
*Sudah bab 47 nih! panjang juga nggeh cerita MU'ADZ ini.
Semoga mboten bosen nggeh!!
Selamat Membaca
Menggeret koper berukuran sedang, seorang gadis bergamis mocca mengantri keluar dari gerbong kereta. Dilihat jam kecil menunjukkan angka hampir jam sebelas malam. Tepat kereta berhenti di stasiun tujuannya, segera melangkahkan kaki untuk turun dari gerbong.
Wajah yang dulu riang kini redup bahkan terkesan datar, tidak ada ekspresi disana. Ini pertama kepulangannya di kampung halaman selama beberapa bulan ia melanjutkan studinya di kota yang di juluki kota arema.
Mendengar ancaman Mamanya, mau tidak mau gadis manis yang bernama Shahla itu terpaksa menuruti kemauan Mamanya untuk pulang. Padahal rencana awalnya, ia tidak akan pulang sebelum hatinya benar-benar pulih. Tapi, ya sudahlah nurut saja ketimbang tidak diridhoi Mama.
Selama berada di perantauan Shahla benar-benar menyibukkan diri. Tubuh dan otaknya selalu ia forsir untuk belajar dan kegiatan-kegiatan positif, bahkan ia tidak sedikitpun membiarkan sakit hatinya mengendalikannya lagi. Dan selama di sana pun, keinginannya itupun berhasil, meskipun tidak seratus persen.
Tapi sekarang, Shahla kembali. Kembali ke kota kelahirannya yang penuh kenangan. Tidak bisa mengontrol pikirannya, tentu saja ia ingat bagaimana rasa sakit itu mulai muncul. Mengingat itu semua, hatinya menjadi sesak. Beberapa kali ia menggeleng seakan mengusir kenangan pahit itu dari otaknya.
Terakhir pertemuannya dengan Mas Mu'adz dan Ameera, membuat semalaman ia terisak penuh tangis. Di sisi tubuhnya masih lemah, di tambah tekanan yang menyakitkan dari hatinya. Shahla merasa tubuhnya tanpa jiwa. Bukannya ia tidak memaafkan, tapi lebih ke rasa kecewa.
Bahkan, ia memilih untuk tidak hadir pada waktu walimah mereka. Meskipun Mama dan Ayah membujukknya dengan alasan tidak enak pada keluarga Abi dan Bunda. Tapi tetap, ia tidak bisa hadir. Sungguh tidak sanggup melihat seseorang yang amat di cintainya, duduk di singgasananya bersama dengan orang lain.
Yang ada di pikirannya kala itu, cukup hatinya tersiksa oleh sakit hati. Ia tidak akan menambah rasa sesak itu lagi, kalau dirinya hadir disana.
*****
"Dek, ayo ndang siap-siap gek nang ibuk."
Shahla hanya melenguh kala tidurnya terganggu dengan suara Mama. Menempuh hampir sekitar tujuh jam di kereta membuat pinggangnya sakit.
"Dek, ayo tangi riyen. Di rantosi Ayah lo!"
"Adek teng nggriyo mawon Ma," ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya pun masih terpejam.
"Loh loh loh, wes ayo ndang ados," ucap Mama sambil menabok-nabok pinggangnya. "Cepet di rantosi Ayah."
Perlahan kedua matanya pun terbuka menatap langit-langit kamar. Mama yang sudah keluar dari kamarnya, perlahan ia pun membersihkan diri. Dari pagi memang ia belum mandi dan sekarang sudah hampir habis waktu dhuha, ia masih dengan wajah kantuknya.
Selang beberapa puluh menit, Shahla menuruni anak tangga dengan setelan rok plisket warna putih dan tunik warna abu-abu. Melihat kedua orang tuanya masih di meja makan yang sudah berpakaian rapi, Shahla pun menghampiri.
"Sarapan ndek mobil ae nggeh Dek. Mama pun nyiapne." Shahla mengangguk, toh selama menjadi mahasiswa, ia jarang sarapan. Jadi perutnya amanlah!
