
*Vote dulu nggeh!!
Selamat Membaca
Hari sudah menjelang sore. Kini Mu'adz dan Ameera sedang dalam perjalanan pulang, setelah beberapa menit lalu berpamitan dengan Abi dan Bunda. Karena nanti malam masih tahlilan rutin di ndalem tidak memungkinkan untuk menginap.
Melihat spion, wajah murung milik istrinya terpampang jelas disana. Sadarnya ketika sekembalinya tadi di pesantren Al-Bidayyah. Ia pun sempat bertanya, namun jawaban legend seorang perempuan 'gak apa-apa'. Terus ia harus bagaimana menanggapinya. Sudah sampai di situ saja, ia tidak melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan penasaran lainnya. Mungkin Ameera membutuhkan waktu sejenak.
Perlahan ia membawa tangan kiri Ameera melingkar pada perutnya lalu mengelus lembut. Tatapan kita beberapa detik sempat beradu di spion. Namun tak lama, ia merasakan remasan di tangannya terasa kuat. Ia melirik ke kaca spion, meminggirkan motornya tepat di ruko kosong. Jujur saja ia panik melihat wajah Ameera yang menahan sakit, sambil tangan kanan berusaha menutup telinga di balik helm.
"Hey, Nduk, Nduke nopo o?"
Tidak mempan. Istrinya tetap berusaha menutup kedua telinganya. Ia langsung mendekapnya, mengelus punggung yang mulai bergetar hebat. Istrinya ini menangis. Sungguh ia tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya, setahunya ketika tiba di rumah tadi, istrinya sudah tidak apa-apa, bahkan ekspresi murungnya pun tak terlihat.
Melepas pelukannya, mendongakkan wajah istrinya yang sudah sembab, namun hanya sorot mata kosong. Perlahan ia membuka pengait helm. "Cobak cerito teng Mas, Nduk?"
"Abi, Umi." ucap istrinya masih dalam tatapan kosong. Seketika ia mendekap lagi istrinya. Ia bahkan tidak peduli lagi sekarang masih di pinggir jalan. Apa ini salah satu bentuk trauma istrinya? tanyanya dalam hati. Tapi seingatnya, Alm. Mbah Yai Imam bercerita kalau trauma Ameera akan kambuh ketika mendengar suara pesawat. Perasaannya sedari tadi ia tidak mendengar suara pesawat sama sekali.
Mengedarkan pandangan, menatap jalanan. Astaghfirullah!! ia baru sadar kalau jalur yang ia lewati kini berada dekat dengan bandara, memang ia tadi mengambil jalur tercepat. Sungguh ia lupa. Tak lama terdengar kembali suara pesawat, membuat tubuh istrinya kembali tak terkontrol, berusaha menutup kedua telinganya.
Ya Allah Ya Rabbi, tanpa kata ia mendekap erat. Kenapa ia tadi bisa lewat sini, rutuknya. "Nduke tenang nggeh, istighfar, Nduk e mboten kiambak, enten Mase." ucapnya menenangkan sambil mengelus lembut punggung yang mulai bergetar kembali. Lagi-lagi istrinya ini menangis.
Astaghfirullahal'adzim gumamnya berulang kali. "Nduke!" melepas dekapannya setelah istrinya ini sudah mulai tenang.
"Ngapunten nggeh Mase." Suara lirih dari istrinya membuatnya lega, istrinya sudah mulai tenang. Ia mengelus puncak istrinya diiringi senyum, lalu tangannya beralih menghapus sisa air mata istrinya.
"Seng wayae nyuwun sepuro niku Mase. Mase estu bener-bene supe, lek lewat mriki wau. Sepuntene nggeh Nduk?"
"M-mase sampun semerep?"
