
*Vote dulu nggeh !!
Selamat Membaca
Di kamar tinggal dirinya yang belum terlelap. Ia pun beranjak membuka lemari, dengan penerangan yang tamaram. Tangan kanannya meraba-raba. Sesuatu yang berharga baginya. Setelah dapat, ia kembali berbaring di tempat tidur. Kedua tangannya mengangkat kotak bening yang di dalamnya ada tuspin bunga dandelion.
Bunga favorit Umi, yang kini jadi favoritnya juga. Setiap kali ia bertanya pada Umi, kenapa suka sekali dengan bunga dandelion. Padahal tidak cantik atau wangi, bahkan jika tertiup angin kelopaknya akan terbang juga.
Lalu Umi bercerita, bunga ini hidup di hutan belantara, di semak belukar, di tebing-tebing, bahkan di pandang rumput. Seakan manusia tak pernah menjamahnya sangking tak berartinya bunga ini.
Tapi di balik itu semua itu, bunga dandelion adalah bunga pemberani. Meskipun dia terlihat rapuh namun ia berani menghadapi angin yang meniupnya. Terombang-ambing diudara, bunga ini tidak hancur. Justru ketika angin sudah tiada, bunga itu akan jatuh ke bumi dan tumbuh lagi.
Dari cerita Umi itu lah, ia mulai suka bunga dandelion. Selain mengingatkan pada sosok Umi dan bunga ini menjadi motivasinya untuk tetap berani menghadapi cobaan apapun. Apalagi dengan cobaan yang menerpanya dulu. Ia dipaksa untuk tetap berdiri.
Masih memperhatikannya. Tuspin ini amat berharga untuknya. Selain maknanya, tuspin dandelion ini juga pemberian dari dia. Iya, DIA. Dia yang selalu ia minta pada Allah dalam sepertiga malam.
Ia senang bukan main. Rasanya setelah di belikan tuspin ini, ia ingin terus tersenyum seolah menunjukkan kalau dirinya memang tengah berbahagia. Sempat menolak, namun jawaban dari dia membuatnya mematung.
"Iku mboten sepiro dibanding air matamu. Wassalamu'alaikum."
Ia tidak menyadari jika dia memperhatikannya. Ah!! malu. Apalagi dengan acara nangis-nangis segala. Tapi, hatinya menghangat kala mendengar ucapan itu dari dia. Seolah cintanya bersambut. Seolah-olah pintanya pada Allah terkabulkan. Sungguh senang sekali.
Namun, ketika dirinya memergoki dia yang asik bertelfonan. Apalagi dengan nada atau percakapan diantara mereka terlihat sangat dekat. Seketika ia menghela nafasnya kasar, ada rasa kecewa yang hadir dalam hatinya. Sampai sekarang ia masih bertanya-tanya siapa orang yang di bertelfon dengan dia.
Sebentar-sebentar, sepertinya ia tahu sekarang. Ia tahu kenapa Allah memberi rasa kecewa padanya. Sama halnya Allah, yang sedang mencemburuinya, karena lebih merasa bahagia bersama makhluk-Nya.
Astaghfirullahaladzim
Lampu utama kamar sudah di matikan. Tinggal satu lampu belajar yang masih hidup. Di meja belajar sana, ada yang sedang termenung sambil memperhatikan layar gawai. Layar yang menampilkan kakak dan seseorang yang membuatnya tidak terlelap sampai tengah malam seperti ini.
Ning Bahiyyah lah orangnya. Sedang menatap lekat foto yang ia ambil dari gawai kakaknya-Gus Nawwaf. Memandangi senyum merekah dari seseorang di sana.
"Huft, Kang, Kang!! koyok e ora mungkin sampeyan nduwe pacar. Opo adik e yo? tapi selama iki, aku ora ngerti opo-opo tentang keluargane sampeyan. Tapi telfonane sampeyan kok sajak e mesra ngunu. Huft, Astaghfirullah. Mikir positif ae Bahiyyah, iku mau Kang Akmal telfonan karo adik e. He em bener."
Ning Bahiyyah berbicara sendiri, sambil memandangi foto Gus Nawwaf dan Kang Akmal. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau Kang Akmal bukanlah orang yang seperti itu.
"Opo aku takok langsung ae yo? tapi diarani lancang. Argh, Kang Akmal!!" frustasinya
"Ape takok Mas Nawwaf, mesti jawabane ora ngerti."Jari telunjuk Ning Bahiyyah mengetuk-ngetuk pelan dagunya.
