MU'ADZ

MU'ADZ
BAB DUA



Selamat Membaca


 


 


 


 


 


 


Ndalem Yai Zaki ramai dengan wali santri yang hendak sowan dengan Beliau. Acara Haul Akbar Yai Ismail menjadi perayaan rutin yang dilakukan pesantren Al-Bidayah ini.


 


 


Kang Akmal yang membawa nampan minuman, dengan Gus Nawwaf yang membantu membawakan nampan berisi kue-kue basah. Menuju ke ruang tamu. Berjalan di belakang Gus Nawwaf.


 


 


Sampai di sudut ruang tamu, Kang Akmal berjalan dengan kedua lututnya. Dengan masih menunduk, ia mengikuti Gus Nawwaf menghidangkan di atas meja.


 


 


"Kok repot-repot to Gus!!"


 


 


"Mboten nopo-nopo Yai." Gus Nawwaf mencium tangan Yai Shiddiq dan Gus Faaz.


 


 


Ia pun mengikuti Gus Nawwaf. Mencium tangan Yai Shiddiq yang tak lain adalah Embahnya sendiri dengan takzim, ada rasa haru dalam hatinya sebenarnya. Tepukkan di punggungnya menyadarkan dirinya, sampai tak terasa ia begitu lama mencium punggung tangan Beliau.


 


 


Lalu ia, beralih ke Gus Faaz, Abinya sendiri. Sama halnya seperti tadi, ia pun lama mencium punggung tangan Abinya, seperti meluapkan rasa maaf pada Abinya karena sudah lama ia tidak pulang.


 


 


Abinya, mengelus punggungnya sayang, terasa ada kerinduan yang mendalam. "Yai, niki angsal kulo beto wangsul ?" Tangannya masih berada dalam jabatan Abinya.


 


 


Seketika ia tegang, Abinya berkata seperti itu. Dalam hatinya terus merapal doa semoga tidak ada yang tahu maksud ucapan Abinya itu.


 


 


"Nopo ajenge di pek mantu kagem Ning Khafa Gus?" Yai Zaki terkekeh.


 


 


Diam-diam ia merapalkan hamdalah berulang kali, untung saja.


 


 


"Wah, tapi kadose kulo pek mantu kiambak Gus, hehe." imbuh Yai Zaki


 


 


Seketika ia mendongakkan kepalanya, terasa sulit menelan salivanya. Ia menegang, elusan dari Abinya, seolah mengatakan kalau memang terjadi sesuatu dengan puterinya Yai Zaki.


 


 


Duh!! salah tompo.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Shahla menggerutu sepanjang jalan. Bagaimana tidak, ia sendiri lupa kalau sudah janjian dengan kakaknya. Sewaktu mengantri mandi, tinggal gilirannya. Ia malah teringat janji sehabis ashar bertemu di toko. Masih dengan acara haul akbar jadi suasana ramai, sedangkan tokonya berada di perbatasan antara asrama putera dan puteri. Meski terlihat lengang, namun pihak keamanan selalu berseliweran.


 


 


Ia meninggalkan antriannya. Langsung melesat untuk kesana. Entah bagaimana penampilannya kali ini, ia tidak memikirkannya. Bisa-bisanya ia lupa, kalau bukan karena adik sepupunya itu, ia juga tidak mau di titipi. Entah apa isinya paperbag, ia tidak tahu.


 


 


Sambil merapikan kerudung, dan rambut yang kemana-mana. Beberapa kali ia mengendus badannya, semoga saja tidak tercium baunya. Karena sudah lengket sekali badannya.


 


 


Sampai di toko peralatan yang menyediakan kebutuhan santri, ia langsung menangkap kakaknya itu duduk di kursi plastik.


 


 


"Mas, niki." Sambil menyodorkan paperbag yang di bawanya. Ia bisa melihat kakaknya tersenyum tipis. Itu membuat jantungnya kelabakan tidak karuan.