Dengan senyum menenangkan ia mengangguk. "Mase teng mriki, mboten usah wedi maleh nggeh, akeh istighfare." ucapnya lembut membuat istrinya melantunkan istighfar berulang kali. Lalu mengambil helm milik istrinya, dengan telaten ia memakaikannya. "Lanjut maleh nggeh?" Melihat anggukan dari istrinya, ia pun mengendarai motornya kembali menerjang jalanan. Bukannya apa, ia terburu mengajak istrinya pergi dari tempat ini, selain banyak orang lalu lintang melihatnya, juga tempat ini di dekat bandara, ia khawatir terulang kembali, keadaan istrinya.
*************************
Angin malam menyapa pori-pori kulit. Mengikuti kegiatan rutinan, mengaji kitab di pelataran masjid. Shahla memaksakan dirinya, meskipun dalam setiap detik ia teringat akan Mas Mu'adz dan Ameera, tak membuat dirinya bermalas atau izin sakit untuk tidak melakukan kegiatan rutinan. Ia tahu, kalau sebenarnya membutuhkan waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Tapi sadar jika ia sendirian, akan semakin membuatnya terpuruk oleh keadaan.
***
Perlahan ia membuka kedua netranya, sambil mengerjap menyesuaikan cahaya yang menyapa. Pusing, masih pusing. Memijat pelipisnya, ruangan serba putih, dan tangan kiri terpasang infus. Ia tahu kalau sekarang dirinya berada di rumah sakit. Entah berapa lama, ia pingsan. Seingatnya ia masih mengaji di malam hari.
Ia memejamkan matanya sejenak, menetralisirkan pusingnya. Baru teringat kalau semenjak pertemuannya dengan Mas Mu'adz dan Ameera sampai malam hari, tidak ada asupan yang masuk dalam tubuhnya. Memang fisiknya lemah, pantas saja Mas Mu'adz memilih Ameera di banding dirinya. Setitik demi setitik air matanya mulai jatuh kembali.
Air matanya terlalu murah mengingat dua orang itu, dengan segala kejadian dan dengan segala perasaannya yang hancur. tangisnya semakin tergugu, menepuk pelan dadanya. Sungguh sakit sekali hatinya Ya Allah.
Terdengar decitan pintu terbuka, ia menoleh. Bunda yang mengenakan sneli tersenyum lembut kearahnya, sedangkan dirinya tersenyum sendu.
"Enten seng sakit Dek?" Bunda sudah duduk di kursi samping brankarnya. Ia menggeleng pelan dengan berurai air mata. Secepat kilat ia menghapusnya. Merasakan usapan lembut di kepalanya, sejenak ia memejamkan kedua matanya, menikmati.
"Mimik Dek?" Membuka kedua matanya, lalu mengangguk. Di bantu Bunda, ia meminum air dari gelas yang di suapkan Bunda.
"Mama pundi, Nda?" suaranya masih lemah.
"Mama tasek visit pasien, Ayah Dzarrin tasek oprasi." Ia hanya mengangguk pelan.
Bunda masih mengelus puncak kepalanya keheningan pun menyapa. "Maem e seng teratur nggeh, Bunda mboten purun Dek Shahla ngeten niki maleh. Dek Shahla mboten tangi ket ndek wingi, garai Bunda khawatir." lagi-lagi ia hanya mengangguk.
"Dek Shahla ngertos kan, lek Dek Shahla sampek kapanpun dados putrine Bunda. Terlepas dari semua yang menjadikan Dek Shahla anggota resmi keluargane Bunda."
Mendengar itu suara lembut namun menyayat hatinya, ia kembali menitikkan air matanya. Jangan di tanyakan lagi, Bunda berarti sudah tahu kalau dirinya tahu mengenai Mas Mu'adz. Dekapan Bunda membuatnya semakin terisak lagi dan lagi. Hatinya sesak penuh kesakitan.
"Sstt... Bunda percoyo Dek Shahla sanggup. Sampun nggeh? lek ngeten niki Bunda kelingan, Bunda mbiyen."
*******************
Maaf nggeh kalau UP nya lama, atau mboten beraturan harinya.
Kalau aku Up nya beruntun berarti memang sedang longgar, kalau mboten nggeh memang enten seng harus di kerjakan di dunia nyata.
Semoga dengan doble Up bisa ngobati nggeh!!!