Kalau seperti ini, ia membutuhkan kakaknya untuk curhat. Tapi kakaknya besok harus pulang ke pondok.
Huft, Ya Allah Ya Rabbi Kang Akmal.
Di teras asrama, Kang Akmal duduk sendiri di pinggir dekat pembatas. Ia memandangi langit yang bertabur bintang. Sedangkan Kang Wildan sedang tiduran, seperti biasa Kang Wildan berkomunikasi dengan Markonah. Entah mereka berbicara tentang apa, ia tidak tahu.
Sedangkan dirinya memikirkan kejadian tadi siang ketika di pasar. Seorang perempuan yang selama ini dalam benaknya. Seorang perempuan yang sorot matanya menenangkan.
Namun tadi, ketika ia melihat gerak gerik perempuan itu memandangi kotak mika. Tersenyum namun ada tetesan air mata yang mengalir. Entah itu pengungkapan rasa sedih apa rasa bahagia. Ia tidak bisa menebaknya.
Sebenarnya dia kenapa? Meskipun pernah sekilas saling bertatap, ia tahu kalau ada raut kesedihan yang di sembunyikan.
Entah dorongan dari mana, ia menyodorkan satu lembar uang lima puluh ribu pada penjual. Sepertinya dia terkejut. Terlihat dari dia yang berbicara sedikit tergagap.
Setelah mengucapkan salam, ia berlalu begitu saja. Membiarkan dia yang mematung di sana. Namun tak lama kemudian, ia justru berbalik melihat apa yang terjadi.
Iya, disana dia nampak tersenyum senang. Memeluk riang tempat mika yang di dalamnya sebuah bros berbentuk bunga. Semoga saja dia menjaga bros itu. Melihat dia tersenyum senang, hatinya menghangat.
Apa benar ia mencintainya ? Ia selalu bertanya-tanya pada hatinya sendiri.
Ya Allah, benar aku mencintai salah satu makhluk Mu, batinnya sambil tersenyum.
Ia tersentak kaget kala Kang Wildan duduk di sampingnya.
"Ket mau tak wes-wes ne awakmu kok guyu-guyu dewe Mal? Awakmu ora guyu karo bongsone Markonah kan?" tanya Kang Wildan yang ngawur
Ia melirik sahabatnya sekilas. Pertanyaan yang tidak faedah. "Aku ora koyok awakmu."
"Awakmu seneng karo sopo Mal?"
Seketika ia langsung menoleh dengan tatapan tanya. "Maksudte?"
"Jare Kona, awakmu lagi bungah atimu. Sopo Mal? Ning Bahiyyah?" tebak Kang Wildan
Ia langsung mendengus kesal. "Emang salah lek atiku bungah?"
"Yo ora ngono ne Mal. Dadi sopo? Ning Bahiyyah? soal e ketok banget seh lek Ninge rodo cling ngunu nang awakmu." jelas Kang Wildan
"Ojo membenarkan praduga Wil. Ceblok e fitnah." ujarnya
"Mal, Mal, uduk praduga seh. Kabeh arek-arek ae ngerti. Sampek pernah arek-arek nggojloki Kang Amir karo Ninge, eh, Gus Nawwaf tepak krungu. Jarene Gus Nawwaf, takok Akmal disek. Nono jare."
Tentu saja ia terkejut. Bahkan selama ini tidak ada bahasan Ning Bahiyyah antara dirinya dengan Gus Nawwaf. Ia langsung mengusap wajahnya kasar. Belum lagi chat Abi tadi tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
*Maaf iya kalau ada yang tidak srek dengan visualnya. Sekali lagi ini hanya visual sesuai imajinasi aku, kalian boleh kok menggambarkan sosok tokoh pada siapapun sesuai imajinasi kalian.
Muhammad Nawwaf Ismail
Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq
Kang Wildan
Bahiyyah Khansa Ismail
Shahla Nadzarrin Ahmad
Ameera
Bagaimana sampai bab ini?
Saran aku sih, di baca perlahan sampai gak kelewat, karena lumayan ruwet juga aku bangun alurnya. Tapi maaf lo ya kalau gak bagus cerita ini. Aku hanya mencoba hal yang baru.
Aku harap kalian tetap suka dengan cerita yang aku buat.
See yuu nggeh