 


 


"Kok mrengut to Nduk ? opo ora di sangoni karo Mama? "


 


 


Ia mendengus kesal, sempat-sempatnya ia di goda. Tidak tau apa ia menahan untuk tidak bersikap manja lagi. Memang perlahan ketika ia masuk pesantren, ia sudah jarang bersikap manja di hadapan kakaknya itu. Ia malu sebenarnya.


 


 


"Sanguni lah !!" Sergahnya


 


 


"Berarti ora entok tambahan teko Mas yo? Alhamdulillah iso gae ngopi."


 


 


Langsung saja ia mengangkat kepalanya melihat wajah kakaknya. "Yee, nggeh tambah to." ucapnya dengan cepat. Lain di pikiran lain di ucapan, ia merutuki dirinya sendiri, masih saja bersikap seperti itu. Ia mengetuk-ngetuk kepalanya.


 


 


Terdengar kekehan dari kakaknya. Pasti kakaknya berpikir kalau ia masih manja, cengeng, ngambekan atau apalah. Ingin menjaga sikapnya, eh malah reflek seperti itu.


 


 


 


 


Ia mengambil sambil bergumam menjawab salam kakaknya. Sampai ia melihat punggung kakaknya menjauh. Ia langsung melihat isi bungkusan tersebut. Seketika senyumnya mengembang. Kakaknya itu tidak pernah mengecewakannya. Kakaknya itu selalu tahu apa yang ia suka, selalu tahu cara mengembalikan moodnya. Bagaimana ia bisa mengontrol rasa sukanya yang tumbuh, kalau perlakuan manis yang ia selalu dapatkan dari kakaknya itu.


 


 


Ia keluar dari toko masih dengan senyuman, ia menghitung beberapa uang lembar lima puluh ribuan itu Alhamdulillah rezeki.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Dua gadis berjalan beriringan menuju ke toko. Ning Bahiyya dan Ameera. Dari jarak yang hampir dekat. Kedua netranya menangkap netra hitam legam yang tatapannya teduh. Entah berapa lama saling bertatapan.


 


 


"Assalamualaikum Kang, pados nopo ?"


 


 


Ucapan Ning Bahiyya memecah dua pasang mata yang sedari tadi bertautan. Seakan ke tangkap basah, segera mengalihkan pandangannya.


 


 


"Waalaikumsalam Ning, hehe mboten pados nopo-nopo. Kulo riyen nggeh Ning, Mbak. Assalamualaikum." Kang Akmal sedikit membungkuk.


 


 


Serempak mereka menjawab salam Kang Akmal. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya. Seseorang yang dikenal baru saja keluar dari toko yang sama dengan Kang Akmal, sambil tersenyum-senyum membuka kresek yang di pegang.


 


 


"Loh La?" Ameera menyapa sahabatnya itu, karena sepertinya Shahla tidak sadar akan kehadirannya.


 


 


"Eh, Mer, Ning Bahi." Shahla balik menyapa sambil cengengesan.


 


 


"Ampun nglamun Mba." Tegur Ning Bahiyya pada Shahla


 


 


"Nggeh Ning." Jawab Shahla sambil sedikit membungkuk.


 


 


Ning Bahiyyah berjalan masuk kedalam toko, tapi Ameera masih memperhatikan sahabatnya itu yang sudah mengangkat wajahnya. Melihat ke arah belakang. Ameera yang heran, langsung juga ia mengikuti arah pandang Shahla.


 


 


Ameera hanya melihat beberapa orang berseliweran. Namun kedua netranya menangkap punggung tegap. Ameera tahu itu siapa. Apakah benar Shahla melihat punggung yang sama yang ia lihat?


 


 


Kalaupun iya ?


 


 


Ameera tidak tahu lagi.


 


 


"La? awakmu ngewesi sopo? ojo ngomong lek ?"


 


 


"Eh, Mer, aku tak disek urung ados."


 


 


Setelah mengucapkan itu, Shahla dengan berjalan cepat menjauhinya. Ameera sedikit curiga, namun segera ia mengenyahkan pikirannya. Ia tidak mau pikiran negatif menggerogotinya.


 


 


Astaghfirullah harus lebih giat lagi.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Jangan lupa beri apresiasinya dengan vote komen nggeh


See yuu


Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq