MU'ADZ

MU'ADZ
TIGA PULUH LIMA



*Vote dulu nggeh!!!


Selamat Membaca


"Loh Mase!!" celetuk Shahla kala netranya menangkap sentuhan kakaknya terhadap sahabatnya ini.


Terkejut? tentu saja. Mas Mu'adz tidak akan berani bertindak seperti itu. Jangankan dengan orang terdekatnya misal dirinya, tidak pernah ada kontak fisik semenjak sama-sama baligh. Apalagi dengan Ameera yang notabennya tidak pernah Mas Muadz kenal, bahkan berbicara pun sangat dikatakan jarang. Karena Ia sangat tahu Mas Mu'adz selalu menjaga maruahnya. Atau jangan-jangan! Ia membekap mulutnya. Menggeleng beberapa kali.


Tidak!!


Tidak mungkin!!


Kecuali mahrom


Mas Mu'adz


Ameera


Tatapannya berulangkali melihat ke arah dua orang di hadapannya ini. Menatap penuh dengan ketidakpercayaan.


"Dek, jajane wes di terimo kan?" pertanyaan dari Mas Mu'adz menariknya kembali dari keterkejutan ini. Ia hanya mengangguk, beralih menatap Ameera. Entah ia tidak tahu arti tatapannya itu. Yang ia tangkap hanya tatapan memohon.


"M-mase kaleh —" ucapannya tercekat langsung dipotong Mas Mu'adz


"Loh, tak kiro lek sampeyan wes eroh ndek grub, seng di share Bunda."


Ia menggeleng lemah. Entah itu kapan Bunda ngeshare info, yang jelas ia tidak membuka gawai semenjak pulang ke pesantren ini. Matanya kini mulai memanas. Jujur saja ia benci pemikirannya yang tidak-tidak sekarang, membuatnya terlihat lemah di hadapan Mas Mu'adz.


"Mase wes nikah karo Ameera."


Seperti bom atom yang meledak. Ucapan Mas Mu'adz benar-benar menghancurkannya tanpa tersisa. Memalingkan wajah, ia terkekeh kecil. Air matanya sudah terjun bebas. Sungguh ia sangat kecewa, kecewa terhadap harapannya. Ternyata bukan dirinya yang menemani Mas Mu'adz, ternyata bukan dirinya yang dipilih sebagai istri Mas Mu'adz, ternyata bukan dirinya yang disayangi Mas Mu'adz. Seharusnya, ia menyadari kalau Mas Mu'adz sudah menolaknya dari awal berarti ada orang yang diinginkan kakaknya itu.


Menghirup udara sedalam-dalamnya, lalu menghapus air matanya. Memperlihatkan wajahnya pada kakak dan sahabat tersayangnya ini. Ia tidak peduli kalaupun sekarang matanya memerah menahan tangis.


"Samara Mase, M-mera." ucapnya dengan senyum, senyum miris lebih tepatnya. "Yawes, adek kebelet Mase. Assalamualaikum." pamitnya lalu beranjak dari sana, pergi menjauh dari mereka berdua.


"LA!!"


"SHAHLA!!"


Ia dengar, tentu saja ia dengar panggilan dari Ameera sahabatnya, sahabat tersayangnya yang sekarang berstatus sebagai kakak iparnya, istri dari laki-laki yang ia sayangi dan cintai. Tak kuat lagi, dengan membekap mulutnya, ia berlari, entah kemana kakinya melangkah.


Dadanya begitu sesak menerima kenyataan pahit ini. Ia benar-benar hancur sekarang. Ternyata langkah kakinya membawa ke persawahan. Terduduk di tanah, ia menangis sejadi-jadinya. Berulangkali menepuk-nepuk dadanya yang teramat sakit.


Sungguh sakit menyakitkan


Hatinya sudah lebur


********************


Mas Mu'adz membawa istrinya menuju ke ndalem. Karena waktu sudah hampir siang. Agendanya hari ini memang selain kesini, tapi juga ke ndalem Abah Nawawi lalu pulang kerumah. Sekalian mengundang untuk acara tiga hari Alm. Mbah Yai Imam.


"Assalamualaikum." ucapnya ketika sampai di pintu samping ndalem yang langsung menghubungkan ke ruang tengah. Terdengar banyak suara yang menjawab dari arah dalam. Dengan tangan kirinya bertautan dengan tangan milik istrinya. Ia melangkah masuk ke dalam.


