
Selamat Membaca
"Assalamualaikum, eh, enten Mas Mu'adz." Merasa namanya terpanggil, Mu'adz menoleh lalu menjawab salam dari Mama Alana. "Enten shift Ma?" tanyanya pada Ibu dari Dek Shahla.
"He em mantun niki Mas. Oh iyo Yah, Ayah ndang wangsul gek ndang mriki. Mama mau lali beto rasuk ane Ayah, hehe," ucap Mama Alana sambil meletakkan sneli di sandaran sofa.
"Kunci ndek tempat biasa kan Ma?"
"Enggeh, wes ndang wangsul," jawab Mama Alana. Ayah Dzarrin mendekat ke brankar Dek Shahla lalu mencium kening Dek Shahla. "Engken tak tumbasne pesenane Adek."
"Seng katah nggeh Yah, hehe," cengir Dek Shahla.
"Hush, wong sek sakit kok ape katah-katah maem keju," tegurnya membuat Dek Shahla mendengus cemberut. Ayah Dzarrin juga berpamitan dengannya, tak lupa ia mencium tangan Beliau.
"Mas Mu'adz wau mriki kiambak?"
"Astaghfirullah!" pekiknya lalu berdiri. Sadar kalau dirinya telah meninggalkan istrinya lama. Apalagi ia tadi tidak berpamitan dengan istrinya. Dengan segera ia beranjak tak lupa berpamitan pada Mama Alana dan Dek Shahla.
Langkahnya tergesa menuju ruangan poliklinik psikiater. Melihat jam tangan yang melingkar sudah menjelang sore hari. Semoga saja istrinya belum selesai konsultasi. Karena terhitung sudah tiga jam lamanya ia meninggalkan ruang tunggu poliklinik.
Sampai di depan ruangan Dokter Anne, Dokter yang menangani istrinya. Tangannya mengetuk pintu, lalu pelan membuka pintu tersebut.
"Assalamualaikum Dok," sapanya.
"Eh nggeh Gus, Waalaikumsalam. Ada apa iya?"
Melihat tidak ada pasien yang tidak di tangani Dokter Anne, membuatnya gusar sendiri. Apa jangan-jangan Ameera sudah selesai dari tadi? pikirnya.
"Eum, istri saya Ameera sudah selesai Dokter?"
"Sudah, sudah. Sekitar satu jam an yang lalu Gus."
Benar sesuai dugaannya, kalau Ameera sudah selesai. Ia pun segera berpamit dan berlalu mencari Ameera. Astaghfirullah, bisa-bisanya ia selupa ini. Berjalan sambil mengedarkan pandangannya. Perasaan khawatir berlebih menyelimuti hatinya, pasalnya sampai sekarang, yang kini dirinya berada di loby rumah sakit, dan selama berjalan kesini, tidak ada tanda-tanda istrinya terlihat.
Astaghfirullah kemana istrinya ini?
"Maaf Sus, minta tolong bisa sambungkan ke telepon Bunda?"
"Baik, sebentar iya Gus."
Memang dari dulu ia sering mampir ke rumah sakit tempat Bunda bekerja, jadi tidak jarang pegawai rumah sakit sini sudah kenal dengannya. Tak lama Suster menyerahkan ganggang telepon duduk. "Halo Assalamualaikum Bunda."
"Iya Waalaikumussalam Mas, pripun?"
"Bunda, teng mriku enten Kiya mboten?"
"Loh, wau Nduk Kiya mriki nangkletne Mas. Bunda sanjang lek Mas teng ruangane Nduk Shahla. La nopo mboten kepanggih to Mas?"
Memejamkan matanya sejenak. Istrinya sampai mencarinya. Padahal ia yang mengantar istrinya kesini, malah ia meninggalkan istrinya sendirian. Ya Allah Gusti. "Mboten Bunda. Mas supe saking econe ngobrol kaleh Ayah Dzarrin kaleh Dek Shahla wau."
Sambil bergumam menjawab salam Bunda, ia menyerahkan ganggang telepon pada suster, tak lupa mengucapkan terima kasih. Mendengar penuturan Bunda tadi membuatnya semakin khawatir. Namun kalaupun istrinya tahu, ia berada di ruangan Dek Shahla, kenapa tidak menghampirinya?
Selang beberapa menit, Bunda dengan tergesa menghampirinya. "Bunda telpon nomere Nduk Kiya mboten diangkat-angkat lo Mas." Kini dirinya semakin gusar. Rasa bersalah semakin menyelimutinya. "Eum, ngeten. Mungkin mawon Nduk Kiya wangsul. Cobi, Mas wangsul. Di sambi Bunda hubungi Nduk Kiya." Ia mengangguk menurut pada Bunda. "Kabari Bunda lo Mas, lek sampun kepanggih Nduk Kiya." Lagi-lagi ia mengangguk. "Bunda nyuwun di jogo atine Nduk Kiya nggeh Mase." Karena terburu, ia hanya mengangguk tanpa tahu maksud dari Bunda. Pikirannya masih terfokus pada keberadaan istrinya.