"Iyowes, ayo! keburu macet jam makan siang." Mengikuti Ayahnya dari belakang, Shahla mendudukkan dirinya di kursi belakang.
Di tengah perjalanan, ia meminta sarapan yang sudah di bawa Mama. Ternyata salah satu makanan favoritnya, melihat itu langsung saja ia lahap sampai tandas. Sudah lama ia tidak memakan masakan Mama.
"Kuliahe aman Dek?"
"Enggak kabotan kan kuliah kedokteran?"
"Insyaallah mboten Yah. Pandungane mawon Yah, Ma."
Kuliah di kedokteran memang bukan anganannya sama sekali. Namun, setelah Ayahnya berbicara padanya membuat pikirannya lebih terbuka mengenai mana yang lebih dibutuhkan. Toh kata Ayah, jiwa seninya masih bisa berkembang meski kuliah di lain jurusan.
"Mama kaleh Ayah iyo mesti dungakne Dek. Adek iki seng jarang ngabari Mama kaleh Ayah. Mama sampek mikir, perasaan Mama kuliah ora sesibuk sampeyan to dek."
Mendengar gerutuan dari Mama membuatnya nyengir. Bukannya durhaka jarang mengabari Mama ataupun Ayah. Ini karena kebiasaannya di pesantren tidak mengoperasikan gawai di setiap situasi, membuat kebiasaan itu terbawa sampai dirinya kuliah. Meskipun sesekali hanya mengecek jika ada hal penting. Selebihnya ia disibukkan dengan dunianya.
Tapi satu yang memang ia hindari. Khawatir Mama mengabarkan tentang Mas Mu'adz dan Ameera. Gagal dong, nanti usahanya untuk melupakan.
"Wonten acara nopo to Yah teng Ibuk?" tanyanya sambil melirik Ayah yang fokus menyetir.
"Halah kumpul-kumpul to Dek," sahut Mama. "Kan biasane iyo kumpul-kumpul to," lanjut Mama.
"Sinten mawon Ma?" Pendengarannya ia pertajam, semoga saja tidak ada kehadiran orang-orang yang paling ia hindari.
"Nggeh putra-putrine Abah Ibu sak putu-putune Dek."
"Berarti--" ucapannya terhenti, dadanya bergemuruh hebat. Rasa sakit kemudian menjalar dalam hatinya. Belum siap. Ia belum siap bertemu dengan Mas Mu'adz ataupun Ameera.
"Abi sekeluarga iyo hadir Dek," sahut Mama.
Ia terdiam cukup lama, rasanya ingin turun dari mobil saja, kalau saja ia tadi lebih memilih tidur saja daripada ikut. Pasti ia tak akan segelisah ini.
"Seng akur iyo Dek, masio piye-piye kabeh dulure sampeyan. Ora apik terus-terusan dhelikan," tutur Ayah sesekali melihatnya di kaca spion. "Ikhlas iku ora perlu di pekso, ora perlu lungo adoh ben iso ngelalekne tapi cukup dadi wong kang neriman. Ayah yakin, Insyaallah luweh tentrem atine sampeyan Dek. Sampeyan urip neng dunyo iki ora gur meratapi loro atine sampeyan ae Dek. Sek okeh, hal seng perlu dilakoni."
Shahla diam, meresapi penuturan Ayah. Kalau dilihat memang benar, dirinya masih belum jadi orang terima. Dalam artian menerima segala kejadian yang sudah di gariskan. Tapi kembali lagi, jadi orang yang mudah menerima keadaan itu tidak mudah.
Dan itu sulit untuk ia lakukan. Apalagi sampai menimbulkan rasa sakit dalam hatinya. Susah untuk menerima begitu saja.
Astaghfirullahhal'adzim.
**************************
Kangen mboten kaleh Shahla?
Duh, lama nggeh mboten Up!
Aku enggak tau juga akhir-akhir ini, setiap mau ngetik ada aja halangannya. Bahkan kemarin hanya melihat layar laptop, tiba-tiba pusing aja..
Ngapunten nggeh! insya allah kedepan aku usahakan mboten molor sampek beberapa hari.