MU'ADZ

MU'ADZ
EMPAT PULUH ENAM



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


"Oh niki Ning Kiya. Masyaallah ginuk-ginuk e, jan pantes sanding Gus Mu'adz!"


Mendengar itu, Ameera menoleh ke arah sumber suara. Memang masih banyak tamu yang berdatangan, meskipun acara walimah kemarin sudah selesai.


Iya, sejak lusa kemarin ia memang sudah resmi secara agama dan negara menjadi istri Mas Mu'adz. Acaranya pun di selenggarakan di Darussholah dan Adz-dzikro. Sungguh melelahkan namun euforianya tidak akan pernah ia lupakan.


Dengan langkah sedikit membungkuk, ia pun mendekat kemudian mencium tangan. Duduk lesehan dengan pelan-pelan, karena perutnya sejak pagi tadi memang sedikit bermasalah.


"Niki ponakan e Umi, Nduk. Asmane Bulek Udhah." Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Bulek ngertose Ning Kiya angsal Gus Mu'adz ae keng Dina, Ning," ucap Bulek Udhah.


"Loh, kok Dina ngerti Dhah? Oh iyo, Dina nyantri neng Darussholah iyo," sahut Umi Zahroh


"Enggeh Mbak. Dina heboh, Guse simah kaleh Ning Kiya," kekeh Bulek Udhah. Umi Zahroh dan ia pun juga ikut terkekeh.


"Ning Kiya sampun isi to? kok niki wau lenggah e atos-atos sanget?"


"Loh enggeh to Nduk? kok mboten ngabari Umi," sambar Umi Zahro membuat tangannya mengelus punggung tangan Umi Zahro.


Dengan tersenyum masam, ia menatap Bulek Udhah. "Pandungane mawon Bulek. Niki wau namung mboten sae mawon," ucapnya sambil mengelus perut.


Semakin lama obrolan pun berlanjut, sedangkan ia sesekali menanggapi dengan senyum, karena memang ia tidak nyambung dengan pembicaraan Umi Zahro dan Bulek Udhah. Hampir setengah jam lamanya, membuat perutnya semakin bergejolak. Ia putuskan untuk pamit terlebih dahulu untuk ke kamar, padahal niatnya tadi keluar kamar ingin mengambil air putih. Namun iya sudahlah, tidak jadi mengambil minum. Dengan langkah pelan ia pun membuka kamar dan perlahan membaringkan diri. Mungkin karena kemarin ia makan sembarang jadilah seperti ini.


Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Suara Umi Zahroh terdengar ingin masuk. Dengan langkah pelan, ia pun membuka pintu dan mempersilahkan Umi Zahroh untuk masuk. Duduk di pinggiran ranjang, sambil tangannya masih mengelus-elus perutnya, berharap dengan begitu rasa sakit di perutnya menghilang.


"Sek sakit?"


Ia mengangguk. "Enggeh Mi."


"Garai Umi mboten gadah obate lo Nduk. Mantun niki tak kongkon Guse ken numbasne." Ia tidak menjawab, merasakan sakit perut yang sungguh tidak mengenakkan.


"Umi mau kaget Nduk, tak kirane Nduk e sampun isi tapi mboten sanjang teng Umi." Ia hanya tersenyum menanggapi Umi Zahroh.


Umi Zahroh menghadapnya, ia pun juga menghadap Umi Zahroh. Puncak kepalanya di elus pelan oleh Umi Zahroh, membuat ia memejamkan mata, menikmati. Sudah lama sekali ia tidak merasakan usapan lembut dari tangan seorang Ibu. Ia jadi kangen dengan Uminya.


"Masio Nduk e sak iki wes mulai sibuk ngurusi kuliah, sibuk bantu-bantu pesantren, tapi ampun supe kewajibane Nduk e dados istri nggeh Nduk."


Iya memang, ia mulai melanjutkan kuliah, itupun awalnya atas desakkan Mas Mu'adz. Sebenarnya ia tidak berniat untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, mengingat banyak yang harus ia urus semenjak Alm. Embah sudah tidak ada. Di amanahi pesantren yang sebesar ini, tidak menuntut kemungkinan ia bisa fokus untuk kuliah. Apalagi jadwal rutin terapinya dua sampai tiga kali dalam seminggu, menambah daftar kesibukannya selama beberapa bulan ini.


Sampai ia melupakan fakta, jika ia adalah seorang istri yang wajib memenuhi kebutuhan lahir dan batin sang suami. Kebutuhan lahir suaminya pun sebisa mungkin sudah ia lakukan. Tapi satu yang sangat dilupa, kebutuhan batin Mas Mu'adz.


Dan itu baru ia sadari setelah mendengar penuturan Umi Zahroh. Tersadar Mas Mu'adz belum pernah meminta haknya sama sekali.


"Umi mboten perlu maleh jelasne perihal ngoten niku. Umi yakin Nduk e sampun paham."


Tidak ada tanggapan darinya. Bukannya tidak mau memperjelas perihal itu. Karena memang sejatinya urusan intim seperti itu harus di simpan serapat-rapatnya.


"Enggeh pun, Umi tak nemoni Guse, ben dang tumbasne obat. Pun Nduk e gletak an mawon."


