MU'ADZ

MU'ADZ
DUA PULUH EMPAT



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Semua rombongan masuk ke dalam mobil yang sudah di sediakan. Dengan langkah lesu, Ning Bahiyyah di temani Ameera berada di satu mobil dengan Gus Nawwaf dan Gus Salman.


Moodnya sedang buruk hari ini karena kejadian kemarin, melihat Kang Akmal yang bermesraan di motor, dan di tambah dengan kedatangan Gus Salman. Bukannya tidak suka, melainkan hanya segan dan tidak nyaman. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan Gus Salman sedangkan hatinya masih dimiliki orang lain. Jadi sampai sekarang pun ia belum menerima khitbah dari Gus Salman.


"Kulo kiro njenengan nginep Gus!!"


Suara Gus Salman memecah keheningan di dalam mobil. Ia hanya mendengar, tatapannya masih mengarah ke jendela mobil.


Gus Nawwaf terkekeh pelan, "Di ken wangsul kaleh Abah. Kersane njenengan mboten kiambak."


Memang Kakaknya itu yang awalnya akan menginap di DS, namun di suruh pulang oleh Abah.


Gus Salman juga terkekeh, "Jatukno kulo langsung mriko mawon. Wau dhalu rame, Gus?"


Ia melirik di kaca spion atas, melihat kakaknya itu masih fokus menatap jalanan.


"Nggeh Gus, MasyaAllah!! seng hadiri niku lo ewonnan. Mboten saget bayangne engken pengajian umum e."


Gus Salman terkekeh. "KH. Anwar Zahid nggeh? Oh, nggeh, Kang Akmal wau dhalu enten mboten Gus?"


Mendengar nama itu, kedua matanya langsung melirik ke arah Gus Salman. Serasa ada aliran listrik yang mengenai hatinya.


"Emm, nggeh Gus. Malah kaleh Ning Khafa."


Ia menatap spion depan, kedua netranya bersirobok beberapa saat dengan Gus Nawwaf. Kemudian ia memalingkan muka ke arah luar. Ia tidak sanggup untuk mendengarkan percakapan dari kakaknya dengan Gus Salman. Rasanya ingin keluar saja, duduk di mobil satunya bersama Abah dan Umi.


"Oh, Ning Khafa." Terdengar gumaman dari Gus Salman yang masih ia dengar.


"Kulo mboten ngertos, Kang Akmal niku simah kaleh Ning Khafa nopo mboten. Wau dhalu, pas tepak ngopi kaleh kulo, Kang Akmal di susul Ning Khafa. Dereng sempet kulo tangkleti, tapi wes pamit disek." Gus Nawwaf terkekeh di akhir ucapannya.


Gus Salman hanya terkekeh. "Kang Akmal sampun ngertos bab mahrom Gus."


Mendengar ucapan Gus Salman, tiba-tiba suasana hening menyergap, tidak ada perbincangan lagi. Ia melirik ke arah kakaknya yang fokus menatap jalanan lalu beralih ke Gus Salman yang sedang mengotak-atik gawainya.


"Mbak!!" suaranya lirih sambil tangannya menyentuh pelan paha Ameera.


"Eh, dalem Ning. Pripun?"


"Mboten nopo-nopo, kok mendel mawon? teng nopo?"


Ia bertanya bukan serta merta. Semenjak Ameera pulang ke rumah, Ameera mendadak menjadi pendiam. Pasalnya, Ameera pulang dikarenakan Kakeknya sedang sakit. Mungkin saja Ameera kepikiran terus dengan Kakeknya.


Melihat itu, ia merasa bersalah karena memaksa Ameera untuk menemaninya ke haul Mbah Yai Ibrahim.


"Mboten nopo-nopo Ning." Jawab Ameera dengan senyum tulusnya.


"Ngapunten nggeh, engken langsung wangsul nopo mbenjeng?" tanyanya masih dengan suara lirih.


"Lek engken sonten nutut, insyaallah engken Ning. Lek mboten nggeh mbenjeng mawon." Mendengar jawab dari Ameera, Ia hanya mengangguk.


"Mbak Ameera ajenge wangsul?"


Kakaknya yang masih mengemudikan mobil tiba-tiba menyahut.


"Insyaallah, Gus."


"Lek kesoren mending benjeng injing ae Mbak."


"Bis e entene sonten Gus."


"Nopo tak terne Mbak?"


Kakaknya masih berbincang-bincang dengan Ameera. Bukan tidak tahu, kakaknya ini tertarik dengan Ameera. Ia baru mulai menyadari kala kakaknya ini sering pulang. Kalau Abah tidak menegurnya kemarin, kakaknya ini masih bolak-balik antara rumah dan pesantren.


"Modus!!" celetukknya


"Hush!!"