Melihat Abah Zaki, Gus Nawwaf, Umi Faizah, Ning Bahiyyah dan Gus Salman menatapnya. Dengan langkah menunduk, ia mencium tangan Abah Zaki, beralih ke Gus Nawwaf dan Gus Salman. Sekilas melihat tatapan tajam dari Gus Nawwaf. Tentu ia tidak lupa dengan percakapannya tadi sewaktu di kamar dengan Kang Wildan.


***


"Ya Allah, aku wes ndolim lek ngene iki. Sek salim-salim disek." ucap sahabatnya sambil meraih tangannya namun ia tarik. Ia berdecak sebal, sungguh kejadian seperti ini yang tidak ia inginkan.


"Biasah ae to Wil."


"Yo mboten isa Gus. Teng njero tubuh e njenengan iki wes ngalir darah 'shiddiq', masio pripun-pripun njenengan niki Gus."


"Biasah ae to lek ngomong. Ngeri aku lek dirimu ngomong ngunu kuwi."


"Yo nggeh tetep mboten isa Gus, mboten isa. Sampun tersetting niki. Bener tenan omongane Markonah. Eh! sek, sek. Njenengan wau simah kaleh Mbak Ameera?"


Ia mengangguk membenarkan. "Aduh, gawat iki, gawat." Kang Wildan bingung dengan sendirinya.


"Emang nyapo?"


"Lah, Gus Nawwaf iki ape khitbah Mbak Ameera, Gus!!"


"Loh, emang bener?" tanyanya meyakinkan.


"Subhanallah estu Gus, bener. Gus Nawwaf malah seng sanjang dewe genaku."


***


"Ayo, pinarak!!" seruan dari Umi Faizah menariknya kembali ke dunia. Lalu ia dan Ameera di persilahkan untuk duduk di sofa.


"Ngapunten Bah, kulo bade ngaturaken ngaos mengke teng ndaleme Alm. Mbah Yai Imam."


"Ora keroso wes telundinone. Insyaallah Abah teko."


"Sepindah maleh, kulo bade nyuwun pamit Bah."


"Abah lagek tas ngerti, lek ora mireng sangking Yai Basyir."


"Mireng nopo Bah?" Bu Faizah menyahuti


"Iki lo Mi, Kang Akmal iki putrane Gus Faaz. Terus Mbak Ameera iki cucune Alm. Mbah Yai Imam. Masyaallah Mi, pondok cilik e dewe ketekan dzurriyah e tiang 'alim."


"Masyaallah!!"


Perasaan tidak enak muncul, ini yang tidak mau ia rasakan. Identitasnya banyak yang mengetahui. Menyandang nama 'Gus' membuat kedua pundaknya semakin berat.


"Yowes Gus, Abah wes ora iso nggandoli sampeyan. Sak iki sampeyan tanggung jawabe luweh gede timbang dadi santri. Abah mong iso dungakne mugi-mugi dadi keluarga seng di ridhoi marang Gusti."


"Amin, allahumma amin."


"Lek walimah an, Abah ojo lali diundang."


"Walimahe sinten Bah?" lagi-lagi yang menyahuti Umi Faizah.


"Loh, dadine iki mau ora enek seng paham to?" tanya Abah Zaki.


Sedikit melirik melihat Umi Faizah, Gus Nawwaf dan Ning Bahiyyah menggeleng, kecuali Gus Salman yang menatapnya dengan senyum.


"Kang Akmal-Gus Muadz iki wes simah kaleh Mbak Ameera-Ning Kiya iki, Mi. Leres kan Gus?"


Ia mengangguk sambil tersenyum. "Alhamdulillah leres Bah." ucapnya membuat keheningan menyerbu. Tak ingin berlama-lama lagi. "Bah, kulo sekeluarga nyuwun barokah dungo."


"Lah, lek njalok dungo iki neng Mbah Yai Shiddiq, Gus!" kekeh Abah Zaki.


Lalu terdengar gumaman do'a yang dilantunkan Abah Zaki untuknya dan Ameera. Ia pun menengadah mengamini. Sudah di pastikan semua yang berada di ruangan ini juga melakukan hal sama, mengamini doa dari Abah Zaki.


Entah apa yang terjadi setelah ini. Jujur saja ia tidak enak dengan Gus Nawwaf, apalagi dengan tatapan Beliau itu.


********


Kira-kira bagimana keadaan Ning Bahiyyah dan Shahla paska mereka tahu pernikahan Mas Mu'adz dan Ning Kiya?


Oh, jangan lupakan Gus Nawwaf, mungkin nanti ada di bagian Ning Bahiyyah.