MU'ADZ

MU'ADZ
DUA PULUH DELAPAN



*Wah!! sampun bab dua puluh delapan nih!!


Selamat Membaca


Mu'adz mengendarai motornya dengan pelan, sesekali ia menghirup udara pagi yang segar. Sebelum pulang ke pesantren, ia selalu menyempatkan diri untuk sowan ke pesantren Mbah Yai Imam, guru Abah Shiddiq sekaligus tempat menimba ilmu, Nduk Khafa.


Mengenai keadaan Abah Nahrowi, ia sudah mendengar semua cerita dari Dek Khaliq. Sungguh ada rasa marah yang menyelinap di hatinya. Bayangkan saja, Abah Nahrowi yang sudah sepuh dan sakit, harus lontang-lantung di jalanan, bahkan sampai tidur di emperan pertokoan. Astaghfirullah! Dimana hati nuraninya. Untuk menindak lanjuti, Ia pun sepakat dengan Dek Khaliq untuk memperkarakan ini ke meja hijau.


Jarak yang di tempuh memang lumayan cukup jauh, sekisar satu jam paling cepat. Maka dari itu, shubuh-shubuh dirinya langsung pulang ke rumah untuk mempersiapkan keperluannya. Perjalanan jauh, yang selalu ia suka. Pasalnya, salah satu momentum untuk melakukan murojaah ditengah kebisingan kendaraan. Itu juga bisa untuk pengusir bosen karena mengendarai sendirian.


Sampai tiba di gerbang pesantren, ia mematikan motor lalu menuntunnya untuk masuk ke halaman ndalem. Terlihat masih ada beberapa santri yang berseliweran. Ia pun melepas helm, merapikan rambut sedikit lalu memakai pecinya. Tak lupa menurunkan sarung gloyor di balik kemeja dan jaketnya.


Tak menunggu lama, ia pun mendekat ke pintu ndalem. Ada Kang ndalem, yang mempersilahkannya.


"Monggo di unjuk Gus! Kaleh Abah Yai, Guse keng mriko." Kang ndalem yang tidak ia ketahui namanya itu menghidangkan secangkir kopi.


"Nggeh Kang."


Ia berdiri di belakang Kang ndalem ini sebagai penunjuk jalan dimana kamar Mbah Yai Imam berada.


*****


Setelah mengucap salam sambil mencium tangan Beliau. Ia di minta untuk mendekat ke ranjang tempat Beliau berbaring. Dengan bersimpuh, ia memijat tangan kanan Beliau.


"Mari teko kene, ape nang endi, Gus?"


Suara serak Beliau disertai batuk-batuk kecil. "Ajenge wangsul teng pondok Mbah Yai."


"Balek mengko-mengkoan iyo Gus, ngancani aku disek."


Ia mengangguk, "Nggeh Mbah Yai, ndereaken." Kemudian posisinya berpindah pada kaki Beliau.


"Kiya iki gampang kuwatiran, sampek iki mau pamit boyong neng pondok e." masih dengan suara serak Beliau, ia setia mendengarkan cerita Beliau. Meskipun dirinya tidak tahu, Ning Kiya itu siapa. Memang beberapa kali nama itu pernah di sebut Nduk Khafa, namun ia tidak detail untuk mengetahui lebih lanjut.


"Mbiyen, Yahya karo Rahmah isek sugeng. Kiya iki manja, sampek ora gelem mondok perkorone ora gelem pisah karo wongtuwane. Tapi basan Yahya karo Rahmah wes gak enek, Abah malah kangen, Kiya seng mbiyen." Ia hanya mengangguk sambil terus memijat kaki Beliau.


"Ninggale Yahya karo Rahmah, dadi traumane Kiya. Kiya ora iso krungu suwarane kapal nduwur, larene mesti nutup kupinge karo gemeter. Abah wes ngerti, cumak e Kiya ora gelem cerito opo sambat."


Jujur saja, dulu ia sempat mendengar kabar sekilas, kalau Gus Yahya dengan Ning Rahmah meninggal sewaktu perjalanan menaiki pesawat terbang. Itu pun, tidak ia ketahui kalau Beliau-beliau meninggalkan putri semata wayangnya, sampai mengalami trauma seperti yang dikatakan Mbah Yai Imam. Dari awal diajaknya sowan kesini oleh Abah Shiddiq, ia tidak pernah melihat yang namanya Ning Kiya. Meskipun setelah itu ia selalu menyempatkan diri untuk sowan ke pesantren ini, tetap, ia juga tidak pernah melihat atau bertemu dengan Ning Kiya.


