MU'ADZ

MU'ADZ
TIGA PULUH EMPAT



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Semilir angin sejuk menerpa dua insan yang sedang berkendara, membelah jalanan yang mulai ramai. Dengan santai Mu'adz mengendarai motor miliknya. Menikmati tiap waktu bersama dengan istrinya. Sampai di lampu lalu lintas berwarna merah, ia berhenti. Menanggalkan tas punggung, lalu ia taruh di gantungan bagian depan.


"Nduk!" panggilnya dengan punggungnya condong kebelakang.


"Ndalem Mas, pripun?" Terasa di samping kanan, istrinya juga ikut mencodongkan tubuhnya.


"Rasane koyok nggonceng tobos." celetuknya


"Ha? pripun Mas?" Terlihat di spion wajah istrinya yang mengernyit bingung.


"Mase rasane koyok nggonceng tobos." ucapnya lagi dengan menahan tawa, ia masih melihat Ameera di kaca spion yang masih belum paham maksudnya.


"Lah kok ngoten?"


"La ora gocekan." kekehnya sambil mengambil tangan kanan Ameera dan melingkarkan ke pinggangnya. Melihat lampu sudah menyala hijau, perlahan ia melajukan motornya. Tak lama ia merasakan sepasang tangan melingkar sempurna di perutnya. Ya Allah, sederhana seperti ini saja bisa membuatnya bahagia. Di balik helm, ia tidak bisa untuk tidak tersenyum. Tangan kirinya pun mengelus pelan simpulan sepasang tangan milik istrinya.


Perjalanan yang menempuh sekitar empat puluh lima menit, serasa singkat. Kini sudah berada di samping gerbang dekat ndalem Yai Zaki. Banyak penjual jajanan di luar gerbang pesantren. Berhubung adanya sekolah umum di dalam pesantren, jadi gerbang pun terbuka lebar. Itupun bukan berarti santri bebas keluar kemanapun.


Ia mematikan motornya, Ameera yang sudah turun dari atas motor, lalu dirinya juga sama. Sama-sama masih mengenakan helm, banyak santri putri yang melihat, penasaran siapa.


"Mase, mboten gantos sarung?"


Ia sampai lupa, kakinya meraih penompang motor, lalu melepas bulatan sarung yang memang sudah ia kenakan. Memang dari ndalem Alm. Mbah Yai Imam tadi ia mengenakan celana bahan berwarna hitam di padukan dengan koko turki maroon, dan tak lupa jaket yang membalutnya. Sedangkan istrinya ini hanya memakai gamis berwarna biru gelap yang bagian bawahnya lebar, memudahkan ia berbonceng ala laki-laki. Melihat penampilan istrinya ini sungguh terlihat sederhana namun anggun di matanya, apalagi ia melihat bros yang dulu sempat ia belikan, menambah aura manis istrinya keluar. Masyaallah!!


Tidak ingin tenggelam terlalu lama dalam pesona Ameera-istrinya, Ia segera merapikan sarung yang ia pakai, setelah sudah selesai ia pun melanjutkan, mendorong motornya masuk ke pesantren.


"Tumut teng ndalem nopo pripun?" tanya sambil melepas helm yang ia kenakan. Lalu tak lupa memakai peci hitamnya.


"Ehm—" Ameera terlihat kebingungan sambil merapikan hijabnya.


"Mase lek pamitan pas ape wangsul engken, nopo Nduk e teng asrama riyen, ngekekne jajane arek-arek." ucapnya sambil menyerahkan satu kantong besar, dan satu kantong berukuran sedang kearah istrinya. Memang di perjalanan tadi sempat mampir ke minimarket, membelikan beberapa cemilan untuk teman kamar istrinya, dan ia pun teringat Dek Shahla, jadi ia memisahkan milik Dek Shahla yang tentu beraneka jajanan berbahan keju di dalamnya.


Ia mengelus sayang kepala Ameera dengan senyum ketika istrinya ini hanya mengangguk. "Iyowes, hubungi Mase lek enek opo-opo." ucapnya sambil tangannya di sodorkan ke arah istrinya.


Dengan ucapan salam, kita berjalan saling tolak belakang. Sambil mengenakan tas di punggungnya, ia berjalan ke arah dapur ndalem. Dari kejauhan ia sudah melihat sahabatnya lagi menyapu halaman, ia juga melihat gerak bibir milik sahabatnya, bisa di pastikan jika sahabatnya ini sedang berbicara dengan Markonah.


"Gak percoyo aku neng kowe Mar." terdengar samar-sama suara Kang Wildan.


"Ha? endi?" Kang Wildan menoleh menangkap keberadaannya, ia hanya tersenyum berjalan menghampiri sahabatnya ini.


"Assalamualaikum. Sehat?" Sapanya ketika sudah dekat. Tak lupa ia dan Kang Wildan bersalaman.


"Alhamdulillah sehat Mal." Kang Wildan menatapnya dari bawah lalu keatas, berulang kali. "Kok ora gawe sragam ma'had dirimu Mal?"


Ia hanya tersenyum lebar, ketika tatapan cengo dari sahabatnya. Ada hiburan tersendiri. "Dirimu ora balek rene neh to Mal?"


Melihat semakin penasaran Kang Wildan, ia pun berjalan ke gazebo, mendudukkan dirinya disana, Kang Wildan juga turut ikut.


