MU'ADZ

MU'ADZ
LIMA PULUH EMPAT



Selamat Membaca


 


 


 


 


"Biasa ae lah lala popo. Koyok ape neng endi ae." Shahla langsung melirik keatas spion mirror. Ia berdecak sebal pada Mas Kholis. Bukannya apa. Shahla bingung harus bersikap apa nanti setelah bertemu mereka.


Haruskan dirinya sok akrab? seolah tidak terjadi apa-apa? atau memilih diam setelah mengutarakan maksud untuk meminta maaf pada mereka? atau bagaimana?


Shahla menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jadi bingung sendiri. Kedua tangannya mendingin dan saling memilin.


"Nul. Pokok e engko ngancani aku. Ojo mbok tinggal aku," pintanya terkesan memaksa.


Khusnul berdehem singkat, lalu menoleh ke belakang. "Dirimu iki tumben La, segugup iki? Biasane ngadepi Prof. Hartono seng kereng e ra ngadubilah ae santai wae kok."


Shahla mendengus. "Kan bedo Nul. Ish! emboh lah." Tangannya terlipat di depan dada. Pandangannya tertuju keluar jendela mobil. Pikirannya penuh dengan rancangan, apa saja yang ia harus lakukan dan katakan nanti. Tapi lagi-lagi ia mendengus lesu, bisakah ia seperti itu? seperti apa yang sudah ia rancangnya dalam bayangnya.


"Insyaallah aku yakin, Gus Mu'adz kaliyan Ning Kiya nerimo dirimu dengan tangan terbuka, La. Tapi masalae siji. Dirimu iso ora ngerubah suasana dadi ora semakin canggung?"


"Lek jereku Mas. Shahla sek ora iso? jangankan ngrubah suasana dadi ora canggung, njalok sepuro ae engko lek bingung ra karuan, ape ngomong mulai teko endi, Shahla seng bingung," sahut Khusnul.


"Lek panggah bingung berarti iyo terae ora nduweni niatan gawe atine adem ayem," celetuk Mas Kholis.


Shahla masih terdiam tidak menanggapi ocehan mereka berdua. Benar kata Khusnul. Untuk mengawalinya saja ia masih bingung sekarang, harus berbicara apa, basa-basikah? atau to the point kah? Jangankan itu, ketemu dengan mereka saja, ia tidak tahu harus apa.


Jantungnya bertalu-talu sangat cepat, ketika sudah melihat tembok tinggi yang mengelilingi pesantren Darussholah.  Hampir dekat! Ia harus apa? Shahla menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Suara mesin sudah di matikan, membuat tubuhnya melemah. "Ayo!" Shahla membuka telapak tangannya, memasang wajah lesu pada Mas Kholis. "Ayo, ora enek bantahan," ajak lagi Mas Kholis.


"Ayolah, malah jagongan," ucap Khusnul dari arah bagasi belakang, mengambil beberapa oleh-oleh untuk adik sepupunya yang memang menjadi santri disini.


Dengan memejamkan mata, Shahla menghirup udara sedalam-dalamnya, lalu menghembuskan pelan. Oke! lumayan mengurangi kegugupannya. Perlahan tangannya membuka pintu mobil.


"Wes dek?" tanya Mas Kholis pada Khusnul yang di jawab anggukan. "Yowes, ayo sowan disek."


Khusnul mengapit lengannya, berjalan dengan sedikit paksaan. "Pokok e ngancani aku lo Nul," pintanya sekali lagi membuat Khusnul berdecak.


Sampai berada di ndalem Mbah Yai Shiddiq, Shahla masih terlihat gelisah. Pasalnya ada Abi dan Bunda di sini. Dan mungkin saking terkejutnya dengan kehadirannya di sini, Bunda langsung memeluknya dengan erat.


"Monggo teng nggriyo riyen," ajak Abi pada Mas Kholis yang memang sudah berpamitan. Memang Mas Kholis alumni sini, dari ibtidaiyah hingga aliyah berada di pesantren ini. Baru boyong ketika masuk kuliah.


"Nggeh Gus matur suwun. Ngapunten sak derengipun, bade ngirim riyen teng radine." Mendengar penolakan dari Mas Kholis, membuat Shahla langsung melotot kearah Mas Kholis dan Khusnul. Dengan tampang tidak berdosanya Khusnul mengacuhkannya.


"Berarti Nduk Shahla mawon nggeh seng kenton mriki?" tanya Bunda yang masih berada di sampingnya, merangkul bahunya.


"Em- anu Bunda—" ucapan Shahla terpotong.


"Enggeh Ning, kersane Lal— e.. Shahla kenton teng mriki. Terose wau ajenge teng Ning Kiya." Lagi-lagi ucapan Mas Kholis membuat Shahla melotot sampai ingin keluar bola matanya. Bisa-bisanya mereka merencanakan ini padanya. Awas saja nanti pas pulang. Emosi Shahla dengan tangannya terkepal.