Mungkin benar kata Bunda, istrinya memang sudah pulang, atau mungkinsaja ia bertemu di jalan nanti. Dalam hati ia berdoa agar istrinya tetap dilindungi oleh Allah.
Mengendarai motor dengan kecepatan sedang, sambil lalu pandangannya mencari sosok istrinya. Sampai di depan gerbang pesantren, ia belum menemukan keberadaan istrinya. Memakirkan motor, lalu dengan salam ia masuk ke ndalem. Terlihat Umi Zahroh berada di ruang keluarga dengan Al-Qur'an berada di tangan Beliau.
"Mi, Nduk Kiya sampun wangsul." Ia beranikan untuk bertanya.
"Uwes Le. Piye keadaane adike sampeyan?"
Beribu-ribu kelegaan dalam hatinya. Alhamdulillah, istrinya baik-baik saja. Mendengar penuturan Umi Zahroh barusan membuat ia mengerutkan kening sejenak. "Alhamdulillah, sae Mi. Tasik pemulihan sak niki." Mungkin saja istrinya bercerita kalau ia sedang menjenguk Dek Shahla.
Kemudian ia berpamit untuk berlalu. Tujuannya adalah kamar, ia ingin membersihkan diri, lalu mencari keberadaan istrinya. Setelah selesai membersihkan diri, ia menemukan istrinya duduk di sisi ranjang. Seperti sedang menunggunya.
Tangannya yang semula mengeringkan rambut dengan handuk, ia taruh handuknya ketempatnya. Lalu duduk di samping istrinya.
"Nduk!" panggilnya pada Ameera, yang tampak melamun. Dan benar saja, istrinya sedikit tersentak. Lalu terburu mencium tangannya.
"Wangsule nitih nopo wau?" tanyanya. Istrinya kini lebih pendiam dari biasanya. Sangat ia sadari kalau istrinya sedang kecewa padanya.
"Kaleh gocar." Jawaban singkat itu melucur dari Istrinya yang masih menunduk. Seperti menyembunyikan wajah darinya.
Tangannya merangkul bahu istrinya, sehingga kepala istrinya berada di dadanya. "Mase ngapunten nggeh? Wau Mase ajenge pamit teng Nduk e tapi hapene Mase teng Nduk e."
Terasa anggukkan kepala dari istrinya, ia mengecup pelan, sambil dagunya ia sandarkan pada kepala istrinya. "Lain kali, ngrentosi Mase riyen nggeh. Ojo wangsul dewean, Mase wau bingung nggolek i Nduk e." Lagi-lagi ia merasakan anggukan kepala dari istrinya.
"Terose Bunda, Nduk e wau tangklet Mase. Kok mboten marani Mase teng ruangane Dek Shahla?" Sekarang bukan lagi anggukan namun gelengan sebagai jawaban dari istrinya.
Gemas akan tingkah istrinya yang tidak mau membuka suara. Ia pun melepas rengkuhannya. Mengangkat dagu istrinya, hingga saling menatap satu sama lain. Satu kata yang menggambarkan istrinya kini, matanya sembab. Perasaan bersalahnya semakin menjadi.
"Nduk e teng nopo nangis, hem?" Masih menelisik mata menenangkan milik istrinya, sambil ibu jarinya mengelus pelan. "Ngapunten nggeh, Mase salah, sampun supe ninggalne Nduk e dangu."
Perlahan mata itu berkaca-kaca, sambil menggeleng-geleng. "Nduk e mboten purun maaf ne Mase?" Tetap gelengan sebagai jawaban, perlahan air mata istrinya luruh. Mendekap erat istrinya, sambil meminta maaf berulang kali. Ya Allah sungguh hamba Mu sangat berdosa, jatuh air matanya karena kekecewaan pada hamba Mu ini.
Entah berapa lama berada di posisi ini, sampai tangis istrinya reda dan mulai melepaskan rengkuhannya. "Mase. Abi, Umi kaleh Embah sampun sedho ninggalne Kiya. Lek Mase menjalankan pernikahan niki amergi kepaksa kaleh Embah, Kiya nyuwun sanget mending sak niki mawon Mase sanjang, sak derenge Kiya awrat di tinggal Mase, engken. Insyaallah engken Mase gadah gantose seng luweh sangking Kiya."
*****************
Assalamualaikum!!
Alhamdulillah saya ngetik niki diiringi hujan. Duh, jadinya ikut galau merasakan jadi Ameera. Hehe..
Monggo ramaikan komen, kalaupun saya tidak membalas bukan berarti saya tidak membaca. Terkadang notifnya sudah tenggelam.
Follow akun saya dong, biar bisa selalu dapet notif. Dan jangan lupa Vote nggeh, sebagai bentuk apresiasi saya. Hehe.. biar tambah semangat.