MU'ADZ

MU'ADZ
LIMA PULUH DUA



Assalamualaikum! yey! Mas Mu'adz kembali lagi.


Seneng mboten? senengo talah.


Hehehe, ngapunten seng agung. Mboten Up dangu.


Mantun tumbang, hiks..


Tapi Alhamdulillah sampun pulih.


Musime ngeten niki, kulo nitip tetep jaga kesehatan nggeh!


 


 


_________________


"La Shahla."


Ameera memegang lengannya. "Opo neh Mer?" tanyanya sambil membalikkan badan.


"Sepurane La."


"Sak iki aku baru paham, nyapo dirimu sampek tenan ora ngolehi aku nyileh bros iku. Tapi enggak opo-opo kok Mer, aku paham. Sepurane iyo Mer lek selama iki mripatku ketutup, aku mek cumak mikir awakku dewe. Sepurane tenan yo Mer," ucapnya lalu mendongak menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Sepuntene Mase. Adek pamit. Assalamualaikum," lanjutnya lalu menuju ke arah mobil silver yang berada di belakang mobil Mas Mu'adz.


Dengan air matanya yang akan menetes, Shahla terburu membuka pintu mobil. Melihat Ayah yang menatapnya sendu, air matanya pun jatuh. Ia terisak penuh luka di dalam rengkuhan Ayah.


Ia kira, Ameera tidak pernah dekat dengan Mas Mu'adz sewaktu di pondok dulu, tapi ia lupa jika mereka satu ndalem.


Ia kira, Ameera tidak pernah tertarik dengan Mas Mu'adz, karena Ameera selalu menceritakan bagaimana Ning Bahiyyah sebegitu sukanya dengan Mas Mu'adz.


Mungkin kalau kejadian ini tidak terjadi, ia sangat berniat untuk mengikhlaskan perlahan dan melupakan, mengingat ucapan Bunda begitu mengena hatinya.


Tapi begitu mendengar fakta hari ini, apakah dirinya akan mudah melupakan sedangkan ia bertambah kecewa?


________________________


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Selamat Membaca


 


 


 


 


 


 


 


 


Jika seharian sudah di sibukkan segudang aktifitas kuliah maupun tugas, beda hal ketika menjelang tidur. Justru, seolah otaknya tersetting sendiri memikirkan rasa yang masih tertinggal dalam hatinya. Membuatnya susah untuk terlelap. Dan berakhir dirinya duduk termenung di meja belajarnya, sampai entah berapa jam lamanya. Kalau kata Khusnul, tubuhnya disini tapi jiwanya berkelana. Jadi, tidak jarang Khusnul sering mendengus kesal.


"La! Shahla! Astaghfirullah arek iki," decak sebal dari Khusnul membuat Shahla kembali pada dunia. Shahla menoleh sambil menyengir, seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun. "Kebiasaan. Kerasukan kapok lho!"


"Piye-piye? enek opo?" tanya Shahla yang terkekeh kecil melihat Khusnul masih cemberut.


"Mas Kholis ape rene sak iki, nyusul. Iki tenan dirimu ora milu balek ae?" Dengan polosnya Shahla menggeleng. Memang untuk saat-saat ini tidak ada gairahnya untuk pulang kerumah. Shahla lebih suka menyendiri di sini, meski terkadang ada jatah libur di hari-hari nasional.


"Ayolah La! sampek kapan dirimu ape ngene iki terus. Dirimu ora pengen liburan karo aku? itung-itung refreshing lah." Shahla memutar bola matanya malas. Sudah santapan sehari-hari Khusnul selalu menceramahi dirinya. Bukannya tidak mau menerima saran atau kritikan, namun tahu tidak jika dirinya sedang menata hati karena tidak segampang apa yang di ucapkan lalu di lakukan. Butuh proses panjang untuk menata ulang hatinya.


"Wes-wes ndang siap-siap kono timbang ngomel ae," ucap Shahla menyambar botol air minumnya lalu berjalan melewati Khusnul yang masih menggerutu.


"Mesti dirimu iki La," geram Khusnul membuatnya terkekeh kecil.


