaliknya. Kalau sudah Abi ngajak ngopi artiannya Abi akan berbicara dan di tes sepanjang malam, mangkanya biar tidak ngantuk sedia kopi sebelum bertempur.


Bukannya mendapat jawaban dari Abi malah berakhir NGOPI.


****************