"Aku ape njupuk barang-barang Wil. Marine ewangi yo?"


"Sek to Mal, aku sek urung dong, sek sercing utekku." Seketika ia tergelak tawa.


"Wes ora usah di pikir jeru, ndang marekno lek mu nyapu, gek neng gothakan."


Kang Wildan menuruti ucapannya, melanjutkan kegiatannya yang tertunda, tapi masih dengan wajah bingungnya. "Gus Nawwaf sek ndek kene?"


"He em, tapi metu karo Gus Salman."


"Gus Salman rene?" tanyanya sedikit terkejut.


"He em, ape takziah neng ndaleme Alm. Mbah Yai Imam." Ia hanya mengangguk beberapa kali.


"Sek to Mal, dirimu iki ape nyapo kok njupuk barang-barang? koyok ape boyongan ae."


"Critone neng gothakan ae, ayo!" ajaknya berjalan terlebih dahulu.


***************


Sementara itu, Ameera melangkah pelan ke kamarnya. Terlihat beberapa kegiatan rutinan sudah mulai di jalankan, karena memang jadwal kepulangan pesantren itu kemarin. Ada keraguan untuk melanjutkan langkahnya ke mantan kamarnya dulu. Jelas nanti ada Shahla. Jujur saja ia tidak siap dengan nantinya kalau Shahla tiba-tiba marah kepadanya sebelum ia menjelaskan.


"Loh Mer!" sapa salah satu temannya. "LA, SHAHLA!! IKI LO AMEERA WES TEKO!!" teriak temannya ini, ia hanya tersenyum kaku.


"Ora enek awakmu, Shahla ngungsi neng kamarku." ucap temannya lagi. Memang ia masih berada di koridor asrama.


"NDI AMER!!" teriak Shahla dari kamar sebelah. "Aa.. AMER!!" Shahla berlari lalu memeluknya erat. Saking eratnya ia pengap, ia menepuk-nepuk punggung tangan Shahla. Lalu Shahla menyeretnya ke kamar.


"Tak enteni wingi ora teko-teko." pelukan Shahla terlepas. Akhirnya bisa bernapas lega. Ia belum menjawab pertanyaan Shahla, menyerahkan kantong kresek besar ke tengah kamar, sambil menyuruh teman sekamarnya mengambil. Lalu ia juga menyerahkan kantor kresek berukuran sedang kearah Shahla.


"Loh, Mas Mu'adz wes balek rene." Ia masih mendengar gumaman Shahla ketika membuka kantong kreseknya.


"Suwun Mer." ucap salah satu teman sekamarnya. "Eh, balikan kok ora gawe sragam ma'had?"


"Eh, dirimu balek rene kan? dirimu ora boyong kan?" ucapan Shahla membuat teman sekamarnya mengerubunginya.


"Barang-barange Mbak Mera wes ora enek lo!" celetuk salah satu diantara mereka.


Ia meringis sambil menggaruk kepala belakangnya. "Emh, aku wes boyong rek winginane."


"Beh! Amer ngakali ora entok bar-bar an aku." temannya berceletuk.


"Wes tak sisani ndek lemari." ucapnya langsung teman-temannya mengerubungi lemarinya. Ia tersenyum sambil menggeleng-geleng melihat tingkah teman sekamarnya. Sudah lumrah.


Merasa Shahla sedari tadi diam, ia menepuk pelan punggung tangan Shahla. Melihat mata berkaca-kaca Shahla, ia pun segera menggeret Shahla untuk mencari tempat yang enak untuk mengobrol.


Sampai di tempat yang ia rasa nyaman untuk mengobrol. Duduk di kursi kayu di bawah pohon mangga. Yang berada di dekat halaman ndalem.


"Kok awakmu ora ngabari lek boyong Mer? Lek awakmu boyong kan aku yo melok boyong pisan."


Ia tersenyum miris, dalam hati jika Shahla tahu alasannya apa. Mungkinkah Shahla masih mengikutinya?


"Terus sak iki awakmu pindah pondok opo kuliah?"


Dengan tersenyum sendu ia pun menjawab. "Aku boyong, korno Embahku tepak gerah nemen."


"Terus piye sak iki? awakmu kok ora hubungi aku? ngerti ngunu tak kancani Mer."


Ia menggeleng pelan. "Tapi Embah sampun sedho."


"Innaillahirojiun wa innaillahi rojiun." Shahla merengkuhnya dari samping. "Seng kuat, awakmu ora dewean, kapanpun lek butuh, aku enek Mer."


Lagi-lagi ia tersenyum miris. Kalau Shahla tahu ia sudah menikah dengan kakak yang Shahla sayang, bagaimana respon Shahla?


Tiba-tiba terasa elusan di kepalanya, lalu ia mendongak. Seketika pasukkan udara di sekitarnya seakan habis. Menegang, tubuhnya tegang, kedua bola matanya pun membesar. Haduh!! bagaimana ini? Apalagi melihat wajah Shahla yang terkejut ketika suaminya ini dengan ringannya menjatuhkan tangan di bahunya.


"Loh Mase!!"


*****************


Ikut dag dig dug nih!!


Nasib Shahla gimana nih!!


Kira-kira kalau jadi Shahla, kalian akan ngelakuin apa?