 


 


 


 


********


 


 


 


 


Duduk berdua bersekat meja bundar kecil diteras rumah. Kedua tangannya masih memegang botol air minum. Sebenarnya ia sudah sangat kenal dengan orang yang duduk diseberang meja ini. Namun dirinya sedang tidak mood untuk sekedar berbasa-basi.


Shahla terpaksa menemani tamu lawan jenisnya ini, itupun atas perintah teman serumah dan sekamarnya, siapa lagi kalau bukan Khusnul. Padahal dirinya ingin segera tidur, mengingat betapa heticnya tadi di kampus.


"Milu balek ae yok. Gak tego nyawang wajah-wajah gembel kesepian ngene iki." Ucapan Mas Kholis membuatnya melirik sekaligus memicing tajam. Sudah jauh mengenal Khusnul, tidak membuatnya heran jika kakak laki-laki Khusnul itu omongannya sebelas dua belas dengan adiknya. "Ora usah nggrundel!" lanjut Mas Kholis.


"Ojo mulai to Mas, ora mood aku," ucapnya cemberut.


"Lala po.. lala po.. sok sok an galau ae uripe. Urip pisan ae di ploro dewe. Mbok di bahagiakne awake dewe kuwi, suwi suwi dholim karo awek dewe. Duso tambahan."


Shahla berdecak kesal, tidak adik tidak kakak hobinya sama. Menceramahinya.


"Orang kalau sudah memberi maaf, dia bakal lega. Orang yang sudah ikhlas melepas, dia juga bakal akan lega. Lah sak iki posisimu enek neng endi cobak? Ojo ngomong neh lek wes nyepurani tapi sek kecewa. Iku podo ae nduk, cah ayu. Atimu urung iso nyepurani."


Kali ini ia terdiam, membenarkan ucapan Mas Kholis. Meskipun hanya berbeda dua tahun diatasnya. Tidak bisa ia pungkiri kalau Mas Kholis memang terkadang pemikirannya lebih luas. Meskipun ucapannya terkadang tajam dan menusuk. Jangan heran Mas kholis bisa tahu permasalahannya, jika bukan Khusnul yang menceritakannya.


"Wes to percoyo o mbek aku. Lek atimu lebih terbuka sitik ae, insyaallah suwi-suwi dalane neriman iki penak. Lah carane buka atimu iki piye? cedeki meneh."


Shahla menggeleng lemah, memikirkan berada di suatu keadaan dimana ada dirinya, Ameera dan Mas Mu'adz membuat hatinya berdenyut nyeri. "Enggak iso Mas," gumamnya.


"Iso, pasti iso. Analogine ngene, lek tanganmu loro, tambane luweh loro bar ngunu mari. Dirimu yo kudu ngunu kuwi. Atimu seng loro, tambanane yo tambah luoro. Sak iki tergantung dirimu iki kuwat opo ora karo obate kuwi."


"Pikiren to La, sampek kapan dirimu ngene iki terus. Sak iki tak tekok i. Gelem opo ora lepas teko belenggumu iki?"


Shahla mengangguk lemah, tatapannya pada botol yang sedari ia mainkan, "Iyo gelem Mas. Tapi piye iyo.."


"Ora usah tapi-tapian. Wes sak iki siap-siap o, bengi iki milu balek. Sesok-sesok tak terne karo Khusnul neng pondok e Gus Mu'adz."


"Ape nyapo? emoh lah!"


"E.. ladalah terae lala po. Obatmu enek neng kono cah ayu. Nyedeko. Ojo keras-keras men ati lan pikiranmu kuwi." Shahla masih bergeming antara menurut atau tidak.


"Gek ndang!" sentakan Mas Kholis membuatnya seketika berdiri.


"Iyo-yo Mas," gerutunya sambil masuk kedalam rumah.


Shahla menghembuskan napasnya. Oke Shahla, kali ini ia akan menurut ucapan Mas Kholis. Siapa tahu dengan cara ini, ia terlepas dari jebakan hatinya sendiri.


 


 


🌵🌵🌵🌵🌵🌵