Ia terkekeh, "Ampun purun Mbak, padhuk e Mas Nawwaf ki."


"Ning!!" tegur Gus Nawwaf


"Oh, ngoten to Gus. Langsung gas ne mawon Gus." Gus Salman juga ikut menggoda kakaknya.


"Hush, diem. Kan sopo ngerti gelem, terus sekalian." jawab Gus Nawwaf yang mendapat sorakan darinya.


"Huu.. pokok e ampun purun Mbak. Mas Nawwaf modus."


"Sekalian nopone Gus?" Gus Salman berlanjut menggoda Gus Nawwaf.


"Hush, mpun, mpun Gus. Mpun nyampek niki lo."


Mendengar ucapan Gus Nawwaf, ia menoleh ke arah luar kaca mobil. Benar saja, tidak terasa mobil sudah berhenti dan berada di parkiran.


Ramai


Itu yang mendefinisikan keadaan sekarang. Rata-rata yang hadir memakai pakaian warna putih. Haul seperti ini, banyak yang datang bukan dari masyarakat saja namun dari pesantren-pesantren lain juga ikut hadir.


Bahkan sekarang yang ia lihat, banyak Bus-bus besar, yang kaca depannya terdapat tulisan rombongan dari mana.


Turun dari mobil, menghampiri mobil yang di tumpangi Abah dan Umi. Ia menggandeng Ameera yang berada disampingnya.


"Langsung teng TKP nopo teng ndalem riyen Bah?" Tanya Gus Nawwaf pada Abah.


Abah dan Umi yang berada di depan bersama Pak Lek dan Bu lek. Sedangkan ia dan Ameera berada di belakangnya.


Dari parkiran, harus berjalan terlebih dulu. Sekitar limaratus meteran. Di dampingi dengan dua kamtib yang berjaga tadi.


Hampir sampai di tempat acara, dua kamtib pun sudah berpamitan dan di gantikan dengan santri yang bertugas sebagai penerima tamu.


Di bawah tenda, yang sudah di sediakan sofa-sofa memanjang. Ia sudah hapal, karena setiap haul disini di sediakan khusus untuk tempat dzuriyyah perempuan, santri, dan umum.


Dari sini, ia bisa melihat panggung dan tempat dzuriyyah laki-laki karena tendanya berada di sisi kiri sedangkan untuk dzuriyyah laki-laki berada di kanan. Kemudian di depan panggung yang terbagi dua antara tenda putera dan puteri.


Acaranya belum di mulai, ada banyak dzuriyyah-dzuriyyah yang masih berdatangan. Netranya melihat ke arah depan. Tepatnya di tenda dzuriyyah laki-laki. Banyak yang mengantri untuk mencium tangan.


Meski jaraknya yang jauh, ia masih bisa melihat dengan jelas. Karena yang baru saja hadir adalah ahlul bait pesantren.


Tak di sengaja ia menangkap sosok laki-laki yang tak asing lagi. Kedua matanya menyipit, seakan memperbesar penglihatannya.


Laki-laki itu yang tak lain adalah Kang Akmal yang di gandeng oleh Gus Faaz. Ia jadi yakin, kalau memang Kang Akmal sudah menjadi bagian dari dzuriyyah Darussholah.


Mengetahui fakta yang baru saja dilihat, membuatnya semakin sakit. Diantara kebimbangan hatinya, menerima atau menolak fakta.


Gejolak di hatinya tidak membuatnya sadar kalau acara sudah berlangsung. Namun kala pendengarannya menangkap satu nama yang terpanggil. Sontak saja ia mendongak melihat ke atas panggung sana. Ia juga melihat di sofa deretan paling depan sudah terisi oleh para ahlul bait.


Gamis berwarna baby blue dengan kerudung senada. Paras ayu nan manis, membuat siapa saja yang melihat beberapa detik akan terkesima. Disana, Beliau dengan Al-Qur'an yang berada di tangan, nampak anggun. Beliau Ning Khafa Yamaniyyah Shiddiq.


Mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, ia semakin terhanyut. Antara ia menikmati keindahan alunan merdu qiro'ah atau terhanyut dengan rasa insecure nya.


Tidak heran dengan suara lembut milik Ning Luna menurun ke puteri Beliau-Ning Khafa.


Pantas saja Kang Akmal lebih memilih Ning Khafa daripadanya yang tidak punya keahlian sama sekali.


**************************


 


Assalamualaikum!!


Dari awal cerita ku sampai di cerita ini. Mana yang menurut kalian menarik?


Tapi sebelum itu, di cerita Sepenggal dari Angan memang cara penulisannya masih amburadul. Mohon di maklumi karena masih pertama.


Dan semakin kesini, Insyaallah sudah banyak perubahan. Alhamdulillah.