"Abah dadi kepikiran, lek Abah wes di kon balek, Kiya karo sopo? Kiya mek urip karo aku. Enek o yo dulur sambung uduk kandong."


"Lahaulawalaquwwata illabillahil 'aliyyil 'adzim" gumamnya.


"Gus! Sampeyan wes nduwe calon?"


Seketika kedua tangannya berhenti memijat. Melihat raut Beliau yang nampak serius. Kedua netranya mengerjap cepat, tanda bingung melanda, menjadikan dirinya linglung.


"Dereng Bah." Jawabnya lirih dengan menunduk lalu melanjutkan pijatan lagi.


"Kedap riyen nggeh Mbah Yai, kulo pundutne toyo." Ucapnya sambil memegang gelas bening itu. Masih disertai batuk-batuk sambil menekan dada, Beliau mengangguk menyetujuinya.


Dengan sedikit tergesa, ia pun mengambil minum di dapur. Beberapa orang yang melihatnya bertanya padanya, mencari apa. Dengan singkat ia pun menjawab. Yang di pikirannya saat ini adalah Mbah Yai Imam yang membutuhkan minum.


Saat kembali ke kamar, ia mendapati Mbah Yai Imam masih batuk-batuk sampai ia melihat bercak darah di mulut Beliau. Seketika ia langsung panik, tunggang langgang mencari Kang ndalem tadi.


"Kang, Kang. Nyuwun tulung siapne mobil. Mbah Yai!!" Ucapnya pada Kang ndalem.


Gaduh semua orang yang mendengar ucapannya tadi. Ia pun berjalan cepat kembali ke kamar. Mempersiapkan Beliau untuk di bawa ke rumah sakit terdekat.


"Sampun Gus!"


Dengan segera, ia membopong sendiri Mbah Yai Imam yang masih sadar menuju ke mobil. Terlihat banyak santri-santri yang berbondong-bondong melihat kejadian ini. Ia tidak peduli dengan mereka semua. Panik luar biasa yang menyerangnya sekarang.


"Kang, cepet!!" Ujarnya dengan mengelus punggung tangan Beliau, saat Beliau mulai kesulitan bernafas.


"Enggeh Gus! Niki langsung teng rumah sakit mawon nggeh." Ucap Kang ndalem yang sedang mengendari kemudi. Sedangkan dirinya di belakang bersama Mbah Yai Imam.


"Pokoke seng celak Kang!" Astaghfirullah Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim gumamnya.


******


Duduknya gelisah, tidak tenang. Sedangkan Kang ndalem yang baru ia ketahui namanya Kang Abdi, itu sedang menghubungi keluarga Beliau.


"Gus, ngapunten kulo mboten gadah nomeripun Ning Kiya, dadose dereng kulo kabari."


Menurunkan kedua tangannya, menoleh ke Kang Abdi yang berada di samping kanannya. "Kulo nggeh mboten gadah Kang. Njenengan sampun ngabari sinten mawon?"


"Abah Basyir mawon Gus, sanjange, Beliau langsung mriki." jawab Kang Abdi.


Terdengar pintu UGD terbuka, ia langsung berdiri mendekat. "Keluarga pasien?"


"Dalam perjalanan Dok." jawabnya. "Bagaimana keadaan Beliau, Dok?"


"Pneumonianya semakin parah Mas. Dan sekarang Beliau lagi istirahat, tadi sempat memanggil nama saudara Mu'adz beberapa kali. Apa saudara tahu?"


Astaghfirullah! ia tidak tahu mengenai penyakit kronis yang menyerang Mbah Yai Imam, sampai parah seperti ini. "Ia saya sendiri Dok, apa saya boleh masuk?"


"Silahkan! tapi tidak boleh kebanyakan orang di dalam, dan sebentar lagi di pindahkan ke rawat inap. Iya sudah, saya permisi dulu." Ia mengangguk sebagai jawaban. Lalu ia membuka pintu pelan-pelan.


"Assalamualaikum Bah!"


*****


Jeng-jeng-jeng!!


Apa yang akan terjadi selanjutnya?