Terdengar pintu tertutup, perlahan ia membaringkan badannya, memikirkan kenapa selama ini Mas Mu'adz tidak meminta hak nya. Tapi kalaupun Mas Mu'adz meminta haknya, apakah dirinya sudah siap?


**************


Mu'adz yang membawa air putih dan kantong kresek berisi obat, tangannya membuka pintu kamar. Melihat istrinya tidur miring dengan tangan berada di atas perut. Perlahan ia menghampiri istrinya.


Bukan hal baru lagi, jika istrinya sakit perut seperti ini. Awalnya memang ia tidak tahu sebabnya, tapi sudah tiga kali ini, istrinya mengalami seperti ini. Jadi ia sudah paham peyebabnya.


"Nduk!" Tangannya mengelus kepala Ameera, membangunkan istrinya.


Terdengar lenguhan dari istrinya, tak lama kedua mata istrinya terbuka. "Mik obate riyen, ayo."


"Astaghfirullah dereng Mase," pekik istrinya. "Mase sampun dhahar?"


Ia tersenyum lembut melihat respon istrinya. "Gampang lek Mase." Dalam keadaan sakit seperti ini, istrinya masih memperhatikannya. Bagaimana tidak sesayang itu dirinya pada istrinya ini. "Ayo tak terne teng jeding. Gendong?" godanya.


"Em-mboten Mase, saget mlampah." Ia terkekeh kecil, istrinya masih semalu itu. Membuatnya menjadi gemas sendiri. Ia merengkuh tubuh istrinya, tak lupa ia mengecup kepala.


Berkali-kali batinnya mengucap syukur, karena sudah diberi istri seperti Ameera.


******


Selama Ameera sholat, ia pun ke dapur mengambil makanan. Karena ia tahu, kalau istrinya dalam keadaan seperti ini, pasti tidak mau makan. Tangannya sudah memegang nampan yang berisikan makanan untuk istrinya. Membuka pintu, yang ia lihat istrinya sedang membuka mukenah. Diletakkan nampan di nakas samping ranjang. Istrinya pun beranjak menghampirinya, lalu mencium tangannya tak lupa ia sempatkan mendoakan tepat diubun-ubun istrinya. Selama beberapa bulan menjadi sepasang suami istri, setiap kali selesai sholat memang melakukan hal demikian.


"Maem, gek babuk." Tangannya sambil menyodorkan piring.


"Mboten eco Mase, tak langsung babuk mawong nggeh?"


Ia menggeleng keras, menatap raut wajah Ameera penuh dengan


pengharapan, sebenarnya ia tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi kalau tidak ada asupan yang masuk. "Maem nggeh Nduk e, mumpung tasek anget," ucapnya lembut.


"Mase mawon nggeh seng dhahar, kan Mase dereng dhahar," kekeh Ameera.


"Nduk!" tegasnya. "Mase dulang nopo pripun?" godanya.


"Enggeh eh m-mboten, maksudte Nduke maem kiambak," gugup istrinya sambil menarik piring dari tangannya.


Benar saja, jurusnya ampuh. Memang istrinya ini semakin di lawan semakin keras, tapi kalau sudah di goda seperti tadi, istrinya mendadak menjadi luluh.


Ameera memakan dengan tenang, sesekali ia bisa menangkap kalau istrinya meliriknya. "Sampun nggeh Mase?"


Melihat tinggal setengah, ia pun mengangguk yang penting ada makanan yang masuk dalam perut istrinya. Mengambil piring dari tangan istrinya, kemudian memakan setengahnya itu.


"Loh Mase!"


Telunjuknya ia tempel pada mulutnya, tanda menyuruh istrinya untuk diam. Tak membutuhkan waktu lama, karena memakan bubur ayam pun cepat mengunyahnya.


"Alhamdulillah," ucapnya setelah menegak air. "Pun Nduke istirahat, Mase ape nemoni Kang Rido rien," lanjutnya sambil meletakkan piring dan gelas di nampan lagi.


"Em-Mas!" Istrinya menarik bajunya, membuat ia terduduk kembali.


"Pripun?" tanyanya.


"Em-mboten sios deng," cengir Ameera. Tapi yang ia tangkap ada kegelisahan disana.


Ia beranjak menaruh nampan di nakas, lalu duduk dekat dengan istrinya. Menatap penuh istrinya. "Enten nopo?" tanyanya lembut sembari mengelus pipi istrinya.


"Em-Mase mboten.. mboten nyuwun h-hak e Mase?"


Sedikit terkejut mendengar ucapan istrinya. Ini pertama kalinya Ameera menanyakan itu. "Kok moro-moro tangklet ngoten?"


"Ngapunten nggeh Mase." Kedua mata istrinya mulai berkaca-kaca. "Sangking sibuk e Nduk e, sampek Nduk e supe maringi hak e Mase."


Ia merengkuh tubuh istrinya, menangis di pundaknya. Tangannya bergerak mengelus punggung istrinya. "Nga-ngapunten nggeh Mase. A-ayo sak niki, Nduk e s-siap," ungkap istrinya dengan sesenggukkan.


Bagaimana mungkin ia tega meminta haknya, sedangkan keadaan psikologis istrinya masih belum pulih sepenuhnya?


************************


Assalamualaikum! ngapunten nggeh lama mboten Up. Matur suwun sampun ngerantosi cerita niki.


Mugi-mugi enten pelajaran seng di petik nggeh!