Dengan lesu bercampur pasrah, Shahla mengikuti rangkulan bahunya dari Bunda yang menuju ke ndalem beliau. Untung saja Abi tidak ikut, kalaupun ikut dan mendudukkan dirinya, bisa-bisa ia sulit bernapas nanti. Seperti tersangka yang sedang sidang.


"Bunda remen Nduk Shahla purun mriki maleh," ucap Bunda sambil mendudukkan dirinya di sofa panjang. Tangan Bunda masih mengelus bahunya. Namun bukan itu fokusnya, tapi keadaan ndalem yang sepi. Atau jangan-jangan memang Mas Mu'adz dan Ameera tidak ada di sini. Entahlah, yang jelas perasaannya sedikit lega tidak melihat keberadaan mereka disini.


"Riyen nggeh Bunda timbalne sekalian mendet unjukan," ucap Bunda yang sudah berdiri, secepat kilat ia meraih tangan Bunda, lalu menggeleng kepalanya.


"Bunda yakin Nduk Shahla wantun, terbukti Nduk Shahla sampun di titik niki, teng nggriyo mriki tanpa paksaan." Bunda tidak tahu saja apa yang sudah di lakukan Mas Kholis dan Khusnul padanya. Iya mungkin ini antara paksaan dan kerelaan sih! entah dirinya juga tidak tahu.


Bunda sudah berlalu dari hadapannya. Dengan kedua tangan yang memilin, dirinya saat ini gelisah. Duduknya pun tidak tenang, malah mules perutnya karena terlalu gugup.


"Shahla!" Suara lirih memanggil namanya, membuat Shahla semakin meremat kedua tangannya. Belum, ia belum mendongak. Karena sudah tahu, suara siapa yang memanggilnya tadi.


Entah berapa menit terjadi keheningan. Tidak ada pergerakan sama sekali sampai suara Bunda memecah keheningan itu.


"Loh! ayo lenggah-lenggah kok malah meneng-menengan," ucap Bunda. Lalu suara beberapa kaki melangkah mendekatinya.


Sampai ia melihat sepasang kaki putih mulus mengenakan sandal jepit berada tepat di depannya. "La, Shahla!" Tiba-tiba saja Ameera bersimpuh di hadapannya, membuat Shahla perlahan mendongak. Melihat mata Ameera yang sudah berkaca-kaca, mau tidak mau matanya juga ikut turut berkaca-kaca.


"Sepurane La!" tangis Ameera. Kepala Ameera bertumpu pada lututnya. Air matanya juga ikut menetes, perlahan tangannya melingkar di kepala Ameera, wajahnya pun ia tundukkan bertumpu pada kepala Ameera.


"Sepurane La, aku salah, aku salah. Sepurane!" isak Ameera. Shahla menggeleng pelan. "Iki salahku Mer. Atiku koyok watu, keras. Sepurane iyo Mer, sikapku wes gawe beban. Sepurane Mer," lanjut Shahla dengan suara lirih yang semakin terisak begitu juga dengan Ameera.


"Enggak La, aku seng salah. Teko awal aku ora jujur, sepurane La. Ojo ngadoh teko aku eneh iyo. Aku butuh dirimu La," ucap Ameera sesekali sesenggukan.


Dengan mengangguk pelan, kepala Shahla terangkat membuat Ameera juga melakukan hal sama. "Sepurane La!"


Lagi-lagi Shahla mengangguk, diiringi lelehan air mata, Shahla tersenyum. "Podo-podo iyo Mer. Wes ojo nangis ae," ucap Shahla sambil melirik kearah bawah, lalu tangannya mengelus pelan. "Mesakne dedek e lek dirimu nangis ae," lanjutnya. Kemudian Shahla menghapus air matanya, Ameera juga melakukan hal sama.


Tangannya menarik Ameera untuk duduk di sampingnya. Meski dengan mata sembab, Ameera tersenyum sambil memeluknya. Masih dalam pelukan Ameera, Shahla menarik napasnya lalu menghembuskan pelan. Rasanya begitu lega. Bahkan seperti beban yang bertumpu padanya kemarin, sekarang terlepas semua. Rancangan yang berada di kepalanya tadi mendadak hilang tanpa sisa.


"Mase iyo njalok sepuro pisan iyo Nduk?" Matanya terbuka pelan, tepat netranya melihat Mas Mu'adz berada di depannya. Shahla bisa melihat jejak air mata disana. Lagi-lagi air matanya meleleh, dengan tersenyum ia mengangguk.


Ameera melepas pelukan di tubuhya. "Nduk e seng ngapunten teng Mase, teng Ameera. Sepuntene sampun kekanak-kanak en. Sampun ndamel beban teng Mase kaleh Ameera. Sepuntene," lirihnya sambil terisak.


Memang dari awal ini salahnya, sifatnya yang begitu kekanak-kanak an tanpa sadar telah membuat beban tak kasat mata pada mereka. Sudah berada di titik ini dalam hidupnya, semoga saja ini proses pendewasaannya agar menjadi pribadi yang mawas diri.


 


 


 


 


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Assalamualaikum! pripun part niki?


Seneng?


Mewek?


Lega?


atau


Kesel?